
“Nona Scarlesia, saya sudah menunggu kedatangan anda selama ini,” ujar cermin tersebut.
“Menungguku? Apa kau tahu aku akan datang?” tanya Scarlesia.
“Iya, sekarang coba anda teteskan darah anda pada permukaan cermin saya nanti anda akan tahu jawabannya,”
Scarlesia tanpa rasa curiga mengikuti perkataan si cermin, ia menggigit ujung jemari telunjuknya lalu meneteskan darahnya pada permukaan cerminnya. Sesaat ketika darahnya berhasil menyentuh cerminnya, tubuh Scarlesia ditarik ke dalam cermin itu, ketika dia membuka matanya dia berada di suatu tempat yang tidak dia kenali. Di sekelilingnya hanya ada sebuah padang rumput yang sangat luas disertai angin sepoi-sepoi yang menyejukkan.
“Dimana ini? Bukannya tadi aku berada di dalam kamar yang gelap dan sempit? Kenapa tiba-tiba bisa ada di sini?”
“Halo Nona,”
Seorang pria kecil berambut pirang serta memiliki sayap di belakang punggungnya menyapa Scarlesia dengan ramah.
“Siapa?” tanya Scarlesia memasang wajah bingung.
“Saya adalah Shou, peri yang sudah lama hidup di dalam dunia cermin ini. Saat ini anda berada di dalam dunia cermin Nona,” jawab peri yang nama Shou tersebut.
“Dunia cermin? Peri? Bukankah peri itu yang menjaga busur suci? Lalu kenapa…”
“Benar! Kami adalah penjaga busur suci tapi beberapa ratus tahun lalu kami diserang oleh iblis hitam jadi kami memutuskan untuk bersembunyi di dalam dunia cermin yang hanya bisa diakses oleh Nona seorang. Di kejadian itu, kami kehilangan busur suci tapi sepertinya busur suci berhasil didapatkan kembali oleh Ibu Nona. Kami tidak perlu khawatir lagi soal itu karena busur suci sudah aman di tangan Nona,” potong Shou menjelaskan semuanya pada Scarlesia.
“Kenapa busur suci hanya bisa digunakan olehku saja? Lalu katamu dunia cermin ini juga hanya bisa diakses olehku, bagaimana bisa?”
“Busur suci diciptakan atas kehendak dewa dan dewi yang memang khusus diperuntukkan untuk Nona. Busur suci mengenali anda sebagai pemiliknya itulah kenapa hanya anda yang bisa menggunakannya kemudian masalah dunia cermin, ini juga karena hanya seseorang yang memiliki darah dewa atau dewi yang bisa memasukinya dan anda memiliki hal itu Nona,” lanjut Shou menjelaskan kembali.
“Aku memiliki darah dewa dan dewi? Apa maksudmu?”
“Saya tidak bisa menjelaskannya karena ini di luar tugas saya. Anda akan mengetahuinya seiring berjalannya waktu,”
__ADS_1
Scarlesia menghela napas berat, dia selalu mendapat jawaban yang sama mengenai hal-hal janggal yang terjadi pada dirinya. Entah itu Xeon atau orang lain yang tahu mengenai hal itu selalu bungkam dan menjawab kalau dia akan mengetahuinya seiring berjalannya waktu. Meski dia merasa penasaran tapi dia berusaha menahan dirinya karena dia berfirasat bahwa ini cukup membahayakan jika dia tahu lebih awal.
“Nona, kemarilah. Saya akan membawa Nona bertemu dengan peri lainnya,”
Shou menarik tangan Scarlesia untuk menemui peri lainnya, ternyata tidak jauh dari tempat Scarlesia berada ada sebuah pemukiman kecil. Di sana sudah ada para peri yang menunggu kedatangan Scarlesia, mereka menyambut Scarlesia dengan ramah dan bahagia.
“Oh iya Shou, kenapa cermin ini bisa ada di kastil Miranda?” tanya Scarlesia sekali lagi.
“Itu karena dia tidak sengaja menemukan cermin ini tapi dia tidak tahu kalau ada kami di dalamnya. Untuk itulah kami berpura-pura di hadapannya dan berprilaku sebagai cermin ajaib biasa agar dia tidak curiga sampai menunggu Nona muncul,”
Scarlesia menganggukkan kepalanya, dia mengerti maksud Shou. Miranda bukanlah lawan yang mudah, jika dia tahu ada peri di dalam cermin yang selama ini dia gunakan maka kehidupan para peri di sini juga akan terancam. Ketika dia sedang berinteraksi dengan peri lainnya, ia mendengar suara Miranda dari luar cerminnya.
“Aku akan membunuh gadis itu sekarang!” gerutu Miranda emosi.
“Ehh itu suara Miranda! Aku harus keluar sekarang juga,”
Shou mengirim Scarlesia keluar dari dunia cermin, cermin yang tadi berbentuk seperti cermin hias biasa berubah menjadi sebuah gelang yang melekat di pergelangan tangannya.
“Bisa Nona, dengan begini anda bisa membawa kami kemana saja bersama anda,”
Miranda mendobrak pintu masuk hingga membuat Scarlesia terkejut karena kedatangannya. Miranda tidak banyak bicara, dia langsung menarik tangan Scarlesia untuk segera ikut dengannya menuju ke ruang yang biasa dia pakai mengeksekusi para tumbal. Ruangannya cukup besar tapi terasa pengap dan sempit, tidak ada celah udara di dalamnya.
“Hikss hiks.”
Suara isak tangis anak kecil terdengar oleh Scarlesia, setelah ia teliti dengan seksama ternyata di dalam ruangan itu ada beberapa kurungan besi yang berisi anak kecil di dalamnya. Mereka dipersiapkan sebagai tumbal oleh Miranda.
“BISAKAH KALIAN BERHENTI MENANGIS?!” bentak Miranda.
Anak-anak tersebut berhenti menangis begitu Miranda membentaknya, Scarlesia tidak tahan melihat anak kecil yang tidak bersalah diperlakukan begitu kejam seperti yang dia saksikan sekarang.
__ADS_1
“Anda sungguh seperti iblis ya Yang Mulia. Pantas saja gelar wanita tercantik di dunia direbut oleh saya,” sindir Scarlesia.
“Kau diam saja karena sebentar lagi gelar itu akan segera menjadi milikku lagi,”
“Lagi? Sepertinya tidak akan pernah terjadi karena hari ini saya tidak akan mati,”
Miranda geram, dia mempererat cengkraman tangannya di pergelangan tangan Scarlesia. Wanita yang berjalan di depannya kini benar-benar sudah dibutakan oleh kecantikan semata.
“Kau diam saja di sini. Aku akan segera membunuh lalu memakan jiwamu,”
Scarlesia ditaruh di tengah lingkaran sihir oleh Miranda, lingkaran sihir ini dia gunakan biasanya sebagai peletakan tumbalnya. Dengan lingkaran sihir inilah dia mampu melakukan ritual untuk menelan jiwa Scarlesia.
“Lingkaran sihir? Apa ini dibuat menggunakan kapur?” gumam Scarlesia mencoba menyentuh lingkaran sihirnya, ternyata benar itu dibuat dengan kapur.
“APA YANG KAU LAKUKAN? JANGAN MENYENTUHNYA! BISA-BISA LINGKARAN SIHIRNYA JADI TIDAK SEMPURNA KARENA KAU SENTUH!” marah Miranda.
Scarlesia menyerngitkan keningnya melihat Miranda yang sejak tadi marah-marah tak menentu. Scarlesia tidak merasa takut sama sekali dengan Miranda, dengan niat isengnya ia menghapus lingkaran sihirnya sedikit.
“Upss tidak sengaja terhapus,” ucapnya dengan tampang tidak bersalah.
“KAU MEMBUATKU SANGAT MARAH!!”
“Jangan marah-marah, keriput di wajah anda jadi kelihatan tuh,” ledek Scarlesia.
“DIAM!” sergah Miranda yang lelah menahan emosi.
Scarlesia akhirnya memilih untuk diam dan memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Miranda padanya. Tidak lupa sebelum itu Miranda memperbaiki lingkaran sihirnya sebelum dia memulai kembali ritualnya. Scarlesia duduk bersimpuh dengan santai menunggu Miranda mengucapkan beberapa mantra yang tidak dia mengerti sama sekali. Tiba-tiba saja cahaya berwarna merah muncul dari lingkaran sihir tersebut, tapi Scarlesia tidak merasakan efek apapun.
“Apakah ini benar bisa menelan jiwaku? Kenapa rasanya seperti bermain-main saja?” pikirnya terheran-heran.
__ADS_1
“Apa yang terjadi? Kenapa ritualnya tidak bereaksi padanya? Uhh? AARRRGGHHH!!”