
“Ahh kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini?” batin Scarlesia merasakan detak jantungnya semakin cepat.
“M-maaf Sia, aku tidak sengaja,” ujar Elios segera berpindah.
“Iya tidak apa-apa,”
Mereka berdua sama-sama salah tingkah, tersipu malu dengan apa yang baru saja terjadi. Scarlesia mengubah posisi tidurnya. Saat ini mereka saling membelakangi satu sama lain, mereka berdua tidak mengeluarkan suara apapun setelah itu.
“Apa yang terjadi dengan diriku selama beberapa hari belakangan ini? Jantungku berasa akan copot setiap kali berdekatan dengan Elios, Andreas, Louis, Oliver, bahkan Zenon. Sepertinya aku sudah mulai gila, tidak! Sekarang aku harus tidur. Aku tahu ada yang aneh dari hatiku,” pikir Scarlesia memejamkan matanya untuk segera tidur.
Sedangkan Elios tidak bisa menutup matanya, ia tidak bisa tidur dalam situasi saat ini. Scarlesia sudah mulai terlelap sedangkan dirinya masih membuka matanya.
“Hampir saja aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri,” gumam Elios menghela napasnya.
Beberapa jam kemudian, Elios masih terjaga karena pikirannya masih dipenuhi oleh bayangan gadis yang kini tertidur di sisinya.
“Sudah 100 tahun ya sejak terakhir kali kita bertemu. Sejak awal ini memang adalah kamarmu, Ayah dan Ibuku sangat menyayangimu bahkan mereka tidak pernah menyentuh kamar ini sampai kau datang kembali. Sia, aku hanya ingin kau terus berada di sampingku jadi tolong jangan pergi lagi dan menyiksa hatiku kembali,”
Elios mengelus lembut rambut Scarlesia, ia menatap sendu wajah gadis yang dia cintai. Rasa cinta yang masih menggebu meski sudah berlalu 100 tahun, seketika dia ingat dengan masa lalunya ketika dia pertama kali bertemu dengannya.
Permusuhan antara bangsa iblis putih dengan Kekaisaran Sora adalah satu fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi. Kekaisaran Sora yang serakah, mereka ingin mengambil alih dunia bawah tempat dimana bangsa iblis putih menetap. Ini merupakan kisah yang terjadi lebih dari 100 tahun yang lalu. Kala itu terjadi pertempuran besar yang melibatkan Kekaisaran Sora dan bangsa iblis putih, pertempuran yang terjadi membuat korban jiwa dimana-mana.
Pada masa itu, hidup seorang gadis dengan kemampuan penyembuhan yang luar biasa. Dia adalah anak salah satu bangsawan di Kekaisaran Sora, keluarganya hidup bergantung kepadanya dan menganggapnya sebagai alat serta aset kekaisaran. Tepat pada waktu pertempuran itu terjadi, bangsa iblis putih banyak yang terluka parah. Gadis tersebut memiliki hati yang baik dan sehalus sutra sehingga dia tidak bisa membiarkan para iblis putih itu terluka.
“Aku akan membantu untuk menyembuhkan luka kalian,” tawarnya baru sampai di medan pertempuran.
“Kau pikir kami percaya dengan seorang gadis kecil yang berasal dari Kekaisaran Sora? Menjauhlah dari kami!” sahut salah satu iblis putih.
“Kami tidak butuh kekuatan penyembuhanmu itu! Enyahlah dari sini!”
__ADS_1
“Betul! Kami bisa bertempur dengan kekuatan kami sendiri!”
Gadis itu terlihat geram dengan sorakan-sorakan yang mengusirnya untuk segera beranjak dari mereka.
“DIAM! KALIAN PIKIR KALIAN BISA BERTARUNG DENGAN KONDISI YANG SEPERTI INI?” teriak gadis itu emosi.
“T-tentu saja kami bisa,”
“Aku tahu kalian membenci Kekaisaran Sora tapi apa kalian pikir semua orang yang tinggal di sana bersikap sama dengan kaisarnya? Aku juga sangat membenci Kekaisaran Sora! Itulah kenapa aku memilih untuk membantu kalian agar kalian bisa mengalahkannya. Apa aku salah ingin memberikan bantuan untuk kalian? Aku juga tahu kalau Kaisar Sora ingin mengambil alih dunia bawah, apa kalian mau mereka berhasil mendapatkan ambisinya? Apa kalian mau tempat tinggal kalian diambil alih oleh mereka?”
Para iblis putih terhening mendengar perkataan gadis tersebut, dia berbicara panjang lebar sehingga membuat napasnya terasa tercekik.
“Biarkan gadis itu menyembuhkan luka kalian,” sela Hedwig, raja iblis putih yang tiba-tiba muncul dari belakang.
“Yang Mulia! Tapi gadis ini….”
“Sudah kalian jangan banyak komentar lagi. Berikan dia kesempatan untuk membuktikannya,” ucap Hedwig.
“Siapa namamu?” tanya Hedwig.
“Silahkan panggil saya Sia Yang Mulia,” jawab gadis yang bernama Sia itu.
“Sia ya? Baiklah. Aku memutuskan untuk mencoba percaya padamu. Sekarang coba kau sembuhkan semua luka semua bawahanku ini,”
“Baiklah, saya akan melakukannya,”
Sia segera menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan luka parah yang didapatkan oleh para iblis putih itu dari pertarungan. Luka-luka mereka baik yang tidak parah sampai yang sangat parah sembuh seketika tanpa ada bekas sedikit pun.
“Wah luar biasa! Luka ku sembuh dengan sempurna,”
__ADS_1
“Aku juga!”
“Tanganku kembali seperti sedia kala,”
Para iblis putih bergembira karena luka mereka telah sembuh dan hilang secara sempurna, kaki atau tangan mereka yang putus juga sudah menyatu kembali. Hedwig tercengang menyaksikan secara langsung kemampuan penyembuhan luar biasa milik Sia.
“Hebat! Kemampuannya sangat hebat! Sia, bisakah kau pergi ke kerajaanku? Aku ingin meminta tolong padamu,”
Sia menyetujuinya dan pergi bersama Hedwig ke dunia bawah, kehadiran Sia di sana disambut tidak begitu baik. Tatapan kebencian mengarah padanya, namun Sia mengerti kenapa mereka bersikap seperti itu padanya dan memilih untuk tidak terlalu menghiraukannya. Hedwig membawa Sia ke sebuah ruang yang sangat dingin. Ruang tersebut seperti sebuah kamar yang cukup luas, nuansa birunya yang begitu nyaman.
“Siapa dia?” tanya Sia yang kini berdiri di depan sebuah peti yang di dalamnya ada seorang pria tampan tengah tidak sadarkan diri.
“Dia adalah anakku, namanya Elios. Kekuatannya sangat besar sehingga membuatnya menjadi seperti ini, dia sudah tidak sadarkan diri selama kurang lebih 15 tahun. Tidak ada siapapun yang bisa membuatnya terbangun kembali,” jelas Hedwig.
“Apakah anda meminta saya untuk menyadarkannya kembali?”
“Apa kamu bisa melakukannya?”
“Saya akan mencobanya,”
Sia membuka peti tersebut, suhu dingin yang berasal dari tubuh Elios menyeruak keluar dari peti. Kemudian Sia meraih tangan Elios, rasa dingin tak tertahan dia rasakan tapi Sia berusaha untuk tetap menggenggam tangannya. Sia menarik napas dalam, matanya ia pejamkan perlahan, Sia memfokuskan kekuatannya agar mengalir ke tubuh Elios.
Rasa hangat dengan pelan menghancurkan rasa dingin di tubuh Elios, suhu dingin yang merebak di dalam ruang mulai menghangat. Selang beberapa detik kemudian, kelopak mata Elios bergerak yang menandakan dia akan sadarkan diri.
“ELIOS!”
Hedwig tampak senang melihat sang anak sudah membuka mata sepenuhnya dan Elios masih berada di dalam kondisi bingung. Sia melepaskan genggamannya begitu Elios sudah sadarkan diri, kekuatan yang dia gunakan cukup besar sedangkan staminanya sekarang sedang berada di ambang batas.
“Syukurlah akhirnya aku bisa menyem..buhkan..nya,”
__ADS_1
Brukkk
Sia terjatuh tidak sadarkan diri, tubuhnya terhempas ke atas lantai. Staminanya benar-benar terkuras habis mengingat hari ini dia sudah terlalu banyak menggunakan kekuatannya. Wajahnya pucat pasi, Hedwig segera memanggil pelayannya dan menyuruhnya untuk membawa Sia lalu membaringkannya di atas tempat tidur.