
“Dasar orang-orang ini! Padahal aku sudah menyuruh mereka untuk pergi ke tempat evakuasi tapi tidak ada satu orangpun yang mau mendengarkanku,” gerutu Scarlesia.
Scarlesia pergi ke arah suara teriakan itu berasal, kondisi di sisi lain kota sangat bising karena teriakan minta tolong dari orang-orang yang ketakutan diserang oleh para monster. Scarlesia menggunakan kekuatan dewa perang untuk
menghentikan monster-monster yang hendak menyerang manusia. Monster tersebut tampaknya keluar bukan dari gerbang utama, itulah kenapa mereka bisa mencapai pemukiman penduduk.
“SEKARANG CEPAT PERGI KE TEMPAT EVAKUASI! JANGAN ADA YANG MENGABAIKAN PERINTAHKU JIKA KALIAN TIDAK INGIN MATI!” seru Scarlesia dari atas langit.
Suara Scarlesia menggema ke seluruh penjuru kota, orang-orang tidak lagi mengabaikan perintah Scarlesia dan langsung berlari menuju tempat evakuasi.
“NONA, ANDA PERGILAH! BIAR KAMI YANG MENGURUS EVAKUASI PENDUDUK!” ucap Felix bersama teman-temannya yang lain.
“BAIKLAH! AKU SERAHKAN KEPADA KALIAN SEMUA URUSAN DI SINI,”
Scarlesia memutar badannya dan kembali mengepakkan kedua sayapnya menuju medan perang. Semua orang sudah berkumpul di depan gerbang monster utama, hanya dalam hitungan menit lagi gerbang akan terbuka dengan sempurna. Kedatangan Scarlesia dengan sayap putihnya mencuri perhatian dan fokus banyak orang karena mereka baru pertama kali melihat manusia yang mempunyai sayap.
Seluruh kekaisaran sudah membuat formasi masing-masing untuk menyerang, Scarlesia mengambil komando begitu dia menginjakkan kakinya di atas tanah.
“AKU SCARLESIA EGINHARDT AKAN MENGAMBIL KOMANDO DARI SINI. TOLONG KALIAN DENGARKAN! AKU TIDAK AKAN MEMAKSA KALIAN UNTUK BERTEMPUR JIKA MEMANG KALIAN TIDAK MAU. AKU TAHU KALIAN MERASA TAKUT, JANTUNG KALIAN BERDEBAR KENCANG, SERTA RASA GEMETAR YANG TIDAK KARUAN,”
Karisma seorang pemimpin keluar dari Scarlesia, tidak ada satu pun mata yang mengalihkan pandangannya dari keindahan seorang gadis bernama Scarlesia tersebut. Suara lembut yang menggema seolah membawa tenang diri mereka yang pada awalnya sangat ketakutan.
“AKU MOHON KALIAN JANGAN KHAWATIR! JIKA ADA DARI KALIAN YANG TERLUKA AKU AKAN LANGSUNG MENGOBATINYA. NAMUN, JIKA RASA TAKUT SUDAH TERLALU MENGUASAI HATI KALIAN, AKU TIDAK KEBERATAN KALAU ADA YANG MUNDUR DARI SEKARANG,”
Semuanya terhanyut di dalam seruan Scarlesia, tidak ada satu pun ksatria yang mundur meskipun pada awalnya banyak dari mereka yang berniat mengundurkan diri tapi setelah mendengar Scarlesia, mereka mengundurkan niatnya.
“AKU BERJANJI AKAN MEMBAWA KEMENANGAN UNTUK SELURUH UMAT MANUSIA! JIKA KALIAN MEMANG INGIN BERJUANG BERSAMAKU, TOLONG ANGKAT SENJATA KALIAN TINGGI-TINGGI,”
__ADS_1
Scarlesia mengangkat pedangnya lebih dulu kemudian disusul oleh seluruh orang yang berada di sana.
“BUANG JAUH-JAUH PERASAAN YANG MENGGANGGU. MULAI DETIK INI JUGA MARI KITA BERJUANG BERSAMA MENAKLUKKAN MEDAN PERANG INI! MARI BAWA PULANG KEMENANGAN! JANGAN LUPAKAN ADA SESEORANG YANG MENUNGGU KALIAN PULANG,”
“HOOOO HIDUP NONA SCARLESIA! HIDUP NONA SCARLESIA! HIDUP NONA SCARLESIA!”
Sorakan untuk Scarlesia bergemuruh di setiap sudut medan perang, mereka bersorak cukup lama untuknya. Scarlesia lega saat ketakutan semua orang berhasil ia atasi dengan sempurna, sekarang hanya ada rasa semangat yang terukir dari wajah mereka. Setelah itu, Scarlesia membagikan ramuan untuk meningkatkan stamina kepada mereka semua tanpa terkecuali. Seluruh senjata mereka juga sudah dibaluri oleh racun yang sebelumnya ia buat.
“Syukurlah ya Sia, walaupun kaisar tidak mengirim ksatria istana tapi ternyata banyak orang yang membantumu sekarang,” ujar Kitty.
“Kitty, kau ternyata juga ikut ya,” kata Scarlesia mengelus kepala Kitty.
“Iya, aku khawatir jika hanya berdiam diri saja tanpa membantumu. Tenang saja, aku tidak akan menyusahkanmu karena aku juga sudah lebih kuat dari sebelumnya,”
“Hmm baiklah. Aku percaya padamu,”
Di sela percakapannya dengan Kitty, Lucas bersama pangeran ketiga Kekaisaran Thyme yang bernama Raphael datang untuk menyapa Scarlesia.
“Nona, ini pertama kalinya kita bertemu ya,” ujar Raphael, pria bersurai kuning dengan pupil mata hitam.
“Ternyata gadis ini yang sudah menolak lamaran kakakku? Dia memang sangat cantik. Pantas saja banyak orang yang tergoda dengannya dan ingin mempersuntingnya,” batin Raphael.
“Iya Yang Mulia, ini pertama kalinya saya bertemu langsung dengan anda,” jawab Scarlesia.
“Ngomong-ngomong kau ternyata sudah menyiapkan semuanya secara lengkap,” kata Lucas.
“Karena saya khawatir semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Itulah alasannya kenapa saya menyiapkan mulai dari ramuan penambah stamina hingga racun untuk membalur senjata. Saya tidak tahu akan seperti apa jalannya pertempuran ini tapi saya akan berusaha untuk memulangkan mereka membawa kemenangan,”
__ADS_1
Ekspresi sendu di muka Scarlesia serta tutur katanya yang terdengar tulus, mampu menyentuh hati Lucas dan Raphael. Mereka berdua selalu berpikir bahwa kebanyakan wanita bangsawan adalah gadis manja yang berpangku tangan pada orangtuanya sembari menunggu pria untuk meminangnya. Namun, hal seperti itu tidak berlaku untuk Scarlesia yang mana di usianya yang masih muda sudah menanggung beban seberat ini di pundaknya.
“Jangan khawatir Nona karena kami Kekaisaran Thyme sudah mempersiapkan semuanya secara sempurna,” hibur Raphael agar Scarlesia tidak menunjukkan lagi ekspresi sendunya.
“Tapi, aku tidak melihat banyak ksatria Kekaisaran Roosevelt di sini,” ucap Lucas tiba-tiba.
“Itu karena kaisar dan para bangsawan lainnya tidak mempercayai apa yang saya katakan tapi saya tidak khawatir mengenai itu karena saya membawa orang-orang kuat bersama saya,”
Lucas dan Raphael mengangguk bersamaan, mereka tidak percaya bahwa Kaisar Roosevelt tidak mempercayai gadis sejujur Scarlesia.
“Apa sebenarnya yang ada di pikirannya? Aku yang baru beberapa kali bertemu dengan gadis ini aku bisa mempercayai kata-katanya karena sorot matanya tidak akan berbohong jika meyangkut kesalamatan orang lain. Tapi aku tidak menyangka ternyata Kaisar Roosevelt senaif dan semenyedihkan itu,” pikir Lucas.
Kemudian Louis menghampiri Scarlesia untuk membawanya segera ke dekat para ksatrianya, Scarlesia pun pamit undur diri pada Lucas dan Raphael.
“Aku baru sadar, bukankah dia mirip dengan beliau?” tanya Raphael.
“Kau adalah orang yang ke sekian yang mengatakan bahwa dia mirip dengan beliau bahkan para bangsawan Evariste yang melihatnya juga mengatakan hal yang sama,”
“Apa kau tidak menyelidikinya lebih dalam lagi?”
“Aku sudah menyelidikinya sejak beberapa waktu yang lalu, masih belum ada jawaban yang pasti tapi aku masih berusaha untuk mencari tahunya lebih lanjut,”
Scarlesia dipanggil karena ada beberapa hal yang ingin dibicarakan oleh Eldrick dan mereka yang lainnya kepada dirinya.
“Sia, jangan paksakan dirimu. Aku tidak rela kalau kau terluka walau hanya goresan saja,” tekan Eldrick.
“Walaupun kau kuat tapi kau butuh yang namanya istirahat, karena itu sebelum gerbang monster utama terbuka kau harus istirahat di sini!” kata Aldert mendorong tubuhnya untuk duduk di sebuah kursi.
__ADS_1
“Minum ini,” suruh Carlen memberikan sebotol minuman padanya.
“Ada apa dengan mereka? Sepertinya mereka sedang mengkhawatirkanku,”