
“Yang Mulia, anda harus pulang ke istana sekarang juga! Istana kebakaran dan keadaan di sana sangat menggentingkan!”
Laporan dari capung tersebut membuat Scarlesia terpaksa menghentikan aktivitasnya, ia bersama prianya segera pulang ke istana. Beberapa rakyat yang sudah mengetahui berita kebakaran tersebut langsung berhamburan menuju istana. Perasaan Scarlesia tidak tenang dan firasat buruk membelit dirinya saat ini. Sekujur badannya tak bisa dibohongi bahwa kala ini dia dilanda ketakutan hebat, dia takut hal buruk menimpa orang-orang yang disayanginya.
Betapa terkejutnya Scarlesia melihat istana terlahap oleh api, kobaran apinya sangat besar dan memusnahkan setengah bagian dari istana kekaisaran. Scarlesia memperlambat langkahnya menatap tak menyangka terhadap pemandangan di depan mata. Tadi pagi dia meninggalkan istana dalam keadaan baik-baik saja, tapi sepulangnya ia mendapati hal buruk seperti ini. Scarlesia melamun beberapa saat sampai Andreas menegur dirinya.
“Sia! Ini bukan saatnya kamu melamun! Jangan berpikiran macam-macam dulu,” tegur Andreas memecah lamunan Scarlesia.
“Hmm? Y-ya.”
Scarlesia bergegas masuk lebih dalam lagi, semua orang berhamburan dan berlarian ke sana sini dalam keadaan panik untuk memadamkan apinya.
“KYAAKKK YANG MULIA KAISAR DAN PERMAISURI!”
Jeritan seorang wanita terdengar oleh Scarlesia, jeritan tersebut tidak jauh dari tempatnya berada. Scarlesia lekas menuju asal suara itu, dia dikejutkan oleh penampakan Edward dan Jessie tengah terkapar di atas tanah. Tubuh mereka mengeluarkan darah dalam jumlah yang tidak sedikit, luka yang dihasilkan oleh tubuh mereka seakan bukan seperti luka biasa.
“Paman, bibi. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
Scarlesia segera memeriksa keadaan mereka berdua, namun Jessie tidak lagi bernyawa sedangkan Edward berada dalam kondisi yang lemah dan hampir meregang nyawanya. Scarlesia berusaha untuk tetap tenang, ia menarik tubuh Edward ke pangkuannya sebab Edward yang setengah sadar tampak ingin mengatakan sesuatu padanya.
“S-sia….” lirih Edward memanggil namanya.
“Iya paman? Aku di sini. Paman jangan berbicara dulu, aku akan….”
“Tidak Sia, aku tahu kekuatanmu belum pulih sepenuhnya. Kau tidak perlu menyelamatkanku….”
“Apa yang paman bicarakan? Kenapa aku tidak usah menyelamatkan paman? Paman kan keluargaku, lalu kenapa?”
“Jessie bagaimana? Apa dia baik-baik saja?” tanya Edward teramat pelan.
Scarlesia hanya diam dan tertunduk, dia tidak mampu berbicara dan memberitahu Edward tentang Jessie.
__ADS_1
“Begitu ya? Sepertinya aku juga akan menyusul Jessie….”
“Menyusul? Ini bukan waktunya bercanda! Aku akan menyelamatkan paman, jadi tolong bertahanlah ya,” tutur Scarlesia dengan nada suara bergetar.
“Tidak Sia… jangan paksakan dirimu ya. Aku hanya mau meminta maaf padamu, maaf karena aku telat menyadari keberadaanmu selama ini. Pasti sulit bagimu bertahan di Roosevelt, aku selalu merasa bersalah sebab aku tidak menyadari adanya dirimu di sana. Maaf Sia, maaf….”
Tanpa sadar, air mata Edward bergulir di pipinya dan bercampur dengan luka darah di wajahnya.
“Paman tidak perlu meminta maaf padaku, aku tidak marah pada paman. Jadi, berhentilah merasa bersalah. Jangan meminta maaf padaku, tolong….”
“Kau anak yang baik, adikku pasti bahagia memiliki anak sepertimu. Mulai sekarang aku titip Evariste padamu Sia, jaga dirimu baik-baik, dan semoga kau bisa menjadi kaisar yang luar bi… asa….”
Tangan Edward terkulai lemas dan terhempas ke atas tanah, sepasang matanya telah tertutup sepenuhnya.
“Paman? Paman, jangan bercanda! Apa paman meninggalkanku? Apa paman dan bibi serius meninggalkanku? Jangan menakuti, aku mohon jawablah! Apa kalian berdua sungguh meninggalkanku?!”
Scarlesia mengguncang-guncang tubuh Edward, tidak ada respon darinya bahkan kini aura kehidupan Edward telah menghilang. Scarlesia menaruh tubuh Edward, ia mendekatkan tubuhnya dengan Jessie.
“Baik Yang Mulia.”
Dia menguatkan dirinya untuk berdiri, lalu memaksakan dirinya melangkah ke tempat yang terdengar bising tidak jauh dari keberadaannya. Scarlesia mendekati kerumunan dan kebisingan tersebut, di sana beberapa ada beberapa orang ksatria.
“Ada apa di sini? Kenapa kalian tidak membantu yang lain untuk memadamkan api ini?” tanya Scarlesia lesu.
“I-itu Yang Mulia….”
“NENEK! KAKEK!”
Scarlesia syok melihat Qirani dan Feodor terluka sangat parah, mereka terbaring bersama seraya berpegangan tangan. Scarlesia bersimpuh di antara mereka badan mereka berdua, dia mengecek apakah keduanya masih hidup atau tidak. Di saat Scarlesia mengecek denyut nadinya Qirani, tangan Qirani bergerak dan kelopak matanya perlahan terbuka.
“Nenek tenang saja, aku akan mengobati luka nenek. Jadi nenek sekarang jangan bergerak lebih banyak ya. Jangan khawat….”
__ADS_1
“Pasti berat ya Sia….” ucap Qirani tiba-tiba saja.
“Berat? Tidak ada yang berat kok nek. Apa yang nenek bicarakan? Nenek diam saja sekarang, jangan bicara lagi ya.”
“Pasti berat bagimu selama 2000 tahun ini berjuang sendirian dan tidak ada keluarga yang mendukungmu, tapi di kehidupan kali ini kau punya keluarga yang menyayangimu. Apa kau bahagia di hidupmu sekarang?”
Scarlesia hanya mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.
“Syukurlah kalau kau bahagia….”
Kedua mata Qirani perlahan meredup, di sela matanya yang nyaris terpejam ada beberapa hal yang diucapkan dalam hatinya.
“Maaf Sia, sepertinya aku dan Feodor akan meninggalkanmu lebih dulu sebelum melihat keberhasilanmu menaklukkan kegelapan. Namun, aku bahagia bisa bertemu denganmu, aku akhirnya bisa melihat wanita yang menyelamatkan Evariste. Wanita cantik dan bersurai emas, Ibuku dulu selalu berbicara tentang itu setiap saat. Aku tertarik pada wanita berambut emas itu karena Ibuku….”
“Ibuku selalu berbicara ingin bertemu denganmu, tapi dia meninggal tanpa pernah bisa melihatmu. Berbeda denganku, aku bisa melihatmu di akhir hayatku, aku akan menceritakanmu pada Ibuku nanti. Bahwa wanita bersurai emas itu adalah cucuku sendiri….”
Qirani menghembuskan napas terakhirnya tepat di hadapan Scarlesia, dia pergi bersama Feodor sang suami tercinta yang sudah menemaninya di sisa hidupnya. Mereka pergi meninggalkan cucunya, sama seperti halnya Edward dan Jessie.
“Kenapa? Kenapa jadi seperti ini? Apa salahku sebenarnya? Aku….”
“RAJA! SIAPAPUN TOLONG RAJA! RAJA BERTAHANLAH!”
Suara teriakan beberapa ekor hewan menggapai pendengaran Scarlesia, ia berdiri kembali dan menghampiri teriakan tersebut. Tubuh Scarlesia kembali lemas melihat Kitty tidak berdaya di permukaan tanah dan dikelilingi oleh beberapa ekor burung, kupu-kupu, dan capung. Di pelukan Kitty ada Cici yang terluka, Scarlesia lebih dulu mengecek keadaan Cici dan dia masih bernapas. Kemudian Scarlesia meletakkan Cici di dekatnya dan beralih memeriksa keadaan Kitty.
“Kitty, apa kau bisa mendengar suaraku?”
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari Kitty.
“KITTY! JAWAB PANGGILANKU! Apa kau juga meninggalkanku? Bukannya kau berjanji akan bersamaku sampai akhir? Kenapa kau mengingkari janjimu? Kitty… aku mohon jawablah. Kau hanya berpura-pura kan? Jangan begini padaku… tolong Kitty….”
Seluruh tubuh Scarlesia lemas, energinya perlahan terserap habis. Api yang menghanguskan istana masih belum padam, kini semua orang berada dalam keadaan panik tak karuan. Pikiran Scarlesia kacau seketika setelah melihat kematian mengerikan dari orang-orang tercintanya.
__ADS_1
“Ukhh… Yang Mulia….”