
Di saat matahari tepat berada di atas kepala, Scarlesia pulang kembali ke kediaman Duke Eginhardt bersama Elios. Ketika dia baru saja masuk kamarnya, ia sudah disambut oleh ekspresi suram Andreas, Zenon, Oliver, dan Louis.
“Ada apa ini? Kenapa kalian berada di kamarku?” tanya Scarlesia heran.
“Sia, kenapa kau tidak pulang semalam? Apa kau menginap di luar bersama dia?” tunjuk Zenon ke arah Elios.
“Semalam aku….”
“Semalam kami tidur bersama,” potong Elios bermaksud pamer dan membuat panas mereka.
Scarlesia refleks menepuk lengan Elios, wajah tak berdosa Elios membuatnya sebal karena Elios sendiri memang sengaja mengatakannya langsung kepada yang lainnya.
“Kenapa kau malah mengatakannya pada mereka?” bisik Scarlesia.
“Tapi memang benar kan semalam kita tidur bersama,” jawab Elios bangga.
“Apa-apaan ekspresi banggamu itu? Padahal aku sengaja ingin merahasiakannya tapi kau membongkarnya duluan,” oceh Scarlesia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyentuh kepalanya yang pusing karena kelakuan Elios.
“A-a-apa? K-k-kalian TIDUR BERSAMA???”
Kamar Scarlesia mendadak rusuh karena mereka, Zenon yang mengguncang-guncang tubuh Elios, Oliver yang tidak mau menerima fakta dan ingin menyerang Elios, Andreas yang menarik pedangnya untuk dia todongkan pada Elios, serta Louis yang memilih untuk mendapatkan penjelasan langsung dari Scarlesia.
“Kau iblis pucat! Lagi-lagi kau mencuri kesempatan di belakangku,” ujar Zenon marah.
“Ternyata kau memang lebih baik aku tebas saja,” gertak Andreas.
“Haruskah kau aku lenyapkan sekarang juga?” lanjut Oliver ikut mengancam.
“Sia, apa itu benar? Apa kau tidur bersama Elios?” tanya Louis dengan wajah memelas.
Scarlesia menepuk keningnya lalu menghela napas panjang.
“Dengar! Aku dan Elios hanya tidur dan tidak ada yang terjadi diantara kami. Jadi, buang jauh-jauh pikiran buruk kalian itu,”
Mendengar pembenaran dan penegasan apa yang sebenarnya terjadi antara Elios dengan Scarlesia membuat mereka merasa lega seketika.
__ADS_1
“Jadi, hanya tidur bersama dan tidak melakukan apa-apa? Syukurlah,” kata Zenon melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Elios.
“Mana Xeon? Apa dia tidak bersama kalian?” tanya Scarlesia baru menyadari tidak ada Xeon bersama mereka.
“Xeon mendapatkan panggilan dari istana langit dan belum kembali hingga sekarang,” jawab Louis.
“Ahh ternyata begitu ya. Pantas saja aku tidak melihatnya,”
Scarlesia melangkah menuju tempat tidurnya tapi karena jalannya tidak seimbang, dia hampir saja terjatuh dan untungnya Louis yang berada di dekatnya merengkuh pinggang Scarlesia agar tidak jadi terjatuh.
“Apa kau baik-baik saja Sia?” tanya Louis.
“Dekat… Terlalu dekat! T-t-tidak aman!” batinnya.
“Lepaskan aku Louis, aku baik-baik saja,” ucap Scarlesia minta Louis agar melepaskan rengkuhannya.
Scarlesia memalingkah wajahnya yang sudah memerah, ia menaruh tangannya di dadanya dan dia bisa merasakan betapa kencangnya detak jantungnya saat ini.
“Kau sungguh baik-baik saja? Wajahmu sangat merah. Apakah kau sakit?” tanya Andreas yang tiba-tiba meletakkan telapak tangannya di kening Scarlesia untuk memastikan keadaan Scarlesia apakah sakit atau tidak.
Scarlesia tersentak karena tangan Andreas yang menyentuhnya, ia pun mendorong Andreas untuk menjauh dari dirinya.
Brakk
Scarlesia menghempaskan pintu kamarnya selepas mereka keluar, mereka menatap Scarlesia dengan tatapan nanar.
“Sia! Bukalah pintunya. Apa jantungmu sakit? Perlukah aku memanggilkan dokter untukmu?” tanya Zenon menggedor-gedor pintu kamar Scarlesia.
“Tidak! Aku hanya mau istirahat. Aku sungguh tidak apa-apa,” sahut Scarlesia dari dalam kamarnya.
“Oh begitu. Kalau ada apa-apa jangan lupa panggil kami,”
“Iyaa,”
Scarlesia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya, tangannya meraih satu bantal untuk dia peluk. Scarlesia berguling-guling di atas tempat tidur menahan malu sambil mencoba menstabilkan kembali detak jantungnya.
__ADS_1
“Apa mungkin aku jatuh cinta? Hee mana mungkin masa aku jatuh cinta langsung dengan 5 pria,” gumamnya.
“Sia, apa yang sedang kau pikirkan?” sela Kitty yang baru saja balik dari luar.
“Kitty! Kemana saja kau beberapa hari ini?” tanya Scarlesia.
“Aku selesai memantau pergerakan dewa kegelapan, sepertinya dia akan merencanakan sesuatu lagi tapi aku tidak tahu pasti apa yang sedang dia rencanakan. Kau harus hati-hati Sia karena dewa kegelapan bukan musuh yang mudah kau kalahkan seperti Zaneta ataupun permaisuri,” ujar Kitty.
“Iya, aku tahu itu. Beberapa hari ini aku agak resah karena aku berfirasat bahwa akan ada hal yang lebih besar lagi terjadi. Aku tidak tahu apa itu tapi yang pasti aku harus mempersiapkan diri,” ucap Scarlesia.
“Nona, anda juga harus istirahat. Jangan terlalu memaksakan diri anda sendiri untuk bertindak lebih jauh,” kata Shou tiba-tiba keluar dari dunia cermin.
“Shou! Tumben kau keluar,” ujar Scarlesia.
Shou menanggapinya hanya dengan tertawa, kemudian mereka bercerita mengenai banyak hal bersama. Shou juga memberitahu bahwa busur suci baru saja selesai mereka perbaiki karena tidak sengaja waktu itu busur suci terlempar jauh alhasil membuat sudutnya sedikit retak. Busur suci diperbarui oleh para peri di dunia cermin sehingga bentuknya semakin cantik dan bersinar.
“Busur suci ini hanya mengenali Nona sebagai pemiliknya begitu pula dengan dunia cermin, jadi yang bisa menggunakannya hanya anda Nona. Meski demikian, anda tetap tidak boleh membiarkannya jatuh ke tangan orang lain karena akan berbahaya jika busur suci ini kehilangan kendalinya,” terang Shou.
“Kehilangan kendali?”
“Iya Nona, busur suci tidak pernah membiarkan orang selain Nona menyentuhnya. Kalau ada seseorang yang memiliki niat jahat dengan menggunakan busur suci ini maka dia akan menyerang siapapun bahkan bisa menghancurkan satu kekaisaran dalam beberapa serangan,”
“Ternyata begitu. Baiklah aku mengerti, terima kasih,” ucap Scarlesia sambil merekahkan senyumnya.
Ketika fajar sudah menyingsing lalu secara perlahan langit malam mulai menguasai dan menampakkan dirinya, Scarlesia membaringkan tubuhnya yang sedari tadi merasa letih. Kali ini ia berbaring menghadap jendela kamarnya, angin yang mendayun membuat jendelanya diketuk-ketuk oleh ranting pohon. Suaranya cukup berisik namun tidak mengganggunya, Scarlesia berdecak kesal karena ini sudah lewat dari jam 12 malam dan dia masih belum bisa memicingkan matanya.
Saat ia membalikkan badannya, mendadak jendelanya terbuka lebar oleh angin yang menjadi kencang tiba-tiba. Scarlesia tersentak bangun dari tempat tidurnya karena jendelanya menghantam keras dindingnya hingga berbunyi dan meninggalkan retakan di kaca jendelanya.
“Ya ampun anginnya kencang sekali,”
Scarlesia mengunci rapat jendela kamarnya agar tidak diterbangkan oleh angin kembali, tidak lupa pula ia menarik gordennya untuk menutupi kacanya.
“Lanjut tidur la…”
“Halo si palsu,” sapa seorang gadis di hadapannya yang menyerupai dirinya.
__ADS_1
Sontak kehadiran gadis tersebut membuat irama napasnya tidak seiras, degup jantungnya tidak lagi bisa dia kontrol, serta kedua matanya membulat sempurna tanpa berkedip.
“Apakah kau pemilik asli tubuh ini?”