Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Dimulainya Pertempuran


__ADS_3

“GERBANG MONSTER UTAMA TERBUKA!”


Para ksatria dan penyihir bersiap pada posisi masing-masing, Scarlesia berpencar dengan Xeon, Andreas, serta yang lainnya. Gerbang terbuka lebar, para monster memasuki medan perang dengan jumlah yang tidak sedikit. Para monster itu berkisar sekiranya lebih dari 500 monster, dalam sekejap medan perang penuh oleh keberadaan mereka.


Yang paling terakhir keluar dari gerbang itu adalah raja monster yang ukuran badannya melebih monster-monster lain. Gerbang otomatis tertutup kembali ketika raja monster sudah bergabung ke dalam formasi pertempuran para bawahannya. Mereka membawa berbagai jenis senjata tapi mereka rata-rata menggunakan gada.


“Hoho ternyata benar yang dikatakan beliau. Kau gadis bersayap sudah mengetahui semuanya sejak awal,” ucap raja monster tersebut menunjuk Scarlesia yang berada di udara.


Scarlesia tersenyum miring, dia sudah menduga bahwa dewa kegelapan mengetahui kalau dia bisa melihat masa depan.


“Apa beliau yang kau katakan itu adalah dewa kegelapan? Dia pemimpin yang kalian agungkan itu bukan? Dia mau membunuhku dan menghancurkan sekaligus umat manusia, kau pikir kami bisa dikalahkan dengan mudah? Lebih baik kau jangan bermimpi ketinggian,” balas Scarlesia.


“Ratu alam semesta, apa kau lupa dengan kejadian 2000 tahun yang lalu? Hari dimana hancurnya seluruh kehidupan, kau….”


Sebuah serangan mendadak mengenai wajah raja monster, ternyata serangan itu berasal dari Xeon.


“JANGAN BERBICARA OMONG KOSONG!” teriak Xeon marah.


“Sialan! SERAAAAANGGGGGG!!!”


Raja monster memerintahkan penyerangan secara bersamaan, mereka dengan kecepatan penuh melaju memecah formasi para ksatria.  Suara senjata yang beradu, para penyihir yang melancarkan serangan sihirnya mewarnai medan pertempuran saat ini. Di samping itu, Scarlesia menggunakan busur sucinya untuk menyerang dari jarak jauh.


Scarlesia terbang sedikit lebih tinggi untuk membidik para monster yang jumlahnya melebihi jumlah ksatria dan penyihir yang diutus masing-masing kekaisaran. Sedangkan raja monster hanya diam sambil tertawa menyaksikan para bawahannya menyerang manusia.


“Kau sebaiknya jangan lengah!” ucap Xeon sudah berada di hadapan raja monster.


“Kau Xeon bukan? Dewa takdir yang selalu menemani gadis itu,”


“TUTUP MULUTMU! AKU YANG AKAN MENJADI LAWANMU!”


Xeon mengeluarkan kekuatannya dari tangannya, sebuah cahaya putih yang panas ia hempaskan menuju raja monster. Kekuatannya menyatu dengan udara sehingga tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, dan serangannya tepat mengenai raja monster lalu membuatnya terpental ke belakang.


“Ternyata kau memang kuat seperti yang dikatakan dewa kegelapan,”

__ADS_1


Raja monster bangkit dari kejatuhannya, rasa nyeri di perutnya terpaksa ia tahan sementara waktu. Xeon menarik tubuhnya ke udara, sekarang dia ingin menyerang dari udara.


“Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh Sia!”


“Wuahaha baiklah kalau begitu aku akan melayanimu dengan senang hati,”


Xeon membentuk sebuah pedang cahaya dari kekuatannya, dua senjata mereka beradu di udara. Pertarungan antara Xeon dan raja monster berlangsung dengan sengit, gerakan mereka sama-sama cepat dan sulit untuk diikuti. Di sisi lain medan perang, Andreas menghadapi satu dari enam eksekutif dari klan monster yang bernama Shon.


Mereka berdua sama-sama merupakan sword master, Andreas merasa tertantang saat dihadapkan dengannya.


“Ohoo kau lumayan juga ya,” ujar Shon.


“Diam!”


Mereka berdua mengadu kekuatan pedang masing-masing, Moon pedangnya Andreas sangat bersemangat melakukan pertarungan ini. Andreas mendorong Shon sekuat tenaga dan membuatnya terdorong serta tergeser ke belakang.


Lalu Zenon mendapatkan lawan yang juga merupakan eksekutif klan monster yang berkuatan api sama sepertinya. Monster yang dilawan oleh Zenon bernama Don, saudara kembar dari Shon. Kekuatan api mereka saling bertumbukan satu sama lain, tempat di sekitar mereka menjadi panas dan itulah kenapa mereka yang berada di sana menjauhkan diri dari mereka berdua agar tidak terkena panasnya kekuatan mereka.


“TIDAK! APIKU LAH YANG LEBIH PANAS!” lawan Zenon.


“Kau keras kepala sekali! Sudah jelas apiku yang lebih panas,”


“MUSTAHIL! MANA MUNGKIN NAGA MERAH YANG AGUNG KALAH DARI MONSTER JELEK SEPERTIMU,” ejek Zenon dengan nada suara meninggi.


“APA YANG KAU KATAKAN???”


Tingkat kepanasan api mereka semakin lama semakin tinggi, Scarlesia menggeleng-geleng melihat kelakuan mereka yang sedang bertempur tapi malah mengadu kekuatan masing-masing. Scarlesia memutar pandangannya, ia juga melihat Elios melakukan hal yang sama dengan eksekutif monster juga yang bernama Ben.


“Mari kita buktikan kekuatan es siapa yang paling kuat!” ujar Ben menantang.


“Oke, siapa takut,”


Elios menerima tantangannya, kekuatan es mereka berdua meluber kemana-mana dan mengakibatkan suhu di sekitar mereka menjadi dingin. Scarlesia kembali melihat ke arah lain, yang ternya Oliver dan Louis juga seperti itu. Oliver berhadapan dengan Gin, sedangkan Louis dengan Ren. Anggota eksekutif para monster yaitu monster yang memiliki kekuatan lebih tinggi dibanding monster lainnya dan juga hanya mereka yang diberi nama oleh dewa kegelapan.

__ADS_1


“Apa ini sungguh perperangan antara monster dan manusia? Kenapa terlihat seperti ajang mencari siapa yang lebih kuat? Sangat berbeda dengan apa yang aku lihat kala itu,” pikir Scarlesia.


Para ksatria dan penyihir juga dengan mudah mengalahkan monster tersebut, ini juga berkat racun yang diracik olehnya memudahkan mereka menghabisi monsternya. Scarlesia menghentikan pengamatannya, saat ini dia kembali berfokus pada monster-monster yang sedang mencoba menyerangnya. Scarlesia mengubah busur sucinya menjadi pedang, Gerakan yang super cepat miliknya berhasil membabat habis monster yang ada di hadapannya.


“Lemah sekali,” gumamnya.


Ketika ia membalikkan badannya, seorang monster wanita yang menyerupai manusia berdiri di hadapannya dan menghadang jalan Scarlesia.


“Siapa kau?” tanya Scarlesia.


“Aku? Aku adalah Lin,”


“Lin? Apa kau manusia? Tapi kenapa badanmu hijau?”


“DIAM! JANGAN PERNAH SAMAKAN AKU DENGAN MAKHLUK RENDAHAN SEPERTI KALIAN!” sergahnya emosi.


“Hmm sepertinya kau monster soalnya tubuhmu juga berwarna hijau sama seperti mereka,”


Ekspresi Scarlesia terkesan meremehkan Lin, ia gusar melihat Scarlesia yang tidak ada takutnya pada dirinya.


“KURANG AJAR! AKU AKAN MEMBUNUHMU!”


Lin mendekat sembari menodongkan pedangnya pada Scarlesia, tapi Scarlesia menangkap pedangnya menggunakan dua jarinya. Ujung pedang milik Lin dijepit dengan jemari indahnya, Lin berusaha menarik pedang tersebut dari cengkraman jarinya tapi ia tidak bisa melakukannya sebab cengkramannya terlalu kuat.


“Apa ini? Kenapa kau lemah sekali?” ejek Scarlesia.


“Uhh gadis ini sangat kuat! Aku harus menjauh darinya lebih dulu,”


Lin melepaskan pedangnya lalu mundur dengan cepat untuk menjauh dari Scarlesia. Sekarang dia memilih untuk menyerang Scarlesia menggunakan pedangnya yang lain. Pedang yang dia keluarkan saat ini sangat berbeda dengan pedang yang tadinya ia gunakan untuk menyerang Scarlesia. Pedangnya sekarang berwarna lebih gelap serta ada aura yang tidak mengenakkan dari pedang tersebut.


“Katakan padaku, pedang apa itu? Kenapa terlihat sangat berbeda dari pedangmu sebelumnya?” tanya Scarlesia menatap tajam.


“Ternyata kau peka juga, pedangku ini sudah melahap banyak jiwa manusia. Jadi, kekuatannya juga lebih besar dari pedang biasa,”

__ADS_1


__ADS_2