Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Extra Chapter 5


__ADS_3

“Malam nanti aku yang akan tidur dengan Ibu.”


“Tidak! Aku yang akan tidur dengan Ibu!”


“Apa? Harusnya kau mengalah. Aku lebih tua darimu!”


Terlihat dua anak laki-laki bersurai merah dan bersurai putih tengah bertengkar di meja makan rumah kaca. Mereka berdua nampak mirip dengan Zenon dan Elios, tidak ada bedanya seolah mereka adalah Zenon versi mini dan juga Elios versi mini.


“Seharusnya karena kau lebih tua makanya kau mengalah dariku!” bentak Enzo, anak Elios dan Scarlesia.


“Apa? Kemarin kau sudah tidur bersama Ibu. Sekarang giliranku.” Hugo membentak balik Enzo. Hugo merupakan anaknya Zenon bersama Scarlesia.


Usia Hugo dan Enzo terpaut dua tahun, Hugo merupakan putra kelima sedangkan Enzo adalah putra keenam alias putra bungsu Scarlesia. Mereka setiap hari selalu bertengkar hanya karena masalah sepele, persis seperti Elios dan Zenon yang sejak dulu sering bertengkar. Api memang tidak bisa damai dengan es, terkadang para pelayan kewalahan melerai pertengkaran antara Hugo dan Enzo, tidak ada yang mau mengalah di antara mereka berdua.


“Hei kalian berdua, diamlah!”


Bugh!


Luca, putra pertama Scarlesia memiliki penampilan persis seperti Ibunya, dia selalu memukul kepala Hugo dan Enzo apabila bertengkar seperti sekarang. Selaku anak pertama, dia paling bijak mengatur adik-adiknya. Meskipun sifatnya dingin, namun ia dikenal dengan sifat peduli terhadap adiknya.


“Kakak! Kenapa malah memukulku? Harusnya kakak pukul Enzo saja,” protes Hugo.


“Ahh kalian berdua sama saja, sama-sama suka cari masalah. Kemarin kalian memecahkan vas bunga kesayangan Ibu kan? Apa kalian sudah meminta maaf kepada Ibu?” celetuk Noah, putra kedua, kembarannya Luca. Noah memiliki penampilan yang sangat mirip dengan Andreas, walau begitu sifatnya tidaklah dingin dan banyak bicara seperti Scarlesia.


Hugo dan Enzo tertunduk, perkataan Noah menyentil perasaan mereka berdua. Kemarin mereka bertengkar hebat di halaman istana hingga membuat pecah vas bunga Scarlesia yang terletak di dekat meja taman.


“Kalian tahu kan Ibu orangnya bagaimana? Kalian kemarin memecahkan vas bunga dan kabur begitu saja dari tanggung jawab. Seharusnya kalian temui Ibu lalu minta maaf, Ibu akan memakluminya. Ibu lebih membenci orang yang tidak bertanggung jawab, jadi kalian berbicaralah jujur kepada Ibu, kalian paham?” Luca memberikan nasehat kepada keduanya, memberikan pemahaman tentang kesalahan apa yang telah mereka perbuat.


“Iya kak, kami paham,” jawab Hugo dan Enzo berbarengan.


Luca mengelus puncak kepala mereka, dia sedikit merasa bersalah karena telah memukul kepala sang adik.


DUAARRR!

__ADS_1


Suara ledakan tiba-tiba saja terdengar dari sisi lain rumah kaca, ledakannya tidak terdengar jauh dari tempat mereka berpijak. Langsung saja Luca, Noah, Hugo, dan Enzo menuju sumber ledakan tersebut.


“Michael! Ada apa ini? Apa yang kau lakukan?”


Seorang anak laki-laki berambut biru panjang terkapar di permukaan tanah karena ledakan tersebut, anak itu bernama Michael yaitu anaknya Oliver, putra keempat Scarlesia. Dia memiliki sihir yang kuat seperti Oliver di tubuhnya. Luca segera menghampiri Michael lalu membantunya untuk berdiri.


“Maaf kak, tadi aku melakukan beberapa penelitian sihir. Padahal aku sudah memasukkan formula sihir yang pas, tapi kenapa gagal ya?” jawab Michael tertawa kecil.


“Kepalamu berdarah! Apa kau benar-benar melakukan penelitian berbahaya seperti ini?” Noah juga ikut membantu Michael berdiri.


“Sini, biar aku sembuhkan dulu lukamu.”


Luca mewarisi kekuatan penyembuhan dari Scarlesia, dia masih belum mahir menggunakannya tapi jika untuk luka kecil seperti di kepala Michael, dia masih bisa menyembuhkannya.


“Kak, apa kakak sudah bisa menggunakan kekuatan penyembuhan?” tanya Enzo dengan mata berbinar.


“Masih belum semahir Ibu, aku juga masih tahap belajar.”


“Ehh apakah kalian sudah memberitahu Ibu tentang kekuatan itu? Masing-masing kita memiliki kekuatan yang berbeda-beda, selama ini kita menyembunyikan fakta bahwa di dalam diri kita tidak hanya mengalir kekuatan Ayah saja tapi ada kekuatan Ibu juga,” tutur Noah.


“Kita bisa memberitahu mereka nanti,” kata Michael, kini lukanya telah sembuh sepenuhnya.


“ANAK-ANAK! DI MANA KALIAN?”


Scarlesia baru tiba di rumah kaca, ia mencari keberadaan anak-anaknya yang tadi berjanji akan menemuinya di rumah kaca.


“Ehh itu Ibu, ayo cepat kita ke sana sekarang.”


Scarlesia datang bersama para suaminya, mereka berencana untuk makan siang bersama di rumah kaca. Tapi, saat mereka datang, tidak ada satu orang pun anak-anak mereka yang terlihat. Tidak lama menunggu, Luca datang membawa adik-adiknya.


“Dari mana kalian?” tanya Elios.


“Tidak ada, hanya saja Kak Michael melakukan penelitian sihir lagi,” adu Enzo.

__ADS_1


“Michael, bukankah aku sudah melarangmu untuk melakukan penelitian sihir di sembarang tempat? Kau kan bisa melakukannya di menara sihir,” omel Oliver.


“Maaf Ayah, hanya saja aku pikir melakukannya di rumah kaca terlihat lebih keren,” jawab Michael dengan tampang tak berdosa.


Scarlesia menggeleng-geleng melihat tingkah anak-anaknya, mereka terlalu mirip dengan Ayah mereka masing-masing, hanya Luca saja yang memiliki penampilan yang mirip dengan Scarlesia tapi sifatnya mirip dengan Andreas.


“Padahal aku yang hamil, merasakan sakit, melahirkan mereka, tapi kenapa semuanya mirip dengan Ayahnya? Bahkan putri kecilku juga mirip Ayahnya,” batin Scarlesia.


Ya, anak terakhir Scarlesia seorang perempuan dan baru berusia dua tahun bernama Luciana. Rambut Lucia berwarna blonde disertai netra berwarna hijau segar, terlalu mirip dengan Xeon yang merupakan Ayah kandung Luciana. Jadi, total anak Scarlesia saat ini tujuh orang, enam di antaranya laki-laki dan Lucia satu-satunya perempuan.


“Ehh Clodio ada di mana?” tanya Scarlesia, dia baru sadar putra ketiganya tidak ada di sana. Clodio yaitu putranya bersama Louis.


“Luca, mana Clodio?” tanya Louis pada Luca.


“Tidak tahu, bukankah tadi Clodio ada di luar? Dia bilang akan kembali lagi pada saat jam makan siang,” balas Luca.


Scarlesia akhirnya memerintah beberapa ksatria untuk mencari Clodio dan menyuruhnya untuk segera ke rumah kaca, sebab sekarang sudah hampir memasuki waktu jam makan siang. Makanan yang disediakan oleh para koki serta pelayan hampir menjadi dingin karena terlalu lama ternganga di udara.


“Ibu, Ayah! Lihat apa yang aku temukan!”


Sebelum para ksatria penjaga berangkat mencari Clodio, ternyata dia sudah lebih dulu tiba di rumah kaca. Rambut jingganya serta senyum merekah di bibirnya, sungguh wajahnya imut seperti Louis dulu. Scarlesia menoleh ke arah Clodio, dia tidak merasa asing dengan sesuatu yang dibawa di dalam pelukannya.


“Ibu, Ayah, aku menemukan seekor anak harimau putih di dekat hutan,” ujar Clodio.


“Harimau putih? Jangan-jangan itu….”


“Dia bilang namanya Kitty.”


Pernyataan Clodio barusan membuat Scarlesia terperanjak kaget, seekor harimau putih kecil yang berada di pelukan Clodio memang itu adalah Kitty. Scarlesia meminta Clodio untuk menyerahkan Kitty kepadanya, Scarlesia memeluk Kitty begitu hangat.


“Kitty, rupanya kau bereinkarnasi kembali ya.” Para suami Scarlesia turut merasa senang atas hadirnya Kitty kembali ke kehidupan Scarlesia.


“Sia, aku pulang. Aku sangat merindukanmu,” ungkap Kitty.

__ADS_1


“Aku juga merindukanmu, ehh tapi tunggu dulu.” Scarlesia menyadari hal aneh lainnya dari Clodio, tatapan Scarlesia ke arah Clodio sungguh penuh selidik.


“Clodio, jujur pada Ibu. Kau bisa berbicara dengan hewan?”


__ADS_2