Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Kedatangan Zenon


__ADS_3

Di kamar Carlen


“Lapor tuan, dokter yang meracuni Nona sudah kami amankan. Sebelumnya dia mencoba kabur tapi kami berhasil menahannya,” lapor Max, komandan pasukan bayangan milik Carlen.


“Kerja bagus! Bawa dia ke ruang penyiksaan. Aku akan segera ke sana,”


Max pun langsung menghilang untuk menjalankan perintah dari Carlen. Sementara itu, Carlen pergi ke ruang penyiksaan yang terletak dekat ruang bawah tanah. Dia sudah berhari-hari mencari keberadaan dokter tersebut tapi untung saja bawahannya bisa menemukannya sebelum dia kabur.


Gambaran ruang penyiksaan ini seperti sebuah ruang kecil yang sempit, gelap, dan udara di sana sangat lembab, serta juga tercium bau darah. Di sini lah biasanya tempat Carlen mengintrogasi dan menyiksa orang-orang yang berani menyinggung keluarga Duke Eginhardt.


Di sana sudah ada Marcus si dokter paruh baya yang dari dulu meracuni Scarlesia, kini kondisinya sangat babak belur karena sebelumnya dia sudah dipukuli oleh para bawahannya Carlen.


“Letakkan dia di atas lantai,” perintah Carlen seraya duduk di sebuah kursi.


Carlen memberikan sorotan tajam pada Marcus, dia sekarang sangat ingin membunuhnya tapi dia menahan diri karena ada beberapa hal yang harus dia tanyakan.


“Marcus, kau tahu kan aku orangnya bagaimana? Kenapa kau berani-beraninya meracuni adikku?” selidik Carlen memandang dingin.


“Haha aku kira gadis itu tidak berharga jadi apa salahnya jika dia mati karena racunku?”


“Apakah ada orang di belakangmu yang menyuruhmu melakukan hal ini?”


“Ya, kau sudah tahu jawabanku bukan? Beliau lah yang menyuruhku untuk meracuni adikmu. Walaupun aku beritahu pun kau tidak akan bisa melawan beliau secara langsung,”


Marcus terlihat tidak takut sama sekali pada Carlen, dia masih berani menatap matanya yang tengah marah itu.


“Baiklah, aku sudah tahu. Kalau begitu sekarang siksa dia sampai mati!” suruh Carlen. “Aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang berani menyakiti adikku,”


“HAHAHA KAU PIKIR KAU BISA LOLOS SETELAH MEMBUNUHKU? JUSTRU AKAN SEMAKIN BANYAK ORANG YANG MENCOBA MENYAKITI ADIKMU!” teriak Marcus sambil tertawa.


Kemudian Carlen mengambil pedangnya lalu dia menusuk punggung tangannya hingga membuat pedang tersebut tertancap di atas tanah.


“AARRRHHHH!!!!!” pekik Marcus kesakitan.


“Lanjutkan! Aku akan keluar dari sini,” ujar Carlen kepada para bawahannya.


“Baik tuan!”


Carlen keluar dari ruang penyiksaan dengan perasaan yang berkecamuk. Saat ini dia sangat marah karena orang-orang terus mencoba menyakiti adiknya.


“Tidak akan ada ke sekian kalinya! Aku akan melindungi Sia. Aku tidak bisa melindungi Ibu tapi setidaknya aku akan menjauhkan Sia dari orang-orang yang mencoba menyakitinya,” tekad Carlen dalam hati.


Sementara itu, Scarlesia sekarang tengah menuju ke Paviliun Kirin yaitu paviliun yang dulu pernah ditempati Larissa, Ibunya. Paviliun tersebut terlihat mewah serta banyak bunga-bunga yang tumbuh menghiasi sekeliling paviliun. Tidak heran mengapa Zaneta sangat menginginkan paviliun tersebut karena selain desainnya yang mewah, di belakangnya juga ada danau buatan yang sangat cocok dipakai untuk bersantai.

__ADS_1


Scarlesia mengamatinya satu persatu, tepat di lorong paviliun terpampang potret Larissa. Dia berhenti cukup lama di depan potretnya Larissa.


“Wah Yang Mulia Duchess sebelumnya sangat cantik, mirip sekali dengan Nona,” ungkap Hana yang terpana.


“Ya, dia mirip sekali dengan pemilik tubuh ini. Hanya saja bedanya ujung rambut pemilik tubuh ini memiliki warna merah muda bercampur hijau muda sedangkan rambut Ibunya sepenuhnya silver mirip dengan rambut Carlen,” batinnya.


Scarlesia mengedarkan pandangannya, kedua matanya menangkap sebuah taman yang menarik perhatiannya.


“Kalian tunggu di sini ya, aku akan ke sana sebentar,” ujar Scarlesia meninggalkan Erin dan Hana di lorong paviliun.


Saat sampai di taman yang dia maksud, ternyata itu bukanlah taman biasa melainkan di sana tumbuh banyak tanaman obat. Mulai dari bunga tulip hitam, rumput putih, dan beberapa tanaman obat lainnya.


“Apakah ini semua ditanam oleh Ibu? Semuanya terlihat menarik,” pikirnya mengamati satu persatu tanaman obat yang tumbuh di sana.


Ketika dia sedang melihat-lihat tanaman obat, tiba-tiba saja ada seorang pria yang memeluknya dari belakang.


“Ketemu!” serunya di samping telinga Scarlesia.


“KYA…”


Sebelum Scarlesia berteriak terlalu kencang, pria itu menutup mulut Scarlesia.


“Sssstt jangan berisik, nanti para pelayanmu malah kemari,” bisiknya lalu melepaskan bungkamannya.


“Siapa kau? Lancang sekali kau memelukku begini. Apakah kau pencuri?” selidik Scarlesia.


“Jahat sekali kau mengatakan aku pencuri, apakah ada pencuri yang memelukmu seperti ini sebelum dia mencuri?”


“Oke oke kalau bukan pencuri tapi lepaskan pelukanmu dulu, ini membuatku sesak. Apa kau mau aku pukul haa?”


Pria itu pun melepaskan pelukannya dari Scarlesia, dia belum menjawab pertanyaan Scarlesia mengenai siapa dirinya sebenarnya.


“Siapa pria ini? Kenapa jantungku kembali berdegup kencang seperti sebelumnya?” pikirnya merasakan detak jantungnya yang sangat kencang.


“Apa kau tidak tahu siapa aku? Padahal beberapa hari yang lalu kita bertemu,” tanya pria tersebut.


Lalu Scarlesia memandangnya dari atas sampai bawah, kemudian Scarlesia melihat syal merah yang dikenakannya mirip dengan syal yang sebelumnya dia berikan pada naga merah di Bukit Grigori.


“Tidak mungkin kan kau adalah naga merah yang aku temui di Bukit Grigori?”


“Hahaha tebakanmu benar,”


“EEEHHHHHH BOHONG!” teriak Scarlesia.

__ADS_1


“Sssstt aku sudah bilang diam,”


“Uppss kelepasan,” kata Scarlesia segera menutup mulutnya. “Tapi kenapa tuan naga bisa ada di sini? Apakah anda menyusup masuk kemari?”


“Panggil aku Zenon, kau tidak perlu berbicara formal padaku. Cukup berbicara santai saja,” ucap Zenon yang ternyata adalah naga merah yang sebelumnya ditemui oleh Scarlesia.


“Baiklah Zenon. Kenapa kau bisa ada di sini?”


“Aku sudah mencarimu sejak semalam, jadi tadi ketika aku sedang terbang aku tak sengaja melihatmu. Itu lah kenapa aku bisa di sini,” terang Zenon penuh senyum.


Scarlesia menghela napasnya, dia tidak mengerti apa alasan Zenon mencarinya sampai kemari. Wajah Zenon penuh senyum itu tidak terlihat seperti orang jahat sama sekali.


“NONAAA!! NONAAA!! APAKAH ANDA TIDAK APA-APA? TADI SAYA MENDENGAR SUARA TERIAKAN NONA,” teriak Erin.


Hana dan Erin bergegas dari lorong paviliun menuju tempat Scarlesia karena mereka mendengar teriakan Scarlesia.


“Aku tidak apa-apa,” jawab Scarlesia.


“Siapa pria tampan ini Nona?” tanya Erin dengan mata yang terkagum melihat Zenon.


Zenon melambaikan tangannya pada Erin sambil tersenyum.


“Dia adalah Zenon, temanku yang tidak sengaja masuk ke dalam paviliun ini,” jawab Scarlesia. “Sudahlah ayo kita kembali ke kamar,” ajak Scarlesia.


“Lalu bagaimana dengan dia Nona? Apakah anda mau membawanya?” bisik Hana bertanya.


Scarlesia pun berpikir sejenak lalu menatap Zenon.


“Tidakkah kau pergi sekarang? Aku mau kembali ke kamarku,” kata Scarlesia mencoba mengusir Zenon secara halus.


“Tidak, aku akan tinggal dengamu,” jawab Zenon enteng.


“Kau becanda ya? Memangnya apa yang akan kau lakukan di sini?”


Zenon pun mendekat ke Scarlesia.


“Entahlah, mungkin aku bisa menghangatkan ranjangmu,” bisik Zenon dengan suara napas yang berhembus di telinga Scarlesia.


Scarlesia mendorong tubuh Zenon untuk menjauh darinya, wajahnya memerah sesaat Zenon mencoba merayunya.


“Hahh baiklah baiklah, kau boleh tinggal di sini,” pasrah Scarlesia.


Dia pun membawa Zenon bersamanya dan Zenon terlihat sangat senang. Pada saat sampai di depan kamarnya, Scarlesia bertemu dengan Andreas. Dia memandang sinis Zenon yang datang bersama Scarlesia.

__ADS_1


“Sia, siapa pria ini?”


__ADS_2