
“OKE SEMUANYA BERBARIS!” seru Scarlesia semangat.
“Nona, sebenarnya jarum-jarum apa ini?” bisik Erin bertanya melihat begitu banyak jarum suntik.
“Ini namanya jarum suntik. Nanti kamu lihat saja cara kerjanya,”
Semua orang sudah berkumpul di depan paviliun, satu persatu dari mereka menerima vaksin yang dibuat oleh Scarlesia sendiri demi memperkuat imunitas tubuh mereka agar kebal terhadap virus xynlo. Tidak sedikit dari mereka yang takut akan jarum suntik bahkan ada juga yang melarikan diri termasuk Zenon.
“AAAAHHHH JAUHKAN AKU DARI BENDA TAJAM ITU!” teriaknya.
“Zenon, kemarilah! Bagaimana bisa kamu takut dengan jarum suntik? Padahal kamu tidak takut sama sekali dengan pedang yang tajam,” bujuk Scarlesia mencoba mengejar Zenon.
“KENAPA AKU MEMBUTUHKANNYA? AKU INI NAGA DAN AKU TIDAK MUNGKIN TERJANGKIT DENGAN PENYAKIT ANEH YANG KAU CERITAKAN,”
Lagi-lagi Zenon berteriak, kali ini dia naik ke atas pohon.
“Hahaha lihat itu bagaimana bisa seekor naga takut pada jarum suntik,” ledek Oliver tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha naga bodoh! Itu hanya jarum kecil dan tidak akan menyakitimu,” kekeh Elios ikut meledek.
Andreas dan Louis berusaha menahan tawanya, Scarlesia menggeleng pasrah bagaimana ceritanya Zenon bisa takut dengan jarum suntik?
“BENDA ITU TERLIHAT MENJIJIKKAN. BAGAIMANA CARANYA BENDA SEKECIL ITU BISA MENUSUK MASUK KULIT BANYAK ORANG,”
Zenon masih membela dirinya, ia sama sekali tidak ingin bersentuhan dengan jarum suntik.
“Virus xynlo bisa menyerang siapa saja termasuk naga. Lebih baik kita atasi sebelum terjangkit, ayo cepat turun! Kau tidak mau turun? Aduh astaga kenapa kau bisa selemah ini? Aku tidak menyukai pria lemah. Ya sudah lah aku pergi saja,”
Scarlesia berusaha membujuk Zenon dengan beberapa kata saja, ia tahu sifat Zenon yang sebenarnya. Saat ini Zenon merasa tertantang karena ucapan Scarlesia yang terdengar sangat blak-blakkan tersebut.
“Baiklah. Kalau begitu aku akan melakukannya,” ucap Zenon yang akhirnya melunak.
Ia lekas turun dari atas pohon, Oliver dan Andreas memeganginya agar dia tidak kabur.
__ADS_1
“Oke Zenon, aku akan mulai ya. Jadi jangan menangis kalau jarum ini menusuk tanganmu,” ujar Scarlesia tersenyum menyeramkan.
“AARRRGHHHHH,”
Zenon berteriak sesaat jarumnya menusuk kulitnya, meski dia ingin meronta sekuat mungkin tapi dia tidak bisa melakukannya karena mengingat ucapan yang tadi dikatakan oleh Scarlesia padanya. Zenon adalah pasien terakhirnya jadi setelah Zenon disuntik itu artinya semua pekerjaannya telah selesai sepenuhnya. Di saat dia sedang beristirahat, tiba kabar kalau Eldrick sudah sadarkan diri. Ia langsung bergegas menuju mansion untuk melihat kondisi sang Ayah kala ini.
“Ayaahhh huwaaa kau membuatku sangat khawatir,” rengeknya memeluk Eldrick.
Eldrick mengelus puncak kepala anak gadisnya, dia tersenyum melihatnya bertingkah seperti anak kecil.
“Sia, aku dengar kau yang menyelamatkanku. Terima kasih,” ungkap Eldrick.
“Sudah sepatutnya aku menyelamatkan Ayah. Kan aku anak Ayah,” jawabnya.
“Bagaimana kau bisa tahu mengenai penyakit ini?”
“Lalu darimana kau tahu cara mengobatinya?”
Eldrick, Carlen, dan Aldert menatap Scarlesia seakan mereka sangat membutuhkan jawaban atas semua pertanyaan tersebut. Scarlesia membuang mukanya dan tidak ingin menjawab pertanyaannya.
“I-i-itu… Nanti saja aku jawab. Tapi Ayah, tolong izinkan aku pergi ke daerah barat!” pinta Scarlesia.
“Tidak boleh karena keadaan di daerah tersebut begitu buruk bahkan dokter saja tidak bisa menanganinya,” tolak Eldrick tegas.
“Tapi aku sudah membuat obat untuk penduduk daerah barat jika tidak ditangani maka akan semakin banyak korban jiwa. Karena ini semua adalah bagian dari rencana permaisuri untuk menghancurkan keluarga Duke Eginhardt,” jelas Scarlesia.
“Permaisuri? Apa maksudmu?”
Scarlesia kemudian menceritakan semuanya dari awal tentang rencana permaisuri yang sebenarnya. Mereka bertiga tertegun seketika mendapatkan penjelasan secara rinci dari Scarlesia, namun mereka mengerti dan percaya bahwa mungkin memang ada siasat dari permaisuri. Rasanya sangat kesal karena permaisuri mempermainkan nyawa orang lain demi dendam pribadinya. Saat ini mereka tidak punya langkah lain selain harus mengatasi masalah ini terlebih dahulu.
“Baiklah Sia kau boleh pergi ke daerah barat tapi jangan sampai ikut terjangkit,” ujar Eldrick akhirnya mengizinkan dirinya pergi ke daerah barat.
“Benarkah? Kalau begitu sekarang aku akan bersiap-siap,”
__ADS_1
Scarlesia bergegas keluar dari kamar Eldrick, ia semangat karena kali ini dia bisa keluar dari kediaman ini walau bukan untuk bermain-main tapi setidaknya rasa lelahnya akan terbayarkan.
“Carlen, Aldert, kalian harus awasi adik kalian karena permaisuri kali ini lebih terang-terangan untuk menghancurkan keluarga kita,” pesan Eldrick.
“Baik Ayah,”
Scarlesia segera bersiap-siap menuju daerah barat bersama Andreas, Oliver, Zenon, Elios, dan Louis lalu juga ada Carlen serta Aldert. Sedangkan untuk Erin dan Hana dilarang ikut oleh Scarlesia karena dia berfirasat bahwa perjalanan ini tidak semulus yang dia pikirkan. Sebenarnya dia disuruh beristirahat terlebih dahulu oleh pelayannya tapi ia menolak karena khawatir dengan kondisi penduduk daerah barat saat ini.
“Apa ada cara yang agar bisa sampai di sana lebih cepat?” tanya Scarlesia.
“Ada, dengan portal sihir. Tapi manusia yang tidak punya sihir di dalam dirinya akan sedikit sulit melewati portal karena jika manusia biasa yang melewatinya maka akan menyebabkan pusing dan mual dalam waktu yang lama,” jawab Oliver.
“Ya sudah ayo pakai postal saja karena aku tidak suka pakai kereta kuda,” ajaknya memaksa.
“Ehh tapi…”
“Ayo cepat Oliver,”
Akhirnya Oliver menurut dan membuatkan portal sihir agar mereka bisa lebih cepat sampai di daerah barat. Scarlesia tampak antusias saat melihat sebuah portal sihir di hadapannya bahkan tanpa aba-aba dia langsung pergi begitu masuk melewati portal sihir.
“SIAAAAAAA,” panggil mereka serentak tapi ternyata sudah terlambat karena dia sudah masuk lebih dulu ke dalam.
Mereka pun bergegas menyusul Scarlesia karena khawatir gadis itu akan pusing dan mual. Namun, saat mereka sudah sampai ternyata Scarlesia terlihat biasa saja dan tidak merasa pusing apalagi mual. Mereka semuanya terkejut melihatnya yang baik-baik saja malahan dia semakin bersemangat.
“Apa dia benar-benar tidak punya sihir di tubuhnya?” tanya Zenon.
“Selama ini dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kalau dia punya sihir,” balas Carlen memandang tidak percaya.
“Cepat kita ikuti Sia, dia sangat bersemangat bahkan dia lupa kalau di belakangnya masih ada kita,” ujar Aldert.
Sia berhenti seketika melihat tubuh-tubuh manusia yang tergeletak sakit, para dokter yang bersusah payah karena berlari kesana kemari untuk merawat pasien, serta raut wajah putus asa yang tergambar di ekspresi mereka masing-masing.
“Ini kondisinya sangat parah. Di luar dugaanku karena aku pikir tidak akan sebanyak ini yang terserang virus xylon,” katanya melihat dengan tatapan prihatin dan sedih yang dia rasakan sekaligus.
__ADS_1