
Scarlesia berjalan santai di lorong mansion, semua pelayan yang melihatnya menundukkan pandangannya karena merasa takut dengan dirinya. Tapi, Scarlesia tidak peduli dengan pandangan mereka selagi tidak merugikannya ya biarkan saja.
“Erin, apakah kau membawa semua perhiasan dan uang yang disita dari Debby?” tanya Scarlesia.
“Bawa Nona,”
“Oke, sekarang kumpulkan semua koki,” perintah Scarlesia.
“Baik Nona, akan segera kami laksanakan,” jawab Hana dan Erin serentak.
Segera mereka berdua pergi ke dapur mansion untuk memberitahukan perintah Scarlesia mengumpulkan mereka semua.
“Apakah ini sudah semuanya?” tanya Scarlesia yang berdiri di hadapan para koki.
“Sudah Nona!”
“Bagus, kalian tahu apa alasanku memanggil kalian kemari?”
Para koki menggeleng, melihat sorot mata Scarlesia yang tajam membuat mereka berpikir bahwa Scarlesia akan membunuh mereka.
“Alasanku memanggil kalian kemari adalah untuk membagikan semua uang dan perhiasan Debby. Aku tahu selama ini dia sering memotong gaji kalian tanpa sebab yang jelas, jadi aku ingin mengembalikan semua hak kalian jika sekiranya uang ini masih kurang maka katakan saja padaku dan aku akan meminta Yang Mulia untuk menambahnya,”
Erin dan Hana membagikan semua uang dan perhiasan pada mereka. Awalnya mereka mengira Scarlesia akan melakukan sesuatu yang buruk padanya tapi sekarang mereka tahu bahwa niat Scarlesia mengumpulkan mereka bukan untuk menghukum mereka.
“Karena kepala dapur sudah tidak ada, sekarang aku akan mengangkat kepala dapur yang baru. Menurut kalian siapa yang cocok untuk mengisi posisi ini?”
Semua mata tertuju pada Allen, mereka menginginkan Allen sebagai kepala dapur yang baru karena hanya Allen yang cocok untuk mengisi kekosongan posisi ini.
“Karena semua orang tampaknya menginginkan Allen sebagai kepala dapur, maka aku mengangkatnya sebagai kepala dapur yang baru. Apakah kau bersedia Allen?”
Senyuman Allen mengambang lebar di bibirnya, dia tidak menyangka kalau dia akan mendapatkan posisi penting di mansion ini.
“SAYA BERSEDIA NONA!” teriaknya gugup membuat semua orang tertawa karenanya.
__ADS_1
“Aku harap kamu bisa menjalankan tugasmu sebagai kepala dapur yang baru dengan baik Allen. Lalu aku juga akan mengangkat Frey sebagai asisten kepala dapur yang nantinya akan membantu Allen sebagai kepala dapur untuk menjalankan tugasnya,” umum Scarlesia.
Frey tertegun dan menangis haru mendapatkan jabatan yang tidak pernah dia bayangkan selama ini.
“Selamat Allen! Selamat Frey!” ujar para koki memberi ucapan selamat.
Tak lama setelah itu, Zaneta dan Nieva menghampiri Scarlesia dengan ekspresi marah. Scarlesia melipat kedua tangannya di dada untuk menyambut kedatang mereka yang sama sekali tidak diundang sedari awal.
“Siapa yang memberimu wewenang untuk mengangkat kepala dapur yang baru haa?” bentak Zaneta penuh amarah.
Scarlesia menghembuskan napas kasar melihat Ibu dan anak ini yang selalu terbakar emosi ketika melihat dirinya.
“Aku hanya membantumu untuk mengangkat kepala dapur yang baru, aku takut nanti kau salah pilih lagi lalu kejadian yang sama terulang kembali,” jawab Scarlesia menekan nada bicaranya.
“Apa hakmu untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga? Ini adalah wewenang Ibuku sebagai Nyonya rumah!” Nieva maju dan memberi pembelaan pada Zaneta.
“Kau menanyakan hakku? Tentu saja ada karena aku adalah anak kandung dari Yang Mulia Duke Eginhardt. Aku punya wewenang khusus di kediaman ini dan kalian hanyalah orang asing yang dipungut masuk oleh istana ke kediaman ini. Seharusnya kalian lebih tahu tempat kalian bukannya bertingkah sok paling berkuasa di sini,” ketus Scarlesia sembari menyunggingkan senyumnya.
Nieva dan Zaneta geram sampai menggertakkan giginya bahkan kedua tangannya ikut mengepal erat.
“Hahaha,” kekeh Scarlesia. “Kau bilang apa? Mengadukan aku pada Ayah? Kau itu hanya anak tiri jadi jangan pernah bermimpi kedudukanmu lebih tinggi dariku! Coba saja adukan semuanya pada Ayah,” tantang Scarlesia semakin membuat Nieva marah.
“Sialan! Berani-beraninya kau!”
Nieva mengangkat tangannya bersiap untuk melayangkan tamparannya namun Scarlesia malah menahan tangannya.
“Jangan pernah menyentuh wajahku dengan tangan kotormu itu!”
“AAARRHHHH!” pekik Nieva
Scarlesia memutar tangan Nieva lalu menghempaskannya sampai dia terjatuh ke lantai.
“Sepertinya kau perlu disadarkan ya Nieva, kau dan Ibumu ini hanya perebut! Ibumu merebut posisi Ibuku dan kau juga mencoba merebut posisiku. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal yang untuk ke sekian kalinya!” ujar Scarlesia menginjak tangan Nieva hingga dia menjerit kesakitan.
__ADS_1
“Jauhkan kakimu dari anakku! Dasar perempuan gila!”
Zaneta mendorong Scarlesia agar menjauh dari Nieva, ia pun membantu Nieva untuk berdiri lagi dengan kondisi tangannya sudah memar yang disebabkan oleh injakan Scarlesia tadi.
“Aku gila? Hahaha sepertinya kau benar, aku memang sudah gila. Jadi tolong dengarkan kata wanita gila ini untuk tidak menyinggungnya lagi!” tegas Scarlesia tertawa.
“Aku akan melaporkan semuanya pada Duke!” ancam Zaneta.
“Laporkan saja, aku tidak takut sama sekali. Seharusnya kalian yang takut karena bisa saja kalian yang ditendang keluar oleh Ayah setelah mengadukannya,”
“Apa yang kau katakan? Tidak mungkin seperti itu! Karena aku masuk ke sini melalui istana jika duke berani menendangku keluar berarti dia menentang pihak istana! Dan juga Nieva sebentar lagi akan menjadi permaisuri!”
Scarlesia benar-benar ingin tertawa sekarang mendengar bualan-bualan indah mereka berdua.
“Oh baiklah anakmu ini akan menjadi permaisuri. Biar aku tebak, setelah menjadi permaisuri pasti aku akan menjadi target utamanya kan? Nah kalau begitu aku akan menjadi kaisar,”
Scarlesia membalikkan badannya dan segera pergi meninggalkan mereka berdua yang kesal serta marah pada Scarlesia.
“Apa yang dikatakan wanita ini? Menjadi kaisar? Apakah dia benar-benar gila? Tidak bisa seperti ini! Aku harus mengatakan semua ini pada beliau,” batin Zaneta.
“Oh iya satu lagi, aku dengar kau sudah lama mengincar Paviliun Kirin kan? Mari kita bertaruh, dalam beberapa hari aku akan mendapatkan Paviliun Kirin itu,” ucap Scarlesia melanjutkan kembali langkahnya.
“Sialan! Wanita ini harus disingkirkan secepatnya! Jika tidak, dia akan menjadi penghalang untukku dan Nieva,”
Setelah menghadapi mereka berdua, Scarlesia menghela napasnya. Mereka sungguh lawan yang merepotkan karena dia tidak bisa membunuhnya secara langsung dan harus dilawan menggunakan mulut. Hana dan Erin sejak tadi hanya diam, mata mereka berbinar takjub pada Scarlesia. Tidak hanya mereka berdua bahkan para koki yang menyaksikan pertengkarannya pun juga merasa takjub.
“Sepertinya saya semakin menyukai Nona!” ungkap Erin diangguki oleh Hana.
“Haha apakah kalian sakit atau terbentur sesuatu?”
“Tidak! Kami benar-benar semakin menyukai Nona! Untung saja Nona adalah perempuan, kalau seorang pria mungkin saya sudah jatuh hati,” ucap Erin sangat antusias, begitu pula dengan Hana yang sama reaksinya dengan Erin.
“Ya sudah terserah kalian saja. Sekarang aku ingin berjalan ke Paviliun Kirin, bisakah kalian mengantarkanku ke sana?” tanya Scarlesia.
__ADS_1
“Baiklah, kami akan segera mengantar anda ke Paviliun Kirin,”