
“Sepertinya permaisuri sedang merencanakan sesuatu yang buruk,” lapor Cici menghinggap di telapak tangan Scarlesia.
“Apa lagi yang direncanakannya?”
“Saya tidak tahu pasti tapi permaisuri semalam bertemu dengan seorang pria berjubah hitam, saya tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Dari yang saya dengarkan permaisuri berbicara mengenai suatu virus, maaf Nona saya tidak tahu rincinya tapi inilah yang saya dengarkan semalam,” jelas Cici.
“Virus? Apa yang sedang direncanakan permaisuri? Untuk saat ini kau awasi dulu permaisuri jika ada sesuatu yang aneh segera laporkan padaku,”
“Baik Nona,”
Cici kembali terbang untuk melaksanakan perintah Scarlesia, ia menghembuskan napas berat setelah mendengar laporan dari Cici.
“Apa yang terjadi?” tanya Oliver.
“Sepertinya permaisuri sedang merencanakan sesuatu yang buruk lagi tapi belum ada penjelasan rinci mengenai rencananya,” jawab Scarlesia.
“Sudah aku bilang seharusnya dia aku bunuh saja,” geram Zenon.
“Tidak, kita tidak bisa bertindak gegabah seperti itu. Rakyat belum tahu bagaimana permaisuri yang sebenarnya jadi jika kita membunuhnya itu akan menimbulkan dampak yang buruk ke keluargaku,” ucap Scarlesia.
“Tapi Sia, kamu jangan terlalu memaksakan diri karena kamu tidak sendiri. Aku akan selalu membantu Sia bagaimanapun itu kondisinya,” hibur Louis.
Scarlesia menghela napasnya, dia lupa kalau sekarang ada mereka yang selalu membantunya. Entah seperti apapun kondisinya, dia memiliki mereka yang mencintai dan menyayanginya sepenuh hati.
“Iya, bagaimana mungkin aku melupakan kalian? Terima kasih,” ujarnya mengambangkan senyumnya.
2 hari kemudian
“Hana, sepertinya kau sangat bahagia hari ini,” kata Scarlesia yang melihat pantulan diri Hana dari cerminnya.
“Iya Nona, berkat anda Ibu saya sekarang sudah sembuh total,”
“Oh ya? Syukurlah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan pacarmu?”
Ekspresi Hana segera berubah menjadi kesal.
“Saya sudah putus dengannya beberapa hari yang lalu karena dia menjelekkan Nona di hadapan saya. Saya tidak tahan mendengar omongannya yang tidak baik mengenai Nona jadi saya langsung memutuskannya,” beber Hana.
__ADS_1
“Bagus Hana! Aku suka gayamu. Laki-laki yang berbicara buruk tentang Nona tidak pantas untuk dijadikan pacar,” timpal Erin bangga.
“Apa kalian akan terus menjadi jomblo setelah ini?” tanya Scarlesia.
“Saya akan terus hidup bersama Nona sampai kapanpun itu jadi saya harap Nona tidak membuang saya,” ujar Erin antusias.
“Saya juga. Saya akan terus hidup bersama Nona sama seperti Erin,” sambung Hana.
“Astaga terserah kalian saja tapi jangan salahkan aku jika kalian jadi jomblo seumur hidup,” kata Scarlesia.
“SIAP NONA!”
“Oh iya, bagaimana dengan ksatria pemanah? Apa mereka senang mendapat tempat latihan baru?” tanya Scarlesia sekali lagi.
“Mereka sangat senang Nona bahkan mereka berpesta sampai tengah malam. Mereka ingin mengajak anda bergabung tapi Tuan Muda Carlen melarangnya,” jawab Erin.
“Haha sudah aku duga,”
Pada waktu yang sama, dari mansion terdengar keributan. Karena penasaran dengan apa yang terjadi, Scarlesia menyuruh Hana untuk memeriksa dan melaporkan padanya segera alasan keributan terjadi.
“Nona! Sepertinya Yang Mulia Duchess tidak bisa bangun dari tempat tidur dari kemarin. Lalu katanya dari tadi subuh beliau tidak bisa berbicara,” lapor Hana.
“Sebenarnya racun apa yang anda berikan pada duchess?” tanya Erin penasaran.
“Racun itu hampir sama dengan racun yang permaisuri berikan padaku tapi bedanya racun yang aku berikan pada duchess adalah racun dengan tingkat paling tinggi sehingga efek yang dia rasakan lebih cepat. Nanti siang mari kita kunjungi dia,” balas Scarlesia.
“Baik Nona,”
Saat siang harinya, Scarlesia pergi mengunjungi Zaneta bersama Hana dan Erin. Di dalam kamar Zaneta ternyata ada Eldrick, Carlen, Aldert, dan juga Nieva yang sedang menunggu hasil pemeriksaan dari dokter.
“Maaf tapi sepertinya Yang Mulia Duchess diracuni dan racun yang masuk ke dalam tubuhnya adalah jenis racun yang tidak bisa saya tangani bahkan saya ragu apakah ada dokter yang bisa mengobatinya atau tidak,” ujar sang dokter memberi penjelasan.
“Apa? Ibu saya telah diracuni? Tidak adakah jalan lain untuk menyembuhkannya?”
Nieva panik setengah mati setelah mengetahui bahwa Ibunya telah diracuni, sang dokter hanya menggeleng pasrah merespon pertanyaan Nieva. Kemudian dia pun mulai menangis di samping tubuh Zaneta yang terbujur kaku di atas tempat tidur.
“Sia, apa ini ulahmu?” bisik Carlen bertanya.
__ADS_1
Scarlesia hanya menjawabnya dengan tersenyum, tanpa dia menjawab Ayah dan dua kakaknya sudah tahu jawabannya.
“Aku tahu! Aku tahu ini pasti kau yang meracuni Ibuku kan? Karena kau adalah orang yang paling membenci Ibuku,” tuding Nieva menarik dress Scarlesia.
“Singkirkan tanganmu dariku!” tampik Scarlesia mendorong Nieva sampai terjatuh. “Kau benar-benar berpikir aku yang meracuni Ibumu? Untuk apa aku melakukan hal yang merepotkan seperti itu? Jika ingin membunuhnya maka aku sudah melakukan sejak beberapa waktu yang lalu,” tekan Scarlesia memandang tajam Nieva.
“Nieva, kau jangan menuduh Sia yang melakukannya. Kenapa kau selalu menargetkan Sia tentang segala hal buruk yang menimpamu?” ujar Aldert membelas Scarlesia.
“Oo ternyata dia membelaku, sepertinya matanya sudah benar-benar terbuka sekarang,” batin Scarlesia melirik Aldert yang menatap dingin Nieva.
“Ayah! Tolong aku. Ayah harus menyelidiki wanita ini, bukankah Ayah menyayangiku? Aku yakin dia yang meracuni Ibu,” mohon Nieva berlutut di hadapan Eldrick.
“Sia sudah mengatakannya kalau dia tidak melakukannya. Kenapa kau masih menudingnya? Kau pikir kau bisa seenaknya karena kemarin kau menerima surat lamaran dari putra mahkota? Nieva, kau masih bagian dari kediaman ini jadi segala hal yang terjadi di sini adalah tanggung jawabku,” jawab Eldrick yang juga menatap dingin Nieva.
“Jadi ternyata dia sudah menerima surat lamaran putra mahkota? Ya baguslah berarti setelah ini akan lebih menarik bermain dengannya,” pikir Scarlesia.
“Nieva, kau tidak bisa seperti ini terus. Sebentar lagi kau akan menjadi permaisuri seharusnya kau bisa berpikiran lebih dewasa,” imbuh Carlen.
Nieva tidak merespon perkataan mereka, dia hanya terdiam menangis menatap lantai yang dingin.
“Sia, aku akan mengatakannya langsung di sini. Karena duchess terbaring sakit dan tidak tahu kapan dia akan sembuh jadi urusan rumah tangga kediaman ini aku serahkan padamu,” titah Eldrick.
“Baik Ayah,”
“TIDAK BISA! BAGAIMANA AYAH BISA MENYERAHKAN URUSAN RUMAH TANGGA PADA WANITA INI? AKU TIDAK AKAN MENYETUJUINYA,” tolak Nieva.
“Memangnya kau siapa?” tanya Aldert.
“Apa?”
“Memangnya kau siapa sampai kau meninggikan suaramu pada Ayah? Jangan lupa kau hanya orang asing di sini yang hanya bisa masuk ke kediaman ini dengan bantuan permaisuri lalu dengan berani-beraninya mencuri posisi Ibuku dan adikku,” tajam Aldert.
“Bagaimana bisa semua ini terjadi? Semua orang berpihak pada wanita gila ini padahal aku adalah calon permaisuri jadi kenapa aku masih kalah?” batinnya frustasi.
Setelah itu, Eldrick bersama Carlen dan Eldrick meninggalkan kamar Zaneta. Nieva masih berlutut di atas lantai sedangkan Scarlesia masih berdiri di hadapannya.
“Apa kau berpikir karena kau calon permaisuri kau bisa mendapatkan segalanya? Sepertinya kau sering berkhayal karena selama aku masih ada, kau tidak akan bisa berbuat seenaknya. Oh iya aku lupa satu hal, sebenarnya selama ini Ayah dan kakakku tidak pernah menyayangimu. Hoho kasihan sekali anak tiri tetaplah diperlakukan sebagai orang asing,” sindir Scarlesia tertawa.
__ADS_1
Nieva berlari keluar dari kamar karena sudah tidak tahan lagi mendengar perkataan Scarlesia, dia menangis meninggalkan Ibunya bersama Scarlesia yang masih berada di kamar sang Ibu.
“Bagus. Sekarang wanita ini harus aku apakan ya?”