Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Mengikat Kontrak


__ADS_3

“Sudah lama tidak bertemu roh jelek,” sapa Zenon pada roh tersebut.


“KYAAA NAGAAA!” pekik roh itu yang terkejut dengan keberadaan Zenon.


“Kenapa kau terkejut saat melihatku? Bukankah dulu kita pernah saling bertarung satu sama lain?”


“Sial! Kenapa kau masih belum mati? Dan juga apa yang kau lakukan di sini?”


Scarlesia dan Andreas saling beradu pandang, mereka tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh mereka berdua.


“Ada seseorang yang mau menjalin kontrak denganmu,”


Zenon menunjuk ke ara Andreas.


“V-V-VAMPIRRR????” teriaknya shock melihat Andreas. “Kau menyuruhku menjalin kontrak dengan vampir ini?” lanjutnya bertanya pada Zenon.


“Iya, bukankah dulu kau pernah mengatakan bahwa kau ingin menjalin kontrak dengan vampir? Karena vampir merupakan sword master yang hebat,” jawab Zenon.


“Hei apakah kalian berdua saling kenal?” celetuk Scarlesia bertanya pada mereka.


“Sebenarnya dahulu sekali aku pernah melawan seseorang yang memakai pedang ini dan orang itu kalah lalu aku membuang pedangnya ke jurang tapi tidak aku sangka kalau aku akan bertemu dengannya di sini,” terang Zenon.


“Siapa wanita cantik ini?” roh tersebut terbang mendekati Scarlesia. “Kenapa di tubuhmu banyak aura dewa? Apa kau adalah anak yang dilindungi dewa? Pantas saja aku tidak bisa menarik energimu ta….”


“DIAM!” bentak Scarlesia mencekik leher si roh itu. “Cepat lakukan saja kontraknya,” lanjutnya yang tampak marah pada roh tersebut.


“B-baiklah, lepaskan dulu tanganmu. Aku tidak bisa bernapas kalau kau mencekikku,”


Scarlesia melepaskan cengkraman tangannya.


“Uhukk sial! Gadis ini kuat sekali,” gumamnya terbatuk. “Oke, sekarang mari kita mulai kontraknya,” seru roh tersebut.


Andreas pun memulai kontraknya dengan roh pedangnya, Scarlesia dan Zenon berdiri agak menjauh dari mereka.


“Aku Andreas dengan ini menyatakan mengikat kontrak dengan roh pedang killer moon, mulai hari ini hingga seterusnya aku mengajukan diri sebagai mastermu maka terima lah kontrakku!!”


“Aku roh pedang killer moon menerima kontraknya, mulai hari ini hingga seterusnya Andreas adalah masterku,”


Seketika keluar angin yang sangat kencang dari mereka berdua, ini lah tanda bahwa kontrak diantara mereka telah terbentuk. Sekarang rohnya sudah masuk kembali ke dalam pedangnya serta kabut hitam yang mengelilingi kamar sudah hilang sepenuhnya.


“Akhirnya selesai juga,” ujar Scarlesia menghembuskan napas lega.

__ADS_1


Andreas tersenyum memandang pedangnya, entah apa yang membuat dia terlihat senang.


“Hei Moon!” panggil Scarlesia pada roh penghuni pedang killer moon.


“Siapa yang kau panggil Moon sialan?!” sahut roh tersebut dari dalam pedang.


Mendengar roh itu mengumpat pada Scarlesia, raut wajah Andreas seketika berubah seram. Dia meremas keras gagang pedangnya.


“HEI JANGAN TERLALU KASAR PADAKU!” teriaknya.


“Jangan pernah mengumpat pada Sia,” tekan Andreas.


“Baiklah baiklah aku tidak akan mengumpat lagi padanya,” jawabnya mengalah.


Setelah itu Andreas berhenti meremas gagangnya.


“Moon, namamu mulai sekarang Moon! Bukankah itu terdengar imut?” ucap Scarlesia sambil tersenyum.


“Huhh terserah kau saja,” jawab Moon tersipu malu.


Usai menjalin kontrak, pas sekali setelah itu beberapa ksatria penjaga masuk ke dalam kamar untuk membawa mayat pria tadi. Lalu beberapa pelayan membersihkan darah yang berceceran di atas lantai. Sekarang Scarlesia akhirnya bisa melanjutkan kembali tidurnya dengan tenang dan dia juga menyuruh Zenon serta Andreas keluar dari kamarnya. Pada awalnya, mereka berdua enggan untuk keluar tapi ujung-ujungnya mereka keluar juga.


Scarlesia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan Kitty yang ikut tidur di sampingnya. Sepertinya Kitty sendiri juga khawatir kalau kejadian yang sama terulang kembali.


Keesokan harinya, Scarlesia berjalan dengan langkah cepat menuju ruang kerja Eldrick karena hari ini dia ingin meminta Paviliun Kirin pada Ayahnya.


Braakkk


Scarlesia menggebrak pintu masuk ke ruang kerja dan menciptakan suasana terkejut di antara semua orang di dalamnya.


“AYAH, BERIKAN PAVILIUN KIRIN PADAKU!” pinta Scarlesia menggunakan volume suara lumayan tinggi.


Eldrick tersentak mendengar permintaan Scarlesia yang to the point tanpa basa-basi.


“Ehh kenapa mereka berdua ada di sini?”


Ternyata Zaneta dan Nieva juga ada di dalam ruang kerja Eldrick, mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu. Ekspresi Scarlesia segera berubah melihat mereka berdua, begitu juga dengan Zaneta dan Nieva yang jengkel dengan kedatangan Scarlesia.


“Tidak sopan sekali kau masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu,” tegur Zaneta.


Scarlesia menyerngitkan keningnya, dia tidak mempedulikan Zaneta dan terus melangkah mendekati Eldrick.

__ADS_1


“Ayaaahhh, berikan Paviliun Kirin padaku. Ayah kan tahu sendiri kamarku kecil karena kamarku yang dulu sudah aku berikan pada Nieva,” rengek Scarlesia sambil memijit pundak Eldrick.


Melihat Sia yang merengek padanya membuat hati Eldrick luluh, ia juga tertawa melihat tingkah Scarlesia yang tidak biasa ini.


“Kau tidak sopan sekali bertingkah seperti itu meminta Paviliun Kirin pada Ayah,” celetuk Nieva yang mencoba ingin terlihat lebih baik di hadapan Eldrick.


“Apa urusannya dengan kau? Dia adalah Ayahku bukan Ayahmu. Jadi terserah aku lah mau bertingkah seperti apa lagian Ayah juga tidak marah padaku wleee,” cibir Scarlesia mengeluarkan lidahnya. “Benar kan Ayah?”


“Iya benar,” jawab Eldrick mengangguk.


“Bagaimana bisa Ayah tidak memarahinya? Padahal aku sering dimarahi ketika aku bersikap tidak sopan tapi lihatlah sekarang apa yang terjadi,”  gerutu Nieva dalam hati.


“Jadi, bisakah Ayah memberikan Paviliun Kirin padaku?” tanya Scarlesia sekali lagi.


“Baiklah, aku akan memberikannya padamu,”


“TIDAK BOLEH! SEJAK AWAL AKU YANG MENGINGINKAN PAVILIUN ITU! TAPI KENAPA KAU MEMBERIKANNYA PADA SIA?!” teriak Zaneta tidak terima.


“Aduh tidak sopan sekali Yang Mulia Duchess berteriak pada Ayahku,” ketus Scarlesia.


“Benar! Beraninya kau meninggikan suaramu padaku!” bentak Eldrick marah.


“A-aku… aku… ah sudahlah,”


Zaneta merajuk dan berlari keluar dari ruang kerja Eldric, Nieva ikut keluar untuk mengejar Ibunya.


“Sayang sekali dia sudah kabur,” gumam Scarlesia disertai perasaan senang, bangga, dan penuh kemenangan.


“Sia, ini kunci Paviliun Kirin. Kau mulai sekarang boleh tinggal di sana karena sejak awal Larissa mendirikan paviliun tersebut untukmu. Karena kau sudah 17 tahun jadi aku menyerahkan paviliunnya padamu. Jaga baik-baik paviliun itu ya,” pesan Eldrick memberikan sebuah kunci pada Scarlesia.


“Baik, terima kasih ayah!” balas Scarlesia langsung menerima kunci tersebut.


“Oh iya bagaimana dengan tubuhmu? Bukankah racunnya masih bersarang dalam tubuhmu?”


“Aku lupa memberitahukannya kalau racun yang ada di tubuhku sudah hilang sepenuhnya karena bantuan beberapa tanaman obat,”


“Syukurlah. Kalau begitu kau boleh kembali ke kamarmu,”


Scarlesia keluar dari ruang kerja Eldrick, ia segera memberitahu Hana dan Erin mengenai hal ini. Begitu pula dengan Zenon serta Andreas, karena di paviliun tersebut ada banyak kamar jadi mereka berdua disarankan untuk tinggal di sana demi menjaga keamanan Scarlesia dan paviliun tersebut. Karena Scarlesia sendiri tidak yakin bahwa Zaneta dan Nieva akan berhenti mengganggunya, jadi sebelum kemungkinan terburuk terjadi dia mempersiapkan hal ini terlebih dahulu.


Hana dan Erin membereskan semua barang-barang yang akan dipindahkan ke dalam Paviliun Kirin. Sedangkan Scarlesia sekarang ingin pergi ke paviliun itu lebih dulu dari mereka karena ia ingin memeriksa kondisi paviliunnya sebelum ditempati. Akan tetapi, pada saat Scarlesia sampai di sana ternyata Zaneta serta Nieva membawa beberapa orang untuk menghancurkan paviliunnya.

__ADS_1


“HEHH APA YANG KALIAN LAKUKAN?”


__ADS_2