
“Sia, siapa pria ini?” tanya Andreas.
Zenon menyeringai lalu merangkul Scarlesia.
“Aku? Tentu saja aku adalah calon suaminya,” aku Zenon.
Kemudian Andreas menarik pedangnya dan menodongkannya ke arah Zenon.
“Lepaskan tanganmu dari Sia! Jangan pernah mengaku sebagai calon suaminya. Selagi aku masih hidup aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi,” tekan Andreas.
Scarlesia menepuk keningnya, dia pusing melihat tingkah dua pria ini.
“Sudah! Jangan bertengkar lagi!” tegur Scarlesia seraya melepaskan rangkulan Zenon. “Andreas, turunkan pedamu. Lalu Zenon jangan mencoba memancing pertengkaran dengan Andreas. Aku tidak akan membiarkan jika kalian menghancurkan mansion ini,” omel Scarlesia.
“Kalau begitu bagaimana jika bertengkar di luar mansion?” tanya Zenon.
“Tidak boleh! Kalian berdua tidak boleh bertengkar! Aku sudah pusing menghadapi banyak parasit di mansion ini jadi kalian jangan menambah beban pikiranku lagi,” jawab Scarlesia.
“Hmm baiklah,” balas Zenon.
“Sekarang aku mau istirahat jadi jangan ganggu aku. Terserah kalian sekarang mau ngapain saja yang penting jangan bertengkar,”
Scarlesia masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu sehingga membuat Hana dan Erin terkejut.
“Ini gara-gara kalian Nona jadi marah!” tuding Erin.
“Ya sudah kita biarkan saja Nona istirahat. Kalian jangan ganggu Nona,” peringat Hana pada Zenon dan Andreas.
Sepertinya hari ini Scarlesia sedang berada dalam mood yang tidak bagus. Di dalam kamar pun ia hanya berbaring menghadap langit-langit kamarnya.
“Sejak datang ke dunia ini rasanya aku tidak pernah bersantai sedikit pun, banyak sekali masalah yang harus aku hadapi. Mulai dengan Ibu tiri dan saudara tiri yang laknat sampai dengan masalah kepala dapur itu. Sebenarnya ending bahagia yang bagaimana harus aku ciptakan untuk Sia?” pikirnya serius.
“Cek cek Sia, bisakah kau mendengar suaraku?”
Suara Xeon tiba-tiba terdengar dan membuat lamunannya buyar.
__ADS_1
“Kenapa kau selalu muncul di saat-saat seperti ini sih? Tidak bisakah kau muncul ketika aku sedang berada di dalam kesulitan?” oceh Scarlesia.
“Karena aku hanya mau mengganggumu. Aku lihat kau sedang galau, apa yang sedang kau pikirkan sekarang?”
“Aku hanya ingin bertanya padamu, kenapa kau menipuku sialan?! Kau bilang rumput putih dan bunga tulip hitam hanya tumbuh di Bukit Grigori tapi ternyata tanaman itu ada tumbuh di Paviliun Kirin!”
Pada saat Scarlesia sedang marah-marah, Xeon kembali menghilang secara tiba-tiba dan membuat Scarlesia marah.
“Kenapa harus ada dewa semacam dia? Apakah stok kandidat dewa sudah habis? Lihat saja nanti aku akan memarahinya saat dia muncul lagi,” gerutu Scarlesia mengepalkan sebelah tangannya.
Tidak lama setelah itu, Scarlesia mulai merasa ngantuk. Dia memejamkan matanya lalu perlahan masuk ke alam mimpinya. Dia kira tidurnya akan nyenyak namun ternyata kejadian buruk hampir menimpanya pada tengah malam. Ketika dia sedang tertidur, seseorang membuka pintu masuk kamarnya. Orang itu berjingkrak-jingkrak dan melangkah hati-hati agar Scarlesia tidak terbangun.
Lalu dia merangkak naik ke atas tempat tidur Scarlesia, untung saja pada kala itu Scarlesia menyadari kedatangan orang tersebut dan memilih untuk berpura-pura tidur.
“Hehe wanita ini cantik sekali, Yang Mulia Duchess bilang aku hanya perlu menidurinya kan? Sepertinya aku sangat beruntung hari ini,” ujar orang yang ternyata adalah seorang pria.
“Ternyata wanita itu tidak jera juga ya, baiklah kalau begitu aku juga tidak akan berbaik hati,” batinnya masih pura-pura tidur.
Pria tersebut bersiap-siap untuk menarik selimut Scarlesia, dia benar-benar memiliki hasrat yang sangat gila. Ketika dia meraba kaki Scarlesia, ia pun menarik dengan cepat pedang yang diletakkannya di sisi kiri tempat tidurnya.
Pria itu tampak sangat terkejut melihat Scarlesia yang tiba-tiba terbangun dan menarik pedangnya. Dia beringsut ke belakang karena takut melihat kedua mata Scarlesia yang hendak menerkamnya.
Scarlesia turun dari tempat tidurnya, ia menodongkan pedangnya ke arah pria tersebut. Pria itu gemetar karena takut, ia berjalan mundur ke belakang sedangkan Scarlesia terus maju ke depan.
“M-maaf s-saya tidak bermaksud m-melakukannya,” kata pria itu dengan suara yang bergetar.
“Maaf? Simpan saja maafmu itu dan pergilah ke neraka!”
Scarlesia yang murka langsung menebas kepala pria itu tanpa ragu-ragu. Darah memercik ke wajah dan piyama putihnya. Satu nyawa kembali melayang malam ini, tidak ada belas kasihan untuk mereka yang berani macam-macam pada dirinya. Di sela itu, Kitty datang melompat dari jendela karena sepertinya dia baru saja habis dari luar. Dia mencium bau darah dari kamarnya Scarlesia, itulah kenapa dia langsung datang melihat keadaannya Scarlesia.
“Roarrrr…” Kitty menggesekkan tubuhnya pada Scarlesia.
“Kitty, apakah kau baru saja dari luar? Kau merasa bersalah karena meninggalkanku ya? Tidak usah dipikirkan karena masalahnya sudah aku selesaikan,” ucap Scarlesia mengelus punggung Kitty.
Di luar kamar, terdengar suara derap kaki yang cukup ramai. Zaneta, Nieva, Eldrick, Carlen, serta beberapa orang pelayan dan ksatria sedang menuju kamar Scarlesia.
__ADS_1
“Aku tadi sungguh melihat Sia membawa seorang pria ke kamarnya,” adu Zaneta pada Eldrick dan Carlen.
“Mungkin kau salah lihat, tidak mungkin Sia membawa pria lain ke dalam kamarnya,” bantah Eldrick.
“Tapi aku juga melihatnya Ayah, aku melihat seorang pria masuk ke kamarnya Sia,” timpal Nieva.
“Kita lihat saja dulu ke dalam apakah benar yang kalian katakan itu atau tidak,” ucap Carlen.
“Habislah kau Sia. Setelah ini kau akan ditendang keluar dari kediaman ini,” batin Zaneta.
Mereka tiba di depan pintu masuk dan mencoba memanggil Scarlesia dari luar.
“Sia, apakah kau sudah tidur? Bisakah kami masuk ke dalam?” tanya Eldrick.
“Ya masuklah,” sahut Scarlesia.
Eldrick membuka pintu kamarnya, alangkah terkejutnya mereka saat melihat seorang pria yang tidak bernyawa tergeletak di atas lantai dan bersimpah darah. Mereka juga melihat percikan darah pada Scarlesia serta pedang yang dipegangnya juga. Lalu Kitty yang sibuk menjilati darah yang berserak di lantai.
“Oh ya ampun kenapa kalian kemari beramai-ramai?” sambut Scarlesia penuh senyum.
“Apa yang terjadi di sini Sia?” tanya Eldrick dan Carlen segera menghampiri Scarlesia.
Zaneta dan Nieva yang melihat dari depan pintu langsung mual melihat pemandangan tersebut, bau darah yang menyeruak memberi efek jijik pada mereka.
“Tadi pria ini tiba-tiba masuk ke dalam kamarku bahkan dia naik ke atas tempat tidurku. Sepertinya dia berniat meniduriku jadi aku langsung saja menebas kepalanya,” jelas Scarlesia.
“Tapi apakah kau terluka?” tanya Carlen cemas.
“Tidak, tapi sepertinya Ibu tiri dan saudari tiriku sangat terkejut. Apakah mereka tahu sesuatu?” sindir Scarlesia.
Eldrick dan Carlen serentak menatap mereka berdua meminta penjelasan mengenai hal ini.
“T-tidak! A-aku benar-benar tidak tahu soal ini! Apakah kau mencoba memfitnahku?” tuding Zaneta.
“Fitnah? Untuk apa? Padahal aku tidak menuduh kalian loh tapi kenapa kalian berdua takut sekali tampaknya?
__ADS_1
“Aku hanya terkejut melihat mayat itu,” dalih Nieva.
“Setelah dipikir-pikir ini semua terlihat aneh,” sela Carlen.