Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Kemalangan Sekejap Mata


__ADS_3

“Mereka mati….” lirih Scarlesia.


Scarlesia beranjak pergi, dia ingin mengetahui keadaan Hedwig dan Vivian yaitu Ayah serta Ibunya Elios yang merupakan raja dan ratu pemimpin klan iblis putih. Scarlesia berjalan diantara tumpukan mayat sembari menahan nyeri di hatinya. Puing-puing istana runtuh sehingga menutupi jalannya, terpaksa dia harus mengambil jalan memutar untuk sampai ke istana utama. Namun, sesampai di sana dia tidak menemukan Hedwig atau pun Vivian, Scarlesia kembali menyusuri bagian lain dari istana.


Scarlesia menghentikan langkahnya, dia mendengar suara Elios berada tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Scarlesia mengikuti sumber suara tersebut, dia tersentak melihat Hedwig serta Vivian tergeletak di permukaan lantai dengan darah yang bercucur hebat di sekujur tubuhnya. Scarlesia memperbesar langkahnya, Elios berada di samping tubuh kedua orangtuanya dengan air mata yang hampir menetes membasahi pipinya.


“Elios….” panggil Scarlesia teramat pelan.


“Sia, Ibu dan Ayahku… mereka….” kalimat Elios menggantung, bibinya bergetar menahan tangis.


Scarlesia segera berlutut, dia mengecek keadaan Hedwig tapi sudah terlambat karena jantungnya tidak lagi berdetak. Napasnya telah berhenti, jemari tangannya sangat dingin, tidak ada lagi kehidupan untuk Hedwig. Scarlesia hanya bisa menggeleng pelan mengisyaratkan pada Elios bahwa Ayahnya telah pergi.


“Heukk… Ayah….” lirih Elios, suaranya terputus-putus. “Ibuku… bagaimana Ibuku??”


“Aku akan memeriksanya.”


Scarlesia beralih pada Vivian, tubuhnya masih ada sisa kehangatan, namun degup jantung serta denyut nadinya melemah.


“Elios….”


Vivian tersadar dan memanggil Elios, sesaat itu tangis Elios terjeda sejenak. Ia menyahuti panggilan dari sang Ibu.


“Ibu… kenapa ini bisa terjadi? Katakan padaku siapa yang melakukan ini pada klan kita?” tanya Elios seraya menggenggam tangan Vivian.


Vivian menggeleng. “Sekarang aku hanya ingin berbicara denganmu,” ucap Vivian, volume suaranya teramat kecil tapi masih bisa mencapai pendengaran mereka berdua.


“Tunggu sebentar. Bisakah kau menyembuhkan Ibuku Sia? Aku mohon….”


“Tidak Elios, maaf. Aku tidak bisa karena luka di tubuh Ibumu bercampur dengan kekuatan kegelapan,” potong Scarlesia mengatakannya dengan lidah yang sangat berat.


“Kekuatan kegelapan? Maksudmu ap….”

__ADS_1


“Cukup Elios, aku… tidak ingin disembuhkan, aku akan pergi bersama Hedwig. S-sekarang aku hanya… ingin berpamitan padamu….”


“Tolong jangan berbicara seperti itu, aku tidak ingin kehilangan Ibu….” lirih Elios semakin mempererat genggamannya.


Terasa sulit juga untuk Vivian meninggalkan anak satu-satunya hidup di dunia penuh kekejaman ini, dia sangat menyayangi putranya yang telah lama dia besarkan. Tanpa tersadar air matanya ikut terjatuh di saat melihat Elios menangis untuknya. Elios yang biasanya tidak pernah memperlihatkan kehangatannya pada orangtuanya, kini sisi anak-anaknya keluar.


“Jangan menangis Elios… jangan menangis… kau akan tetap baik saja walau tanpa aku dan Hedwig….”


“TIDAK! Aku tidak bisa. Ibu bilang Ibu akan menyaksikan pernikahanku dengan Sia, Ibu bilang Ibu ingin melihat anakku dengan Sia. Bagaimana bisa Ibu pergi tanpa mewujudkan keinginan Ibu terlebih dahulu? Tolong tunggulah sebentar lagi, aku mohon bertahanlah sampai saat itu terjadi,”


Air mata Elios kian menumpahi dan membasahi kedua pipinya, Scarlesia tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya berdiam diri di samping Elios.


“Sia, kemarilah,” panggil Vivian.


Tangan Vivian ingin menggapai Scarlesia, dengan cepat Scarlesia menggenggam tangan Vivian. Celah-celah jemarinya sudah mulai diserang oleh suhu dingin, tangan hangat Scarlesia membungkus tangan Vivian yang dingin itu.


“Saya di sini.”


Memori Scarlesia tiba-tiba membawanya ke masa kehidupan lalunya ketika dia tinggal di istana ini. Memori indah yang berisi momen ia bersama Vivian dan Hedwig, mengingat betapa bahagianya dia kala itu diperlakukan seperti putri kandung sendiri oleh mereka berdua. Bagaimana hebohnya Vivian saat dia tinggal di sini dan mempersiapkan pertunangannya bersama Elios.


“Sia, Ibu membuatkan cemilan untukmu.”


“Sia, apakah kau luang sekarang? Ayo kita minum teh bersama.”


“Sia, apa kau menyukai gaun yang aku pilihkan untukmu?”


“Sia, pakai aksesoris ini biar kau terlihat semakin cantik. Ehh tapi calon menantuku sudah cantik tanpa aksesoris.”


“Sia, kenapa kau bersedih? Tidak usah ingat keluarga yang menyakitimu, sekarang aku menganggapmu sebagai putriku. Jadi, anggap aku sebagai keluargamu ya,”


Kenangannya bersama Vivian terlalu banyak, tidak bisa terlukiskan melalui kata-kata. Dia ingat Vivian yang belajar memasak untuknya, selalu mengajaknya melakukan hal yang menyenangkan, selalu membelikan dia gaun-gaun indah, memberikannya sebuah kamar mewah, dan selalu bersikap seperti seorang Ibu kandung ketika dia dilanda kesedihan mendalam.

__ADS_1


“I-ibu….”


Scarlesia tidak bisa menahan lagi tangisnya, sejak tadi dia mendorong dirinya agar tidak menangis, tapi tetap saja pada akhirnya dia menangis. Dia hanyalah seorang gadis yang rapuh bila dihadapkan dengan masalah seperti ini.


“Iya putriku, ahh sudah berapa lama aku tidak pernah mendengarmu memanggilku Ibu? Terakhir aku melihatmu menangis saat kau bertengkar dengan Elios. Apa kau ingat? Dulu kau juga sering tidur di pahaku. Betapa indahnya hidupku kala itu, ingin rasanya aku kembali ke masa itu lagi,”


“Ibu bisa kembali lagi ke masa itu, tapi aku mohon tolong bertahanlah sebentar….” pinta Scarlesia terisak.


“Maafkan aku tidak bisa memenuhi janjiku pada kalian berdua. Aku akan pergi sekarang, aku titip Elios padamu Sia. Aku senang Elios mencintai gadis cantik sepertimu….”


Kedua mata Vivian terpejam sepenuhnya, jiwanya telah pergi bersama Hedwig si suami tercinta. Mereka kembali ke keabadian bersama, hidup dan mati bersama, benar-benar cinta sejati. Detak jantung tidak lagi terdengar, aliran darahnya terhenti, dan irama napasnya tak lagi terasa. Elios hancur dalam sekejap mata, dia kehilangan orang yang paling dicintainya.


“Ibu… Ayah… AAAAARRRHHHHHH!! KENAPA? KENAPA HARUS BERAKHIR SEPERTI INI? MENGAPA MERENGGUT NYAWA ORANG YANG AKU SAYANGI? MENGAPA AKU HARUS KEHILANGAN LAGI? MENGAPAAAA??? AARRRHHHHHH! Tolong siapa pun kembalikan mereka padaku….”


Tangis Elios kian memecah, dia berteriak histeris karena tidak bisa menerima semua ini. Scarlesia mendekap Elios dengan erat, hatiku ikut hancur kehilangan Vivian dan Hedwig. Tidak hanya mereka berdua bahkan seluruh klan iblis putih, dia menyayangi mereka sebab sejak dulu mereka memperlakukan Scarlesia dengan baik.


“Ada aku di sini, aku tidak akan meninggalkanmu Elios. Kuat ya sayang, yang kuat,” ujar Scarlesia dengan nada suara gemetar, ia ikut menangis namun masih berupaya teguh demi Elios.


“Hatiku sakit Sia, sangat sakit. Aku kehilangan mereka semua dalam semalam, aku tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang. Peluk aku lebih erat lagi, aku mohon….”


Elios membenamkan kepalanya di dalam pelukan Scarlesia, ia semakin terisak. Dada Scarlesia ikut sesak melihat Elios seperti ini, saat ini dia hanya ingin berada di samping Elios dan menemaninya mengurangi kesedihannya.


“Aku akan memelukmu selalu Elios, aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan terus berada di sampingmu selamanya, bisakah kamu kuat untukku? Aku mengerti kamu sakit, aku juga merasakan hal yang sama. Tapi lihat aku, lihat mataku, tidak peduli bagaimana keadaannya, yang jelas aku akan menjadi satu-satunya wanita yang menjadi tempatmu pulang,” kata Scarlesia memaksa Elios untuk menatap kedua matanya.


“Aku merasa gagal Sia, aku gagal melindungi mereka. Aku hancur, aku semakin takut tidak punya alasan lagi untuk bertahan.”


“Aku tahu, jikaitu terjadi lalu kau tidak punya alasan lagi untuk bertahan, maka aku mohon jadikan aku sebagai alasan untukmu bertahan. Kau tahu? Aku tidak bisa hidup tanpamu Elios….”


 


Note :

__ADS_1


Maaf ya, author cuma bisa up 2 chapter hari ini soalnya author lagi sakit kepala


__ADS_2