
Setelah melerai pelukannya, Scarlesia tidak sadarkan diri akibat yang diterimanya. Kemudian Carlen menggendongnya dan membawanya ke paviliun, untungnya paviliun tidak terkena dampak kehancurannya. Scarlesia dibaringkan di atas ranjang, mereka meninggalkan Scarlesia untuk beristirahat sesaat. Bahkan sampai Eldrick dimakamkan, Scarlesia masih belum tersadar dari pingsannya. Kian menit, cuaca tidak menunjukkan perubahannya, angin disertai hujan deras mengganggu aktivitas semua orang.
Kekaisaran Roosevelt tengah tenggelam dalam duka, selain kehilang Eldrick selaku bangsawan kalangan atas, para rakyat juga kehilangan Vincent sebagai kaisar serta Selena sebagai permaisuri. Mereka ditemukan meregang nyawa di istana kekaisaran, lalu Nieva yang merupakan selir dan Giana adik dari Vincent juga ikut meninggal dalam insiden ini. Kekaisaran Roosevelt kehilangan tiang dan pondasi tempat mereka berdiri. Hari ini, Roosevelt lah yang paling banyak mendapatkan kerugian sebab korban jiwa terhitung juga sangat banyak. Rata-rata yang mati adalah para bangsawan dari kelas atas hingga kelas bawah.
“TOLONG! TOLONG! YANG MULIA MENGHILANG!”
Seorang pelayan wanita berteriak dari arah paviliun, seketika rasa panik melanda penghuni mansion. Lekas saja Carlen mengerahkan pencarian untuk mencari keberadaan Scarlesia, mereka berpencar ke segala tempat supaya Scarlesia dapat ditemukan dengan cepat. Menerjang di dalam badai tidak membuat mereka berhenti begitu saja mencari Scarlesia.
“Di mana Sia sekarang?”
Aldert salah satunya, dia kehilangan kendali begitu mendengar adiknya tidak berada di paviliun. Kini Aldert pergi mencarinya sendirian dan melawan arus badai yang menerpa badannya. Aldert mencoba mencari Scarlesia ke pemakaman Eldrick dan Larissa sebab Eldrick dimakamkan tepat di samping makamnya Larissa. Dan benar dugaan Aldert, dia menemukan Scarlesia sedang terbaring di samping makam Eldrick.
“Sia, apa yang kau lakukan di sini? Ayo sekarang kita pulang,” ajak Aldert dengan suara teramat lembut.
“Ayah… aku ingin tidur dekat Ayah. Kak, bukankah Ayah akan kedinginan kalau tidur di sini bersama Ibu? Harusnya aku tidur di antara mereka berdua biar mereka tidak kedinginan.”
Tatapan mata Scarlesia kosong, dia seakan tidak memiliki jiwa di dalam tubuhnya. Aldert memandang pilu sang adik, hatinya teriris melihat Scarlesia masih hanyut di dalam kesedihan dan rasa bersalah.
“Sekarang kita pulang ya, kau bisa sakit kalau lama-lama di sini. Ayo kita pulang dulu, Ayah dan Ibu tidak kedinginan. Nanti mereka sedih jika melihatmu di sini,” ujar Aldert menguatkan hatinya.
“Aku kosong… hatiku kosong….”
__ADS_1
Aldert tak kuasa menahan tangisnya, dia tidak sanggup membiarkan Scarlesia berada di dalam kondisi terguncang. Hatinya sakit, dia sedih atas kepergian Eldrick tapi dia lebih sedih melihat Scarlesia bak boneka hidup tanpa ekspresi.
“Padahal aku kakaknya, tapi aku tidak bisa melindunginya. Mungkin inikah yang dimaksudkan Ibu waktu itu? Ketika Ibu datang ke mimpiku lalu mengatakan agar aku melindungi Sia sebab akan ada hal yang membuatnya terguncang hebat. Aku mengerti sekarang, aku paham apa maksud Ibu berbicara seperti itu padaku,” batin Aldert.
Kemudian tanpa menunggu lebih lama lagi, Aldert mengangkat tubuh Scarlesia, dia membopongnya untuk dibawa kembali ke paviliun. Hujan semakin deras, Aldert khawatir apabila Scarlesia sakit karena terlalu lama berada di bawah hujan. Setelah sampai di mansion, melihat Scarlesia baik-baik saja, baru lah semua orang merasakan kelegaan. Scarlesia dibawa masuk ke dalam kamar, beberapa orang pelayan membantu Scarlesia untuk mandi. Sedangkan Aldert kini tengah bersama Carlen, mereka berada di dalam kebingungan yang sama.
“Kak, apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku tidak sanggup melihat Sia seperti ini lebih lama lagi.”
Aldert menahan sesak di hati, luapan emosi di kedua netra birunya terpancar sangat jelas.
“Kita harus bersama Sia sampai dia bisa mengikhlaskan semuanya, Ayah dan Ibu ingin kita menjaganya. Kita mesti lebih kuat demi Sia, tidak apa-apa aku masih bisa menahannya asal Sia kembali seperti semula. Adik kita itu sudah terlalu banyak menderita, aku akan menggantikan peran Ayah untuknya. Kita tidak boleh membiarkan Sia masuk ke lubang penderitaan terlalu lama,” ucap Carlen, matanya tampak sembab sehabis menangisi kepergian Ayahnya.
Pada keesokan harinya, Scarlesia masih belum mau berbicara dan hanya ada kekosongan di tatapan matanya. Jika diajak mengobrol pun Scarlesia tidak menyahut pembicaraan orang lain, dia hanya diam sembari terus memandang ke depan. Bahkan matanya tidak berkedip sedikit pun, seakan-akan Scarlesia saat ini adalah manusia yang tidak berjiwa, dia mati tanpa dimakamkan, dan hidup tanpa ada kesadaran. Akhirnya, Carlen dan Aldert memutuskan untuk membawa Scarlesia ke Evariste supaya dapat segera diperiksa oleh dokter di sana.
“Bagaimana keadaan Yang Mulia? Apa beliau baik-baik saja?” tanya Carlen cemas pada dokter yang baru saja selesai mengecek kondisi Scarlesia.
“Yang Mulia menderita syok dan depresi mendalam, untuk sementara waktu sebaiknya sering-sering ajak beliau untuk berbicara supaya kesadarannya kembali lagi. Sekarang Yang Mulia seperti tengah berada di tempat lain, beliau tidak berbicara bahkan tidak mengedipkan matanya,” jelas dokter itu.
“Baiklah, saya mengerti.”
Lalu dokter tersebut meresepkan beberapa obat untuk diberikan kepada Scarlesia guna untuk mengurangi depresinya. Kondisi Scarlesia terbilang parah, mentalnya terguncang sehingga seluruh orang mengkhawatirkan dirinya saat ini.
__ADS_1
Pada hari berikutnya, masih tidak tampak perubahan yang ditunjukkan oleh Scarlesia. Mereka terus mencoba berbicara kepadanya tapi tidak ada respon darinya. Hingga pada malam hari, lagi-lagi istana didera kekacauan akibat Scarlesia menghilang kembali, tidak tahu ke mana ia pergi sekarang.
“JANGAN LEWATKAN SATU TEMPAT PUN! CARI YANG MULIA KE SETIAP SUDUT EVARISTE!” seru Zenon kepada para ksatria dan penyihir.
Sementara itu, di tengah hutan yang gelap dan dingin dikarenakan hujan yang tidak berhenti-henti, Scarlesia menapaki jalan tanpa alas kaki. Piyama putihnya sudah dipenuhi oleh lumpur, arah tujuannya berjalan juga tidak diketahui, dan di tangannya ia menggenggam sebuah belati.
“Semua adalah salahmu! Harusnya kau yang mati. Orang-orang jadi tidak bahagia sebab kehadiranmu. Sekarang matilah, tusukkan belati itu pada jantungmu.” Suara itu terusterus menggema di pikiran Scarlesia semenjak hari kematian Eldrick, suara-suara itu menyuruhnya untuk mati.
Scarlesia terjatuh duduk, dia menundukkan kepalanya lalu mendongak ke arah langit.
“Aku memang seharusnya mati, aku tidak layak untuk hidup.”
Scarlesia memegang gagang belatinya, dia mengangkat belati itu dan mengarahkannya kepada jantungnya. Belati tersebut menusuk jantungnya terlalu dalam, darahnya sesaat menyembur keluar kemudian bercampur dengan air hujan. Satu tusukan belati itu tidak berefek pada dirinya, sekali lagi dia menikam jantungnya dan terus menerus sampai seperti itu sebanyak lebih dari sepuluh kali tikaman. Namun, dia tidak kunjung mati karena tikaman belati tajam itu, dia mengulanginya lagi dan lagi seraya berharap dia akan mati setelah melakukannya.
“SIA! APA YANG KAU LAKUKAN?”
Carlen berhasil menemukan Scarlesia dan datang tepat waktu, langsung saja dia menampik belati itu dari genggaman Scarlesia.
“Apa yang kau lakaukan Sia? Apa kau berniat untuk mati? Kau membuat khawatir semua orang.”
“Kak, aku kosong….”
__ADS_1