
“Aku sudah lama tidak memanjat pohon. Oke, sekarang aku akan naik ke puncak pohonnya.”
Scarlesia mengangkat gaunnya, dia memanjat dengan sangat hati-hati hingga berhasil mencapi puncak pohonnya. Scarlesia memutar bola matanya, dia bisa melihat sekeliling istananya dengan jelas. Angin mendayu-dayu membuatnya merasakan kantuk luar biasa, tanpa tersadar kala ia menikmati pemandangan sejenak lalu menyandarkan punggungnya ke pohon, matanya terpejam dan berakhir terlelap.
Hal itu tidak berlangsung lama, Scarlesia terbangun mendengar suara teriakan Erin dan Hana. Mereka berteriak memanggil Scarlesia dan menyuruh dirinya untuk segera turun ke bawah karena menurut mereka itu terlalu membahayakan bagi diri Scarlesia.
“YANG MULIA! TURUN SEKARANG JUGA!”
Scarlesia mengucek sepasang matanya, dia melihat Erin dan Hana seraya tertawa melambaikan tangannya.
“Kenapa? Aku masih mau di sini. Apa kalian mau naik juga?” sahut Scarlesia.
“JANGAN BERCANDA YANG MULIA! NANTI ANDA BISA TERJATUH!”
Raut wajah mereka berdua memang terlihat mengkhawatirkan Scarlesia, mereka berdua marah-marah sampai akhirnya Scarlesia mengalah dan memilih untuk turun.
“Ck padahal aku sedang menikmati angin sepoi-sepoi,” decak Scarlesia kesal.
Dia mulai menurunkan satu kaki kirinya, namun karena permukaan pohonnya agak licin sehingga kaki Scarlesia tergelincir.
“AAAAHHH!!”
Scarlesia memekik, untungnya sebelum tubuhnya mencapai permukaan tanah, Elios datang tepat waktu dan menyambut tubuh Scarlesia supaya tidak terjatuh.
“Sepertinya kau suka sekali cari masalah ya,” ucap Elios sembari tersenyum.
“Haha untung saja, aku pikir tulangku akan patah.”
Elios menurunkan Scarlesia perlahan, Erin langsung memukuli lengan Scarlesia. Bibirnya mengerucut dan keningnya mengerut, Scarlesia pikir dia tahu apa yang akan terjadi selanjunta. Hanya tawa kikuk saja respon Scarlesia melihat ekspresi Erin nyaris meledak-ledak karena ulahnya sendiri.
__ADS_1
“Aduh jangan pukul aku Erin. Aku hanya bosan berada di kamar terus,” kata Scarlesia melindungi lengannya dari pukulan Erin.
Erin berkacak pinggang, sejujurnya dia hanya khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Scarlesia seperti sebelumnya.
“Apa anda mau membuat saya mati karena serangan jantung? Saya hanya tidak mau anda terluka. Apa sesulit itu untuk diam di dalam kamar saja? Anda sangat tidak pengertian Yang Mulia,” omel Erin.
“Sudah Erin, jangan marahi lagi Yang Mulia,” bujuk Hana agar Erin segera berhenti memarahi Scarlesia.
“Tidak apa-apa Hana, mungkin ini memang salahku. Aku minta maaf tapi aku sungguh tidak tahan berada di dalam kamar,” ujar Scarlesia menghela napas berat seraya menampakkan mimik wajah sedihnya.
Elios menyadari kalau Scarlesia merasakan kebosanan luar biasa, dia pun berinisiatif untuk mengajak Scarlesia jalan-jalan.
“Sia, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Aku akan menemanimu.”
Mendengar Elios mengajaknya jalan-jalan, raut muka Scarlesia segera berubah sumringah.
“Mau, aku mau. Tapi….”
“Baiklah saya akan mengizinkan kalau anda jalan-jalan ditemani oleh Tuan Elios,” ucap Erin.
Elios mengulurkan tangannya dan mengajak Scarlesia untuk segera pergi dari sana. Scarlesia menerima uluran tangan Elios, mereka bergandengan menuju ke luar istana. Sebelumnya Elios sudah meminta izin untuk membawa Scarlesia pergi ke luar istana bersamanya, untungnya diizinkan oleh Edward tapi dengan syarat tidak boleh keluar lebih dari satu jam. Elios menyanggupi persyaratannya dan berjanji akan membawa Scarlesia pulang setelah satu jam.
Elios menggendong Scarlesia lalu mengajaknya terbang bersama di angkasa. Cuaca hari ini begitu cerah sehingga tidak menghambat rencana jalan-jalan mereka berdua.
“Elios, kau mau membawaku ke mana?” tanya Scarlesia.
“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Aku yakin kau akan menyukai tempatnya,” jawab Elios.
Scarlesia tidak mengerti, dia hanya mengiyakan saja dan mengikuti kemana saja akan dibawa oleh Elios. Mereka terbang kurang lebih selama 10 menit hingga mereka tiba di sebuah rumah kaca yang terletak dekat dengan dunia bawah.
__ADS_1
“Rumah kaca? Bukannya dulu di sini hanya taman biasa? Kenapa ada rumah kaca?” tanya Scarlesia keheranan.
“Masuk dulu, nanti aku akan mengatakannya padamu.”
Elios menarik masuk tangan Scarlesia ke dalam rumah kaca tersebut, Scarlesia terhenti di ambang pintu lalu memandang takjub penampakan di rumah kaca itu. Segala jenis bunga tumbuh subur di sana, warna-warni dari berbagai jenis bunga itu memberikan nuansa keindahan serta kesejukan. Di tengah-tengah rumah kacanya terletak meja dan kursi yang bisa digunakan untuk bersantai ria.
“Sia, rumah kaca ini dibuat oleh Ayah dan Ibuku. Sebenarnya mereka ingin memberikan rumah kaca ini ketika kau resmi diangkat sebagai putri mahkota tapi kondisi tertentu membuatnya tertunda. Hari ini aku menyerahkan rumah kaca ini padamu karena mereka tahu kalau kau sangat menyukai bunga baik dulu atau pun sekarang,” jelas Elios.
“Ini untukku? Ayah dan Ibu membuatkannya untukku?”
Scarlesia melangkah lebih dalam lagi untuk melihat lebih jelas, ia mengarahkan langkahnya pada meja yang di atasnya terdapat beberapa buku. Scarlesia mengambil bukunya kemudian melihat isinya, ternyata itu adalah buku yang suka dibaca oleh Scarlesia dulu.
“Buku ini kan buku yang suka aku baca dulu, jadi Ibu masih menyimpannya?”
Elios mengangguk, ia meraih pergelangan tangan Scarlesia.
“Ikuti aku, aku akan menunjukkan yang lainnya padamu.”
Di dalam rumah kaca itu ada sebuah ruangan tersembunyi, Elios mengajak Scarlesia masuk ke ruangan tersebut. Kali ini dia lebih terkejut lagi sebab di ruang itu terdapat berbagai lukisannya di saat tinggal di istana dunia bawah.
“Kau pasti ingat, ini adalah lukisan saat kau dan Ibu memasak bersama, ini ketika kau dan Ayah berpedang, lalu ada lukisan saat kau mengajarkan beberapa iblis putih tentang pengobatan, dan ini adalah potret kita bersama.”
Scarlesia melihat seluruh lukisan serta potret dengan mata berkaca, dia tidak tahu bahwa Vivian dan Hedwig menyayanginya lebih dari yang dia bayangkan. Scarlesia mengalihkan pandangannya pada arah lain, di ruangan itu juga berbagai gaun dan aksesoris terpajang di lemari kaca.
“Apa ini semua milikku?” tanya Scarlesia dengan suara bergetar.
“Ya, ini adalah milikmu. Ibu selalu merawatnya sehingga semua barang-barangmu tahan lama bahkan Ibu membelikan beberapa yang baru, katanya dia takut kalau kau kemari tidak ada gaun bagus untuk kau kenakan. Ibu dan Ayah menyayangimu, kadang aku berpikir mereka lebih menyayangimu dibanding menyayangi aku anak kandungnya sendiri,” jawab Elios.
“Aku… aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku….” kalimatnya terhenti, Scarlesia tidak bisa melanjutkan perkataannya lebih jauh lagi. Suaranya yang gemetar menunjukkan betapa sedihnya ia membayangkan itu semua.
__ADS_1
“Setiap waktu mereka selalu menunggumu, entah berapa lama pun itu mereka tidak peduli karena mereka percaya kau akan kembali. Untuk itu, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu setidaknya sebelum mereka meninggal mereka sudah melihat menantu yang mereka idam-idamkan telah balik ke dunia ini lagi. Meskipun mereka tidak sempat mengatakannya tapi mereka berdua bahagia mengenalmu.”