
“Sia, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kekuatanmu sudah pulih?” tanya Louis.
“Sudah, sekarang aku mau menyembuhkan orang-orang yang terluka karena kebakaran kemarin lusa,” jawabnya.
Senyum Scarlesia telah kembali seperti semula, aura ceria terpancar dari wajah cantiknya. Sekarang dia akan berjalan ke ruang dimana tempat korban sedang dirawat, ia ditemani ke sana oleh para prianya yang bersikeras ingin membantu pekerjaan Scarlesia.
Ruang yang cukup luas tersebut memuat orang sekitar kurang lebih 50 orang, mereka adalah korban dari perseteruan yang terjadi lusa kemarin. Scarlesia begitu sedih melihat kondisi mereka yang terluka sangat parah bahkan ada yang sampai kehilangan salah satu anggota tubuhnya. Scarlesia langsung saja memulai penyembuhannya, kekuatan penyembuhan mengalir besar di ruangan itu dan berhasil menyembuhan seluruh orang di sana.
“Kekuatanku rasanya lebih kuat dibanding sebelumnya, mungkin ini karena aku tidak pernah menggunakannya selama beberapa waktu ini. Untung saja luka mereka tidak bercampur dengan kegelapan, jadi aku masih bisa menyembuhkannya,” batin Scarlesia seraya tersenyum.
Setelah itu Scarlesia beralih pada ruang sebelah yaitu ruang yang ditempati oleh Hana. Kondisi Hana lebih memprihatinkan lagi, tangan kanannya putus lalu ada luka bakar di sebagian wajahnya. Scarlesia begitu pilu memandang Hana yang terbaring tidak sadarkan diri dengan selang infus yang melekat di tangannya.
“Tenang saja Hana, aku akan menyembuhkanmu. Kau tidak akan hidup di dalam kecacatan.”
Scarlesia menaruh tangannya di atas dada Hana, ia memejamkan matanya dan dalam sekejap kini tubuh Hana sudah sembuh total. Scarlesia merasa lega, ketika ia hendak pergi ke luar untuk meninggalkan Hana agar bisa beristirahat, Hana tiba-tiba saja sadar.
“Yang Mulia….”
Hana memanggil Scarlesia menggunakan suara teramat pelan, Scarlesia segera berbalik untuk melihatnya langsung. Scarlesia mengurungkan niatnya untuk keluar ruangan dan memutuskan untuk berbicara dengan Hana sebentar.
“Hana, apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?” tanya Scarlesia penuh kelembutan.
“Yang Mulia, Erin bagaimana? Apa dia selamat?”
Hana belum mengetahui perihal kematian Erin, dia tidak sadarkan sejak ia ditemukan tergeletak tidak jauh dari tempat Erin berada. Mendengar Hana menanyainya tentang Erin, membuat hatinya tidak sanggup untuk menjawabnya sehingga Scarlesia hanya bisa diam sambil menundukkan kepala lalu menggeleng pelan.
“Begitu ya? Erin sudah tidak ada. Seharusnya waktu itu saya tidak membiarkan Erin melindungi saya. Erin mati karena saya, semuanya kesalahan saya,” ucap Hana, air matanya mulai berbicara dan membasahi pipinya.
__ADS_1
“Tidak Hana, ini bukan salahmu. Berhentilah menyalahkan dirimu atas kematian Erin, aku tidak menyalahkanmu atas semua yang sudah terjadi,” ujar Scarlesia menggenggam kedua tangan Hana.
“Apa anda sungguh tidak marah pada saya Yang Mulia? Kalau bukan karena saya pasti Erin masih hidup sampai sekarang.”
“Aku tidak marah padamu sebab ini bukanlah kesalahanmu. Berhenti membebani kematian Erin pada dirimu, sekarang kau hanya perlu beristirahat supaya tubuhmu sehat kembali.”
“Yang Mulia, apakah saya masih diizinkan untuk melayani anda?” tanya Hana.
“Tentu saja kau boleh melayaniku, kau adalah pelayan pribadi yang paling aku sayang. Jangan salahkan dirimu lagi, paham?”
Hana menganggukkan kepalanya sembari mengusap air matanya.
“Paham Yang Mulia, terima kasih sudah mau menerima saya. Saya berjanji akan bekerja lebih keras lagi dan selalu berada di samping Yang Mulia seumur hidup saya.”
Sehabis itu mereka berpelukan sejenak, Scarlesia merasa lega dan beruntung karena masih ada Hana yang melayaninya. Kemudian Scarlesia menyuruh Hana untuk beristirahat lalu ia pergi keluar untuk melakukan pemeriksaan lainnya.
Scarlesia menyelesaikan penyembuhan semua pasien dalam waktu singkat, ia melanjutkan kegiatannya yakni memantau para dokter yang sedang bekerja. Semua orang bahagia melihat Scarlesia ceria kembali ke sedia kala. Saat ini dia sudah bisa berinteraksi seperti sebelumnya, ia berhasil menepikan kesedihan hatinya sejenak demi rakyat yang ia cintai.
“Maaf Yang Mulia, saya tidak ahli dalam merias anda. Bagaimana kalau saya panggil pelayan lain saja untuk merias anda?”
Selama dua hari ini Hana mencoba mengambil tanggung jawab Erin untuk merias Scarlesia, tapi dia tidak bisa melakukannya sebaik Erin sebab Hana memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan makannya Scarlesia dan Erin biasanya bertugas meriasnya. Kini ia kesulitan dan tidak mengerti sama sekali soal rias merias.
“Biar aku saja, sudah lama aku tidak merias diri sendiri. Kau siapkan saja sarapan untukku,” kata Scarlesia mengambil sisir di tangan Hana.
“Baik Yang Mulia.” Hana pun beranjak ke dapur untuk membawakan sarapan untuk Scarlesia.
Scarlesia mulai menyisir rambutnya sendiri, kemudian menggerakkan jemarinya untuk memoles wajahnya menggunakan beberapa make up yang tersedia di atas mejanya. Sudah lama sekali sejak Scarlesia terakhir kali mencoba merias diri sendiri. Kemampuannya dalam memoles wajah tidak menurun sama sekali, masih telaten seperti di kehidupannya kala berada di dunia modern.
__ADS_1
Tok tok tok
Seorang pelayan mengetuk pintu kamar Scarlesia, tampaknya dia membawakan beberapa hal untuk Scarlesia.
“Yang Mulia Pangeran Victor dan Pangeran Lucas ingin bertemu dengan anda Yang Mulia,” ujar pelayan tersebut.
“Ya? Masuk saja,” sahut Scarlesia.
Dengan terpaksa Scarlesia menghentikan riasannya, ia akan berbicara dengan Lucas dan Victor terlebih dahulu. Mereka bertiga duduk di sofa, lalu Hana yang baru saja datang langsung menyuguhkan minuman serta makanan untuk menemani pembicaraan mereka.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Victor.
“Aku baik-baik saja, seharusnya aku yang bertanya pada kakak berdua.”
“Kami juga baik-baik saja, kau sudah menyembuhkan kami beberapa hari yang lalu jadi sekarang tubuh kami jauh lebih baik,” jawab Victor diangguki oleh Lucas.
“Syukurlah kalau begitu, tapi ada apa? Kenapa kalian berdua menemuiku?”
“Sebenarnya kami kemari mewakili para bangsawan, mereka memintamu untuk segera naik ke tahta kaisar. Saat ini Evariste kehilangan kaisarnya dan akan berbahaya bila singgasana kaisar dibiarkan kosong terlalu lama. Bagaimana menurutmu? Apa kau bersedia?” jelas Lucas menanyakan pendapat Scarlesia.
“Baiklah, aku akan segera naik ke tahta kaisar karena aku butuh posisi itu untuk menghadapi perang akhir.”
“Perang akhir? Ayah juga pernah menyebutkan itu kepada kami. Perang akhir apa sebenarnya?” bingung Victor.
“Aku belum menceritakannya pada kalian berdua, pertempuran akhir antara seluruh umat manusia memerangi kegelapan. Alam semesta terancam binasa, oleh karena itulah kita perlu persiapan sebelum menghadapinya.”
Deg!
__ADS_1
Mereka keringat dingin seketika Scarlesia membeberkan soal perang akhir kepada mereka berdua. Aura keseriusan Scarlesia sedikit menekan diri mereka, perang akhir terdengar sangat membahayakan bagi kehidupan.
“Lalu apakah kau punya rencana untuk mempersiapkan perang akhir ini? Jika kita tidak bersiap-siap, maka akan besar kemungkinan kita akan kalah nantinya,”