
“APA YANG KAU KATAKAN GADIS KECIL? KEMENANGAN? AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KALIAN MENANG. SEKARANG AKU AKAN MEMULAI PERTUNJUKAN YANG SEBENARNYA,”
Mayat-mayat monster yang ada di medan perang secara mendadak menghilang dan masuk ke dalam tubuh si raja monster. Karena hal itu, membuat tubuhnya bertambah besar dan semakin besar disertai perubahan wajahnya yang menyeramkan.
“Apa-apaan dia itu? Baru saja dia menyerap mayat-mayat bawahannya,” pikir Scarlesia.
“Sepertinya ini tidak akan sesederhana seperti sebelumnya,” ucap Xeon.
Scarlesia memutar kepalanya menghadap Xeon yang sedang mengamati perubahan yang dialami oleh raja monster.
“Aku juga merasa bahwa ini akan menjadi masalah yang rumit,” ujar Scarlesia kembali memperhatikan bagaimana tubuh raja monster membesar. “Tongkat itu aku harus menghancurkannya! Suara-suara yang ada di dalamnya terdengar sangat berisik sama seperti saat aku berhadapan dengan Zin,” lanjutnya.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?” sela Elios.
“Haruskah aku bakar dia?” timpal Zenon.
“Tebas kepalanya!” Andreas juga ikut menimpali.
“Aku akan mencabiknya menggunakan cakarku,” ucap Louis.
“Nah Sia, bagaimana kalo kita menyerangnya secara bersamaan? Aku pikir itu akan cukup menarik,” tutur Oliver.
Mereka semua sekarang berada di sisi kiri dan kanan Scarlesia, mereka mengajaknya untuk menyerangnya secara bersamaan. Scarlesia memiringkan senyumnya, dia menguncir balik rambutnya yang bergerai panjang, menyingsing sedikit lengan bajunya, Scarlesia bersiap untuk menyerang bersama.
“Oke, ayo kita serang dia bersama saja,”
Mereka maju bersama tanpa ada sedikit pun keraguan, Scarlesia memimpin penyerangannya. Mereka semua mengitari raja monsternya sembari terbang di udara, Scarlesia berdiri tepat di hadapan wajah raja monster.
“Apa yang sedang kalian coba lakukannya?” tanya.
“Apa ya? Tentu saja membunuhmu,”
Scarlesia menarik tali busurnya, ia membidik matanya lalu melepaskan anak panahnya yang melaju cepat dan langsung tertancap di mata kanan raja monster. Disusul oleh serangan dari Xeon, Andreas, dan masing-masing mereka semuanya.
__ADS_1
“AAARGHHH MATAKU! TUBUHKU YANG BERHARGA! BERANINYA KALIAN MENYERANGKU BERSAMA-SAMA,”
Raja monster berteriak kesakitan, mengucur darah di salah satu matanya sehingga matanya tidak bisa dia gunakan untuk melihat lagi. Sebagian tubuhnya habis terluka karena serangan lainnya, raja monster yang marah berusaha untuk meraih tubuh Scarlesia yang berada di udara namun Scarlesia menghindari dengan cepat.
“Kalian membuatku muak! Aku akan menghabisi kalian!”
Tongkat milik raja monster terjatuh ke tanah, Scarlesia tidak sadar dengan Zenon yang mendekat ke arah tongkatnya. Scarlesia baru menyadarinya saat tangan Zenon hanya berjarak beberapa cm saja.
“ZENON! JANGAN PEGANG TONGKAT ITU!” larang Scarlesia panik.
“Ehh?”
Terlambat karena Zenon sudah menyentuh tongkat itu, kesadaran Zenon perlahan menghilang setelah menyentuhnya. Jiwa Zenon ikut terserap ke dalam tongkat tersebut, tubuh Zenon terhempas ke tanah yang dingin.
“ZENOOONNNN!!!!”
Scarlesia terbang mendekati tubuh Zenon, ia meraih tubuhnya dan Scarlesia merasakan jiwa Zenon benar-benar sudah tidak ada di tubuhnya lagi. Scarlesia khawatir bukan main, Andreas bersama prianya yang lain terkejut melihat jiwa Zenon masuk ke dalam tongkatnya dan tidak ada yang bisa melakukan apapun untuk mengembalikan Zenon saat ini.
“Zenon, bisakah kau mendengarkan suaraku?”
“Sia, kita harus mendapatkan kembali jiwanya Zenon sebelum terlambat! Jika dibiarkan jiwanya terlalu lama berada di luar tubuhnya, maka tidak menutup kemungkinan dia akan mati. Sekarang kau pikirkan saja cara bagaimana menghancurkan tongkat itu sedangkan Zenon akan aku taruh di dalam peti kahyangan untuk memperlambat efeknya bekerja,”
Scarlesia menenangkan dirinya, benar yang dikatakan oleh Xeon bahwa yang perlu dia pikirkan sekarang bagaimana cara menghancurkan tongkat tersebut karena tongkat itu tidak bisa asal dipecahkan saja. Jika salah, maka akan membuat jiwa-jiwa yang terkurung di dalamnya berubah menjadi jiwa jahat yang terlahap oleh kegelapan.
“Aku serahkan Zenon padamu. Tolong ya,” ucap Scarlesia.
“Baiklah,”
Xeon menngeluarkan sebuah peti berwarna putih, ia menaruh tubuh Zenon di dalam peti kahyangan tersebut.
“Sia, apa Zenon baik-baik saja?” tanya Andreas disusul oleh yang lain.
“Kalian tenang saja, sekarang kita fokus dulu pada pertempuran ini.”
__ADS_1
“HAHAHA JIWA SEEKOR NAGA MASUK KE DALAM TONGKATKU. INI ADALAH PENCAPAIAN TERBESARKU HAHAHA,” tawa raja monster puas.
Scarlesia tidak tahan lagi mendengarnya tertawa di saat dirinya tengah menahan amarah dan emosi yang memuncak di dalam dirinya.
“AKU AKAN MEMBUNUHMU DASAR MONSTER SIALAN!” teriak Scarlesia dengan emosi yang menggebu-gebu.
“Hmm membunuhku? Baiklah. Sebelum itu aku akan membuatmu menyaksikan sebuah pertunjukan yang sangat berharga,”
Raja monster mengambil kembali tongkatnya, dia berdiri tertatih-tatih dengan tubuh yang penuh luka. Dia lalu menghentakkan tongkatnya sebanyak tiga kali, asap berwarna putih keluar dari tongkat tersebut yang mana asapnya semakin lama semakin menebal dan mengelilingi medan perang.
“GAWAT! SIA INI ADALAH ASAP PENGHISAP JIWA! ASAP INI AKAN MENGHISAP JIWA SIAPA SAJA YANG MENGHIRUPNYA!” seru Xeon panik.
“Asap penghisap jiwa?”
Scarlesia sekali lagi terlambat menyadarinya, satu persatu orang-orang mulai tumbang dan tidak sadarkan diri. Scarlesia tidak bisa membiarkannya lebih jauh, ia pun menjentikkan jarinya untuk menghentikan aliran waktu.
“Terpaksa aku menggunakan kekuatan dewa waktu, aku tidak bisa menggunakannya lebih lama karena kekuatannya menyerap tenagaku lebih banyak,” gumam Scarlesia.
Saat ini aliran waktu terhenti, hanya Scarlesia bersama Xeon, Andreas, Oliver, Louis, dan Elios yang bisa bergerak di dalamnya. Scarlesia mengedarkan pandangannya bahkan Ayah serta kakaknya juga terjatuh tidak sadarkan akibat asap tersebut berhasil menghisap jiwanya masuk ke dalam tongkatnya.
“Apa yang… uhukk tubuhku agak melemah karena asap ini,” ucap Oliver lemas.
“Tentu saja, ini adalah asap penghisap jiwa milik dewa kegelapan. Aku dan Sia tidak akan terkena dampak asapnya karena jiwa kami spesial tapi berbeda dengan kalian, jiwa kalian bisa saja ikutan tersedot jika Sia tidak menghentikan waktu tadinya,” terang Xeon.
Scarlesia ambil ancang-ancang selanjutnya, wajahnya sangat serius karena ia tidak bisa membiarkan hal ini berjalan lebih lama lagi.
“Maaf, bisakah kalian menjauh dariku dulu? Ada sesuatu yang ingin aku lakukan sekarang,” pinta Scarlesia.
Mereka tidak banyak protes dan langsung menjauh begitu Scarlesia meminta mereka untuk menjauh.
“Aku tidak punya waktu lebih untuk membunuh raja monster karena hanya tersisa beberapa detik lagi, aku harus menghilangkan semua asap yang menyelimuti medan perang ini lebih dulu,”
Scarlesia memainkan jemarinya, dalam sekejap ia menciptakan sebuah angin besar untuk menyerap asap tersebut. Kini seluruh asap sudah hilang sepenuhnya, aliran waktu yang terhenti kembali berjalan seperti biasa. Raja monster tampak bingung karena seluruh asap yang menyelimuti medan perang hilang secara tiba-tiba.
__ADS_1
“Kemana semua asap yang aku keluarkan tadi?”
“Sudah aku lenyapkan,”