Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Kematian Scarlesia


__ADS_3

“YANG MULIA!!”


Tubuh Scarlesia jatuh ke bawah bersamaan suara cangkir berderai hancur mencapai ubin lantai. Seluruh mata tersentak menuju arah suara pecahan cangkir, mereka serentak mendekati tubuh Scarlesia yang tergeletak tidak sadarkan diri. Dari mulut mungilnya keluar cairan merah segar begitu banyak, suasana ruang pesta seketika tak terkontrol hebohnya.


“Cepat panggilkan dokter!” perintah Duchess Freya panik bukan main.


Sementara itu, benang-benang yang menjadi penghubung antara Scarlesia dengan keluarganya serta dengan prianya mendadak putus.


“Sia!!”


Mereka meninggalkan pekerjaan mereka dan langsung menuju ke kediaman Duchess Freya. Mereka datang sangat cepat dan menghancurkan sebagai atap ruang perjamuan pesta, kedatangan mereka secara tiba-tiba seperti ini menciptakan kegaduhan. Mereka kehilangan akal sehat melihat Scarlesia tidak sadarkan diri. Xeon merebut Scarlesia dan membawanya jauh dari kerumunan, tanpa berlama-lama mereka segera menuju istana.


Melihat Scarlesia tidak sadarkan diri, istana kembali ribut tidak terkendali tapi Xeon meminta mereka untuk tetap tenang. Kini Scarlesia dibawa masuk ke dalam kamarnya, di sana hanya ada Hana dan Erin, lalu Eldrick yang datang terburu-buru bersama Aldert dan Carlen, kemudian ada Archie bersama pria-prianya Scarlesia.


Saat ini ia dibaringkan di atas tempat tidur dalam kondisi tubuh pucat pasi seakan tidak ada aura kehidupan terpancar dari Scarlesia. Xeon memeriksa denyut nadi dan detak jantung Scarlesia, ia berkeringat dingin karena takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada Scarlesia. Xeon membeku saat ia merasakan tidak ada denyut nadi serta detak jantung gadis itu. Tangannya terkulai lemas tak berdaya, raut wajah putus asa terlukis jelas pada dirinya.


“Ini tidak mungkin… bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bodoh! Dasar aku bodoh! Kenapa aku membiarkan Sia sendirian ke sana?”


Xeon memukul-mukul kepalanya, ia frustasi hingga pandangannya buram tertutupi oleh air mata. Seketika suasana kamar menjadi lebih tegang, Eldrick merasa ada yang tidak beres akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Xeon.


“Apa yang terjadi pada Sia?” tanya Eldrick.


Xeon menoleh ke Eldrick sambil menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak bisa menyelamatkannya, aku gagal lagi menyelamatkan Sia…” lirih Xeon.


Deg!


“Hah? Xeon! Kau jangan bercanda!” ucap Aldert tidak menerima perkataan Xeon.

__ADS_1


Sekujur badan Eldrick kehilangan tenaganya, dadanya sesak begitu Xeon memberitahu Scarlesia sudah tidak ada lagi. Putri satu-satunya yang ia sayangi, dengan langkah sempoyongan Eldrick perlahan mendekati ranjang Scarlesia.


“Tidak… putriku, kenapa kau harus berakhir seperti ini?” lirih Eldrick.


Hana dan Erin terjatuh duduk di permukaan lantai, mereka terisak tidak menerima kematian Scarlesia. Begitu pula dengan Aldert dan Carlen, mereka menggenggam tangan Scarlesia sembari mengatakan Scarlesia untuk segera bangun.


“Sebenarnya kenapa? Xeon! JAWAB! KENAPA SIA TIDAK BISA DISELAMATKAN?” teriak Zenon menarik kerah baju Xeon.


Tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan betapa kacaunya mereka saat ini, tidak ada dari mereka yang tidak menangis. Setiap tetes air mata mereka berjatuhan mencapai lantai, sesaat mereka mengerumuni ranjang Scarlesia seraya meneriaki nama Scarlesia untuk menyuruhnya segera bangun.


“Tolong Xeon… jawab….” mohon Zenon tubuhnya merosot ke atas lantai.


“Aku tidak mau kehilangan Sia lagi, tidak bisakah kau melakukan sesuatu? Aku mohon Xeon…” mohon Louis menitihkan air mata.


“Lakukan sesuatu padanya, jangan ambil Sia lagi dari kami. Jangan ambil dia lagi, tolong sekali ini saja….” ujar Andreas teramat pelan.


“Lakukan sesuatu Xeon! Bukankah kau adalah dewa? Tolong kembalikan Sia lagi,” ucap Elios.


“Tubuh Sia terkontaminasi oleh darah dewa kegelapan, dengan arti lain ada yang bermaksud meracuninya saat pesta berlangsung. Darah dewa kegelapan menjadi kekuatan bila dikonsumsi oleh mereka yang tercipta dari kegelapan, sedangkan darahnya menjadi racun bila diminum oleh jiwa yang tercipta dari cahaya seperti Sia. Aku tidak bisa merasakan adanya kehidupan dari tubuh Sia bahkan keberadaan jiwanya saja tidak bisa aku deteksi,” jelas Xeon berusaha menahan sesak di dadanya.


“Apa? Bukannya Sia ahli dalam mengenali racun? Kenapa dia bisa tidak mengenali ada darah dewa kegelapan dalam makanan atau minumannya?” tanya Carlen.


“Darah dewa kegelapan sulit untuk dikenali jika sudah tercampur dalam makanan atau minuman, bahkan aku saja tidak bisa mengenalinya sebab darahnya menyatu sempurna sehingga tidak akan ada yang mampu mengetahui bahwa darahnya menyebar dalam makanan dan minumannya,” jawab Xeon.


“Apa tidak ada cara lain untuk menghidupkan Sia? Aku tidak ingin menunggu lagi,” ujar Oliver membuka suara.


Xeon tertunduk lemas, jemarinya saling meremas satu sama lain, ia menggigit bibir bawahnya sebelum menanggapi Oliver.


“Tidak, Sia tidak akan bisa bereinkarnasi lagi. Maaf karena aku tidak punya kekuatan untuk membuat Sia bereinkarnasi kembali.”

__ADS_1


Pada saat yang bersamaan seorang wanita berjubah hitam tengah berjalan melewati sebuah gang kecil tak berpenghuni. Dia melihat ke belakang, samping kiri dan kanan, seolah-olah kedua matanya sedang mewaspadai jika ada yang mengikutinya. Dia berhenti di ujung salah satu gang seraya mengatur irama napasnya.


“Saya sudah selesai melaksanakan tugas saya, wanita itu sudah meminumnya dan kini dia sedang tidak sadarkan diri,” katanya melapor pada seorang pria yang membelakanginya.


“Kerja bagus Abigail,” ucap pria itu sembari berbalik.


Ternyata wanita itu adalah Abigail, dia yang sengaja menyelinap ke pesta minum teh Duchess Freya lalu menaruh darah dewa kegelapan ke dalam minuman Scarlesia. Dia kini tengah berbicara dengan Venos, sang raja iblis hitam yang memberi perintah padanya untuk meracuni Scarlesia.


“Saya berhasil, bisakah anda sekarang mengabulkan permintaan saya yang sebelumnya? Tolong jadikan saya sebagai Kaisar Evariste dan berikan saya kekuatan untuk membunuh orang-orang kurang ajar itu!” pinta Abigail penuh harap.


Venos menatap sinis Abigail, dia tidak menyukai sedikit pun manusia seperti Abigail penuh aura keserakahan dari dalam dirinya.


“Hahaha kau bodoh sekali ya,” tawa Venos.


“A-apa?”


“Kau pikir dewa kegelapan mau mengabulkan permintaan bodohmu itu? Jangan kau pikir karena kau sudah berhasil meracuni gadis itu dewa kegelapan akan berpihak padamu.”


Tatapan Venos meremehkan Abigail, dia tidak menyeringai kejam pada Abigail yang kehilangan kata-katanya.


“BUKANKAH KITA SUDAH MENYEPAKATINYA? LALU KENAPA TIBA-TIBA BERUBAH SEPERTI INI?” bentak Abigail.


“Berani sekali manusia rendahan seperti dirimu ini meninggikan suaranya padaku. Aku paling benci dengan manusia.”


Venos menekan Abigail dengan aura hitamnya, tubuh Abigail bergetar dan napasnya tercekik karena aura hitam pekat tersebut.


“Hei kau harusnya sadar diri, sudahlah lemah bahkan wajahmu saja tidak menarik, benar-benar membuatku muak. Kalau kau mau membentakku seharusnya samakan dulu level dengan Sia, kau lucu sekali. Sebaiknya kau memang tidak usah aku biarkan hidup, selamat tinggal Abigail.”


Venos menghancurkan Abigail dalam satu serangan saja, dia menghancurkannya berkeping-keping sampai tidak bersisa. Tidak lupa Venos mengambil jiwa Abigail lalu memasukkannya ke dalam sebuah botol kecil.

__ADS_1


“Apa dia berpikir dirinya sudah terlalu tinggi? Dasar manusia! Dia benar-benar berpikir dewa kegelapan menepati janjinya? Hahaha tidak habis pikir aku.”


__ADS_2