
Gadis itu membawa Scarlesia duduk bersama, mereka berhadap-hadapan dan saling bertatapan. Scarlesia merasa saat ini dia sedang bercermin, gadis di depannya sungguh mirip dengannya dari atas sampai bawah. Sejujurnya dia merasa bingung, namun dia menahan dirinya sampai gadis itu memberinya penjelasan.
“Aku tahu kau pasti bingung, sebelumnya kau sudah bertemu dengan si hitam bukan?”
Scarlesia membulatkan pupil matanya, dia memang pernah bertemu dengan si hitam yang dimaksudkan oleh gadis itu ketika dia bermimpi beberapa waktu yang lalu. Nyaris saja dia melupakan mimpi yang membuatnya pusing memikirkannya.
“Aku pernah bertemu dengannya beberapa waktu lalu, tapi apa hubungannya?” heran Scarlesia.
“Kau belum tahu ya? Wajar saja karena ingatanmu tidak ada tentang itu. Asal kau tahu, aku adalah si putih yaitu bagian dari jiwamu termasuk si hitam juga bagian dari jiwamu. Sebenarnya kita tiga jiwa yang terpisah, dulunya kita satu jiwa namun karena kutukan yang menyerang jiwa ini akhirnya kita terbagi menjadi tiga jiwa. Kau adalah jiwa netral, yang mana kau merupakan jiwa yang paling kuat di antara kami berdua,” jelas gadis itu.
Scarlesia tertegun sesaat mendapatkan penjelasan terkait tiga jiwa yang terpisah, bahkan selama ini Xeon tidak pernah menyinggung mengenai hal ini.
“Kita dibagi dalam tiga jiwa? Kenapa harus dibagi?”
“Dulu saat perang berlangsung, kita terkena kutukan dari dewa kegelapan yaitu kutukan kegelapan. Suara-suara yang kau dengar selama ini adalah suara dari kutukan itu sendiri, kutukannya akan aktif apabila kau terguncang masalah seperti yang kau alami beberapa waktu ini. Kutukan itu terlalu kuat sehingga dewa pencipta terpaksa membagi kita menjadi tiga jiwa yaitu aku si putih, kau si netral, dan si hitam.”
“Aku belum terkontaminasi oleh kutukan itu tapi aku tidak bisa keluar dan hanya terjebak di tempat ini, si hitam terkena kutukan paling kuat, lalu kau netral sebab kau tidak terkena begitu banyak kutukannya. Kau terus bereinkarnasi, sedangkan aku tidak bisa bereinkarnasi karena aku dilarang untuk keluar agar aku bisa terus aman dari kutukannya dan si hitam dikurung di tempat yang sangat gelap agar dia tidak mengacau.”
“Namun, Xeon mencoba menggabungkan kita kembali, awalnya itu berjalan baik tapi akhir-akhir ini kau terguncang begitu hebat sehingga si hitam hilang kendali dan tersesat di tempat yang gelap, aku di sini datang untuk membantumu keluar dari jeratan ini sebab kau adalah jiwa yang paling kuat dan bebas. Meskipun aku tidak terkontaminasi oleh kutukannya tapi aku ini lemah, kita harus bergabung lagi untuk mengalahkan dewa kegelapan.”
Scarlesia tidak berkedip karena dia sangat terkejut begitu mengetahuinya, rasanya seperti mendapat sebuah bom waktu yang meledak kapan pun itu. Scarlesia ingin menertawakan mirisnya hidupnya selama ini, dia tidak bisa mengingat apapun yang terjadi 2000 tahun lalu, hanya sebuah bayangan samar serta potongan ingatan yang tidak lengkap.
“Kita adalah tiga jiwa yang awalnya satu, aku baru mengetahui hal ini. Ternyata hidupku penuh teka-teki bahkan kutukan itu saja aku baru mengetahuinya,” ucap Scarlesia.
“Ya, tugasku hanyalah membuatmu agar tidak terpuruk lagi. Aku tidak bisa membuatmu berubah menjadi si hitam yang lain, ingatlah karena ini adalah reinkarnasi terakhirmu serta percobaan terakhir untuk penggabungan jiwa kita. Xeon dulu pernah melakukan penggabungan jiwa tapi selalu gagal sebab kutukannya menguat, namun sekarang kutukannya mulai merenggang sehingga penggabungan jiwa hampir berhasil dan akibat masalah yang menimpamu akhir-akhir ini si hitam tersesat lagi di tempat yang gelap.”
“Tolong sekarang kau harus sadar kembali, kalau kau sadar maka si hitam akan bisa masuk kemari tanpa membuat masalah lagi. Dengarkan aku! Kematian seluruh orang yang kita sayang bukan salahmu, tapi salah dewa kegelapan! Dia yang membuat kita menderita. Ketahuilah, masih banyak orang lain yang menyayangimu. Apa kau melupakan kedua saudaramu? Kau lupa dengan Xeon atau pria yang rela menunggumu beratus-ratus tahun lamanya? Berhentilah tenggelam dalam kegelapan, berhentilah terpuruk, sebab di dunia ini kau memperoleh bahagia yang selama ini kau cari,” ujar si putih panjang lebar.
Scarlesia menunduk, dia merenungi makna kata-kata yang dilontarkan oleh si putih kepada dirinya. Pikirannya mulai terbuka kembali, kini dia menyadari bahwa segala yang terjadi dengan hidupnya bukanlah kesalahannya melainkan kesalahan dewa kegelapan. Dia tidak salah lahir ke dunia ini karena dia adalah harapan satu-satunya umat manusia.
“Aku mengerti, aku paham apa yang kau katakan. Benar, ini bukanlah salahku bahkan kematian Ayah juga bukan salahku. Pasti Ayah sedih jika dia melihatku seperti ini kan? Aku akan bangkit lagi dan kita bertiga akan bergabung menjadi satu lagi,” kata Scarlesia mengembangkan senyumnya.
“Memang inilah yang aku tunggu-tunggu, sekarang ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan padamu. Sesuatu yang bahkan tidak pernah kau lihat sebelumnya.”
Si putih mengulurkan tangannya dan menyuruh Scarlesia untuk segera berdiri, dia menggenggam tangan Scarlesia. Jemari tangan sebelah kirinya dijentikkan, beberapa saat kemudian keluarlah sebuah cermin besar dari bawah.
“Wahh ini sama dengan apa yang dilakukan oleh si hitam sebelumnya,” tutur Scarlesia.
__ADS_1
“Iya, jika sebelumnya si hitam memperlihatkan memori yang menyakitkan maka aku akan memperlihatkan memori bahagia kepadamu.”
Lalu tiba-tiba saja dari cermin itu keluar sebuah gambaran Larissa tengah berada di ranjangnya sambil menggendong seorang bayi. Senyum Larissa merekah terlihat sangat bahagia menatap bayi yang ada di dalam gendongannya. Bayi itu adalah Scarlesia sendiri, pada saat itu Larissa baru saja selesai melahirkan dirinya. Kemudian Eldrick datang bersama Carlen yang kala itu berusia 7 tahun dan Aldert berusia 5 tahun.
“Apakah dia putri kita?” tanya Eldrick.
“Tentu saja dia adalah putri kita, aku memberinya nama Scarlesia.” Larissa menyerahkan Scarlesia kecil kepada Eldrick.
“Scarlesia… nama yang cantik. Putriku sangat cantik, mirip denganmu Larissa. Mulai sekarang namamu adalah Scarlesia Eginhardt, semoga nanti putriku bisa tumbuh menjadi wanita secantik dan setangguh Ibunya,” ucap Eldrick dengan kedua mata berkaca, dia sangat menunggu kelahiran Scarlesia selama beberapa waktu ini.
“Ayah, aku juga mau melihat adik,” pinta Carlen.
Eldrick memperlihatkan Scarlesia kepada Carlen dan Aldert, mata mereka berbinar saat melihat adiknya yang mungil.
“Woahh dia sangat kecil dan cantik seperti Ibu,” puji Carlen.
“Matanya baru saja terbuka dan melihat ke arahku. Cantiknya…” sanjung Aldert tidak bisa berhenti menatapnya.
“Adik kecilku, mulai hari ini kami berdua adalah kakakmu. Kakak berjanji akan melindungimu, kau hanya perlu duduk manis di rumah, jangan pikirkan pekerjaan lain karena kami akan mengerjakan semua pekerjaan untukmu,” tutur Carlen begitu polosnya.
“Putriku sangat hebat! Sekarang kau sudah bisa berjalan! Luar biasa! Ini sangat luar biasa!” Eldrick bahagia tidak karuan, begitu pula dengan Larissa dan kedua putranya.
“Yah… Ayah….”
Pada saat yang bersamaan, Scarlesia menunjukkan hal baru lagi dan dia berhasil memanggil Eldrick dengan sebutan Ayah. Eldrick bukan main kagetnya, meski belum terlalu jelas pengucapannya tapi dia bisa mengerti apa yang dikatakan oleh Scarlesia.
“Sia baru saja memanggilku Ayah,” ujar Eldrick terharu.
“Apa? Sia, sekarang coba panggil Ibu. Ayo cepat,” desak Larissa tidak mau kalah.
“Bu… Ibu….”
“Kami berdua! Panggil kami kakak,” pinta Carlen dan Aldert.
“Kak….”
“HARI INI KITA AKAN MENGADAKAN PESTA! TIDAK HANYA HARI INI SAJA, KITA AKAN MENGADAKAN PESTA SELAMA 7 HARI 7 MALAM!” seru Eldrick terlampau bahagia. Tiada hari yang lebih bahagia yang mereka rasakan selain hari dimana Scarlesia pertama kali berbicara di waktu yang masih begitu kecil.
__ADS_1
"Berlebihan sekali," celetuk Larissa.
"Tidak apa-apa, demi putriku apapun akan aku lakukan."
Beralih pada saat Scarlesia berusia empat tahun, suatu malam Scarlesia terkena demam tinggi. Sudah berlalu dua hari namun demamnya tidak kunjung turun, Eldrick dan Larissa tidak bisa tidur sebab Scarlesia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
“Biar aku saja yang menemani Sia di sini, kau masih punya banyak kerjaan bukan? Jangan paksakan dirimu terlalu jauh, putri kita akan baik-baik saja,” ujar Larissa.
Eldrick mengacak-acak rambutnya, dia khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa putri satu-satunya.
“Tidak Larissa, aku tidak bisa fokus jika demam Sia masih belum turun. Apa yang harus kita lakukan? Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada Sia,” ungkap Eldrick.
“Percayalah padaku, putri kita pasti akan sembuh. Hal seperti ini biasa terjadi pada anak kecil, kau jangan terlalu cemas. Sekarang kau istirahat saja, aku akan menemani Sia di sini.”
“Baiklah, katakan padaku segera apabila keadaan Sia memburuk.”
Eldrick sangat menyayangi Scarlesia, itu terbukti dari bagaimana ia memperlakukan Scarlesia bak seorang ratu di mansion. Tidak hanya Eldrick bahkan Larissa, Carlen, serta Aldert juga memperlakukan Scarlesia secara istimewa. Seluruh penghuni mansion begitu menyayangi Scarlesia, mereka kerap mengatakan kalau Scarlesia memiliki wajah yang sangat cantik walau umurnya masih kecil. Setidaknya semua itu berlangsung hingga hari dibunuhnya Larissa, semuanya berubah drastis. Hubungan Scarlesia bersama kakaknya retak, orang-orang menyalahkannya atas kematian Larissa.
Meskipun begitu, Eldrick diam-diam masih melindungi Scarlesia tanpa sepengetahuan siapa pun. Ketika Scarlesia sakit sekali pun, tanpa diketahui oleh orang lain dia menyelinap masuk ke kamar Scarlesia untuk menemaninya melawan rasa sakit. Terkadang dia menangis sendirian sebab dia tidak punya kekuatan lebih melawan kaisar dan permaisuri. Sepintas ada rasa murka di dirinya karena putrinya menderita oleh ulah orang lain. Rasa sayangnya terpaksa dia sembunyikan demi melindungi Scarlesia dari terkaman permaisuri.
Melihat masa lalu yang sangat indah itu membuat Scarlesia menangis, dia semakin sadar bahwa keluarganya sangat menyayanginya. Kelahirannya ditunggu-tunggu oleh banyak orang, dia baru menyadarinya dan ini adalah hal memori yang ingin dia simpan selamanya.
“Bagaimana? Kau mengerti kan sekarang bahwa kematian Ayah, Ibu, atau orang-orang yang kau sayang lainnya bukanlah kesalahanmu.”
Scarlesia menyeka air matanya, sudut bibirnya terangkat ke atas.
“Aku mengerti sekarang, terima kasih.”
Di sela pembicaraan mereka, si hitam akhirnya bisa keluar dari ruang kegelapan. Dirinya mendadak tiba di depan mereka berdua.
“Sekarang aku sudah bisa keluar, akhirnya kau mengerti bukan sekarang? Kau sangat berarti di hidup banyak orang,” ucap si hitam seraya tersenyum.
“Kita bertiga harus menjadi satu kembali, kita harus mengalahkan dewa kegelapan apapun yang terjadi. Sebentar lagi hari kebangkitan kita akan tiba,” ujar si putih.
“Hari kebangkitan? Apa itu?”
“Sekarang kau keluarlah, setelah kau berada di luar maka kita akan segera bertemu dengan dewa pencipta. Sebentar lagi dewa pencipta terbangun dan kau akan mengetahuinya setelah bertemu beliau.”
__ADS_1