
“Ukhh… Yang Mulia….”
Di samping tubuh Kitty, Scarlesia baru sadar ada seseorang yang tidak asing baginya. Dia menghalau sejenak kekacauan pikirannya dan menghampiri tubuh gadis yang menelungkup itu. Scarlesia menarik dan membalikkan tubuhnya, rupanya itu adalah Erin yang berada dalam kondisi mengenaskan. Kedua gendang telinganya pecah dan berdarah, sebelah kakinya terluka parah, kedua tangannya memeluk erat sebuah kotak. Kotak itu adalah kotak yang dulu pernah ditunjukkan oleh Scarlesia yang berisi kalung dan barang peninggalan Ibunya.
“Erin, kenapa bisa seperti ini? Siapa yang melakukan ini padamu? Katakan padaku!”
“Yang Mulia, anda berbicara apa? Maaf, saya tidak bisa mendengarnya….” lirih Erin.
“Huh? Erin, kau….”
“Saya berhasil menyelamatkan barang berharga anda Yang Mulia, anda waktu itu bilang kalau ini barang berharga dari Ibu anda. Jadi saya berusaha keras menyelamatkannya,” tutur Erin menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.
“Kau tidak perlu melakukan ini, kau tinggalkan saja kotak ini di dalam sana. Nyawamu lebih berharga dari apapun itu Erin, kenapa kau bisa sebodoh ini?”
“Saya tidak bisa mendengar anda Yang Mulia, semuanya terdengar hening bagi saya.”
Mendengar itu membuat hati Scarlesia menjadi sakit, ingin rasanya ia menyembuhkan Erin tapi dia tidak bisa melakukannya karena kekuatannya belum pulih. Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah mendekap tubuh Erin erat.
“Maafkan aku Erin… maaf….”
Meskipun Erin tidak bisa mendengar apa yang dituturkan oleh Scarlesia, tampaknya dia mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Scarlesia padanya.
“Yang Mulia, maafkan saya karena saya Kitty jadi terluka, dia jadi seperti itu karena dia menyelamatkan saya. Tolong maafkan saya….”
“Tidak apa-apa, kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Aku tidak marah padamu,” jawab Scarlesia.
“Yang Mulia….”
“Ya?”
__ADS_1
“S-saya takut mati… saya tidak ingin mati… saya takut meninggalkan anda Yang Mulia. Saya ingin terus bersama anda sampai akhir hidup saya, saya ingin melihat anda bahagia. Saya takut mati Yang Mulia, saya takut….”
Erin menangis terisak di pelukan Scarlesia, badannya sangat gemetar. Scarlesia mengeratkan dekapannya, tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang selain memberikan ketenangan pada Erin.
“Jangan khawatir Erin, aku tidak akan membiarkanmu mati. Tenang saja, kau akan hidup sampai 100 tahun lamanya. Jangan takut, aku bersamamu.”
“Jika saya mati, apa anda akan melupakan saya? Apa anda akan menderita? Yang Mulia, saya tidak ingin meninggalkan anda. Tolong saya Yang Mulia….” lirih Erin kembali.
“Kau tidak akan mati Erin, kau akan terus bersamaku. Aku tidak akan pernah melupakanmu,” ucap Scarlesia.
Suara Scarlesia terdengar tidak stabil, ia mengelus-elus punggung Erin untuk menenangkan dirinya agar tidak takut lagi.
“Saya menyayangi anda Yang Mulia, saya ingin selalu bersama anda. Saya takut mati tapi terlambat bagi saya sekarang. Saya akan meninggalkan anda, saya takut Yang Mulia… saya ta… kut….”
Suara Erin terhenti bahkan Scarlesia tidak bisa mendengar detak jantung milik Erin saat ini. Suara napasnya juga berhenti total, Scarlesia langsung melepas pelukannya dan memangku tubuh Erin yang tidak lagi bernyawa.
“Erin… bangun Erin! Erin, sadarlah! Aku mohon Erin… ERIINNNN! Aku mohon jangan pergi… tolong buka matamu Erin….”
Scarlesia seolah disambar oleh petir sore ini, hanya dalam waktu beberapa jam saja dia kehilangan orang-orang yang dia cintai sepenuh hati. Kekacauan hari ini terjadi begitu saja tanpa ia tahu penyebab pastinya, tidak hanya satu mayat yang dia temukan karena di sekitarnya banyak mayat lain yang bergelimpangan serta darah yang bercecer dimana-mana.
“Apa dunia sedang bercanda denganku sekarang? Haha ini tidak lucu loh. Ini tidak lucu sama sekali,” gumam Scarlesia.
Kemudian dia menyentuh dadanya, dia merasakan detak jantungnya tidak lagi stabil serta sekujur badan lemas tidak berdaya. Dunianya kelam, dia tidak lagi bisa merasakan emosi apapun dari dalam dirinya. Jiwanya seakan terbang keluar dari tubuhnya, apa lagi yang bisa membuatnya sadar saat ini? Tidak ada! Dia terpukul, terjatuh, sakit, namun ia tidak bisa mengekspresikannya.
“Aku sakit hati, aku sedih, aku terluka, tapi kenapa aku tidak bisa menangis? Hahaha sungguh, rasanya aku ingin mati sekarang. Kenapa dunia seperti ini padaku? Apa salahku? Apa aku berdosa hidup di dunia ini?”
Scarlesia terus menggumamkan hal-hal yang sulit dimengerti, kedua pandangan matanya kosong, bahkan dia tidak bisa menangis untuk segala ketidakadilan yang dia terima. Beberapa saat kemudian, hujan mengguyur daratan dan membantu orang-orang untuk memadamkan api yang masih menjalar melahap istana. Suara petir menggelegar di langit serta kilat bergantian keluar bersama petir tersebut.
“Sia, ternyata kau di sini,” ucap Elios.
__ADS_1
Akhirnya para pria Scarlesia datang, mereka sedari tadi mencarinya dan baru bertemu dengannya sekarang. Scarlesia tidak menjawab, dia hanya diam, tertegun, dan terpaku sembari terus bergumam tak berhenti.
“Sia….”
Mereka terus memanggil nama Scarlesia, namun panggilan mereka tidak disahuti oleh Scarlesia. Ia hanya terduduk lemas seraya menatap tertunduk menghadap tanah, badannya sudah mulai basah kuyup oleh hujan yang sedang turun.
“SADAR SIA!!” teriak Zenon mengguncang tubuhnya Scarlesia.
Scarlesia mengerjapkan matanya, dia kembali pada alam sadarnya. Andreas dan yang lain menatap sendu ke arah Scarlesia, mereka sudah mengetahui lukanya semuanya. Mereka tidak dapat membayangkan betapa jauhnya Scarlesia terhempas.
“Kalian… ternyata kalian di sini. Oke, ayo kita urus masalah ini….”
“Sia….”
Zenon langsung mendekap tubuh Scarlesia, tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membantu Scarlesia selain memberikannya sebuah pelukan penenang.
“Kenapa? Aku tidak apa-apa. Lihatlah aku masih bisa tersenyum, aku tidak sedih sama sekali,” ucap Scarlesia membohongi perasaannya sendiri.
“Kenapa kau harus melalui semua ini? Aku tahu kau terluka, kau sedih. Jangan berbohong lagi Sia, jangan tunjukkan senyum palsumu kepada kami. Tidak masalah, kau tidak apa-apa menangis, tidak ada yang salah dari menangis. Jangan menekan dirimu lagi, menangislah Sia… menangislah….” tutur Zenon.
“Apa kalian juga akan meninggalkanku nanti? Apa semuanya akan berakhir meninggalkanku? Apa aku memang ditakdirkan hidup sendirian? Aku sedih… aku terluka… hatiku sakit… sebenarnya hidupku harus aku bawa ke mana lagi?” lirih Scarlesia.
“Kami tidak akan meninggalkanmu, jadi menangislah. Jangan tahan rasa sakitmu, kami akan bersamamu selamanya. Tidak peduli apa yang terjadi, kami akan terus bersamamu,” ucap Zenon.
“AAAARRHHHHH!!!”
Akhirnya teriakan tangis Scarlesia terpecah, tidak ada yang sanggup mendengar teriakannya. Di bawah hujan ia menangis, penuh rasa sakit tak berujung di dalamnya, serta terselip ribuan kepedihan hatinya. Jantungnya seakan ditusuk dan dirajam berkali-kali oleh ribuan belati tajam. Hidupnya seolah berhenti mengitari dunia, jiwanya terguncang, bahagianya lenyap dalam sekejap mata. Kejutan apa lagi yang akan dunia berikan padanya? Tidak ada yang tahu.
2000 tahun bukan waktu yang sebentar, dunia kejam pada dirinya, masa depan seperti tidak ada di hadapannya. Dunianya gelap dan dipenuhi penderitaan, selama ini apakah dia pernah bahagia? Tidak! Dia tidak pernah bahagia. Ketika dia berhasil mencapai bahagianya, satu persatu alasannya bahagia direnggut oleh dunia. Lantas kebahagiaan yang bagaimana lagi yang bisa diperjuangkan? Entahlah, untuk saat ini dia hanya menikmati kehancuran dirinya perlahan.
__ADS_1
“Aku lelah… aku ingin berhenti… tolong jangan sakiti aku lagi….”