Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Bertemu Dewa Pencipta


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, tibalah Scarlesia di sebuah tempat yang sangat indah serta memiliki banyak aura kehidupan di sana. Sebuah istana terbentuk megah dengan nuansa emas mengelilinginya. Di sekitar istana ramai oleh hewan-hewan kecil, di sana juga ada kolam air mancur, taman, serta cuaca di sana cerah dan hangat.


Scarlesia berjalan mengikuti arah para malaikat tersebut membawanya, kedua matanya tidak berhenti mengedar mengamati seluruh kemegahan dan keasrian tempat itu. Istana ini berada di antara perbatasan istana langit dengan dunia makhluk hidup. Di sini adalah pusat semesta, tempat mengontrol jalannya alam semesta. Hingga mereka sampai di sebuah ruangan yang besar, meski istananya megah dan luas tapi terasa sepi sebab sepanjang jalan kemari tidak ditemukan siapa pun di sana.


Falco memencet pintu masuk melalui ruang lain, di sana Scarlesia melihat beberapa orang. Mereka memiliki wajah yang familiar bagi Scarlesia, seakan ada rasa nostalgia mengalir di kenangannya. Mereka seperti akan menyambut kedatangan Scarlesia menggunakan senyum ramah dan hangat.


“Selamat datang Sia.”


Scarlesia terkesima pada wanita yang sangat cantik menghampiri dirinya dan menyambut kedatangannya. Rambut hitam panjang terurai mencapai pinggangnya serta mata berwarna biru terang memandang akrab Scarlesia. Wanita itu adalah Tavisha, dewi venus yang memberikan kekuatan cinta dan kecantikan kepada Scarlesia.


Kemudian datang lagi seorang wanita cantik bersurai pirang panjang, netra violet lembutnya menatap Scarlesia penuh kerinduan. Dia adalah Agatha, sang dewi penyembuhan yang paling menantikan kedatangan Scarlesia. Tavisha dan Agatha memeluk Scarlesia bersamaan, situasi membingungkan ini membuat Scarlesia bertanya-tanya tentang siapa mereka.


“Selama ini aku hanya melihatmu dari jauh, tapi sekarang aku bisa berbicara denganmu secara langsung,” ucap Agatha menangis haru.


“Kau sudah tumbuh sebesar ini, aku senang melihatmu kembali,” tambah Tavisha.


“Hei kalian berdua, jangan membuat Sia kebingungan. Dia masih belum tahu siapa kita,” tegur Fritz, si dewa laut berpenampilan seperti seorang pria paruh baya dengan surai biru langit dan bertelanjang dada mempertontonkan badan kekarnya.


“Kalian berdua terlalu bersemangat bertemu Sia, kalian lupa kalau dia tidak mengingat kita?” Leopold, sang dewa hewan ikut menimpali. Leopold memiliki perawakan seperti seorang pria berusia 30 tahunan, rambutnya berwarna jingga dan mempunyai senyuman begitu lembut.


Tavisha dan Agatha melepaskan pelukan mereka pada Scarlesia, ekspresi bingung Scarlesia sungguh ingin membuat mereka tertawa.


“Halo Sia, kau pasti tidak ingat siapa kami bukan?” sapa Aefar, dewa langit.


Scarlesia kembali tertegun menatap Aefar, dia menilai Aefar mempunyai wajah yang tampan setara Xeon. Rambutnya seputih awan dan panjang serta pupil mata hijau emeraldnya semakin membuatnya terlihat indah.

__ADS_1


“Sia, apa kau tidak merasa familiar dengan kami? Atau apa kau tidak merasakan perasaan nostalgia?” celetuk Lydon, dewa waktu. Pria bersurai biru gelap itu mencoba memicu munculnya ingatan Scarlesia.


“Saya merasa familiar dan ada perasaan nostalgia juga, tapi saya tidak bisa mengingatnya. Apa anda semua mengenal saya?” tanya Scarlesia balik.


Seorang pria bersurai hitam memajukan langkahnya sedikit, sepasang pupil mata merah tua menatap Scarlesia.


“Haruskah aku memperkenalkan mereka padamu sekarang? Oke, kami adalah dewa dan dewi yang selalu mengawasimu selama ini. Mungkin kau sudah mengetahuinya dari Xeon, tapi beberapa waktu kau bereinkarnasi ke dunia manusia kau belum pernah lagi bertemu dengan kami,” ujar Carolus, dewa perang.


Scarlesia tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya, pantas saja perasaannya familiar dengan mereka semua. Meski dia tidak mengingat mereka, namun Scarlesia merasakan rasa rindu teramat dalam. Kemudian Carolus memperkenalkan mereka satu persatu kepada Scarlesia, rasa sesak di dadanya semakin mengapit dirinya. Melihat wajah mereka menimbulkan keharuan dan keinginan untuk mengucapkan kata rindu.


Tanpa Scarlesia sadari bulir air matanya berjatuhan, mengalir deras sesaat mereka memperkenalkan dirinya masing-masing. Scarlesia lekas menghapus air matanya lagi, dia terlalu sesak menahan kerinduan yang entah datang dari mana.


“Ehh Sia, kenapa kau menangis? Apa kami terlalu mengejutkanmu?” tanya Agatha panik seketika melihat Scarlesia sedang mengusap air matanya.


Scarlesia menggeleng lalu menjawab, “Bukan begitu, hanya saja saya merasakan kerinduan mendalam di saat melihat anda semua. Apa dulu hubungan kita memang sangat dekat? Entah mengapa rasanya rindu ini telah terpupuk terlalu lama.”


“Sekarang simpan dulu tangismu, kita akan menemui dewa pencipta,” sela Fritz.


Lalu mereka berjalan bersama menuju ruang lain lagi yang terletak di balik ruang yang saat ini mereka injaki. Scarlesia digandeng oleh Agatha dan Tavisha, mereka melangkah bebarengan ke ruang selanjutnya.


Ruang berikutnya merupakan ruang singgasana, Scarlesia memandang ruangan tersebut dengan mata berbinar. Dia terlampau kagum karena istana tersebut sangat bagus, tidak ada satu pun yang tidak terbuat dari emas. Bayangan mereka memantul dari kilauan emas yang menempel di dinding serta lantai.


“Yang Mulia, kami datang bersama Sia.”


Seorang pria berpakaian serba putih, bermotif emas tengah membelakangi mereka, dia berdiri di singgasana. Semua dewa dan dewi bertekuk lutut di hadapannya, Scarlesia bisa mengetahuinya bahwa pria itu adalah dewa pencipta. Scarlesia juga turut bertekuk lutut bersama dewa dan dewi, badannya refleks melakukannya sebab aura yang dikeluarkan oleh pria tersebut terlampau kuat.

__ADS_1


“Bangkitlah, kalian tidak perlu bertekuk lutut di hadapanku.”


Pria itu berbalik, wajahnya sangat tampan rupawan bahkan melebihi ketampanan pria di muka bumi ini. Untuk saat ini tidak ada yang bisa menandingi betapa tampannya rupa pria itu, ditambah dengan rambut dan mata emasnya, serta kulitnya putih selembut sutra. Meski begitu, bukan hal ini yang membuat Scarlesia tak bergeming dan terpaku sesaat melihat wujud dewa pencipta itu sendiri.


“Sia, kau sudah datang rupanya. Lama tidak bertemu,” sapa Eberly, dewa pencipta.


“Anda… bukankah anda yang waktu itu….”


Kalimat Scarlesia terhenti, dadanya merasakan sesak luar biasa seketika, tiba-tiba dia kembali merasakan rasa sedih tidak terbendungkan. Eberly pun mengangguk seraya tersenyum pada Scarlesia, ia merentangkan kedua tangannya.


“Kemarilah,” suruh Eberly.


Scarlesia melangkah pelan menuju singgasana tempat Eberly berdiri saat ini, langkahnya semakin cepat, kemudian Scarlesia masuk ke dalam dekapan Eberly. Scarlesia ingat bahwa Eberly pernah menyelamatkannya sebelumnya, yang pertama ketika dia tenggelam di laut saat melawan monster laut lalu kedua saat dia dibawa ke istana kegelapan oleh Leroux (di chapter 103 dan 133).


“Kenapa? Kenapa anda baru muncul lagi sekarang? Saya menderita selama ini menghadapi dunia sendirian. Saya takut setiap saat dan setiap waktu, saya memiliki ketakutan yang sangat besar. Walaupun saya mencoba menekan diri saya, tapi itu malah menyakiti hati saya, mengapa anda baru datang lagi sekarang? Saya sudah kehilangan banyak hal.”


“Saya tidak mampu melindungi orang-orang yang saya sayangi, meskipun saya mempunyai kekuatan yang sangat besar namun tetap saja saya tidak dapat berbuat apa-apa. Mengapa anda menempatkan saya pada dunia yang seperti ini? Perasaan takut kehilangan itu kembali menggerogoti saya saat ini, saya takut tidak bisa melindungi mereka yang saya cintai. Saya takut… tolong berikan saya ketenangan, tolong singkirkan rasa takut ini. Semuanya terlalu menyesakkan bagi saya.”


Scarlesia menumpahkan segala bentuk kecewa, rasa takut, serta rasa keputusasaan yang beberapa waktu lalu pernah ia rasakan. Tangisnya tidak terhentikan, dia meluapkan kesesakan yang dia tahan sendirian. Eberly mengelus punggung Scarlesia, jujur saja dia juga merasa sedih atas semua yang menimpa Scarlesia.


“Siapa bilang kamu sendirian? Aku selalu berada di dalam dirimu,” jawab Eberly.


Para dewa dan dewi langsung tercengang mendengar ucapan Eberly yang menyatakan selama ini dia berada di dalam diri Scarlesia.


“Maksud anda apa Yang Mulia?” tanya Lydon.

__ADS_1


“Sejujurnya selama ini aku berada di dalam jiwanya Sia, aku melindunginya dari dekat tanpa kalian sadari. Aku sudah bertemu Sia dua kali sebelum ini, ketika insiden Sia terkena darah dewa kegelapan aku memperlambat jiwanya keluar dari tubuhnya, aku memberinya sinar perlindungan yang kuat, serta menyelamatkan Agatha saat dia nyaris mati demi menyelamatkan Sia. Aku mengatur segalanya sebaik mungkin, namun aku tetap tidak bisa membantunya mencegah kematian keluarga dan orang-orang yang disayanginya,”


__ADS_2