Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Momen Bahagia


__ADS_3

Sepasang manik Scarlesia meneteskan air mata, kesedihan mendalam perlahan ia rasakan kembali. Dengan lekas ia usap kedua matanya, ia tidak bermaksud untuk menangis di hadapan Elios tapi dia tidak bisa membohongi perasaan sendiri. Mau berapa kali pun air matanya ia usap, akan terus keluar lagi dan lagi air mata yang sama.


Elios kemudian menarik tubuh Scarlesia ke dalam dekapannya sambil mengelus kepalanya.


“Jangan menangis Sia, aku tidak ingin kau bersedih. Aku sungguh beruntung karena wanita yang aku cintai adalah kau dan bukan orang lain. Kematian kedua orang tuaku bukan kesalahanmu, aku tidak akan pernah menyalahkanmu. Jadi aku mohon, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”


Scarlesia tersentak, semenjak kematian kedua orang tua Elios ia memang kerap menganggap kalau itu adalah salahnya. Namun, hari ini dia berhasil menepis rasa bersalah yang mencoba melahapnya lalu membuatnya terpuruk lebih dalam.


“Maaf Elios….”


“Tidak ada yang perlu dimaafkan, kau tidak perlu minta maaf padaku. Aku menyayangimu, tidak hanya aku bahkan Andreas, Zenon, Oliver, Louis, dan Xeon juga menyayangimu. Ada keluarga bahkan temanmu juga, jadi aku mohon bergantunglah pada kami. Jangan menanggung semua bebannya sendirian, jangan sakiti dirimu lagi dengan pikiran-pikiran rumit di kepalamu. Apapun yang terjadi nanti kami akan melindungimu,” ujar Elios.


Elios mempererat dekapannya, Scarlesia semakin membenamkan kepalanya di dalam pelukan Elios.


“Tidak apa-apa jika aku harus menjadi selirmu, pada awalnya aku memang menolak untuk membagimu dengan orang lain. Namun, sekarang aku mengerti bahwa kau bukan hanya milikku saja, mungkin yang lain juga merasakan hal serupa. Aku akan terus mencintaimu walau di hatimu terukir nama lain selain diriku,” batin Elios.


Beberapa menit berselang setelah itu, mereka memutuskan untuk pulang karena terbatasnya waktu membuat mereka harus menunda hal lain dulu. Tidak lupa, Scarlesia memerintahkan Shou untuk memasukkan rumah kacanya ke dalam dunia cermin sebab Scarlesia ingin meletakkan rumah kaca itu di halaman kosong samping istananya.


Sesampainya di istana, tanpa menunggu lama Scarlesia langsung bergerak ke halaman kosong yang dimaksudkannya. Sebelumnya Scarlesia bingung harus membangun apa di sana tapi sekarang dia ingin menaruh rumah kacanya di sana. Para pekerja pun kaget tiba-tiba saja melihat ada rumah kaca di samping istananya Scarlesia. Akan tetapi, mereka berpikir bahwa tidak ada yang tidak mungkin dilakukan oleh Scarlesia.


“Yang Mulia, apa anda mau dibuatkan beberapa kudapan?” tanya Hana.


Saat ini Scarlesia tengah menikmati waktunya di dalam rumah kaca, sejak rumah kacanya dipindahkan oleh Scarlesia tadi siang dia terus duduk di rumah kaca itu sambil membaca beberapa buku. Dan sekarang sudah sore, langit jingga perlahan nampak untuk memberikan nuansa indah mewarnai sorenya.


“Tidak usah, sebentar lagi akan masuk ke dalam,” tolak Scarlesia.


“Baiklah, kalau begitu saya undur diri dulu Yang Mulia.”


Hana pergi melanjutkan pekerjaannya, Scarlesia kini sendirian berada di rumah kaca itu. Ia mengerjapkan matanya seraya memangku dagu memandang ke arah langit sore.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tahu perang akhir sebentar lagi akan terpecah. Berarti pertama-tama aku harus membicarakan ini dengan kekaisaran lain. Benar, aku harus diskusikan sebab ini adalah masalah dunia dan bukan hanya masalah satu kekaisaran saja,” gumam Scarlesia.


“Apa yang sedang kau gumamkan Sia?”


Terdengar suara tidak asing berbicara padanya, Scarlesia menoleh ke arah suara itu datang. Ternyata itu adalah Qirani dan Feodor yang datang mengunjungi dirinya.


“Kakek! Nenek!”


Scarlesia memanggil mereka dengan riang, ia langsung mempersilakan Qirani dan Feodor duduk berhadapan dengannya.


“Apa yang membawa kalian berdua kemari?” tanya Scarlesia.


“Aku dengar muncul rumah kaca di samping istanamu, jadi kami datang untuk melihatnya. Ternyata setelah dilihat rumah kacanya sangat bagus, siapa yang memberikan rumah kaca ini untukmu?” tanya Qirani.

__ADS_1


“Itu raja dan ratu iblis putih memberikannya padaku, Elios memberitahu aku soal rumah kaca ini karena klan iblis putih kan tidak ada lagi,” jawab Scarlesia.


“Begitu ya, ternyata ini adalah pemberian mertuamu. Mereka sangat baik padamu baik di kehidupanmu yang lalu hingga sekarang.”


Mata Scarlesia membulat begitu Qirani berkata seperti itu padanya, pasalnya dia tidak pernah memberitahu Qirani atau Feodor tentang kehidupan lalunya.


“Nenek, bagaimana….”


“Xeon memberitahu kami soal itu, Xeon tidak memberitahu semuanya tapi hanya beberapa saja yang diberitahukan Xeon. Mulanya kami sulit mempercayainya, namun setelah melihat ketulusan pria yang berada di sampingmu mungkin itu memang adalah kenyataannya,” jelas Feodor.


“Ya, mereka sangat setia hingga menantimu bereinkarnasi. Kamu dikelilingi laki-laki yang tulus padamu, tidak ada yang perlu kau cari lagi karena mereka telah membuat duniamu lebih bermakna,” sambung Qirani.


“Hmm aku memang tidak mau mencari lagi sebab aku sudah mendapatkan semuanya di sini. Mulai dari keluarga, teman, hingga cinta, hidupku sempurna berkat itu semua termasuk kakek dan nenek juga. Terima kasih sudah mengizinkanku menjadi cucu kalian.”


“Sia, mendekatlah,” pinta Qirani.


Sesuai pinta Qirani, Scarlesia mendekat kemudian mereka memeluk Scarlesia.


“Seharusnya kami yang berterima kasih padamu karena kamu sudah mau lahir menjadi cucu kami.”


“Oh ada apa ini? Kenapa suasananya menjadi haru begini?”


Scarlesia melepas pelukannya, mereka serentak menengok ke pintu masuk rumah kaca. Edward bersama Jessie datang dan masuk ke dalam rumah kaca.


“Stop! Mulai sekarang bisakah kau memanggilku paman?” potong Edward.


“Kalau begitu aku juga, panggil aku Bibi,” tambah Jessie.


Scarlesia tampak gelagapan ketika diminta harus memanggil Paman dan Bibi.


“B-baiklah p-paman, bibi,” ucap Scarlesia gugup.


“Kyaa kamu lucu sekali,” sanjung Jessie merangkul kedua pundak Scarlesia.


Tidak lama kemudian, Lucas juga datang bersama Victor, Jimmy, dan Agnes. Rumah kaca semakin ramai kedatangan tamu yaitu keluarganya sendiri.


“Apakah kalian sedang mengadakan acara kumpul keluarga?” celetuk Lucas.


“Ternyata kalian datang juga,” kata Edward.


“Tentu saja kami harus datang,” jawab Victor.


Scarlesia menyambut kedatangan mereka begitu ramah dan hangat, ia pikir dia akan sendirian saja sampai matahari terbenam namun ternyata banyak yang datang mengunjunginya di sela kesibukan masing-masing.

__ADS_1


“Aku dengar Sia memanggil paman dan bibi, sekarang bagaimana kalau kau panggil aku kakak?” ujar Lucas.


“Ehemm aku juga, t-tolong panggil aku kakak,” sambung Victor malu-malu.


Agnes tertawa kecil melihat tingkah mereka meminta Scarlesia memanggil mereka dengan sebutan ‘kakak’.


“Aku juga mau, aku juga mau dipanggil kakak oleh Sia. Sia kan tidak punya kakak perempuan, jadi aku ingin menjadi kakak perempuannya,” kata Agnes ikut-ikutan.


Akhirnya Scarlesia terpaksa menuruti keinginan mereka masing-masing yang ingin dipanggil kakak olehnya. Meskipun lidahnya sedikit berat saat mengucapkannya, tapi dia tetap memaksakannya dan berpikir bahwa ia akan terbiasa dengan situasi ini.


“Siaaa!!!”


Eldrick, Carlen, dan Aldert juga datang, mereka baru saja balik dari Roosevelt sebab di sana mereka menyelesaikan beberapa tugas penting. Tapi, setelah tugasnya dirasa telah selesai mereka kembali lagi ke Evariste untuk mengawasi Scarlesia secara langsung.


“Ayah, kakak! Apa pekerjaan kalian di Roosevelt sudah selesai?” tanya Scarlesia.


“Tentunya sudah selesai, makanya kami kemari untuk melihatmu. Sekarang kau punya rumah kaca yang bagus ya,” jawab Aldert sekaligus menyanjung.


“Apa rumah kaca ini yang kau bawa dengan Elios dari luar tadi?” tanya Lucas menyela.


“Iya kak. Aku membawanya dari luar tadi.”


Mendengar Scarlesia memanggil Lucas dengan panggilan ‘kak’ membuat Aldert dan Carlen terperangah kaget.


“Apa kau baru saja memanggilnya kakak?” tanya Aldert memastikan.


“Hoho iya, Sia juga adik perempuanku sekarang. Seharusnya kau juga memanggilku ‘kakak’,” sela Lucas menjawab pertanyaan yang dilontarkan Aldert.


“Huh? Aku tidak sudi memanggilmu kakak! Lagian kakaknya Sia adalah kami berdua, kau tidak layak dipanggil kakak.” Aldert nampak kesal sekali, tapi Lucas malah menikmati kekesalan Aldert.


“Kau kan memang lebih muda dariku dik,” ledek Lucas.


“AKU BUKAN ADIKMU!”


Di sana Lucas dan Aldert berdebat, suasana rumah kaca semakin heboh karena mereka berdua. Scarlesia hanya bisa terkekeh tanpa ada niatan untuk melerai perdebatan mereka.


“Karena ini sudah hampir jam makan malam, bagaimana kalau kita makan malam di sini saja?”


Usulan dari Qirani diterima oleh mereka semua, rumah kaca Scarlesia sangat luas sehingga bisa dijadikan sebagai tempat makan malam. Para pelayan langsung menyiapkan meja dan makanan yang banyak untuk makan malam hari ini. Seluruh orang terlihat bahagia, begitu pula Scarlesia tidak henti-hentinya tersenyum bahagia sedari tadi.


“Aku hanya ingin menikmati momen ini lebih lama lagi, tolong jangan renggut apapun lagi dariku karena aku sudah merasa cukup dengan ini semua.”


Note :

__ADS_1


Maaf kemaren author gak up episode soalnya author seharian kemaren ke kampus dan baru pulang sorenya. Niatnya sih mau lanjut nulis, ehh malah demam karena pas ke kampus hujan-hujanan. Huhu baru sempat up sekarang deh.


__ADS_2