
“B-benar,” jawab Zaneta gelagapan.
“Nah benar kan? Jadi, aku harap kau tahu diri mengenai posisimu di sini. Aku paling membenci orang yang tidak punya hormat pada majikannya seperti kau, bahkan binatang saja punya rasa hormat pada majikannya tapi kau yang manusia kenapa lebih buruk dari binatang?” cela Scarlesia membuat sekujur badan Debby gemetar karena takut, kesal, dan malu.
Debby melirik Zaneta, tersirat dari pancaran matanya ingin meminta tolong padanya.
“Eheemmm,” Zaneta berdehem. “Kenapa kau malah memarahi Debby? Seharusnya kau memberi pelajaran pada gadis yang mencoba membunuhmu itu,” lanjutnya sambil menunjuk ke arah Frey yang masih terduduk di atas lantai.
Scarlesia menengok Frey, ia pun membantu Frey untuk berdiri.
“Berdiri lah! Lantai itu sangat dingin,” ujar Scarlesia menarik tubuh Frey untuk berdiri.
“T-terima kasih Nona,” balas Frey dengan suara bergetar bahkan dia tidak bisa menatap mata Scarlesia.
“Jangan khawatir aku sudah tahu semuanya, kau tenang saja aku akan menyelesaikan masalah ini,” bisik Scarlesia seraya tersenyum ramah.
“Aku akan menyelesaikan masalah ini sendirian, kalian pergi saja,” ujar Scarlesia menyuruh Debby dan Zaneta pergi.
“T-tapi Nona…”
“Aku bilang pergi!” usirnya.
“Oke, kita pergi saja. Biar dia yang menangani sendiri masalah ini,” kata Zaneta mengajak Debby pergi.
“Sial! Apakah Nona sudah mengetahui sesuatu? Ini tidak bisa dibiarkan!” gerutu Debby dalam hati.
“Sekarang, Allen antar Freya ke kamarnya dan jangan biarkan dia keluar dari kamarnya sampai besok,” perintah Scarlesia.
“Baik Nona,”
Freya pergi dengan tatapan bingung karena dia tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh Scarlesia.
“Aku tahu banyak pertanyaan di kepalamu saat ini tapi percayalah karena Nona akan menyelesaikan semua masalah ini,” ucap Allen.
“Baiklah,”
Kini para koki yang lain pun beranjak pergi, mereka semua ikut tegang karena sikap Scarlesia yang baru saja mereka saksikan. Kemudian Scarlesia mengajak pergi Hana dan Erin menuju kamarnya.
“Nona, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Hana.
“Aku punya hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kalian tapi sebelumnya, Erin tolong panggil Andreas dan suruh dia ke kamarku,” perintah Scarlesia.
“Baik Nona, akan segera saya panggilkan,”
Erin pergi menuju kamar Andreas sedangkan Hana tetap bersama dengan Scarlesia. Di kamar, Kitty tampak sedang menunggu kedatangan Scarlesia. Baru membuka pintu kamar, dia sudah menghambur ke pelukan Scarlesia.
“Haha kau berat sekali Kitty, apakah kau menungguku?”
Kitty mengangguk senang.
__ADS_1
“Sepertinya Kitty akan berperan penting dalam masalah kali ini,” gumam Scarlesia.
Ia pun duduk di tepi tempat tidurnya dan memikirkan kemungkinan yang terjadi
setelah ini.
“Semenjak aku datang ke dunia ini aku merasa instingku semakin kuat, apapun yang aku tebak akan terjadi sejak awal pasti terjadi. Lalu tubuh ini juga agak aneh, luka sayatan semalam hampir tertutup. Sebenarnya misteri apa saja yang dimiliki oleh tubuh ini?” pikirnya sangat serius sambil mengamati luka sayatan di telapak tangannya.
“Nona, saya sudah memanggil Andreas,” ucap Erin yang baru saja masuk kamar.
“Bagus! Semuanya sudah di sini,”
“Sia, apa ada masalah?” tanya Andreas to the point.
“Sebenarnya ada sedikit masalah dengan kepala dapur, bisakah kau membantuku?”
“Apapun itu masalahnya aku akan membantu Sia,” jawabnya sambil bertekuk lutut di hadapan Sia lalu mengecup punggung tangannya.
“B-bisakah kau tidak bersikap s-seperti ini? Ini membuatku sedikit malu,” ucap Scarlesia sedikit malu.
“Baiklah, maafkan aku,” ujar Andreas sembari tersenyum puas.
“Ehemm,” Scarlesia berdehem. “Jadi aku punya tugas untuk Hana dan Erin, aku ingin kalian berdua masuk ke dapur untuk mengambil catatan keuangan dapur lalu selidiki apakah ada keanehan di dapur atau tidak. Kemudian yang terakhir, kalian harus kumpulkan semua pengakuan dari koki dapur tentang bagaimana perlakuan Debby pada mereka,” terang Scarlesia memberikan perintah.
“Baik Nona!”
“Baiklah,”
“Oke kalau begitu langsung lakukan sekarang jika ada sesuatu yang aneh langsung laporkan padaku,”
Mereka bertiga keluar dari kamar sedangkan Scarlesia tetap berada di kamarnya karena hari ini dia berencana membuat penawar racunnya. Dia mengumpulkan semua bahan di atas meja dan mengamatinya satu persatu.
“Mari kita mulai!”
Ia pun mulai mencampurkan semua bahan menjadi satu, kemudian dia menghaluskannya dengan mencampurkan air ke dalamnya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk membuat penawar tersebut.
“Apakah cukup begini saja?”
“Iya, cukup begitu saja,” sahut Xeon tiba-tiba.
“Hehh dewa sialan! Kenapa kau baru muncul sekarang?” tanya Scarlesia mengumpati Xeon.
“Kenapa kau mengumpat padaku? Kamu memperlakukanku sangat berbeda dengan Andreas,” rajuk Xeon.
“Ya jelas berbeda lah!”
“Hmm baiklah, terserah kau saja. Sekarang kau minum penawar itu agar seluruh racun di tubuhmu menghilang,”
“Apakah cukup aku minum sekali saja?”
__ADS_1
“Iya, cukup sekali saja,”
Kemudian Scarlesia meneguk habis semuanya tanpa ragu-ragu, setelah habis baru dia sadar ternyata rasanya sangat pahit.
“Hiihhhh kenapa rasanya sangat pahit?” keluhnya yang hampir memuntahkan kembali penawarnya.
“Ya memang pahit, sebentar lagi penawarnya akan bekerja,”
Usai meminum penawar tersebut, tiba-tiba saja matanya sangat mengantuk.
“Hoaamm,” ia menguap. “Kenapa mataku mendadak mengantuk begini?”
Scarlesia beranjak dari tempat duduknya ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya.
“Tidurlah sebentar karena ini adalah efek penawarnya,” ujar Xeon.
“Hmm baiklah,”
Scarlesia memejamkan matanya dan perlahan masuk ke dalam mode tidurnya.
“Syukurlah dia sudah tidur, aku yakin dia akan memarahiku karena aku menipunya dengan mengatakan kalau rumput putih dan bunga tulip hitam hanya tumbuh di Bukit Grigori padahal sebenarnya di dekat mansion ini juga banyak tumbuh,” gumam Xeon menghela napas lega.
Sementara itu, Hana dan Erin melaksanakan tugasnya. Mereka menyelinap masuk ke dapur untuk menyelidiki keanehan yang terjadi di dapur. Hana pergi mencari catatan keuangan sedangkan Erin mencoba melihat bahan-bahan makanan yang baru saja tiba. Saat Erin membuka kotak bahan-bahan makanan tersebut dan memeriksanya satu persatu, dia mulai melihat keanehannya. Semua bahan makanan itu bercampur antara bahan yang segar dan tidak segar.
Lalu Hana juga berhasil menemukan catatan keuangannya yang disembunyikan di tempat yang cukup susah ditemukan.
“Hana, ini tidak wajar. Bahan-bahan makanan yang baru saja datang tidak semuanya segar,” bisik Erin.
“Benarkah? Kalau begitu ini perlu kita laporkan pada Nona,”
Pada sore harinya, Scarlesia bangun dengan kondisi tubuh yang sepenuhnya membaik. Dia melompat kegirangan karena tubuhnya sekarang sangat ringan, ia bisa merasakan bahwa semua racunnya sudah hilang sepenuhnya.
“Ahh senangnya tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi,” girangnya.
Setelah itu, Hana dan Erin masuk ke kamar untuk melaporkan semua hasil penyelidikannya pada Scarlesia. Pertama, Hana menyerahkan catatan keuangannya pada Scarlesia, ia pun memeriksa catatan keuangannya dan ternyata benar bahwa Debby sudah melakukan korupsi dana dapur selama hampir 4 tahun ini.
Lalu Erin melaporkan bahwa bahan-bahan makanan di dapur tidak semuanya segar dan juga pengakuan dari para koki dapur, mereka mengatakan bahwa Debby sering memotong gaji mereka tanpa sebab yang jelas. Dia menggunakan jabatannya sebagai kepala dapur demi melakukan semua ini untuk kepuasan dirinya sendiri.
“Oke, sepertinya ini sudah cukup jelas. Saatnya kita mengekskusi wanita yang tidak tahu diri itu,” seringainya.
Pada saat yang bersamaan di ruang kerja, Eldrick dan Carlen tengah membicarakan sesuatu yang penting.
“Ayah, sepertinya sudah saatnya kita beritahu Sia mengenai masalah ini,” ucap Carlen.
“Ya, kau benar. Sejujurnya aku merasa bersalah telah mengabaikannya selama ini, wajar jika dia marah atau membenciku karena aku merasa sudah gagal menjadi seorang Ayah untuknya. Tapi, dia harus tahu masalah yang sebenarnya. Kita tidak bisa terus menerus menyimpan dan menyembunyikannya darinya,”
“Saya juga merasa bersalah telah mengabaikannya selama ini, namun jika kita tidak melakukan hal itu maka hidupnya akan berakhir. Sekarang dia sudah jauh lebih kuat dan saya percaya kalau dia bisa mengatasi masalah ini,”
"Baiklah, kita cari waktu yang tepat untuk mengatakan padanya,"
__ADS_1