
Semenjak hari itu, permaisuri dimasukkan ke istana berduri oleh kaisar. Istana berduri adalah istana yang dipenuhi oleh mawar hitam berduri yang biasanya digunakan oleh kaisar sebelumnya untuk menempatkan permaisuri atau selir yang melakukan kesalahan. Dengan kata lain kaisar telah membuang permaisuri ke istana berduri, tidak ada seorang pun yang dikeluarkan oleh kaisar dari istana tersebut.
“Ini semua karena wanita itu! Jika sejak awal dia tidak ada, aku tidak akan menderita seperti sekarang!” gerutu permaisuri yang sudah terkurung di istana berduri.
Pada saat yang bersamaan, Scarlesia sedang berada di dalam dunia cermin bersama Shou, Andreas, serta pria lainnya. Mereka melakukan beberapa latihan untuk memperkuat diri mereka masing-masing. Di sela latihan mereka, Hana dan Erin memanggil-manggil Scarlesia karena sepertinya ada suatu hal yang ingin mereka bicarakan.
“Nona! Nona! Anda dimana?” panggil Erin dan Hana.
Secara mengejutkan Scarlesia muncul dari belakang mereka berdua, kehadirannya yang tidak bisa dirasakan membuat kaget Erin dan Hana.
“Ya ampun Nona, anda dari mana saja?” tanya Erin.
“Aku tadi baru dari luar sebentar, kenapa kalian mencariku?” tanya Scarlesia balik untuk mengalihkan topik pembicaraan.
“Kami berdua ada berita baru untuk anda, ini berhubungan dengan permaisuri,” ujar Erin.
“Oke, ceritakan padaku apa yang terjadi dengan permaisuri,”
Erin dan Hana secara bergantian menceritakan mengenai permaisuri yang dikurung di dalam istana berduri. Permaisuri terancam kehilangan posisinya dan Stella direncanakan akan mengisi kekosongan posisi permaisuri. Para bangsawan mendesak kaisar untuk segera menurunkan posisi permaisuri, tentu saja hal ini menciptakan perdebatan yang berkepanjangan di istana. Ditambah dengan Stella yang mulai turun dan mengambil alih sebagian tanggung jawab permaisuri, sungguh keadaan istana sedang tidak baik-baik saja sekarang.
“Hahaha ini belum seberapa karena efek dari racun yang aku beri kepada permaisuri itu baru akan beraksi,” tawa Scarlesia.
“Bukankah efeknya hanya membuat wajah permaisuri rusak saja Nona?” tanya Hana.
“Bukan, ada efek yang lebih besar dari itu. Kerusakan di wajah permaisuri itu hanya sebagai pemicu saja,” jawab Scarlesia sembari menarik kursi meja riasnya untuk ia duduki.
“Nona, jika Yang Mulia Selir menempati posisi permaisuri kira-kira beliau nanti akan menjadi musuh atau sekutu?”
Pertanyaan Erin membuat Scarlesia berpikir sejenak, ia menaruh jemari telunjuknya di dagu sambil memikirkan beberapa hal di kepalanya.
“Itu tergantung, kalau dia berani mengusik hidupku tentu saja dia akan menjadi musuh untukku. Tapi jika dia diam-diam saja dan menikmati posisi barunya, aku akan membiarkannya selagi dia tidak merugikanku ataupun keluargaku,”
Ketika mereka tengah berbincang, seorang pelayan dari istana datang untuk memanggil Scarlesia.
__ADS_1
“Nona, saya datang membawa pesan dari Yang Mulia Selir bahwa beliau ingin bertemu dengan Nona saat ini juga,” ucap pelayan tersebut.
“Kenapa Yang Mulia Selir ingin bertemu denganku?” bingung Scarlesia.
“Saya tidak bisa menjawabnya Nona, sebaiknya anda segera datang ke istana selir dan anda pastikan sendiri,” jawab si pelayan.
“Baiklah, aku akan segera ke sana,”
Setelah itu, pelayan tersebut menunggu Scarlesia bersiap-siap untuk pergi ke istana selir. Scarlesia menghela napasnya pelan dan berharap ini bukan sesuatu yang buruk untuknya.
“Nona, apa anda yakin untuk pergi menemui selir?” tanya Erin.
“Ya, tentu saja aku yakin karena ini kesempatanku untuk melihat apakah selir itu musuh atau sekutu,” jawab Scarlesia.
Selesai memakai gaun serta berdandan tipis, Scarlesia pergi menuju istana selir bersama dengan pelayan istana, Scarlesia tidak membawa siapapun di pihaknya karena dia tidak ingin melibatkan orang lain dan hanya ingin memastikannya sendiri.
Sesampainya di istana selir, Scarlesia langsung menemui Stella yang ternyata sudah menunggunya sejak tadi di ruangan khusus. Wajah Stella yang terbilang cantik, rambut greynya yang panjang bergelombang serta pupil mata yang berwarna cokelat.
“Scarlesia Eginhardt memberi salam kepada Yang Mulia Selir Kekaisaran,” ucap Scarlesia.
Stella mempesilakan Scarlesia untuk duduk di tempat yang sudah disediakan, kedatangan Scarlesia disambut dengan ramah dan penuh senyum oleh Stella.
“Tolong jangan lihat aku dengan tatapan waspadamu,” tegur Stella.
“Saya hanya merasa heran kenapa anda mengundang saya kemari?” tanya Scarlesia datar.
“Wajar saja kau merasa heran, alasanku memanggilmu kemari adalah karena aku ingin berbicara serius denganmu,” ujar Stella meletakkan cangkir tehnya dan mulai memasang muka serius.
“Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya Yang Mulia?”
“Aku tahu saat ini kau pasti berpikir apakah aku adalah musuhmu atau sekutumu, tapi asal kau tahu aku tidak sama dengan para sampah itu. Alasan aku tetap bertahan di istana ini adalah untuk membalaskan kematian Ibumu,” ungkap Stella.
“Membalaskan kematian Ibu?”
__ADS_1
Scarlesia tertegun sesaat Stella berucap seperti itu padanya, ia masih belum mengerti sepenuhnya mengenai apa yang dimaksudkan oleh Stella.
“Ya, aku dan Larissa dulu berteman dekat. Dia sudah banyak membantuku dan keluargaku bahkan dia membantu bisnis Ayahku yang hampir bangkrut, menyembuhkan penyakit saudara laki-lakiku, serta menyelamatkan aku dari kematian. Dan kau tahu siapa yang menyebabkan semua itu? Yaitu permaisuri sendiri,”
“Permaisuri? Tapi apa alasan permaisuri melakukan itu kepada anda Yang Mulia?”
“Tentu saja karena dia benci disaingi, aku dan Ibumu dianggap musuh oleh permaisuri. Dia akan menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalannya, aku masuk ke istana atas permintaan orangtuaku. Sejak awal aku tidak ada niat untuk menjadi selir tapi karena desakan pihak istana akhirnya aku menyetujuinya,” jelas Stella.
“Tapi kan kaisar menyukai Ibuku, apakah anda tidak dendam pada Ibuku seperti yang permaisuri lakukan?”
Stella menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis.
“Sejak awal aku tidak pernah mencintai kaisar, aku bertahan di sini hanya untuk menjatuhkan permaisuri,” ucap Stella.
“Yang Mulia, anda kan sudah berada cukup lama di istana. Apakah anda menemukan bukti mengenai kematian Ibuku?” tanya Scarlesia.
“Aku sudah mendapatkannya, hanya saja aku menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.”
Scarlesia kembali mengamati Stella, dia mencoba menilai apa ia bisa mempercayai wanita yang kini berada di hadapannya atau tidak.
“Yang Mulia, bisakah saya mempercayai semua yang anda katakan? Saya tidak suka dibohongi demi keuntungan anda sendiri,” selidik Scarlesia memandang tajam Stella.
“Aku tidak akan memaksamu untuk mempercayaiku tapi itulah yang sebenarnya terjadi,”
Scarlesia mengangguk, ia melihat kedua mata Stella dan dari tatapannya memang dia jujur dalam semua ucapannya.
“Baiklah, kalau begitu saya memutuskan untuk mempercayai anda. Karena saya sudah mempercayai anda, saya akan mengatakannya terus terang bahwa penyakit permaisuri hingga kejadian mengenai peramal kemarin itu adalah saya yang merencanakannya,” ungkap Scarlesia.
Stella tidak terlihat terkejut dengan pengakuan Scarlesia padanya, justru dia terlihat bahwa ia sudah mengetahuinya sejak awal.
“Sudah aku duga, hanya kau yang berani melakukan hal seberani ini. Kau sangat pintar untuk ukuran gadis seusiamu,” sanjung Stella.
“Untuk itulah, saya peringatkan anda untuk beberapa hari ini tolong jangan terlalu sering bersama dengan kaisar karena sebentar lagi akan terjadi hal yang luar biasa,”
__ADS_1
“Apa maksudmu?”
“Anda akan melihatnya nanti Yang Mulia, tolong ikuti saja apa yang saya katakan karena akhir dari pertunjukan akan segera dimulai,”