
“Nah bagus! Kirimkan semua biaya ganti rugi dan biaya berobatmu ke kediaman Eginhardt. Aku akan membayarnya sekalian ingin menghabiskan harta Ayahku yang tak terhingga itu,” ujar Scarlesia meninggalkan ruangan pesta.
“Dia sangat kuat, seharusnya aku mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ayah untuk tidak mendekatinya. Untung saja dia tidak membunuhku,” batin Selena berupaya berdiri dengan dibantu oleh beberapa temannya.
Di luar kediaman Marquess Javar, Louis menunggu Scarlesia hingga selesai tapi ternyata Scarlesia keluar lebih cepat dari perkiraannya.
“Sia, kau keluar lebih cepat. Apa ada masalah di dalam?” tanya Louis.
“Oh aku menghancurkan pestanya,” jawab Scarlesia seraya tersenyum.
“Pfftt hahaha apa kamu memang punya kebiasaan untuk menghancurkan pesta orang lain?” kekeh Louis.
“Aku tidak bisa berdiam diri ketika ada orang yang berani menghinaku secara terang-terangan,” geram Scarlesia mengepalkan tangannya.
“Aku mengerti maksudmu, jadi sekarang kita mau kemana lagi?”
“Louis, kau belum pernah ke pusat kota kan? Mari kita bermain dulu sebentar sebelum pulang,”
Setelah itu mereka pergi ke pusat kota untuk bermain sejenak melepas rasa lelah, suasana kota saat ini sangat damai dan ramai. Banyak rakyat biasa yang hidup dalam kebahagiaan yang sederhana, tidak seperti para bangsawan yang hobi menghamburkan uangnya serta berbuat seenaknya.
“Sia, kamu harus pakai ini. Wajahmu membuatmu jadi pusat perhatian,” ucap Louis memakaikan jubah pada Scarlesia untuk menutupi wajahnya.
Lalu mereka berdua pergi berkeliling di pasar tradisional, ada banyak ragam yang dijual oleh orang-orang. Mulai dari makanan, minuman, hingga mainan yang tidak bisa ditemukan dengan mudah di kalangan bangsawan. Scarlesia tiba-tiba merindukan masa ketika dia hidup di zaman modern yaitu zaman dimana tidak ada tingkatan kelas seperti di dunia ini.
Scarlesia menarik tangan Louis untuk berkeliling lebih jauh lagi, mereka bermain bersama untuk melupakan beban pikirannya. Mereka membeli berbagai jenis cemilan dan minuman, bermain permainan, serta menonton teater jalanan. Scarlesia sangat senang dengan waktu santainya saat ini begitu juga dengan Louis yang sejak tadi tidak melepaskan genggaman tangannya.
“Terima kasih Sia,” ungkap Louis tiba-tiba.
“Huh? Terima kasih? Untuk apa?” tanya Scarlesia bingung.
“Karena telah menemukanku lebih dulu,”
“Iya Louis sama-sama,” balas Scarlesia menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.
Usai bermain sampai puas, mereka pun kembali ke kediaman. Ternyata di paviliunnya, sudah ramai yang menunggu kepulangan Scarlesia.
“Hei Louis, kau habis darimana dengan Sia? Lalu apa yang di tanganmu itu?” tanya Zenon dengan mata penuh selidik.
Di tangan Louis ada sebuah boneka beruang kecil berwarna putih yang diberikan oleh Scarlesia padanya.
“Aku baru balik kencan dengan Sia dan ini adalah boneka yang Sia berikan padaku,” jawab Louis menyombongkan diri untuk memanas-manasi Zenon, Andreas, Oliver, dan Elios.
“Apa kau benar-benar berkencan dengannya Sia?” tanya Elios.
“Apa itu bisa disebut kencan? Aku hanya jalan-jalan berdua di pusat kota sambil berpegangan tangan lalu makan, bermain, dan menonton pertunjukan teater jalanan. Jadi itu kencan?”
“TENTU SAJA ITU KENCAN,” teriak mereka bersama.
__ADS_1
Scarlesia menutup telinganya karena suara teriakan mereka cukup membuat telinganya sakit.
“HAAHHH BERHENTI BERTERIAK,” bentak Scarlesia membuat mereka terdiam.
“Kapan-kapan giliranku yang berkencan dengan Sia,” ujar Zenon tak mau kalah.
“Aku duluan,” jawab Andreas.
“Tentu saja Sia akan berkencan denganku duluan,” timpal Oliver.
“Tidak, kalian orang-orang bodoh tidak boleh berkencan dengan Sia. Hanya aku yang boleh berkencan dengannya,” hina Elios mendorong mereka agar menjauh dari Scarlesia.
“Kau iblis pucat tidak boleh berkencan dengan Sia. Bisa-bisa Sia kedinginan karena terlalu dekat dengan kau,” ejek Zenon.
“Apa? Kalau begitu Sia akan kepanasan kalau terlalu dekat dengan naga bodoh sepertimu,” ejek Elios balik.
“Huh? Aku tidak bodoh,”
“Kau bodoh. Siapapun tahu itu kalau kau bodoh,”
Scarlesia meremas kepalanya melihat mereka yang berdebat karena hal yang tidak berguna, dia sangat lelah lalu sekarang harus mengurusi mereka yang ribut ini.
“STOOOOPPPPP! JA-NGAN BER-TENG-KAR LA-GI,” tekan Scarlesia membesarkan bola matanya.
“B-baik,”
“Nona, anda sudah kembali? Kenapa anda tidak langsung masuk ke dalam?” tanya Erin menghampirinya.
“Oh Erin. Aku hanya sedang mengurus anak ayam yang sedang bertengkar,” jawab Scarlesia.
“Anak ayam? Mana?” Erin mencari keberadaan anak ayam yang dimaksud oleh Scarlesia.
“Maksudku para pria ini. Mereka adalah anak ayam warna-warni,” balas Scarlesia menunjuk para pria yang ada di hadapannya.
“Apa kalian ribut karena memperebutkan Nona lagi? Aku kan sudah bilang jangan membuat Nona pusing kalau kalian…”
“Sssttt diam. Sekarang ayo kita masuk,” potong Scarlesia menutup mulut Erin sebelum dia mengamuk lebih jauh lagi lalu menariknya masuk ke dalam kamar.
Louis memeluk boneka beruangnya dengan erat sambil tersenyum-senyum sendiri kemudian empat pasang mata menatap tajam padanya.
“Ada apa? Jangan bilang kalau kalian ingin boneka ini? Aku tidak akan menyerahkannya,” ucap Louis menyembunyikan bonekanya.
“Serahkan bonekanya,” pinta Andreas mendekati Louis.
Satu persatu dari mereka menekan Louis, karena merasa sudah tidak aman lagi akhirnya Louis berlari membawa boneka tersebut. Mereka semua lalu mengejar Louis dan akhirnya terjadi lah adegan kejar-kejaran.
"SERAHKAN BONEKANYA PADAKU,”
__ADS_1
“TIDAK! AKU TIDAK AKAN MENYERAHKANNYA,”
“AKAN AKU BUNUH KAU,”
“CEPAT KEMARI! MENURUTLAH PADAKU LOUIS,”
“JADILAH ANAK BAIK LALU BERIKAN BONEKANYA,”
“HUWAAA KALIAN TIDAK BOLEH MENGAMBILNYA DARIKU,”
Scarlesia menepuk keningnya, ia mengintip dari balik jendela untuk menyaksikan aksi mereka yang persis seperti anak TK.
“Jadi mereka semua adalah makhluk yang hidup lebih dari 100 tahun? Siapapun tidak akan percaya jika melihat tingkah memalukan mereka yang seperti ini,” gumam Scarlesia.
“Nona, bagaimana dengan pestanya?” tanya Hana.
“Hahaha berjalan sukses,” jawab Scarlesia mengacungkan jempolnya.
“Sukses mengacaunya?” celetuk Erin.
“Hehehe ya begitu lah kira-kira,”
“Aduh Nona seharusnya anda bisa menahan diri, kalau begini bagaimana caranya anda mendapatkan calon suami? Reputasi anda baru saja naik karena perburuan kemarin lalu sekarang anda membuat reputasi anda turun lagi? Astaga Nona harus bagaimana lagi saya mengingatkan anda?” celoteh Erin yang merasa pusing sendiri dengan kelakuan Scarlesia.
“Akhir-akhir ini kau sering sekali mengomeliku. Lama-lama kau jadi semakin mirip dengan nenek-nenek yang menceramahi cucunya,” ujar Scarlesia.
“Pffttt benar sekali Nona. Saya juga berpikir kalau Erin semakin cerewet,” kata Hana tertawa.
“Aku hanya mengkhawatirkan Nona saja,” ucap Erin mengerucutkan bibirnya.
“Kau tidak perlu khawatir. Kau lupa kalau aku dikelilingi oleh banyak pria tampan? Jika tidak ada yang menikahiku ya sudah aku nikahi saja mereka,”
“Jangan bilang Nona serius mengenai mendirikan harem?” tebak Hana.
“Ehh mana mungkin,”
“Tapi Yang Mulia Duke menyetujui anda untuk menikahi mereka semua bahkan Tuan Muda Carlen berniat menyerahkan gelar duke berikutnya untuk Nona agar anda bisa menikahi mereka karena wanita dilarang mendirikan harem tanpa punya gelar bangsawan,” ungkap Hana.
“Puufff uhukkk uhukk,” Scarlesia menyemburkan jus yang sedang diminumnya dan terbatuk akibat apa yang baru saja dia dengar dari Hana. “Apa mereka sudah gila? Hahh ya ampun,” lanjutnya tercengang.
“Nona, saya juga mendengar berita yang akhir-akhir ini dibicarakan oleh beberapa pelayan,” ujar Erin.
“Berita apa?”
“Katanya Putri Giana menginginkan Louis karena ketika perburuan kemarin itu dia sempat menawarkan Louis untuk masuk ke istananya sebagai calon suaminya tapi Louis menolaknya sambil mengatakan kalau dia hanya ingin bersama Nona dan tidak ada wanita yang lebih cantik dari Nona. Bahkan Louis sempat mengatakan kalau Putri Giana itu jelek sehingga membuat harga dirinya terluka di hadapan para bangsawan,” jelas Erin.
“Hahaha serius? Aku puas sekali Louis mempermalukannya. Kalau dia berani menyentuh Louis maka aku akan menghancurkan wajahnya,” kata Scarlesia dengan senyumnya yang mengerikan.
__ADS_1