Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Lonceng Kembali Berdenting


__ADS_3

Selesai menerima semua laporan, Scarlesia segera mengumpulkan Andreas, Zenon, Oliver, Louis, Elios, dan Xeon dalam satu ruangan. Tidak lupa pula dengan Lucas dan Victor, kemudian Carlen bersama Aldert datang paling terakhir. Scarlesia ingin mendiskusikan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya sebab perang sudah di depan mata.


Scarlesia tidak bisa mengundang perwakilan kekaisaran lain di dalam rapat ini karena akan rapat tersebut diadakan secara mendadak, ditambah sekarang seluruh kekaisaran berada di kondisi cukup parah akibat kerusakan yang mereka terima beberapa waktu lalu. Scarlesia akan membicarakan masalah ini setelah keputusan di rapat sekarang keluar. Scarlesia benar-benar kehabisan akal menangani dewa kegelapan, dia tidak habis pikir dewa kegelapan akan memajukan waktu peperangan.


“Ada apa Yang Mulia mengumpulkan kami di sini?” tanya Lucas.


“Tolong jangan panggil aku Yang Mulia saat kita berada di ruang ini, aku ingin berbicara santai karena ini masalah serius,” kata Scarlesia.


Ekspresi wajahnya terlalu serius, terlihat jelas betapa paniknya hati Scarlesia kala ini namun dia mesti menekan diri agar tidak merasakan cemas yang berlebihan.


“Sia, sebenarnya ada masalah apa? Tampaknya masalah ini sangat rumit,” ujar Zenon menyadari kegelisahan Scarlesia saat ini.


“Ini masalah serius, aku tidak tahu mau mulai dari mana. Aku baru saja mendapat laporan dari Bely dan yang lain, mereka mengatakan bahwa dewa kegelapan memajukan waktu perang akhir menjadi satu bulan. Jadi, satu bulan dari sekarang kita harus menyiapkan segala sesuatu yang kurang,” jelas Scarlesia.


Mendengar penjelasan Scarlesia hanya mimik terpaku yang bisa mereka perlihatkan, tidak ada yang memprediksi hal ini akan terjadi, bahkan Xeon sekali pun tidak bisa menebaknya.


“Yang lebih mengejutkannya lagi, dewa kegelapan berhasil mengumpulkan kurang lebih 500.000 pasukan perang. Yang mana, dia membangkitkan kembali siluman-siluman yang kuat, raja monster yang mati di pertempuran sebelumnya, serta monster-monster yang menyerupai seekor naga. Terakhir ada hewan-hewan yang merupakan musuh dari Kitty berjumlah sekiranya berjumlah seribu ekor. Mereka semua sudah diberi darah dewa kegelapan sehingga kekuatan mereka meningkat drastic,” lanjut Scarlesia menjelaskan.


“Itu dua kali lebih banyak dari jumlah kita, kalau begini bukannya akan memperkecil kemungkinan kita akan menang?” kata Victor.


“Iya, itu masalahnya sekarang. Terlebih lagi kita hanya punya waktu satu bulan lagi untuk mempersiapkannya. Kekaisaran lain mengakui mereka berada di level yang berbeda dari manusia biasa atau penyihir, presentase kemenangan kita hampir tidak ada.”


Scarlesia mengacak-acak rambutnya, dia mulai frustasi memikirkannya sendirian. Nyaris saja dia menjadi gila sebab masalah yang tidak berkesudahan ini. Kemudian Xeon menyentuh punggung tangan Scarlesia, dia tampak tenang dan mempunyai jalan keluar untuk masalahnya ini.


“Tenang saja, kita pasti punya kesempatan untuk menang,” tutur Xeon.


“Bagaimana caranya?” bingung Scarlesia.


“Gunakan darahmu.”

__ADS_1


“Ya?”


“Gunakan darahmu untuk memperkuat pasukan, aku baru menyadari hal ini. Pada pertempuran sebelumnya bukankah kau pernah menambahkan beberapa tetes darahmu untuk membuat ramuan penambah stamina? Darahmu sama seperti fungsi darah dewa kegelapan. Jika kau menggunakannya kepada makhluk hidup selain kegelapan maka itu akan memperkuat dirinya. Efek dari darahmu semakin kuat sekarang karena kekuatanmu juga semakin kuat,” terang Xeon.


Scarlesia tertegun, dia mengingat kilas balik ketika persiapan sebelum pertempuran. Memang dia mencampurkan beberapa tetes darahnya ke dalam ramuan, dia pikir itu tidak akan memiliki pengaruh apapun, tapi setelah dipikir-pikir rupanya ada efek yang ditimbulkannya.


“Jadi, dengan darahku aku bisa memperkuat pasukan perang? Aku pikir ramuannya bekerja karena kekuatan penyembuhanku. Dengan begini kita punya kesempatan untuk menang,” kata Scarlesia kembali bersemangat.


“Jangan lupakan kami di sini, jangan stress sendirian demi memikirkan masalah perang ini Sia. Kau tidak akan kuat apabila memikirkannya sendiri,” ucap Elios.


“Oke, baiklah. Sekarang ayo kita mulai… ehh tapi mereka terlalu banyak, apa itu tidak masalah?” Scarlesia bertanya mendadak teringat tentang pasukannya yang sedikit.


“Siapa bilang pasukan anda sedikit Yang Mulia?” sela Shou keluar dari gelang dunia cermin.


“Shou! Kenapa kau tiba-tiba keluar?”


“Kami akan bergabung di dalam perang itu Yang Mulia demi membantu meringankan anda. Walaupun kami hanya berada di dunia cermin, tapi kami juga punya kekuatan tempur. Anda harus menyertakan kami di dalam perang akhir Yang Mulia.” Muka Shou memelas seperti memohon meminta ikut dalam perang tersebut.


“Tidak apa-apa Yang Mulia, jangan khawatir karena kami yakin anda akan membawa kemenangan untuk alam semesta ini,” jawab Shou percaya diri.


“Oke, aku akan membawa kalian semua ke medan perang.” Scarlesia akhirnya setuju membawa para peri ikut serta di dalam perang akhir ini. Muka Shou bahagia sesaat, ia langsung masuk lagi ke dunia cermin untuk memberitahu rekan-rekannya.


Rapat disudahi sampai di sini, mereka segera melakukan tugas masing-masing dan Scarlesia langsung pergi ke tempat para dokter berada. Di sana dia membuat ramuan lalu mencampurkan beberapa tetes darahnya ke dalam ramuan tersebut. Scarlesia meracik ramuan dalam jumlah yang sangat banyak, dibantu juga oleh para dokter.


Setelah itu, Scarlesia mengumpulkan sejumlah orang di lapangan latihan istana, dia membawa beberapa ramuan yang dia racik barusan. Lalu Scarlesia membagikannya ke beberapa orang, ramuan itu hanya sebotol kecil saja karena ini masih tahap percobaan.


“Yang Mulia, apakah kami harus meminum ramuan ini?” tanya salah seorang penyihir.


“Ya, coba sekarang kalian minum. Rasakan, apakah ada perubahan nanti di tubuh kalian.”

__ADS_1


Mereka menurut dan meneguk habis ramuan tersebut, selang beberapa detik perubahan luar biasa terjadi pada tubuh mereka.


“Sihir saya meningkat drastis, luar biasa! Ramuan apa yang anda berikan kepada kami Yang Mulia?”


“Tubuh saya juga merasakan kekuatan yang mengalir hebat, saya tidak pernah merasakan ini sebelumnya.”


Scarlesia tersenyum puas, dia benar-benar berhasil meningkatkan kekuatan para pasukan perang. Scarlesia riang seketika, akhirnya beban pikirannya berkurang sedikit dan kini ia bisa kembali ke kamarnya karena langit sudah sangat gelap. Sekarang waktunya ia beristirahat, membaringkan tubuhnya yang letih.


Esok paginya, Scarlesia bangun lebih awal sebab hari ini dia berencana untuk mengunjungi makam Ayah dan Ibunya. Dia ditemani oleh Andreas menuju Roosevelt, pemakaman kedua orang tuanya terletak tidak jauh dari mansion Duke Eginhardt. Di sana Scarlesia berdo’a seraya memejamkan sepasang mata cantiknya.


“Ayah, Ibu, tolong awasi aku dari sana. Tolong peluk aku bila aku terjatuh lagi, tolong tegur aku lewat mimpi apabila aku berbuat salah. Sebentar lagi perang akhir akan terjadi, do’akan aku dari sana supaya aku bisa menyelamatkan dunia dari kehancuran. Ayah, Ibu, aku sangat merindukan kalian tapi aku telah mengikhlaskan kepergian kalian. Tenanglah di sana, aku harap nanti kita bisa bertemu kalian lagi,” harap Scarlesia dalam hatinya.


Seketika Scarlesia merasakan ada tangan yang mengelus kepalanya dan memeluk tubuhnya, Scarlesia spontan berbalik untuk melihat siapa itu, tapi tidak ada orang selain Andreas yang berdiri cukup jauh darinya.


“Jadi, kalian menyaksikan aku ya. Baiklah, Ayah, Ibu, aku pamit pulang dan aku akan kemari mengunjungi kalian lagi setelah perang berakhir.”


Setibanya Scarlesia di Evariste, dia menuju ke lapangan latihan untuk melihat para ksatria dan penyihir berlatih. Para prianya juga berkumpul di sana, mereka sumringah sesaat melihat Scarlesia menghampiri mereka.


“Sudah samp….”


Tringg… tringg… tring…


Dentingan lonceng dari arah langit terdengar bergema ke seluruh alam semesta, suara lonceng tersebut membuat semua makhluk hidup tak bergeming. Kilatan cahaya emas menyambar di angkasa beberapa kali, ada perasaan tidak asing dirasakan oleh Scarlesia dari suara lonceng itu. Orang-orang mendongak ke atas langit karena mereka merasa terpanggil oleh suara loncengnya.


“Dewa pencipta telah kembali dari tidur panjangnya.” Xeon berucap pelan dengan kedua mata membulat sempurna ke arah langit.


“Dewa pencipta sudah bangun?”


Scarlesia terdiam di keadaan bingung, kemudian dari langit turun tujuh orang bersayap putih. Mereka adalah malaikat yang baru saja turun dari pusat alam semesta, mereka mendarat tepat di hadapan Scarlesia.

__ADS_1


“Nah ratu, sekarang saatnya kita pergi ke pusat semesta.”


__ADS_2