
“Nona memiliki kemampuan yang beragam ya, pantas saja Natasha selalu membicarakannya setiap saat. Kecantikan tiada tara serta kemampuan luar biasa, Nona memiliki kecantikan paling sempurna,” sanjung permaisuri.
“Anda terlalu menyanjung saya Yang Mulia. Saya tidak sehebat itu,” ucap Scarlesia merendah.
Usai berbincang beberapa hal lagi, Scarlesia pamit undur diri. Rasa letih masih belum sepenuhnya menghilang dari tubuhnya, saat ia kembali ke kamarnya di atas mejanya sudah banyak berjejer berbagai kotak hadiah. Hadiah tersebut diberikan oleh para bangsawan untuk Scarlesia yang sudah berjasa pada Kekaisaran Celosia.
“Bangsawan di sini sangat berbeda dengan bangsawan yang ada di Kekaisaran Roosevelt,” gumam Scarlesia tersenyum.
Tidak lama kemudian, hadiah yang dijanjikan kaisar padanya akhirnya sampai. Tidak hanya satu jenis tanaman herbal, hampir semua jenis tanaman herbal diberikan oleh kaisar pada dirinya. Scarlesia sumringah sesaat melihat berbagai jenis tanaman herbal yang tidak bisa dia temukan di Kekaisaran Roosevelt. Tanaman herbal ini ada yang siap diracik dan ada juga bibit tanaman herbal yang bisa ditanam di pekarangan taman paviliunnya.
“Kaisar Celosia adalah yang terbaik,” girangnya.
Esoknya, Scarlesia sudah memiliki janji ingin latihan memanah bersama dengan Natasha. Dia diajak oleh Natasha ke lapangan memanahnya, di sana juga ada beberapa orang ksatria pemanah. Mereka mengagumi Scarlesia karena kemampuan memanah Scarlesia yang luar biasa, entah darimana mereka tahu mengenai hal ini Scarlesia tidak begitu mempedulikannya.
“Sia, aku ingin kau mengajariku memanah. Aku hanya bisa menggunakan pedang tapi kurang pandai dalam memanah,” ujar Natasha.
“Baiklah, aku akan mengajarimu,”
Scarlesia mengajarkan Natasha sampai sore hari, berkat pengajaran dari Scarlesia tersebut kemampuan memanah Natasha secara perlahan semakin membaik.Natasha senang dan mengatakan bahwa Scarlesia adalah guru memanah yang terbaik.
Pada hari berikutnya, ini adalah hari dimana Scarlesia akan kembali lagi ke Kekaisaran Roosevelt bersama dengan Kitty. Banyak orang yang sedih karena Scarlesia pulang begitu cepat, dalam beberapa hari saja Scarlesia berhasil membuat banyak orang baik itu bangsawan atau rakyat biasa menjadi temannya.
“Dahh sampai berjumpa lagi, jaga diri kalian baik-baik ya,” pesan Scarlesia pamit sambil melambaikan tangannya dari kereta kudanya.
“Apa Sia senang berada di sini?” tanya Kitty.
“Tentu saja aku senang karena orang-orang di sini sangat baik. Berbeda dengan Kekaisaran Roosevelt orang-orang di sana hanya pandai mengundang emosiku saja,” jawab Scarlesia.
Scarlesia kembali melakukan perjalanan pulang yang membosankan selama 2 hari, hal yang sama terulang lagi padanya. Setibanya di kediaman setelah perjalanan 2 hari, ia disambut meriah oleh semua penghuni mansion. Ternyata berita mengenai Scarlesia telah membantu memecahkan kasus pembunuhan berantai di Kekaisaran Celosia sudah tersebar di sini.
“Selamat datang kembali di kediaman Sia,” sambut Eldrick, Carlen, dan Aldert.
Sungguh hangat sambutan mereka pada Scarlesia, seketika membuat rasa lelah di dalam perjalanannya berkurang. Di ruang makan sudah terhidang berbagai macam makanan, Allen dan yang lainnya sudah bekerja keras untuk menyiapkannya.
“Sia, bagaimana di Kekaisaran Celosia? Apakah benar bangsawan di sana sangat baik padamu?” tanya Aldert.
__ADS_1
“Iya, mereka sangat baik. Bahkan kaisar dan juga permaisuri pun sangat baik padaku,” jawab Scarlesia.
“Beberapa hari ini para bangsawan heboh karena laporan tentangmu yang membantu Kekaisaran Celosia dalam mengungkap pelaku pembunuhan berantai. Tidak sedikit diantara mereka yang tidak mau mengakui usahamu dan malah menjelek-jelekkanmu. Aku tidak tahan mendengarnya,” gerutu Eldrick.
“Tenang saja Ayah. Mereka semua sudah aku bereskan,” timpal Carlen.
“Dasar keluargaku ini, mereka tidak memberikan celah sedikit pun pada siapapun itu,” batin Scarlesia.
Selesai makan, Scarlesia kembali ke kamarnya dan di sana ada Erin serta Hana yang menunggunya. Mereka sangat senang begitu Scarlesia masuk ke dalam kamar, adapun Erin yang menangis haru padahal baru ditinggal beberapa hari saja.
“Nona, setelah ini anda langsung tidur atau bagaimana?” tanya Erin.
“Tidak, aku ingin mengunjungi Ayah dulu,” balasnya.
Setelah mandi dan bersih-bersih, Scarlesia pergi ke ruang kerjanya Eldrick dan ternyata di sana juga ada Carlen serta Aldert.
“Halo Ayah, kakak, apa kalian sibuk?” tanya Scarlesia dari depan pintu.
“Tidak, masuk saja,” jawab Eldrick.
“Bagus. Aku lihat wajah Ayah dan kakak sangat lelah jadi sebelum tidur aku mau mengajak kalian memakai masker wajah,” kata Scarlesia memperlihatkan sekotak masker yang dia racik sendiri beberapa hari yang lalu.
“Kata siapa? Pria juga boleh kok menggunakannya. Ayo cepat sekarang aku bantu kalian mengoleskan maskernya,”
Scarlesia memaksa mereka hingga mereka mau menuruti keinginannya yang ingin bermaker ria bersama. Sebenarnya Scarlesia melakukan hal semacam ini karena mereka akhir-akhir ini sangat jarang menghabiskan waktu bersama.
“Apakah kau membuat masker ini sendiri?” tanya Carlen.
Saat ini mereka berempat tengah duduk santai di atas sofa.
“Iya, aku diberi hadiah oleh Kaisar Celosia berbagai macam tanaman herbal dan diantara tanaman herbal tersebut aku melihat beberapa tanaman yang cocok untuk dijadikan masker. Itulah kenapa aku mencoba membuatnya, masker ini sangat cocok untuk mengurangi rasa lelah dan kusam di wajah apalagi Ayah dan kakak harus bekerja setiap waktu,” jelas Scarlesia.
“Oh seperti itu. Ya tidak buruk juga, rasanya wajahku sangat segar ketika masker ini mengenai kulit wajahku,” ujar Carlen.
“Sia, bagaimana dengan putra mahkota Kekaisaran Celosia?” tanya Eldrick.
__ADS_1
“Tidak ada yang istimewa. Aku hanya berdansa dengannya satu kali di pesta. Kenapa Ayah menanyakannya?”
“Apa Ayah berpikir untuk menjodohkan Sia dengan Putra Mahkota Celosia?” celetuk Aldert.
“Tidak sama sekali. Semua jawaban bergantung pada adikmu,”
“Oh iya Ayah, apa Ayah tidak sadar kalau Pangeran Lucas Evariste punya kemiripan dengan Kak Carlen?” tanya Scarlesia tiba-tiba.
“Ternyata kau memikirkan hal yang sama denganku, aku juga berpikir seperti itu,” sela Aldert.
“Ya kalau dilihat-lihat memang agak mirip sih,” ucap Eldrick.
“Apa jangan-jangan….”
“Sudah, jangan berpikir yang macam-macam. Itu hanya kebetulan mirip saja,” potong Carlen.
“Hmm oke,”
Usai bermasker bersama, Scarlesia pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap tidur. Rasa kantuk sudah menguasai dirinya, badannya masih pegal karena efek terlalu lama di perjalanan. Ketika di perjalanan ke kamarnya, ia berpapasan dengan Nieva.
“Ehh siapa ini? Bukankah ini tunangannya putra mahkota? Aduh kenapa lagi kau mau menemuiku?”
“Besok aku akan pergi ke istana dan tinggal di sana sampai waktu pernikahan tiba. Kau takut tidak karena sebentar lagi aku akan menjadi permaisuri?” tekan Nieva.
“Ya, lalu?”
“Lalu? Kau benar-benar tidak punya rasa takut ya. Itu artinya sebentar lagi kau akan bertekuk lutut di hadapanku,”
“Ya aku sih tidak peduli,”
Nieva benar-benar merasa dipermainkan oleh Scarlesia, di tangannya kini menggenggam sebuah alat yang cukup kecil. Tidak tahu alat apa itu tapi seperti yang dilihat Scarlesia, benda itu tidak berbahaya.
“Kalau begitu sekarang kau mati saja!”
Nieva mengeluarkan benda yang berbentuk pulpen tersebut, ia mengarahkannya pada Scarlesia dan mengeluarkan cahaya dari dalamnya. Scarlesia menutup matanya karena cahaya tersebut mengarah pada matanya dan silau.
__ADS_1
“Huh? Kenapa tidak mempan? Padahal aku membeli ini sangat mahal dan katanya bisa membunuh orang dengan cepat,” heran Nieva.
“Cahaya apa itu barusan? Kau mengajakku bercanda kah?”