Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Kepala Dapur Tidak Tahu Diri


__ADS_3

“Loh Allen?”


Ternyata Allen masih ada di dapur pada malam itu, tampaknya dia sedang memasak. Pada saat Scarlesia masuk ke dalam, dia sedikit kaget.


“Nona, anda belum tidur?” tanya Allen.


“Aku lapar karena sedari tadi belum makan, apakah kau membuat sup?”


Scarlesia mengendus-endus aroma enak yang tercium dari panci milik Allen.


“Iya Nona, saya sedang mencoba resep baru,”


“Bolehkah aku mencicipinya?”


“Eh t-tapi saya takut masakan saya tidak cocok di lidah Nona,”


“Tidak usah dipikirkan, cepat ambilkan semangkuk untukku,” kukuh Scarlesia bersikeras ingin mencoba masakan Allen.


Allen pun dengan ragu-ragu mengambilkan sup untuk Scarlesia, sup yang panas memang sangat cocok dengan udara dingin malam ini. Sebelum ia memasukkannya ke dalam mulut, Scarlesia meniupnya agar lebih dingin. Allen memejamkan matanya, dia sangat deg-degan karena masakannya akan dimakan oleh Scarlesia.


“Hmm enak tapi rasanya ada yang kurang,” ujar Scarlesia berpikir.


“Apa yang kurang Nona? Apakah kurang garam? Merica? Atau penyedap rasa?” tanya Allen panik.


“Bukan, apakah kamu pernah makan bakso?”


“Bakso? Apa itu Nona?”


Scarlesia menepuk keningnya, dia benar-benar tidak menyangka ternyata banyak makanan yang populer di kehidupan lalunya tapi di sini tidak ada yang tahu mengenai makanan itu. Sepertinya para penjelajah waktu akan cepat kaya kalau tiba di zaman ini.


“Apakah kau mau aku ajari? Bakso sangat cocok bila dicampur dengan sup ini,”


Allen mengangguk, dia terlihat sangat antusias.


“Oke, kalau begitu siapkan semua bahan yang aku sebutkan,”


Scarlesia menyebutkan beberapa bahan untuk membuat bakso dari daging giling, tepung, dan lain sebagainya, sementara itu Allen yang menyiapkan semua bahan-bahannya. Mereka bersenang-senang di dapur malam itu terutama Allen sangat bersemangat. Butuh waktu yang tidak lama untuk mereka memasak bakso.


“Nah sudah masak,” kata Scarlesia membuka tutup pancinya.


“Apakah saya boleh mencicipinya duluan Nona?” tanya Allen menawarkan diri,


“Boleh, coba saja,”

__ADS_1


Allen mengambil satu buah bakso dan mencicipinya.


“Ini sangat enak Nona! Sangat cocok bila dimakan dengan sup,” serunya girang.


“Iya, ini memang sangat enak dimakan dengan sup,”


“Tapi darimana anda belajar resep seenak ini Nona?


“Dari sebuah buku dan aku memodifikasi bahan-bahannya,” jawab Scarlesia berbohong. “Tapi Allen kenapa kau masih di sini? Padahal kan sudah malam seharusnya kau tidur,” lanjut Scarlesia mengalihkan topik agar Allen tidak menanyainya macam-macam.


“Itu karena Nona sudah berjanji akan datang mengajari saya resep nugget pisang,”


Lagi-lagi Scarlesia menepuk keningnya, dia benar-benar tidak ingat dengan janji yang tadi dia buat.


“Maaf Allen sepertinya tadi aku lupa,”


“Tidak apa-apa, saya tahu apa yang terjadi di ruang makan malam ini. Tapi, ada sesuatu yang perlu anda tahu Nona,” ujar Allen meremas jemarinya.


“Apa itu?”


“Sebenarnya koki baru yang membuatkan nasi goreng untuk makan malam itu diancam oleh kepala dapur, dia tahu kalau Nona alergi udang tapi kepala dapur mengancam akan memecatnya jika dia tidak menuruti perintahnya. Dia butuh uang karena dia punya 4 orang adik yang perlu dia beri makan, jadi dia terpaksa melakukannya. Saya mohon Nona jangan memecatnya ya karena dia adalah satu-satunya koki yang mau berbicara dengan saya,” jelas Allen memberitahukan semuanya pada Scarlesia.


Kini dia mengerti situasinya, dugaannya benar bahwa masalah ini berkaitan dengan kepala dapur dan juga Zaneta.


“Aku tidak akan memecatnya, tapi Allen apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan lagi dariku? Aku tahu kau menyembunyikan banyak hal di belakangmu. Katakan saja padaku jika itu ada hubungannya denganku,”


“Sebenarnya ada sesuatu yang membebankan saya selama ini Nona,” ungkap Allen memasang ekspresi sendu.


“Apa? Ceritakan saja,”


Kemudian Allen mulai menceritakan semuanya pada Scarlesia mengenai masalahnya dengan kepala dapur bahwa Allen dulunya pernah menentang kepala dapur yang mencoba memberikan makanan sisa pada Scarlesia. Dia menegur kepala dapur dan menasehatinya kalau Scarlesia tetaplah Nona kediaman Duke Eginhardt, namun karena hal itulah dia bertengkar dengan kepala dapur.


Semenjak pertengkarannya dengan kepala dapur, haknya untuk memasak dicabut oleh kepala dapur. Dia tidak boleh memasak dan hanya boleh mengerjakan beberapa pekerjaan kecil seperti mengupas kentang dan memotong bawang. Dia juga didiamkan oleh para koki lain karena kepala dapur ikut mengancam mereka.


Lalu Allen juga memergoki kepala dapur korupsi dana dapur kediaman Eginhardt dan hal itu diketahui oleh Zaneta. Kepala dapur bekerja di bawah Zaneta, itulah kenapa Zaneta membiarkan hal ini terjadi begitu saja. Allen ingin melaporkannya pada Eldrick tapi dia tidak punya bukti dan kekuatan untuk melaporkannya. Maka dari itu Allen membeberkan semua masalah ini pada Scarlesia karena dia tahu bahwa Scarlesia bisa menyelesaikannya dengan sempurna.


Allen sangat menyukai memasak, dia mencintai profesinya sebagai koki. Yang dia inginkan hanyalah kebebasan untuk memasak, dia tidak ingin lagi memasak bersembunyi-sembunyi di belakang kepala dapur dan lainnya. Dia saat ini menaruh harapan besar pada Scarlesia agar dia bisa merebut semua haknya kembali.


“Baiklah, aku akan menyelesaikan semua masalah ini dalam dua hari dan mengembalikan semua hakmu untuk memasak” ujar Scarlesia terdengar begitu meyakinkan.


“Terima kasih Nona, terima kasih. Saya benar-benar berterima kasih,” ucap Allen berkali-kali.


“Seharusnya aku yang berterima kasih, dia adalah salah satu orang yang masih memikirkan Scarlesia sebagai tuannya.” Batin Scarlesia seraya tersenyum.

__ADS_1


Usai berbincang dengan Allen, Scarlesia pun memutuskan untuk kembali lagi ke kamarnya karena paginya dia akan menjalankan beberapa rencana untuk menjebloskan kepala dapur ke penjara. Sekarang dia harus memikirkan secara matang beberapa hal untuk menyukseskan rencananya tersebut.


Pada pagi harinya, terdengar keributan di dapur. Hal ini mengundang rasa penasaran Scarlesia, akhirnya dia pun pergi ke dapur dengan Hana dan juga Erin. Dia melihat di sana ada Zaneta, lalu Debby si kepala dapur yang berwujud wanita paruh bayar. Di sana juga ada koki lain, Allen dan koki muda yang dimaksud Allen semalam, namanya Frey. Debby tengah menarik-narik tangan Frey secara paksa, Frey yang menangis berusaha menolaknya.


“Cepat! Kau harus mengaku pada Yang Mulia Duke kalau kau lah pelaku yang mencoba membunuh Nona Scarlesia! Padahal kau tahu sendiri Nona alergi udang tapi kau malah dengan sengaja memasukkan udang ke nasi gorengnya,” tuding Debby.


“Tidak! Saya tidak pernah melakukannya, saya mohon jangan bawa saya pada Yang Mulia Duke,” mohon Frey menangis tersedu-sedu.


“Apakah kau tidak melihat di sini ada Yang Mulia Duchess? Kau benar-benar tidak tahu malu sama sekali padahal kau sudah berbuat salah tapi tidak mau mengakuinya!” bentak Debby menarik tangan Frey hingga membuatnya terjatuh ke lantai.


“Cepat bawa dia ke Yang Mulia Duke! Aku tidak ingin ada seseorang di kediaman ini yang berani mencelakai keluarga Eginhardt,” perintah Zaneta.


Scarlesia menyeringai melihat mereka yang berakting dan mengatakan seolah-olah semua ini adalah salahnya Freya.


“Sepertinya mereka perlu disadarkan,”


“Ada apa ini?” tanya Scarlesia datang ke tengah keributan.


“Selamat pagi Nona, salam kepada Nona Scarlesia,” ucap mereka semua memberi salam kecuali Debby yang masih menegakkan kepalanya di samping Zaneta.


Scarlesia tersenyum miring melihat Debby yang masih meremehkannya.


“Coba jelaskan padaku, ada masalah apa ini Allen?” tanya Scarlesia pada Allen.


“I-ini Nona…”


“Wanita tidak tahu diri ini yang mencoba membunuh Nona semalam, jadi saya bermaksud untuk membawanya ke Yang Mulia Duke,” sela Debby menjelaskan dengan begitu sombongnya.


Scarlesia langsung menatap tajam padanya dan berdiri tepat di hadapannya.


Plaakkk!


Scarlesia menamparnya dengan sangat kencang.


“Lancang! Aku tidak bertanya padamu, berani sekali kau berbicara ketika aku tidak menyuruhmu berbicara,” murka Scarlesia.


Debby terkejut dengan tamparan Scarlesia yang membuat sebelah pipinya memar.


“S-saya h-hanya…”


Plaakkk!


Sekali lagi Scarlesia melayangkan tamparannya pada pipi yang sebelahnya.

__ADS_1


“Tidak bagus kalau hanya satu pipi saja yang kena, jadi biar imbang aku tampar pipi yang satunya lagi agar kau tahu bagaimana cara memperlakukan majikanmu dengan sopan, iya kan Yang Mulia Duchess?” tekan Scarlesia memandang Zaneta yang tidak berani mencegahnya.


“B-benar,”


__ADS_2