
“Yang Mulia, kita hentikan dulu salam jumpa ini. Sebaiknya sekarang anda segera pergi ke Roosevelt, di sana tengah terjadi hal buruk!”
Laporan dari Lulu mengacaukan suasana kelegaan hati Scarlesia, lekas mereka pergi ke Roosevelt untuk memastikan masalah yang terjadi di sana.
“Apa ini sungguh di Roosevelt?” Louis bertanya-tanya saat menyaksikan pemandangan di depan matanya kini.
“Kenapa bisa seperti ini?”
Kondisi Roosevelt jauh lebih parah dibanding kekaisaran lain yang juga tertimpa masalah, nyaris seluruh pemukiman rata oleh tanah serta orang-orang bergelimpangan tidak sadarkan diri. Beberapa tempat terbakar api, langit di Roosevelt juga gelap tanpa tahu alasan kenapa langit di sini berbeda dengan langit di luar daerah saat ini.
Scarlesia berlari untuk melihat lebih dekat lagi keadaan orang-orang, tanpa menunggu lama lagi Scarlesia segera mencoba untuk menyembuhkan luka yang mereka terima dengan metode serupa sebelumnya. Ternyata korban jiwa di sini jauh lebih banyak, walau begitu jumlah orang-orang yang selamat juga tidak sedikit. Kemudian Scarlesia melihat panti asuhan tempat anak-anak yang dia tampung, syukurnya mereka selamat dan tidak ada satu pun yang terkena luka parah di antara mereka.
Lalu Scarlesia tidak lupa menanyakan tentang siapa dalang dari kehancuran Roosevelt, salah seorang rakyat membeberkan bahwasanya dalang dari kehancuran ini adalah seorang pria yang disebutkan ciri-cirinya persis seperti Leroux. Dia mengatakan bahwa dalang tersebut menghancurkan Roosevelt hanya dalam satu jentik jari saja, tidak banyak orang yang melihat aksi Leroux dan hanya beberapa orang saja yang menyaksikannya langsuang. Begitu mendengar pengakuan tentang dalangnya, mereka langsung geram berjamaah, rasa jengkel di hati kian mendera.
Berlanjut setelah itu, Scarlesia beranjak pergi ke mansion Duke Eginhardt karena dia ingin melihat keadaan di sana. Scarlesia saat ini berada dalam perasaan kacau tak keruan memikirkan nasib Ayah, kedua saudara laki-lakinya, serta para pekerja di mansion itu. Sudah lama sejak terakhir kali dia menginjakkan kakinya di mansion yang dulu menjadi tempatnya tinggal.
“YANG MULIA!”
Beberapa orang pelayan serta ksatrian penjaga memberi sambutan atas kedatangan Scarlesia ke mansion. Mereka menyapa Scarlesia dan memberi salam, namun ada yang salah dengan raut wajah suram mereka masing-masing.
“Ada apa ini? Apa di sini juga ada korban jiwa?” tanya Scarlesia.
Bangunan mansion memang runtuh, tapi kedua matanya tidak menangkap pemandangan adanya mayat atau apapun itu. Scarlesia memandang mereka dengan tatapan penuh pertanyaan, mereka saling bertukar pandang seakan enggan memberitahukan pada Scarlesia atas apa yang sebenarnya terjadi. Aura mansion begitu suram seolah hal buruk sedang menimpa penghuni mansion, Scarlesia bisa merasakannya tapi dia tidak ingin berprasangka buruk terlebih dahulu.
“Sebenarnya begini Yang Mulia….”
__ADS_1
“AYAAHHHH!!”
Scarlesia tersentak kaget mendengar suara Carlen dan Aldert berteriak memanggil sang Ayah, perasaannya tidak enak begitu teriakan kedua kakaknya sampai ke pendengarannya. Scarlesia lekas melangkah cepat masuk ke balik reruntuhan mansion.
“YANG MULIA, ANDA TIDAK BOLEH MENEMUI YANG MULIA DUKE SAAT INI!” cegat salah seorang pelayan.
Scarlesia mengabaikan larangan pelayan tersebut, dia mencari sumber suara kakaknya berteriak.
“A-ayah….”
Tepat di depan matanya kini, Eldrick tengah tergeletak dalam kondisi lemah di permukaan puing-puing bangunan. Sepasang mata birunya serta kedua telinganya mengeluarkan cairan merah segar, darah itu tidak berhenti mengucur. Kaki jenjang Scarlesia lemas dan nyaris tidak mampu menumpu beban badannya. Carlen dan Aldert sedang berada di sisi Eldrick serta beberapa orang pelayan di sana, mereka syok bukan kepalang mendapati kondisi sang Ayah begitu mengenaskan.
“Apa yang terjadi pada Ayah? Bukannya tadi aku sudah menyebarkan kekuatan penyembuhanku? Kenapa Ayah masih terluka? Apa yang salah?”
Scarlesia terjatuh duduk di samping raga Eldrick, bibir bawahnya ia gigit menahan kepedihan hati terhadap keadaan Eldrick. Carlen dan Aldert tidak sanggup berkata-kata, sejak tadi mereka mencoba memanggil Eldrick menggunakan suara yang lantang namun tak ada jawaban. Kemudian Scarlesia meraih tangan Eldrick, yang ada hanya dingin tapi denyut nadinya masih terasa walau lemah.
“Tenang Sia! Tenang! Jangan panik. Kita akan temukan jalan keluarnya nanti. Tolong jangan terjebak di dalam pikiran burukmu,” potong Aldert menenangkan Scarlesia yang hampir saja masuk ke dalam pikiran buruknya.
Scarlesia tidak bisa menggunakan kekuatan penyembuhannya sebab luka di sekujur tubuh Eldrick diakibatkan oleh kekuatan kegelapan secara langsung. Kekuatan penyembuhannya tidak akan ada gunanya di sini, meski ia memaksakan diri sekali pun, mustahil untuk mengobatinya. Lalu tanpa sadar jemari Eldrick bergerak lemah, tampaknya dia mulai sadarkan diri.
“Ayah….”
“Anak-anakku, apa kalian di sini?”
Tangan kanan Eldrick terangkat mencari-cari keberadaan anak-anaknya, Scarlesia menarik tangan Ayahnya lalu ia genggam kuat.
__ADS_1
“Kami ada di sini, kami di samping Ayah,” ujar Scarlesia.
“Aku tidak bisa melihat atau mendengar suara kalian, maafkan aku. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk kalian,” lirih Eldrick, kedua matanya terpejam buta serta gendang telinga pecah dan membuatnya tak dapat mendengar suara anak-anaknya.
Tangis Carlen dan Aldert pecah seketika, baru kali ini Scarlesia melihat kedua saudaranya menitihkan air matanya, sedangkan dia masih berupaya menguatkan hati untuk tidak menangis.
“Ayah, ini kami. Tidak apa, Ayah tidak perlu meminta maaf kepada kami,” ucap Carlen.
Meskipun Eldrick tidak memiliki pendengaran dan penglihatan, mereka masih terus berbicara kepada Ayahnya. Apa yang mereka katakan tidak akan menggapai Eldrick, tapi mereka tidak peduli akan hal itu.
“Apa kalian sedang berusaha berbicara padaku? Aku tidak bisa mendengar apa yang kalian ucapkan.”
Walaupun Scarlesia menahan tangisnya, akhirnya tetap saja tangisnya terpecah hebat.
“Maaf Ayah, aku yang harusnya minta maaf pada Ayah. Aku tidak bisa menyembuhkan Ayah, tapi Ayah harus bertahan sampai akhir. Ayah….”
“Apa putriku sedang menangis? Kenapa kamu ini suka sekali menangis? Tidak ada yang perlu kau tangiskan sekarang. Berhentilah menangis, Ayah baik-baik saja.”
Scarlesia tahu, Ayahnya tengah berbohong pada dia dan kakaknya supaya ia berhenti menangisi dirinya. Padahal sebenarnya Eldrick teramat kesakitan saat ini, namun dia lebih sakit apabila anak-anaknya menangisi dia.
“Maafkan aku Sia, Carlen, Aldert. Maafkan Ayah….”
“Untuk apa Ayah minta maaf? Tidak ada yang harus dimaafkan. Ayah tidak salah apapun,” jawab Aldert.
Air mata Eldrick perlahan turun bercampur dengan darah yang terus mengalir dari matanya yang terpejam. Rasa dingin semakin menjalar di tubuhnya, bahkan dia tidak bisa menggerakkan tangannya dengan benar sekarang. Rasa sakit menyerang jantungnya bertubi-tubi, kesakitan yang tak tertahankan dia tekan saat ini.
__ADS_1
“Maafkan aku, bahkan di akhir hayatku aku tidak bisa melihat wajah putra dan putriku. Aku tidak bisa mendengarkan suara kalian, tidak bisa menggenggam atau pun mengelus kepala kalian dengan benar.”