
“Oke, aku akan mencoba menyembuhkannya,”
Scarlesia mendekati Oscar yang tidak sadarkan diri, dia memeriksa denyut nadinya dulu. Denyut nadinya semakin melambat, jika dia terlambat sedikit saja pasti Oscar tidak akan selamat. Scarlesia meletakkan tangannya di atas luka Oscar, cahaya dari kekuatan penyembuhannya menyebar di tubuh Oscar, secara perlahan lukanya sembuh dan kedua kakinya kembali seperti semula.
“U-uhh…” jemari Oscar bergerak pertanda ia akan sadarkan diri.
“Kakak!”
Mata Oscar perlahan terbuka, dia tidak merasakan sakit lagi di kedua kakinya karena kakinya sudah utuh seperti sedia kala.
“Natasha, aku pikir aku sudah mati tadi. Siapa yang menyelamatkanku?” tanya Oscar.
“Yang menyelamatkanmu adalah Sia,” jawab Natasha.
Oscar melebarkan pandangannya, Scarlesia tengah berdiri di dekat sang adik dengan wajah tersenyumnya.
“Nona, ternyata….”
“Hoho gadis cantik! Lagi-lagi kau menggagalkan rencanaku ya,”
Scarlesia dan Oliver berbalik serentak ketika mendengar suara yang tidak asing di telinga mereka.
“ZIN!”
Zin berada tepat di belakang mereka, Zin tertawa begitu Scarlesia dan Oliver menyebut namanya.
“Aku terkesan kalian masih ingat denganku,” ucap Zin.
“Mana mungkin aku lupa dengan pria jelek sepertimu,” ejek Scarlesia.
Zin menyerngitkan keningnya, dia tidak menyukai apa yang dikatakan oleh Scarlesia padanya bahkan dia belum melupakan ejekan yang diucapkan Scarlesia padanya beberapa waktu lalu dan sekarang dia mendengarkannya kembali.
“KENAPA KAU SELALU SAJA MENGHINAKU DAN MENGATAKAN KALAU AKU JELEK? JANGAN KAU PIKIR AKU SUDAH MELUPAKAN PENGHINAAN YANG KAU BERIKAN PADAKU WAKTU ITU!” bentak Zin emosi.
“Tapi aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Tidak bisakah kau melihat pria tampan yang ada di sampingku ini? Bahkan kau saja tidak sebanding dengannya,” balas Scarlesia sambil mendekatkan tubuhnya pada Oliver dan mengelus wajah tampan Oliver.
Oliver merona karena Scarlesia menyentuh wajahnya, posisi mereka terlalu dekat.
“DASAR KAU WANITA MENYEBALKAN! AKU PASTI AKAN MEMBUNUHMU!” teriak Zin terlampau kesal oleh ulah Scarlesia.
“Ahh terima kasih kalau begitu,” respon Scarlesia santai.
Zin menggeram menahan amarahnya, ia menggertak giginya. Scarlesia tertawa melihatnya marah, seakan tidak ada ketakutan dari dirinya menghadapi Zin.
__ADS_1
“Tongkatmu itu, serahkan padaku!” pinta Scarlesia.
“Wuahahaha jadi sejak awal kau mengincar tongkatku?” kekeh Zin.
“Cepat serahkan padaku! Aku akan membebaskan semua jiwa yang kau kurung di dalamnya,” tegas Scarlesia.
“Aku tidak akan pernah menyerahkannya padamu karena hari ini aku akan membunuhmu!”
Tubuh Zin terbang di udara, aura jahat yang dia keluarkan serasa mencekik semua orang yang ada di sana.
“Natasha! Bawa Yang Mulia Putra Mahkota menjauh dari sini sekarang juga!” suruh Scarlesia.
“Tapi…”
“CEPAT! KALIAN TIDAK AKAN BISA MENGHADAPI PRIA INI!” potong Scarlesia lantang.
Natasha menuruti apa yang diperintahkan oleh Scarlesia padanya, dia pergi menjauh dari alun-alun kota dan membawa Oscar bersama dengannya. Kini hanya tertinggal Oliver dan Scarlesia untuk menghadapi Zin.
“Aku akan mengalahkanmu!” ucap Oliver percaya diri.
“Kau akan mengalahkanku? Lucu sekali! Keluarlah kalian, hadapi gadis itu dan aku akan menghadapi pria sombong ini,”
Segerombol iblis hitam keluar dari sebuah portal sihir di belakang Zin, mereka mengikuti perintah dari Zin dan menyerang Scarlesia secara sekaligus. Scarlesia menahan serangan mereka dengan pedangnya.
“OLIVER! FOKUS PADA PRIA ITU! YANG DI SINI BIAR AKU YANG MENGURUSNYA,” ujar Scarlesia.
Oliver memilih percaya pada Scarlesia, kedua matanya kembali fokus kepada Zin. Tatapan yang membara serta api kebencian tidak pernah padam semenjak insiden monster laut.
“Aku akan melakukan apapun untuk melindungi Sia. Aku tidak ingin kehilangan Sia untuk yang kedua kalinya, kali ini aku pastikan kau aman bersamaku,”
Tubuh Oliver terangkat ke udara, posisinya perlahan sejajar dengan Zin lalu ia mulai mengeluarkan sihirnya dan menyerang Zin dengan sihir tersebut. Namun, serangannya berhasil dihindari oleh Zin.
“Apakah hanya sebatas ini kemampuanmu? Lemah sekali! Ahh aku lupa, inti sihirmu kan rusak karena insiden 300 tahun yang lalu,”
“Bagaimana bisa kau tahu insiden 300 tahun lalu?”
“Oh bagaimana aku mengetahuinya? Karena akulah orang yang berada di balik insiden itu. Wanita yang kau cintai mati mengenaskan dan sekarang dia bereinkarnasi dan kau berhasil menemukannya. Apakah kau tahu? Aku kembali ditugaskan untuk membunuh wanita yang kau cintai itu. Tentu saja aku akan mengulangi insiden 300 tahun lalu kembali,”
Zin mencoba memancing amarah Oliver agar meledak, dia sungguh mengetahui segala hal yang terjadi di masa 300 tahun lalu.
“Jadi kau yang membunuh Sia? Kau sudah membunuh orang yang aku cintai. Kau… Aku tidak akan pernah memaafkanmu!”
Oliver kali ini mencoba serangan jarak dekat, emosinya memuncak tak tertahan meski inti sihirnya terasa sakit sekarang namun dia tidak bisa berhenti begitu saja. Sementara itu, sekarang Scarlesia sedang menghadapi para iblis hitam yang menyerangnya.
__ADS_1
“Kalian beraninya main keroyokan dengan perempuan! Dasar pengecut!” hina Scarlesia.
“Kami tidak peduli! Kami hanya ingin membunuhmu demi memberikan kabar baik kepada dewa kegelapan,”
“Dewa kegelapan? Jadi dia yang menyuruh kalian untuk membunuhku? Betapa luar biasanya dewa kegelapan kalian itu. Untuk membunuhku saja dia butuh bantuan yang banyak dari kalian,” sindir Scarlesia.
“KURANG AJAR! LANCANG SEKALI KAU BERBICARA BURUK MENGENAI DEWA KEGELAPAN!”
“BUNUH DIA SEKARANG JUGA!”
Scarlesia terus melayangkan pedangnya pada tubuh mereka, pedang dari busur suci adalah cahaya jadi mereka akan terluka parah ketika pedang itu mengenai tubuh kegelapan mereka. Mereka menerjang Scarlesia dari segala sisi dengan kekuatan mereka, ini membuat Scarlesia kewalahan sesaat.
“Mereka tidak ada habis-habisnya!”
Buakk!
Dari atas, Oliver terhempas ke permukaan tanah, Scarlesia yang sedang fokus bertarung akhirnya kehilangan fokusnya karena Oliver.
“OLIVER!!”
“Hei wanita lihat kemana kau?”
Pedang tajam milik salah satu iblis hitam tersebut menggores punggungnya dan menyebabkan sakit yang luar biasa. Lukanya tidak bisa sembuh karena pedang tersebut sama dengan pedang milik Norbert yang ditempa menggunakan darah dewa kegelapan.
“Punggungku sakit sekali. Aku harus mendekat ke Oliver, meski harus merangkak sekalipun,”
“Uhukk uhukk,” Oliver terbatuk, untung saja dia tidak kehilangan kesadarannya meski keluar darah dari mulutnya.
“HAHAHA KAU BILANG INGIN MENGALAHKANKU? BAGAIMANA BISA KAU MENGALAHKANKU DENGAN KEADAAN INTI SIHIRMU YANG RUSAK? Baiklah, aku akan memberikanmu pertunjukkan yang bagus sekarang. Aku akan membunuh gadis yang kau cintai ini,”
Zin mengeluarkan kekuatan dari tongkatnya, suara teriakan dari jiwa-jiwa yang ada di dalamnya terdengar kembali oleh Scarlesia. Rasa sakit menusuk telinganya, ia menekuk kepalanya sambil menutup rapat kedua telinganya. Oliver langsung bangun saat melihat Zin mengeluarkan kekuatannya untuk menyerang Scarlesia, tepat sebelum kekuatan Zin membunuhnya Oliver berdiri di hadapan Scarlesia dan menjadikan dirinya sebagai tameng untuk melindungi Scarlesia.
Oliver kena serangan telak dari Zin, dia lalu jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah.
“OLIVER!!!”
“Kalian! Hisap jiwa pria itu! Karena jiwanya akan berguna untuk meningkatkan kekuatan kalian,” perintah Zin.
Para iblis hitam segera mengerumuni Oliver bersiap untuk menghisap jiwa Oliver.
“Tidak! Tidak boleh! Oliver tidak boleh mati di sini! Aku akan menyelamatkannya. Jangan! JANGAAAAANNNNN!!!”
Scarlesia merangkak sambil menangis dan berteriak serta tangan yang berusaha menggapai tubuh Oliver, lalu tiba-tiba saja ratusan pedang turun dari langit bersamaan amarahnya dan menghujam habis seluruh iblis hitam tersebut. Zin terkejut melihat kekuatan dahsyat yang baru saja dia saksikan, bahkan salah satu pedangnya berhasil melukai tubuhnya.
__ADS_1
“K-k-kekuatan macam apa itu?”