
Hening. Tidak ada suara di antara mereka, hanya hembusan angin yang terdengar mengetuk-ngetuk rumah kaca. Scarlesia terpaku menatap Oliver yang membawa senyum lembutnya untuk ditampakkan pada dirinya. Tersirat di sepasang maniknya rasa putus asa mendalam dirasakan oleh Scarlesia, kehancurannya seolah dapat dilihat dari bagaimana cara ia menatap.
“Jangan menatapku seperti itu Sia, kehancuranmu adalah kehancuranku. Bisakah kau percayakan kebahagiaanmu padaku? Aku akan membawamu pergi dari rasa sakit itu. Aku mohon bertahanlah,” mohon Oliver.
“Aku takut kehilangan arah, aku ingin percaya tapi aku ketakutan jika harus kehilangan lagi,” ucap Scarlesia.
Pipinya memerah akibat banyaknya alkohol yang dia minum, Oliver menghembuskan napasnya lalu dia pindah duduk ke samping Scarlesia.
“Lihat kemari, angkat wajahmu,” suruh Oliver.
Scarlesia menyerong menghadap Oliver, dia mengangkat wajahnya. Oliver menyeka air mata Scarlesia, kemudian dia menggenggam kedua tangannya.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, tolong percayakan hidupmu padaku. Aku akan melindungimu sama seperti aku melindungimu dulunya, aku akan membuatmu bahagia karena kau adalah separuh jiwaku. Aku mati bila kau mati, aku hidup bila kau hidup.”
Scarlesia menggigit bibir bawahnya, dia ingin berbicara di sela luka hati melara bagai api membakar dirinya. Ucapan Oliver mengenai tepat di sanubarinya, air matanya turun begitu deras mewakili perasaannya.
“Tolong jangan menangis lagi, kau menyakitiku Sia. Jangan seperti ini, aku tidak mau kau meninggalkanku lagi. Aku tanpamu bagai cangkang kosong yang tidak ada kehidupan di dalamnya,” lirih Oliver.
“Maaf Oliver, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku akan mencoba mempercayakannya padamu dan pada yang lain hidupku. Aku….”
Oliver menarik tangan Scarlesia masuk ke dekapannya, sesaat ketenangan menghampiri jiwa Scarlesia. Dia telah memutuskannya, memutuskan bahwa hidupnya akan dipercayakan kepada lelaki tercintanya.
“Tidak apa-apa, sekarang kau harus tenangkan dirimu. Jangan sakiti dirimu sendiri ya,” ujar Oliver.
Scarlesia menanggapinya dengan mengangguk, beban hatinya seketika bebas dan membuatnya tenang. Oliver masih mendekapnya sampai Scarlesia terlelap dalam pelukannya, ia menggendong Scarlesia menuju kamarnya. Di sana Erin dan Hana masih terjaga menunggu Scarlesia balik, mereka segera menyiapkan tempat tidurnya. Scarlesia dibiarkan terlelap hingga pagi menjelang, dia kini terjaga di saat jam masih menunjukkan pukul 5 subuh.
__ADS_1
“Sepertinya aku bangun lebih cepat,” gumam Scarlesia.
Dia turun dari ranjangnya, kemudian melangkah ke arah jendela untuk membuka jendelanya agar udara pagi menyeruak masuk ke dalam kamarnya. Segala kesedihan di hari kemarin ia lupakan sejenak, badannya juga lebih terasa ringan dibanding sebelumnya.
“Walaupun Archie sudah tidak ada lagi, aku tetap harus menjalani hidup seperti biasa. Begitu kan Archie? Kau tidak ingin melihatku larut dalam kesedihan. Tolong saksikan aku dari atas, do’akan kakakmu ini berhasil mencapai tujuan akhir dunia ini.”
Mulai hari ini dia menegarkan hatinya, mencoba untuk tidak hanyut terseret arus kesedihan mendalam. Tersenyum dan melangkah seperti biasanya adalah hal yang mesti ia lakukan mulai sekarang. Hari kemarin dia memang hancur, namun hari ini dia mendorong dirinya untuk bangkit dari keterpurukannya.
“Yang Mulia, anda sudah bangun? Bagaimana perasaan anda hari ini? Apa anda masih sedih?” Cici baru saja datang, ia terbang dan hinggap di tangan Scarlesia.
“Aku tidak sedih lagi, jangan khawatir. Aku akan berusaha menekan kesedihanku,” ucap Scarlesia.
“Syukurlah, saya sedih melihat anda sedih dan tidak berdaya sejak kematian Tuan Archie kemarin. Saya hara panda selalu kuat Yang Mulia,” tutur Cici.
“Iya Cici, terima kasih karena kau sudah mengkhawatirkanku.”
“Sia, kau sudah bangun?” sela Kitty bertanya.
Kitty muncul dari bawah ranjang Scarlesia, rupanya dia sejak tadi malam tidur di bawah tempat tidurnya Scarlesia.
“Kitty! Ternyata kau tidur di bawah ranjangku ya. Aku baru saja bangun,” ujar Scarlesia.
“Apakah perasaanmu baik-baik saja? Apa kau masih merasa sedih?” tanya Kitty.
Scarlesia mengelus kepala Kitty, ia meyakinkan Kitty bahwa sekarang dia baik-baik saja. Lengkung senyum bibirnya ia tampakkan pada Kitty, itu mengurangi sedikit rasa cemas yang menggerogoti perasaan Kitty sejak kemarin.
__ADS_1
“Sia, aku akan terus berada di sisimu. Aku tidak akan membiarkanmu sedih lagi, sama seperti yang kau lakukan dulu saat merawat dan membesarkanku. Aku akan terus bersamamu dalam kondisi apapun itu,” ujar Kitty.
“Ya, aku senang jika kau terus bersamaku. Jangan tinggalkan aku sebab kalian sangat berarti untukku.”
Scarlesia bersimpuh di lantai lalu memeluk erat Kitty, Cici pun juga ikut dipeluk olehnya. Perasaan Scarlesia belum sepenuhnya membaik, namun dia memaksakan dirinya untuk terlihat lebih baik supaya orang-orang tidak mencemaskan keadaannya.
“Aku akan melindungi Sia, aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu lagi. Tolong berbahagialah bersama kami,” kata Kitty.
“Iya Yang Mulia, kami akan melindungi anda. Seluruh hewan di muka bumi ini berpihak pada anda, tolong bergantunglah pada kami,” tambah Cici.
“Aku mengerti, aku akan ingat itu semua. Tenang saja.”
Seusai itu, Scarlesia beranjak meninggalkan kamarnya dan pergi ke kamarnya Archie untuk melihat apakah Archie ada meninggalkan barang penting atau tidak sebelum kamarnya dibereskan lalu dibersihkan oleh para pelayan.
Ceklek
Scarlesia membuka pelan pintu kamar Archie yang tidak terkunci itu, kamarnya ditinggal dalam kondisi rapi dan bersih. Scarlesia tahu pasti kebiasaan adiknya, dia sangat gila kebersihan dan kerapian, ia tidak menyukai hal-hal berantakan. Itulah kenapa dulu ketika Archie masih bersamanya suka sekali memarahinya apabila menemukan kamar Scarlesia masih berantakan saat bangun tidur. Mengingat kenangan dia bersama Archie menyakiti hati kecilnya, kenangan yang terkubur lama kini bangkit kembali.
Scarlesia duduk di tepi tempat tidurnya, aroma lavender kesukaan Archie masih tertinggal di kamar itu. Lalu Scarlesia mendekat ke meja Archie yang di atasnya tersusun berbagai buku, ada juga buku catatan mengenai benda-benda yang dia ciptakan bahkan ada pula tentang rencananya yang ingin mengubah dunia ini menjadi sedikit lebih modern.
“Huh? Kotak apa ini?”
Saat Scarlesia memeriksa laci milik Archie, dia menemukan sebuah kotak kecil di dalamnya. Karena penasaran, akhirnya Scarlesia membuka kotak tersebut dan ia mendapati sebuah alat perekam suara yang dibuat oleh Archie menggunakan batu sihir. Bentuk alat itu memang sangat kecil, di sampingnya ada tombol yang berguna untuk menghidup atau mematikan alatnya serta tombol untuk merekam suaranya.
Rasa penasaran semakin memojokkan Scarlesia, dia memberanikan dirinya untuk memencet tombol menghidupkan perekamnya. Awalnya terdengar suara gemerisik-gemerisik angin yang berisik, di pertengahan hanya ada suara barang terjatuh.
__ADS_1
“Apa ini? Apa Archie hanya menguji coba alat ini? Haha sepertinya dia berhasil mengupgrade alat perekamnya. Suaranya sudah lebih jelas dibanding perekam yang sebelumnya, oke aku akan memasukkan….”
“Halo kak, apa kakak bisa mendengar suaraku?”