
“Bisa, tapi hanya dapat bertahan selama dua jam.”
“Tunggu! Cuma dua jam? Dengan arti lain, Sia harus mengalahkan dewa kegelapan dalam waktu dua jam apa pun yang terjadi begitu?” tanya Xeon memastikan.
“Betul, tapi Sia terlihat yakin dengan dirinya sendiri. Itulah mengapa dewa pencipta menyanggupinya, saat ini proses penambahan kekuatan masih berlangsung. Kemungkinan beberapa jam lagi akan selesai, untuk itu aku harap kalian bisa bertahan dan mengalahkan sebagian bawahan dewa kegelapan sampai Sia datang,” tutur Falco.
“Baiklah, itu….”
Tiba-tiba saja di sela perbincangan mereka, tanah berguncang hebat, dari arah yang berlawanan datanglah pasukan kegelapan. Langit yang awalnya cerah berubah menjadi kelam. Mereka yang sibuk dengan aktivitas masing-masing, terpaksa untuk menghentikan aktivasnya lalu mengambil masing-masing posisi sesuai strategi yang telah disusun.
Para hewan dan para peri berada di timur medan perang yang dipimpin langsung oleh Shou serta Bely yang berwujud raksasa. Para ksatria ikut berpencar, mereka dipimpin langsung oleh Andreas, Louis, Elios, Carlen, dan Oscar. Sedangkan para penyihir sebagian berada di angkasa dipimpin oleh Oliver dan Aldert, sebagiannya lagi tetap di bawah dipimpin oleh Zenon, Lucas, dan Victor. Sementara itu, Xeon bersama para malaikat dan para asisten dewa berada di sisi tidak jauh dari laut.
Guncangan terhenti begitu pasukan kegelapan tersebut menghentikan hentak kakinya, jumlah mereka tidak main-main banyaknya. Para siluman, monster, iblis hitam, serta hewan buas lainnya ada di antara pasukan kegelapan itu. Mengarah ke atas langit, ada Aaron, Zin, Vanos, Parnell Ayahnya Zenon, Norbert kakaknya Andreas, dan juga Cyrill. Benar dugaan Xeon, eksistensi jahat nan kuat hampir seluruhnya dibangkitkan oleh Leroux.
Tidak ada Leroux di antara mereka, sepertinya dia akan datang terakhir nantinya. Rasa gemetar perlahan menghantui kembali diri mereka masing-masing setelah melihat banyaknya lawan tangguh yang akan mereka hadapi. Di pihak lawan justru mereka memandang mereka dengan tatapan meremehkan, sebab mereka yakin akan menang di peperangan ini.
“Zenon, lama tidak bertemu. Sepertinya kau hidup dengan baik,” sapa Parnell.
Zenon menatap dingin ke arah sang Ayah, dia sangat membenci Parnell hingga rasa bencinya ingin meledak keluar dari hatinya. Rupa Parnell sangat mirip dengan Zenon, hanya saja wajahnya terlihat lebih tua dari Zenon.
__ADS_1
“Aku hidup dengan baik selama tidak ada kau, lalu kenapa kau muncul lagi di hadapanku?” balas Zenon.
“Hahaha kau anak tidak tahu diri! Aku bisa hidup lagi berkat dewa kegelapan. Aku ingin menghabisimu! Dan akan menjadi satu-satunya naga yang hidup abadi di dunia ini,” ujar Parnell.
“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, aku akan tetap menjadi naga yang tersisa di dunia ini. Sebaiknya kau kubur dalam-dalam mimpimu itu dan kembali saja lagi ke dalam tanah,” sarkas Zenon menyeringai.
“Apa? Kurang ajar! Sini biar ak….”
“Stop! Jangan menyerang lebih dulu,” cegat Aaron menahan Parnell untuk maju.
Kemudian arah pandang Aaron tertuju kepada Xeon yang sejak tadi memberikan sorot mata dingin ke arah dirinya. Aaron bertukar posisi dengan Cyrill supaya dia bisa sejajar berhadapan dengan Xeon.
“Kak, kita bertemu lagi ya di tempat yang sama seperti 2000 tahun lalu. Apa kakak ingin mengantarkan nyawa sendiri kemari? Kau membawa pasukan yang banyak dibanding dulunya, ternyata gadis yang kau cintai sungguh dicintai di kehidupannya kali ini.”
“Aku tidak akan membiarkan kalian menang kali ini, kami akan memenangkan perangnya dan mengalahkan kalian semua! Dan kau Aaron, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri biar kau tahu bagaimana sakitnya aku saat dikhianati olehmu dulunya,” tegas Xeon.
“Apa? Mau membunuhku? Sepertinya hal itu tidak akan terjadi. SERAAANGGGG!!!”
Suara Aaron yang memerintahkan penyerangan bergaung di medan perang, seluruh pasukan dari pihak lawan dan kawan langsung unjuk taring memperlihatkan kehebatan masing-masing. Permukaan tanah bergemuruh akibat hentak kaki yang menderu-deru dari pasukan perang, suara pedang yang beradu, dan warna sihir yang beragam sungguh menyempurnakan pertarungan antara dua pihak saat ini.
__ADS_1
“Hei Andreas, kita bertemu lagi. Setelah aku kembali dari kematian, aku bersumpah akan membunuh di perang ini apa pun yang terjadi.”
Norbert dan Andreas kini tengah beradu kekuatan pedang, suara pedang di antara keduanya. Raut wajah Andreas tidak baik-baik saja, api kebencian membakar hati dan jiwanya, dia sangat membenci Norbert dari dulu hingga sekarang. Meskipun Norbert waktu itu mati karena dia, tapi rasa benci itu tetap melekat di hati kecilnya.
“Haha kau tetap banyak omong dari dulu ya, sepertinya kau tidak akan bisa membunuhku karena aku duluan yang akan membunuhmu.”
Andreas mendorong kekuatan pedangnya lebih kuat lagi sehingga Norbert terpaksa harus mundur sejenak ke belakang. Napas mereka saling memburu keluar, gerakan tangan mereka saat menggerakkan pedang luar biasa cepatnya.
“Tampaknya kau mendapat darah gratis yang banyak dari gadis itu, siapa nama dia? Sia bukan? Bagaimana? Apakah darahnya manis?” Norbert mencoba memancing amarah Andreas.
“Kau sengaja ingin memancing amarahku rupanya.”
Di lokasi yang tidak jauh dari tempat Andreas dan Norbert, ada Elios dengan Vanos tengah mengadu kekuatan mereka masing-masing. Sejujurnya Elios lebih ingin melawan Aaron karena seluruh klannya dihabisi oleh Aaron, tapi menurutnya Xeon lebih pantas untuk melawan Aaron. Sedangkan Elios kala ini ingin menumpahkan kekesalannya pada Vanos yang sudah berani mengkhianati iblis putih dan berpindah haluan ke kegelapan.
“Pengkhianat sepertimu lebih baik mati saja!”
Kekuatan es Elios menyebar di permukaan tanah di sekitar mereka bertarung, lalu ia menyerang Vanos menggunakan es yang sudah ia ubah bentuknya menjadi pedang. Hawa dingin menyeruak masuk ke tulang Vanos, namun dia masih bisa mengatasinya.
“Pengkhianat? Kau bilang aku pengkhianat? Apa kau tidak tahu bagaimana kesalnya aku dulu setiap kali klan iblis putih berbicara tentang kekuatanmu yang luar biasa? Aku jauh lebih lemah darimu, kau juga melihatku dengan tatapan merendahkan setiap saat. Wajar jika aku berkhianat, aku tidak mendapatkan kebahagiaan ketika masih menjadi iblis putih.”
__ADS_1
Vanos menumpahkan segala kekesalannya pada Elios, kekesalan yang selama ini dia sembunyikan dari dalam hati. Elios tidak pernah mengetahuinya, dia merasa dulu sudah memperlakukan Vanos dengan baik, dia tidak pernah tahu apa isi hati dari temannya itu.
“Aku tidak pernah sekali pun merendahkanmu.”