Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Mengambil Alih Panti Asuhan


__ADS_3

“SIAPA YANG MENYURUH KALIAN UNTUK MENGANGKAT KEPALA KALIAN HAA?”


Suara lantang Scarlesia menggelegar ke seluruh ruangan, tidak ada diantara mereka yang sanggup menatap mata marahnya. Auranya semakin lama semakin mengintimidasi hingga membuat napas serasa tercekik.


“Korupsi dana panti asuhan, melakukan penyiksaan terhadap anak-anak, mengurangi jatah makan anak-anak, serta menjual anak-anak dengan alasan adopsi padahal sebenarnya mereka dijadikan tumbal oleh penyihir hitam. Apakah aku benar?”


Tidak ada satupun diantara mereka yang berani merespon atau menjawab pertanyaan Scarlesia. Sekujur tubuh mereka gemetar karena takut Scarlesia akan membuat nyawa mereka melayang.


“Karena kalian tidak menjawabnya maka aku akan menganggap semuanya benar. Kalau seseorang berbuat sangat buruk seperti itu haruskah aku memotong tangannya agar tidak korupsi lagi dan memukuli anak-anak lagi atau haruskah aku membunuhnya?”


“Ampuni saya Nona. Saya mohon jangan bunuh saya,” mohon si pengurus panti asuhan.


Scarlesia tersenyum miring mendengar kata ‘ampun’ dan ‘mohon’ dari mulut orang-orang serakah tapi takut dengan kematian. Mendengar suara mereka yang bergetar membuat Scarlesia berpikir bahwa mereka memang pantas untuk dibiarkan hidup di neraka.


“Berdirilah! Aku akan memaafkan kalian,” tutur Scarlesia.


Mereka semua berdiri seraya menghela napas lega, mereka merasa bahwa mereka baru saja selamat dari kematian.


“Theo, bawa semua teman-temanmu masuk ke dalam karena sekarang ada seseuatu yang perlu aku bicarakan dengan pengurus panti,” suruh Scarlesia.


Theo menurut, ia menyuruh semua teman-temannya untuk masuk ke dalam kamar. Kini hanya tinggal Scarlesia, Andreas, serta para pengurus panti asuhan yang sebentar lagi akan kehilangan nyawanya.


“Aku akan memberikan sumbangan untuk panti asuhan ini,”


Mimik wajah mereka seketika senang mendengar Scarlesia akan menyumbang ke panti asuhan ini. Pikiran mereka langsung dipenuhi oleh akal licik dan berencana melakukan korupsi dana sumbangan lagi.


“Tapi sebelum itu, sepertinya lehermu ini sangat bagus untuk dicekik ya,”


Scarlesia bergerak maju, ia mengelus leher pengurus panti asuhan tersebut, sentuhan tangannya yang lembut membuat merinding tubuhnya. Kemudian Scarlesia terlanjut geram dan mencengkram lehernya dengan kuat.


“Heukkk l-lepas…kan s-saya no..na…” ujarnya minta dilepaskan.


“Lepaskan? Aku hanya mempraktekkan apa yang sudah kau lakukan pada anak-anak yang lain,”


Scarlesia semakin mempererat cengkramannya, tidak ada ampun bagi orang seperti mereka. Setelah puas mencekiknya, Scarlesia menghempaskan tubuhnya ke dinding hingga membuatnya tidak sadarkan diri.


“Siapa giliran selanjutnya?”


Lirikan maut Scarlesia membuat mereka terperanjak takut, mereka berusaha tetap berdiri tegak meski kakinya sudah lemas dan tidak bertenaga.

__ADS_1


“Andreas, aku lelah. Kamu saja yang mengurus mereka, patahkan tangan dan kakinya ehh jangan dipatahkan karena itu terlalu baik untuk mereka jadi potong saja tangan mereka biar bisa berhenti korupsi dan menyiksa anak-anak,”


“KYAAAA JANGAN NONA! S-SAYA M-M-MINTA MAAF,” ucap mereka kembali bersujud di depan kakinya Scarlesia.


Tatapan mata Scarlesia dingin dan terlihat merendahkan mereka, sudah jelas bahwa Scarlesia tidak ingin mendengar sedikit pun kata maaf dari mereka.


“Aku tidak mau tuh,”


“Apa?”


“Aku tidak mau memaafkan kalian karena dosa kalian sudah terlalu banyak,” ulang Scarlesia mengukir senyum jahat.


Scarlesia menggerakkan tangannya pertanda Andreas harus melaksanakan perintahnya sekarang juga. Andreas yang patuh segera menyeret mereka semua untuk menjauh dari Scarlesia kemudian tanpa iba memotong tangan mereka.


“ARRRRGGHHHHHH!!!!”


Suara pekikan mereka membuat pengang telinga Scarlesia, ia menutup telinganya rapat agar suara itu tidak berefek pada gendang telinganya.


“Apa yang terjadi di sini?”


Marquess Javar tiba-tiba datang dan memergoki Scarlesia tengah menyiksa para pengurus panti asuhan. Dia shock melihat darah yang berceceran dimana-mana lalu ada potongan tangan juga yang tergeletak di lantai.


“Oh halo marquess. Saya sedang membereskan para hama tapi tenang saja semuanya sudah selesai,” kata Scarlesia.


Scarlesia tertawa kecil saat Marquess Javar melontarkan pertanyaan yang membuatnya seolah-olah ia yang salah.


“Marquess anda ini bodoh ya? Mereka ini melakukan korupsi dana panti asuhan, menyiksa anak-anak, bahkan menjual anak-anak tersebut ke penyihir hitam. Anda ini pura-pura tidak tahu atau bagaimana? Saya tidak bisa memberikan toleransi terhadap sikap mereka,” jawab Scarlesia.


Marquess Javar beringsut mundur ke belakang, ia kehilangan kata-kata untuk membalas perkataan Scarlesia.


“P-penyihir hitam? A-a-apa yang t-terjadi dengan mereka yang m-membawa anak-anak itu?” gagap Marquess Javar.


“Hmm mereka sudah aku lenyapkan semua,”


“Sudah dilenyapkan? JANGAN BERCANDA! JIKA ANAK-ANAK ITU TIDAK DIKIRIM SEGERA KE NEGARA LOTHEA BISA-BISA RATU PENYIHIR HITAM AKAN MELAMPIASKAN AMARAHNYA KE KEKAISARAN!” ujar Marquess Javar dengan lantang.


“Astaga aku tidak menyangka akan mendengar dari mulut anda langsung. Apakah ini adalah negosiasi permaisuri dengan ratu penyihir itu? Penyihir hitam yang diutus permaisuri untuk membunuhku ternyata itu hasil transaksinya dengan ratu penyihir hitam ya. Marquess, anda tahu kan jika hal ini sampai ke telinga kaisar?”


Secara tidak langsung, Scarlesia mengancam Marquess Javar menggunakan nama kaisar. Dia melempar kalimat itu padanya agar Marquess Javar merasa takut dan tersurut karenanya.

__ADS_1


“Tidak! Aku tidak bisa berhadapan dengannya saat ini. Sekarang aku harus kabur lebih dulu,” batin Marquess Javar berbalik dan hendak kabur dari Scarlesia.


Dorrr


Scarlesia mengeluarkan pistolnya kemudian menembak tepat kaki Marquess Javar dan membuatnya tidak bisa berlari lebih jauh lagi.


“AAARRRHHH!” pekik Marquess Javar kesakitan.


“Marquess, anda tidak sopan sekali kabur dari saya sebelum obrolan kita selesai. Apa anda sebegitu inginnya membuat anak anda masuk ke dalam istana? Apa yang ditawarkan oleh permaisuri untuk putri anda? Sebuah gelar selir? Pfft anda lucu sekali,” hina Scarlesia.


Marquess Javar tidak merespon Scarlesia karena dia merasa sakit yang luar biasa di kakinya saat ini.


“Nih ambil,”


Scarlesia melempar satu kantong koin emas pada Marquess Javar sambil berkata, “Mulai hari ini panti asuhan ini milik saya. Untuk masalah kepemilikan nanti akan saya urus.”


“Mati aku sekarang jika permaisuri mengetahui hal ini maka dia tidak akan memasukkan Selena ke dalam istana,” batin Marquess Javar membeku tak bersuara.


Scarlesia memutar tubuhnya, ia masuk ke dalam kamar untuk menemui anak-anak. Jumlah mereka cukup banyak, jika dihitung mereka semua berjumlah sekitar 50 orang lebih. Scarlesia menghibur mereka yang ketakutan ataupun menangis, lalu dia juga menyembuhkan luka anak-anak yang lainnya.


Beberapa saat kemudian, ksatria kediaman Duke Eginhardt datang untuk membantu Scarlesia membereskan para pengurus yang tergeletak tidak sadarkan diri itu. Scarlesia memerintahkan mereka untuk menggantung tubuh mereka di tengah alun-alun kota untuk memberi peringatan pada orang lain agar tidak melakukan hal yang sama.


Kini anak-anak di panti asuhan sudah terbebas dari penyiksaan karena panti asuhan ini sudah jatuh ke tangannya. Pada hari itu, Scarlesia langsung memindahkan mereka semua ke rumah yang lebih besar karena tempat mereka saat ini kurang layak untuk tetap ditinggali. Lalu ia juga membawa beberapa pelayan yang dia percayai untuk mengurus anak-anak di panti asuhan tersebut agar tidak terulang lagi kejadian yang sama.


“Sekarang kakak pulang dulu ya,” pamit Scarlesia pada anak-anak itu.


“Kenapa kakak tidak tinggal di sini saja?” tanya salah seorang anak kecil perempuan.


“Karena ada beberapa hal yang harus diurus jadi kakak tidak bisa tinggal di sini tapi kakak janji akan mengunjungi kalian lebih sering,”


Selesai itu, Scarlesia langsung beranjak pergi sembari melambai-lambaikan tangan kepada mereka. Scarlesia senang melihat mereka bisa tertawa kembali dan berharap mereka bisa cepat pulih dari lukanya.


“Kak, apakah Kakak Sia seorang dewi?” tanya Luna pada Theo.


“Aku rasa begitu. Dia berbeda dari bangsawan yang biasa kita temui,”


“Apa  aku bisa menjadi wanita secantik Kakak Sia?” tanya Luna sekali lagi.


“Tentu saja bahkan kamu bisa lebih cantik dari Kak Sia,” jawab Theo sumringah.

__ADS_1


“Tidak, aku ingin menjadi wanita tercantik nomor 3 setelah Kak Sia dan juga Ibu,” balas Luna.


“Baiklah. Terserah kamu saja,”


__ADS_2