
“Kami diperintahkan oleh raja untuk melindungi Nona, sebaiknya anda pergi secepatnya karena mereka sudah semakin dekat,” ucap burung pipit tersebut membuat Scarlesia kembali berpikir keras.
“Raja? Siapa lagi dia?” bingung Scarlesia.
“Nanti saja anda berpikirnya Nona. Sekarang anda harus memutar otak bagaimana cara agar anda bisa lolos dari kejaran mereka,”
“Baiklah, aku akan pergi bersembunyi terlebih dahulu,”
Scarlesia melompat ke bawah, dia berlari seraya menembakkan busurnya untuk menghilangkan kabut yang menghalangi jalannya. Saat dia sedang mencari jalan untuk kabur dan bersembunyi, sekelompok orang berjubah hitam mengepungnya.
“Mau kemana lagi kau?”
“Lebih baik terima dengan baik kematianmu karena tidak akan ada jalan untukmu kabur,”
Scarlesia berada dalam posisi tersudut, ia panik bagaimana cara menghadapi enam orang penyihir selaligus sedangkan dia sendiri tidak memiliki sihir di dalam dirinya. Tapi dia tetap berusaha untuk berpikir lebih tenang karena jika dia berada di dalam kondisi panik maka akan membuatnya semakin berada dalam bahaya.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” pikirnya.
Scarlesia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Kala itu dia mengeluarkan pistol yang dia bawa untuk berjaga-jaga jika ada kondisi seperti ini.
“Sepertinya kalian disuruh untuk membunuhku oleh Zaneta dan permaisuri. Tapi apa mereka pernah mengatakan kalau aku tidak mudah mati begitu saja?” ucap Scarlesia menodongkan pistolnya.
“Mana mungkin wanita lemah sepertimu tidak mudah mati? Dengan satu ayunan sihir aku bisa….”
Dorrr dorr dorr
“Aku membenci pria yang banyak bicara jika kau mau membunuhku ya bunuh saja atau mau aku robek mulut kalian agar berhenti berbicara?” gertak Scarlesia menarik pelatuknya tiga kali dan membuat salah seorang dari mereka tumbang.
“Apa yang kau lakukan? Benda aneh apa itu?”
“Kalian tidak perlu tahu benda ini apa, yang jelas benda kecil ini bisa membuat orang mati hanya dalam beberapa tembakan saja. Ayo cepat maju atau kalian mulai takut denganku?”
Scarlesia memprovokasi mereka semua agar menyerangnya secara bersamaan.
__ADS_1
“Sial! Cepat kita bunuh wanita ini, beraninya dia meremehkan penyihir,”
Mereka maju bersamaan untuk menyerang Scarlesia pada serangan sihir pertama mereka Scarlesia berhasil menghindarinya.
“Ada celah! Oke sekarang aku kabur dulu,”
Celah yang tercipta diantara penyihir tersebut dimanfaatkan olehnya untuk kabur, Scarlesia berlari sekuat tenaganya agar bisa kabur lebih jauh lagi. Ketika dia berlari, seorang penyihir menyerangnya dan berhasil mengenai punggungnya hingga membuatnya terjatuh. Rasa sakit luar biasa dia rasakan di punggungnya namun dia memaksakan dirinya untuk berdiri dan berlari lagi. Tepat di depannya terdapat sebuah jurang, dia tidak bisa berlari kemana-mana lagi.
“Hahaha kau tidak bisa kabur kemana-mana karena di depanmu hanya ada jurang. Tidak mungkin kan kau akan melompat ke jurang itu,” ujar salah satu penyihir.
“Siapa bilang aku tidak berani melompat?” seringai Scarlesia.
“Apa?”
“Aku sudah bilang kalau aku tidak akan mati dengan mudah,”
Scarlesia akhirnya memilih untuk melompat ke jurang tersebut karena menurutnya ini lebih baik daripada harus mati di tangan para penyihir itu. Jika dia mati di tangan mereka maka Zaneta dan permaisuri lah yang mendapat keuntungan besar dari kematiannya.
Sementara itu di kamp perburuan, Natasha yang baru tiba bersama para bawahannya langsung mencari Eldrick untuk mengatakan hal yang sedang terjadi di dalam hutan.
“Duke, putri anda sedang dalam bahaya,” kata Natasha to the point.
Deg
Eldrick yang saat itu sedang bersama dua pelayan Scarlesia serta empat pria lainnya tersentak mendengar aduan dari Natasha.
“Apa maksud anda Yang Mulia? Kenapa putri saya bisa berada dalam bahaya?” tanya Eldrick seketika cemas.
“Di dalam hutan semua hewan tiba-tiba menggila karena sebuah kabut putih, tadi saya terjatuh dari kuda karena kuda saya mengamuk. Saat itu ada beruang yang hendak menyerang saya tapi putri anda menyelamatkan saya, tidak hanya sampai di situ saja setelah itu segerombolan beruang datang. Saya ingin membantunya tapi dia bilang aku harus kabur dari hutan sesegera mungkin dan dia tinggal di sana menghadapi semua beruang itu,” jelas Natasha.
“Kabut putih? Aku tahu, itu adalah kabut yang membuat yang membuat hewan-hewan kehilangan kendalinya,” sela Oliver.
“Tidak bisa, aku harus pergi menyelamatkan Sia jika tidak maka dia akan kesulitan,” ujar Zenon hendak melangkah pergi ke dalam hutan.
__ADS_1
“Jangan Zenon!” larang Eldrick. “Seseorang selain peserta perburuan dilarang masuk, jika kau masuk untuk membantu Sia itu sama saja dengan mengakui kekalahannya. Sia sudah mempersiapkan dengan baik hari ini tapi kalau kita mengganggunya dia tidak akan bisa lepas dari pertunangannya. Tolong percayalah dengan Sia dia pasti akan kembali dengan selamat,” lanjut Eldrick berusaha menekan dirinya agar tetap tenang.
“Tunggulah sebentar, yang ingin menyelamatkan Sia tidak hanya kau saja,” timpal Andreas menekuk wajahnya.
“Sial!” umpat Zenon.
Pada waktu yang sama di saat Scarlesia membuka matanya tubuhnya sudah mendarat di atas tanah. Dia memaksa dirinya bangun meski rasa sakit di sekujur badannya tidak tertahan lagi.
“Arrhh kaki kananku terkilir,” gumamnya meringis sakit.
“Cepat cari dia, kita harus memastikan apakan wanita itu sudah mati atau belum,”
Para penyihir itu belum menyerah ternyata, mereka masih mengejar Scarlesia bahkan sampai ke dalam jurang seperti ini.
Deg
Jantung Scarlesia tiba-tiba kembali berdegup kencang, lagi-lagi dia merasakan kekuatan besar menarik dirinya. Scarlesia melirik sebuah gua di depannya, dia berpikir bahwa kekuatan itu berasal dari gua tersebut. Dengan lekas Scarlesia bangkit lalu berjalan dengan langkah tertatih-tatih menuju gua yang dia maksudkan.
Di dalam gua terlihat kosong, tidak apapun dan siapapun di dalamnya selain bebatuan serta rintik air yang berjatuhan. Kemudian dia menopang tubuhnya dengan memegang dinding gua, sebuah tombol tersembunyi tanpa sengaja dia sentuh dan memunculkan pintu rahasia di balik gua.
“Ternyata ada pintu rahasia di sini,” batinnya.
“Bukannya dia terjatuh di sekitar sini? Kenapa tidak ada raganya?”
“Apa jangan-jangan wanita itu masih hidup?”
Suara para penyihir yang mengejarnya semakin mendekat, ia tidak punya pilihan lain selain masuk ke dalam pintu rahasia tersebut. Ketika dia sampai di dalamnya pintunya otomatis tertutup, di sana ia merasakan suhunya cukup dingin serta terdapat kolam dengan airnya yang berwarna biru bersinar.
“Apa itu peti kaca?” gumamnya tidak sengaja melihat sebuah peti kaca di sana.
Lalu dia mendekati peti tersebut, semakin dekat dengan petinya semakin besar kekuatan yang menariknya. Betapa terkejutnya Scarlesia kala dia melihat seorang pria berambut putih terbaring di dalam peti itu.
“Kenapa bisa ada orang di sini? Apa dia sudah mati?”
__ADS_1