
“Ternyata kau peka juga, pedangku ini sudah melahap banyak jiwa manusia. Jadi, kekuatannya juga lebih besar dari pedang biasa,” jelasnya dengan angkuh.
Scarlesia tertawa meremehkan Lin, dia tidak takut sama sekali dengan kecaman pedang miliknya.
“Baiklah, aku akan mengeluarkan juga pedang milikku,”
Scarlesia tidak mau kalah dan dia juga mengeluarkan pedang emasnya, Lin yang tidak bisa menunggu lebih lama langsung mengarahkan pedangnya pada Scarlesia. Pedang emas miliknya berhasil menahan pedang tersebut sebelum menyentuh kulit mulusnya. Pedang mereka berdua saling beradu, saling mendorong diri masing-masing, dan tidak ada yang mau menurunkan pedangnya lebih dulu.
“Kau cukup kuat juga ternyata,” ucap Scarlesia.
“Aku ini lebih kuat darimu asal kau tahu,”
Scarlesia menyunggingkan senyumnya sambil menambah kekuatannya.
“Oh ya? Kalau begitu aku akan lebih serius sekarang,”
“ARRHH!”
Lin tidak kuat menahan kekuatan Scarlesia yang kian meningkat hingga membuat ia terlempar ke belakang. Scarlesia menodongkan pedangnya tepat ke depan muka Lin yang sudah dipenuhi oleh keringat dingin.
“Aku lebih kuat darimu, seharusnya kau sadar akan kelemahan kau sendiri,” ujar Scarlesia.
“Haha HAHAHA! Aku tidak akan kalah semudah ini karena aku masih punya senjata lain,”
Lin meraih kembali pedangnya, dia berdiri dengan rasa penuh percaya diri. Pedang yang dipegangnya seketika berubah menjadi lebih besar, sosok pedangnya seperti seekor hiu yang mencari mangsanya yang mana mulut pedangnya memiliki gigi yang tajam.
“AKU AKAN MEMBERIKAN JIWAMU SEBAGAI MAKANAN PENUTUP PEDANGKU! HIYAAAA!!!”
Lin menerjang kembali Scarlesia, pedangnya elastis karena bisa berubah ukuran menjadi panjang atau pendek. Kemana pun Scarlesia pergi menghindar, akan diikuti oleh pedang itu karena pedangnya tergoda oleh aroma jiwanya Scarlesia.
“Sepertinya aku tidak bisa menghindar lagi,”
Scarlesia berhenti di tengah-tengah pelariannya, pedang itu masih melaju ke arahnya.
“KENAPA KAU BERHENTI? APA KAU MAU MENYERAHKAN DIRIMU UNTUK PEDANGKU INI?”
Scarlesia menyeringai, ia mengeluarkan pedangnya dan mengubahnya menjadi lebih besar. Ketika pedang milik Lin hampir memangsanya, pedang emasnya menebas pedang tersebut hingga terbelah menjadi beberapa bagian. Jiwa-jiwa yang terkurung di dalamnya berhamburan keluar, ada banyak jiwa mulai dari jiwa anak-anak hingga orang tua.
“Terima kasih Nona,”
Para jiwa yang sudah terbebas tersebut mengucapkan terima kasih kepada Scarlesia, mereka terbang menuju langit dan menghilang begitu mencapai puncaknya.
__ADS_1
“T-t-tidak mungkin. Tidak mungkin pedangku…. TIDAK MUNGKINN!!”
Lin histeris meratapi pedang yang selama ini dia jaga dan dia sayangi, kini sudah hancur lebur tak berbentuk.
“BERANINYA KAU MERUSAK PEDANGKU! AKAN BUAT KAU MENYESAL SEUMUR HIDUP!”
“Kau yang akan aku buat menyesal seumur hidup karena aku akan mengirimmu ke neraka,”
Scarlesia tiba-tiba sudah berada di belakang Lin, suaranya yang tajam membuat bulu kuduk Lin merinding. Saat ia ingin memutar kepalanya untuk melihat Scarlesia, pedang emas milik Scarlesia menebas kepalanya hingga putus. Lin mati dalam keadaan yang mengenaskan, Scarlesia bernapas lega dan menyimpan balik pedangnya.
“Akhirnya selesai, aku akan lihat apakah yang lainnya sudah berhasil mengalahkan monster-monster itu atau belum,”
Dari kejauhan, Scarlesia melihat bahwa Andreas, Zenon, Oliver, Louis, dan Elios sudah berhasil mengalahkan para eksekutif monsternya. Scarlesia menghampiri Zenon terlebih dahulu, Zenon sedang menginjak-injak monster yang menjadi lawannya tadi yang bernama Don.
“Zenon, jangan bunuh dia dulu! Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padanya,” cegah Scarlesia.
Zenon ingin membakar Don tapi karena Scarlesia mencegahnya jadi ia mengurungkan sejenak niat membunuhnya.
“Hei kau, katakan padaku. Dari mana kalian mendapatkan kekuatan kalian? Kenapa kekuatan kalian sangat mirip dengan kekuatan Andreas, Zenon, Oliver, Louis, dan juga Elios?” selidik Scarlesia.
Don kesulitan berbicara karena sekujur badannya babak belur dibuat oleh Zenon, meski begitu dia masih bisa menertawakan Scarlesia.
“Hahaha apa kau pikir aku akan menjawabnya? Aku tidak akan pernah menjawab pertanyaan konyolmu itu. Aku tidak akan memberitahumu soal dari mana kami mendapatkan kekuatannya,” jawabnya dengan suara serak.
Scarlesia memijit pelan pelipisnya, rasanya semakin banyak hal yang menjanggal di otaknya.
“Sia, bagaimana kau bisa tahu kekuatannya mirip dengan kekuatan kami?” tanya Zenon.
“Itu karena aku bisa merasakannya,”
“Sesungguhnya aku juga merasa aneh karena apinya benar-benar mirip dengan api milikku. Tapi, kekuatannya lebih lemah dan tidak sekuat kekuatanku,” ucap Zenon.
“Sepertinya memang ada yang aneh dari ini. Aku akan mencoba menyelidikinya nanti,”
Setelah itu, mereka berdua pergi menemui mereka yang sudah menyelesaikan tugasnya masing-masing. Mayat-mayat monster bergelimpangan di medan perang, Scarlesia langsung mengobati orang-orang yang terluka. Saat ini hanya tersisa pertarungan Xeon dengan raja monsternya yang mereka saksikan dari jarak jauh. Dalam satu pukulan penuh Xeon berhasil menumbangkan raja monsternya, suara sorak meriah mengguncang medan perang sesaat tubuh raja monster menyentuh tanah.
“WOOOOO APA INI ARTINYA KITA YANG MENANG?”
“KITA MENANG!!”
“AKHIRNYA KITA BISA TENANG,”
__ADS_1
Xeon melihat ke arah Scarlesia seraya tersenyum dan mengacungkan jempolnya menandakan bahwa dia berhasil mengalahkan raja monsternya.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi,” ujar Xeon.
Scarlesia tersenyum, dia menyuruh Xeon untuk segera mendekat ke arahnya.
“Lukamu tidak terlalu serius,” kata Scarlesia menyembuhkan lukanya Xeon.
Ketika mereka sedang asik berbincang-bincang ria, tanah tiba-tiba saja berguncang hebat.
“Ada apa ini?”
“Kenapa tanahnya tiba-tiba saja berguncang?”
“Apakah ini gempa bumi?”
Scarlesia memiliki firasat buruk tentang ini, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“HAHAHAHA!”
Scarlesia tersentak mendengar suara tawa yang sangat kencang, dia melihat ke arah sumber datangnya suara tertawa tersebut. Ternyata raja monster itu belum berhasil dikalahkan, dia bangkit lagi dari posisinya. Kebahagiaan yang tadi dirasakan sudah luntur dan mendatangkan rasa takut yang teramat sangat.
“KAU PIKIR KAU SUDAH MENGALAHKANKU? HAHAHA LUCU SEKALI. AKAN AKU TUNJUKKAN KEPADA KALIAN KEKUATANKU YANG SESUNGGUHNYA,”
Sebuah tongkat muncul di genggaman tangannya, tongkatnya besar dan mirip dengan tongkat yang digunakan oleh Zin si siluman ular kala itu.
“Jangan katakan tongkat itu….”
“Kenapa Sia? Apa ada yang salah? Ekspresimu terlihat sangat terkejut,” tanya Louis.
“Bagaimana cara aku menjelaskannya? Tongkat yang dipegang oleh raja monster itu adalah tongkat yang sama persis dengan punya Zin. Tongkat yang digunakan untuk mengurung jiwa-jiwa manusia yang tak bersalah,” jelas Scarlesia.
“Kira-kira apa lagi yang akan dilakukannya?” tanya Aldert.
“Entahlah, aku punya firasat buruk soal ini,”
Para ksatria dan penyihir merasakan ketakutan yang luar biasa, tubuh mereka semuanya bergetar. Tidak ada satu pun dari mereka yang sanggup membuka suaranya, hanya ada ekspresi tercengang dan ternganga di wajah mereka.
“KALIAN TENANGLAH! APA YANG KALIAN TAKUTKAN? BUKANNYA TADI AKU SUDAH BERJANJI PADA KALIAN KALAU AKU AKAN MEMBAWA KALIAN PADA KEMENANGAN? JANGAN KHAWATIRKAN RAJA MONSTERNYA! JANGAN BIARKAN DIRI KALIAN TENGGELAM KE DALAM KETAKUTAN!” seru Scarlesia dengan suara yang sudah serak serta napasnya yang sesak karena berteriak kencang.
Mendengar seruan Scarlesia, mereka kembali tenang dan mencoba menghilangkan satu persatu kekhawatirannya.
__ADS_1
“APA YANG KAU KATAKAN GADIS KECIL? KEMENANGAN? AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KALIAN MENANG. SEKARANG AKU AKAN MEMULAI PERTUNJUKAN YANG SEBENARNYA,”