Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Extra Chapter 1


__ADS_3

Brukkk!


Scarlesia baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya, tanpa sengaja ia terjatuh ke sisi kiri ranjangnya. Scarlesia meringis sakit sembari menyentuh pinggang, saat ini dia terjaga tanpa balutan busana di tubuh indahnya.


“Aduhhh pinggangku,” rintih Scarlesia.


“ASTAGA YANG MULIA!”


Liz dan Hana kebetulan masuk untuk membangunkan Scarlesia, mereka berdua terkejut mendapati Scarlesia tengah terduduk di atas lantai. Lekas mereka membantu Scarlesia untuk bangkit dan menutupi tubuh Scarlesia menggunakan selimut.


“Sialan! Pinggangku sakit sekali,” umpat Scarlesia.


“Wajar saja pinggang anda sakit Yang Mulia, anda selama tiga minggu ini tidak berhenti melayani para selir dan Yang Mulia Pangeran,” ucap Hana.


Semenjak perang berakhir, dia memiliki tiga minggu pertama untuk menyelesaikan segala kekacauan di Kekaisaran Evariste serta di Kekaisaran Roosevelt. Di dalam tiga minggu itu pula Scarlesia mengangkat para selir, lalu berdasarkan kesepakatan bersama maka diputuskan Xeon untuk menjadi pangerannya. Semenjak pengangkatan resmi itulah Scarlesia harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik untuk para suaminya.


“Apa Andreas sudah sejak tadi keluar dari kamar?” tanya Scarlesia seraya menyembuhkan pinggangnya yang sakit.


“Sudah Yang Mulia, beliau meminta kami untuk tidak membangunkan anda karena anda sudah bekerja keras selama tiga minggu ini,” jawab Liz.


“Ya ampun bekerja keras apanya? Mereka mengatakan kalau itu adalah hukuman untukku,” tutur Scarlesia. Dia berdiri di depan cermin riasnya, ia memperhatikan banyak tanda merah di leher dan tubuhnya.


“Tapi, anda puas kan Yang Mulia? Kira-kira siapa di antara mereka yang paling hebat bermain ranjang?”


Liz dan Hana sungguh penasaran akan hal itu, muka Scarlesia sesaat berubah merah karena pertanyaan yang dilontarkan oleh dua pelayan ini membuat ia tidak dapat berpikir jernih. Scarlesia merona malu jika dipaksa mengingat malam penuh gairah di tiga minggu terakhir.


“Bagaimana aku akan menjawabnya? Mereka semua bagus dalam melakukannya. Untung saja aku bukan manusia, jika aku manusia sepenuhnya maka aku akan mati dalam melayani mereka,” batin Scarlesia.


“Tidak ada! Kalian tidak perlu mengetahuinya,” dalih Scarlesia menyembunyikan rona wajahnya.

__ADS_1


“Yahh Yang Mulia, cepat beritahu kami, kami sangat penasaran tentang itu,” rengek mereka berdua ingin tahu.


“Kami juga ingin mengetahuinya, Yang Mulia!” sela Dinar dan Tia yang baru saja tiba.


Scarlesia dikerumuni oleh empat pelayannya, rasa penasaran yang terpancar dari wajah mereka memang tidak dapat disembunyikan. Mereka terus menerus mendesak Scarlesia untuk membuka suara.


“Bagaimana ya aku menjawabnya? Mereka semua….”


“Mereka semua hebat di atas ranjang bukan Yang Mulia?” potong Dinar, dia mengatakannya dengan antusias.


“Apa itu benar Yang Mulia?” tanya Tia memastikan.


“Haha ya seperti itulah kira-kira.”


Mereka terlalu bersemangat bercerita, bahkan Liz yang umurnya tidak lagi muda turut merasa semangat. Scarlesia kewalahan menanggapi satu persatu rasa penasaran dari mereka, walaupun ini cukup terasa menyenangkan bagi Scarlesia.


“Apa jadwalku hari ini?” tanya Scarlesia.


Scarlesia nyaris melupakannya, Roosevelt memiliki kaisar baru mulai hari ini dan yang menjadi kaisar adalah kakaknya sendiri, Carlen. Berdasarkan kesepakatan antar bangsawan, lalu suara dari rakyat juga maka Carlen terpilih menjadi kaisar selanjutnya, sebab keturunan kaisar sebelumnya tidak ada yang tersisa selain anak dari Selir Stella, hanya saja Selir Stella tidak mengizinkan sang anak untuk berkutat di dalam jabatan kaisar serta usia anaknya masih terlalu kecil untuk urusan itu.


Sedangkan Aldert, dia akan menggantikan posisi Carlen sebagai Duke Eginhardt, meski sebenarnya dia tidak mau terikat dengan posisi penting, namun dia harus melakukannya demi menjaga keturunan Eginhardt.


“Baiklah, siapkan gaun yang paling nyaman untukku.”


Setelah itu, para pelayan pribadi menyiapkan gaun hingga aksesoris untuk Scarlesia pakai hari ini. Kemudian, mereka membantu Scarlesia membersihkan badan dengan berendam di bath up selama beberapa menit. Usai mandi, badan Scarlesia terasa segar bahkan rasa lelahnya juga ikut luntur karena berendam di air hangat.


“Yang Mulia, rambut anda tidak kembali seperti warna biasa ya,” ujar Hana.


Scarlesia mengamati pantulan dirinya di depan cermin, memang benar adanya bahwa rambut emasnya tidak kembali menjadi warna silver. Sepasang pupil emasnya juga tidak balik menjadi warna matanya yang dulu.

__ADS_1


“Ini adalah warna rambut dan mataku yang asli, jadi wajar saja tidak balik lagi menjadi warna yang dulu,” jawab Scarlesia.


Braakkk


“SIA, APA KAU SUDAH SELESAI?”


Zenon tiba-tiba saja menerobos masuk ke dalam kamar Scarlesia, dia berteriak menanyakan apakah Scarlesia sudah selesai bersiap-siap atau belum. Zenon tercengang mendapati Scarlesia masih setengah telanjang dan belum mengenakan gaunnya


“KYAAAH! KELUAR KAU!”


Scarlesia berteriak, ia refleks melempar kepala Zenon menggunakan kotak bedak di atas mejanya. Zenon kesakitan akibat lemparan tersebut, ia bergegas keluar dan menutup rapat pintu kamar Scarlesia.


“Kenapa Sia mengusirku keluar? Apa dia malu? Bukannya aku sudah melihat seluruh tubuh indahnya itu? Jadi, untuk apa dia malu memperlihatkannya padaku?” gumam Zenon mengusap kepalanya yang bengkak gara-gara Scarlesia.


Selang hampir satu jam, Scarlesia pun akhirnya selesai berdandan, hari ini dia mengenakan gaun berwarna lilac dengan motif simpel di beberapa bagin gaunnya. Scarlesia berangkat bersama Zenon dan Louis karena yang lain tengah sibuk bersama pekerjaan lain. Mereka memakai portal sihir supaya tepat waktu tiba di Roosevelt.


Sesampai di Roosevelt, semua orang menyambut kedatangan Scarlesia sebab kala ini Scarlesia menjadi orang yang paling dihormati di dunia ini. Keberadaan Scarlesia dianggap paling penting setelah perang berakhir, dia kini merupakan tonggak utama dari jalannya alam semesta. Tidak seperti dulu, sekarang tidak ada satu orang pun yang berani merendahkan atau bersikap kurang ajar kepada Scarlesia. Bahkan pada saat berada di Istana Roosevelt, para bangsawan sudah lebih dulu menyiapkan tempat khusus untuk Scarlesia duduk.


Acara penobatan Carlen sebagai kaisar berlangsung tidak lama, Scarlesia sendiri tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Dia tidak pernah berpikir bahwa sang kakak akan menjadi seorang kaisar, untuk seseorang yang tidak tertarik pada jabatan tinggi tentunya akan aneh terlihat. Namun, Carlen menyanggupi permintaan para bangsawan untuk menjadi kaisar, setelah banyak hal yang mereka lalui bersama, Carlen sadar bahwa cara memerintah negeri ini perlu diubah.


“Sia, sepertinya aku akan menikah sebentar lagi.” Carlen mengatakannya secara tiba-tiba, Scarlesia nampaknya sangat terkejut atas pernyataan Carlen. Saat ini mereka berdua tengah berada di ruang kerja Carlen.


“Tunggu! Menikah? Sejak kapan kakak minat untuk menikah? Lalu siapa calonnya?” selidik Scarlesia, dia benar-benar terperanjak kaget saat ini.


“Natasha.”


“NATASHA? NATASHA CELOSIA?”


Carlen mengangguk, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, arah pandangnya ia arahkan pada yang lain karena terlalu malu baginya untuk jujur pada sang adik.

__ADS_1


“Sejak kapan kalian dekat? Kenapa aku tidak tahu sama sekali soal ini? Apa yang terjadi? Jadi, Natasha akan menjadi permaisuri? Cepat jelaskan padaku!”


__ADS_2