Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Pedang Killer Moon


__ADS_3

“Setelah dipikir-pikir ini semua terlihat aneh,” sela Carlen.


“Apa maksud kakak?” tanya Nieva berkeringat dingin.


“Apakah kalian berdua yang merencanakan semua ini? Apa kalian berniat membuat kami berdua salah paham lalu mengusir Sia keluar dari mansion?”


Carlen menuding Zaneta dan Nieva secara langsung yang merencanakan semua ini, Carlen memandang dingin mereka berdua. Tentu saja ini membuat Zaneta serta Nieva tersurut dan semua yang direncanakan hancur berantakan. Mereka yang penuh hasrat serakah kini terpojok oleh rencana mereka sendiri, ini adalah kemenangan telak Scarlesia untuk ke sekian kalinya.


“Apa maksudmu Carlen? Mana mungkin kami berniat melakukan hal buruk seperti itu pada Sia?” elak Zaneta.


“Ada apa ini? Kenapa Kak Carlen membela wanita itu? Dan juga Ayah sepertinya sangat mengkhawatirkannya. Sebenarnya apa yang sudah dilakukan wanita gila itu untuk mengambil hati mereka? Tidak! Tidak boleh berakhir begini, aku harus merebut semuanya kembali. Aku sudah bersusah payah mengambil tempatnya dan aku tidak akan membiarkannya merebutnya dariku!” batin Nieva frustasi.


“Ya sudah lah semuanya sudah berakhir, kakak jangan menuduh mereka seperti ini. Sekarang kan sudah malam, kakak dan Ayah harus istirahat karena aku tidak ingin kalian berdua sakit,” ucap Scarlesia memasang ekspresi penuh perhatian.


“Baiklah, kalau begitu Ayah akan kembali sekarang. Biar ksatria penjaga dan para pelayan yang membereskan semua kekacauan ini. Ayo kita kembali Carlen,” ujar Eldrick mengajak Carlen segera pergi.


“Ya Ayah, selamat malam Sia,”


Scarlesia melambaikan tangannya pada Carlen dan Eldrick yang melangkah pergi meninggalkan kamarnya, sedangkan Zaneta dan Nieva masih berdiri di dekat pintu.


“Kalau mau mengirim pria yang bisa meniduriku seharusnya kau kirim pria yang lebih tampan, menurutmu apa pria jelek seperti ini bisa disebut tampan? Ya ampun selera kalian berdua rendah sekali,” sindir Scarlesia sembari menyunggingkan senyumnya.


“Kau….”


“SIAAAAA!”


Tiba-tiba saja Zenon dan Andreas datang merusak suasana serius, mereka menerobos masuk dan tidak sadar mendorong Zaneta dan Nieva hingga tersungkur.


“Kenapa mereka berdua harus datang di saat seperti ini?” batin Scarlesia jengkel.


“Apa kau tidak apa-apa? Aku tadi mendengar sesuatu tengah terjadi di kamarmu jadi aku…”


“Ssstt semua sudah selesai,” potong Scarlesia menyentuh bibir Zenon dengan jemari telunjuknya agar Zenon berhenti berbicara.


“Sia, apa kau tidak apa-apa?” tanya Andreas memasang wajah memelas sembari menggenggam tangan Scarlesia.


“Iya, aku tidak apa-apa,” jawab Scarlesia melepaskan genggaman Andreas.


“Kenapa bertambah satu pria tampan lagi? Dan mereka tampaknya sangat dekat dengan wanita itu. Aku sangat kesal melihatnya,” gerutu Nieva.

__ADS_1


“Hei kalian berdua! Bisa lihat kan dua pria tampan yang berada di sampingku ini? Lain kali kalau mau menjebak aku lagi setidaknya kalian kirim pria seperti mereka. Hoho aku bahkan ragu apakah kalian bisa mendapatkan pria setampan ini di kekaisaran kita,” ledek Scarlesia tertawa dengan nada merendahkan.


“Sial! Aku kita pergi Nieva!”


Zaneta pergi dengan perasaan kesal, dia menarik paksa tangan Nieva sambil menghentak-hentakkan kakinya.


“Ibu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Nieva.


“Tidak ada pilihan lain lagi, kita harus memberitahu beliau sesegera mungkin. Ingat Nieva! Kau adalah calon permaisuri Kekaisaran Roosevelt, tidak ada yang perlu kau takutkan! Kalau kau sudah menjadi permaisuri kau bisa menghancurkan wanita itu tak bersisa,” kata Zaneta mencoba meyakinkan Nieva.


“Baiklah Ibu,”


Kembali ke kamarnya Scarlesia, kini Andreas dan Zenon bersikeras untuk menemani Scarlesia karena mereka takut akan terjadi sesuatu yang buruk lagi pada dirinya.


“Siapa mereka?” tanya Zenon.


“Mereka adalah parasit yang mengirim pria jelek ini ke kamarku,” jawab Scarlesia.


“Haruskah aku tebas saja kepala mereka?” kata Andreas kesal.


“Atau haruskah aku bakar mereka?” sambung Zenon.


Zenon kemudian mendekat ke arah mayat yang masih tergeletak di atas lantai.


“Woahh Sia kau menebas kepala pria ini dengan sangat bagus,” sanjung Zenon melihat pria yang tadi ditebas oleh Scarlesia.


“Itu bukan sesuatu yang patut kau puji,” balas Scarlesia. “Ya ampun aku lupa kalau pedang ini rencananya akan aku berikan pada Andreas, kenapa aku bodoh sekali? Bisa-bisanya aku memakainya duluan untuk menebas orang lain,” ujar Scarlesia yang baru tersadar soal pedang yang dipegangnya.


“Apakah pedang ini benar-benar untukku?” tanya Andreas.


“Iya, tapi aku akan memberikan yang lebih bagus untukmu nanti. Pedang ini sudah terkena noda darah,”


“Tidak masalah! Aku akan menerimanya dengan senang hati,” balas Andreas mengambil pedang itu dari tangan Scarlesia.


“Tapi kan…”


“Tidak apa-apa Sia, noda darah ini bisa dibersihkan,” kukuh Andreas senang mendapatkan pedang dari Scarlesia.


“Baiklah kalau begitu,”

__ADS_1


Zenon menatap intens pedang yang baru saja diberikan oleh Scarlesia pada Andreas.


“Bolehkan aku meminjam pedang itu sebentar?” tanya Zenon.


Andreas dengan lekas menyembunyikan pedangnya di balik punggungnya.


“Tidak boleh!” tolak Andreas.


“Sebentar saja, aku ingin memastikan sesuatu,”


Zenon terlihat serius, akhirnya Andreas memperbolehkannya untuk melihat pedang tersebut. Motif pedangnya yang tidak biasa serta permata sihir yang melekat di gagang pedangnya. Pedang tersebut memiliki warna yang gelap serta mengeluarkan aura yang aneh.


“Tidak salah lagi. Dari mana kau mendapatkan pedang ini Sia?”


“Beberapa hari yang lalu aku pergi ke gudang senjata lalu aku melihat pedang ini bersinar. Setelah aku tanya ke kakakku katanya pedang ini hasil rampasan dari perang beberapa tahun lalu dan dibiarkan tersimpan di dalam gudang senjata. Karena terlihat menarik jadi aku ambil untuk diberikan pada Andreas. Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan pedang ini?” papar Scarlesia heran.


“Pedang ini adalah Pedang Killer Moon. Pedang yang ditempa disaat gerhana bulan total, setahuku pedang ini sangat haus darah bahkan penempa pedang ini mati karena pedang buatannya sendiri. Tidak sembarang orang yang bisa memakai pedang ini karena saat manusia biasa menggunakannya maka energinya perlahan diserap lalu mati,” jelas Zenon serius.


“Sia, apakah kau tidak merasakan sesuatu yang aneh dari tubuhmu?” tanya Andreas tiba-tiba.


“Tidak, aku tidak merasakan apapun,” jawab Scarlesia.


“Aku heran, apakah kau benar-benar manusia biasa? Kalau kau manusia biasa seharusnya kau sudah pingsan setelah menggunakan pedangnya, tapi kenapa kau terlihat tidak terkena efek apapun?” Zenon bertanya-tanya karena heran.


“Entahlah aku juga tidak tahu,” balas Scarlesia mengangkat bahunya.


“Jadi, apa yang harus dilakukan selanjutnya pada pedang ini?” tanya Andreas pada Zenon.


“Kau teteskan darahmu pada pedang itu lalu buat kontrak dengannya agar dia mengakuimu sebagai masternya agar kau bisa mengendalikannya sepenuhnya,”


Andreas langsung melakukan yang dikatakan oleh Zenon, dia menggigit tangannya kemudian meneteskan darahnya ke pedang tersebut. Tiba-tiba saja saat darahnya mengalir di pedangnya suasana sekitar mereka berubah menjadi mencekam dan dipenuhi kabut hitam. Beberapa saat kemudian muncul seperti roh dari dalam pedangnya.


“Apa itu?” tanya Scarlesia.


“Itu adalah roh pedang,” jawab Zenon.


“Hohoho sudah lama sekali sejak terakhir aku keluar dari pedang ini, siapa yang berani memanggilku?” tanya roh tersebut.


“Sudah lama tidak bertemu roh jelek,”

__ADS_1


__ADS_2