Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Tumbuh Bersama


__ADS_3

“Sia, tanganmu kenapa?”


Sia tersentak begitu Oliver menanyakan soal bekas luka yang ada di tangannya, dia langsung menurunkan lengan bajunya dan menyembunyikan tangannya ke belakang.


“Tidak apa-apa, ini hanya bekas luka biasa,” jawabnya sambil tertawa kikuk.


Lalu seorang pelayan wanita masuk membawakan makanan untuk Sia, dia membawakan semangkuk sup, sepotong roti, serta segelas air. Oliver tiba-tiba melihat suatu keanehan dari sup yang dibawa oleh pelayan tersebut.


“Sup apa ini?” tanya Oliver memberi sorot pandang tajam pada pelayan itu.


“Ini adalah sup daging, apa ada yang salah?”


Bahkan pelayan tersebut berani berbicara dengan mengangkat dagunya di hadapan majikannya sendiri, nada bicaranya juga terkesan angkuh dan membuat Oliver marah karenanya.


“Bukankah kau hanya seorang pelayan? Berani-beraninya kau menaruh racun di dalam supnya!” bentak Oliver marah.


“Kau anak kecil, kenapa lancang sekali kau berbicara padaku? Kenapa kau ada di sini? Nona membawamu kemari ya? Memang ya Nona suka sekali membawa hal yang tidak berguna ke rumah,” ujar pelayan tersebut.


“Kurang ajar se…”


“Sudah Oliver, kau tidak perlu melawannya lagi,” cegah Sia menarik tangan Oliver.


“Tuh kan kau sudah dengar apa yang dikatakan oleh Nona? Kau….”


Byuurrr


Sia menyiram muka pelayan itu dengan sup yang berisi racun yang sejak awal memang ditujukan kepadanya.


“Nona, kenapa anda…”


“Katakan kepada Ibu dan Ayah, tidak perlu memberikan aku racun lagi. Aku akan mati dengan sendirinya nanti, jadi tidak usah khawatir tentang aku yang menjadi aib Keluarga Phartevid,” ucap Sia.


Pelayan itu kesal dan bergegas keluar dari kamar Sia sambil menghempaskan pintu kamarnya.


“Keluarga Phartevid? Jangan katakan kalau kau adalah….”


“Iya, benar. Aku adalah bagian dari Keluarga Phartevid yang terkenal dengan kemampuan sihirnya. Tepatnya aku adalah anak ketiga,” potong Sia menjelaskan.


Oliver tampak terkejut tapi ia langsung menyembunyikan ekspresi kagetnya.


“Sial! Ternyata gadis ini berasal dari keluarga yang sangat hebat,” batin Oliver.

__ADS_1


“Jadi, apa kau juga bisa menggunakan sihir?”


Sia menggeleng lemah.


“Tubuhku tidak punya sihir,” jawabnya.


“Yang benar saja kau tidak punya sihir? Orangtuamu kan terkenal sihirnya yang luar biasa,”


“Lalu kalau orangtuaku hebat menggunakan sihir, aku juga harus hebat begitu? Setiap anak itu kan berbeda, mungkin aku memang ditakdirkan tidak bisa menggunakan sihir,”


Oliver mengangguk mengerti, ketika itu dia masih kecil dan tidak banyak tahu mengenai sihir. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya dialami oleh Sia. Semenjak saat itulah Oliver menetap di kediaman keluarga Sia, dia menjadi teman bermainnya Sia dan teman ceritanya. Secara perlahan Oliver tahu bahwa Sia tidak pernah dipedulikan oleh keluarganya, hidupnya terombang ambing sendirian.


Terkadang Sia menemui Oliver dalam keadaan tubuh yang terluka, Oliver kerap menanyakannya namun dia tidak pernah menceritakan ke Oliver perihal masalah yang sebenarnya terjadi padanya. Hingga suatu waktu, Oliver tidak tahan lagi dan dia mengikuti Sia kemanapun secara diam-diam. Sia masuk ke dalam sebuah ruang kecil nan gelap, ia masuk dengan perasaan takut dan gemetar.


“Mau kemana Sia sebenarnya?”


Oliver terus mengikutinya diam-diam, tangga menuju ruang tersebut sangat licin dan terjal bila salah langkah maka nyawapun akan melayang.


“Ampun kak hikss, tolong jangan pukuli aku lagi,”


Suara Sia terdengar serak dan terisak, Oliver penasaran dan semakin masuk ke dalam untuk memastikan yang sedang terjadi. Oliver melihat dengan mata kepalanya sendiri kakak laki-lakinya Sia memukulinya menggunakan tongkat sihir.


“Kau adalah aib bagi keluarga ini, jadi mau kau mati sekali pun tidak akan ada yang peduli padamu,”


“Siapa anak itu?”


Oliver menghampiri Sia yang sedang berlutut memohon ampun, dia meraih tubuh Sia dan menyuruhnya untuk berdiri.


“Kenapa kau melakukan ini pada Sia? Dia adalah adikmu! Kenapa kau menyakitinya?”


“Hahaha kau bertanya padaku kenapa? Karena dia tidak pantas untuk hidup,”


Oliver geram dan marah seketika mendengar kakaknya Sia berkata hal demikian.


“Apa kau bilang? Kau mengatakan kalau Sia tidak pantas untuk hidup?”


Tanpa sadar, amarah Oliver mendorong dirinya untuk mengeluarkan kekuatan sihir yang selama ini tersimpan di dalam dirinya. Kekuatan yang sangat besar dan membuat seluruh tanah berguncang hebat, dia tidak tahan melihat Sia yang terus tersiksa.


“Anak ini dia punya sihir yang kuat,” batin Henry, kakaknya Sia.


“BERHENTI! JANGAN MEMBUAT KERIBUTAN DI SINI!” larang Raymond, Ayahnya Sia yang baru saja datang.

__ADS_1


“Ayah!”


“Henry, apa yang kau lakukan di sini? Keluarlah dari sini,” usir Raymond.


“Baik Ayah,”


“Anak kecil, siapa namamu?” tanya Raymond kepada Oliver.


“Oliver,” jawab Oliver seadanya.


“Apa-apaan Ayahnya Sia ini? Dia sama sekali tidak mempedulikan anaknya yang terluka,” pikir Oliver jengkel.


“Oliver ya? Aku lihat kau punya sihir yang luar biasa di dalam dirimu. Aku dengar kau dibawa masuk oleh anakku kemari jadi sekarang apa kau mau bergabung dengan keluargaku? Di sini aku akan mengajarimu soal sihir,” tawar Raymond.


Sia yang berdiri di belakang Oliver sangat gemetaran, dia sepertinya takut kepada Ayahnya sendiri.


“Jika aku setuju, apa aku bisa menjadi kuat?”


“Tentu saja bisa, bagaimana? Apa kau setuju?”


Oliver berpikir sejenak, ini adalah kesempatan yang langka untuknya agar semakin kuat.


“Baiklah, aku setuju,” ucap Oliver menyetujuinya.


“Bagus! Mulai besok datanglah ke tempat pelatihan sihir,”


Kemudian Raymond berlalu pergi meninggalkan mereka berdua, Sia masih saja gemetar tidak berhenti, Oliver langsung menggenggam erat kedua tangan Sia.


“Tidak perlu takut Sia. Ada aku di sini, aku akan membawamu pergi dari sini begitu aku sudah menjadi kuat. Bisakah kau bersabar sebentar?”


Sia menganggukkan kepalanya, Oliver tersenyum lalu mengelus kepala Sia dan memeluk tubuh kecilnya. Sejak hari itulah Oliver memulai pelatihan sihirnya, dia belajar dengan cepat bahkan hanya dalam waktu 2 bulan saja dia sudah mampu menguasai berbagai sihir. Hingga 10 tahun kemudian, mereka berdua sama-sama tumbuh menjadi pria yang tampan serta wanita yang sangat cantik. Nama Oliver juga semakin terkenal, di Kerajaan Midland, ia dikenal sebagai penyihir muda yang memiliki bakat luar biasa.


Seiring berjalannya waktu selama 10 tahun, perasaan cinta tumbuh antara Oliver dan Sia. Mereka resmi memulai hubungan mereka sebagai sepasang kekasih, Oliver yang begitu mencintai Sia dan selalu melindunginya saat Sia disakiti oleh keluarganya. Namun, dari sini lah kejanggalan mulai terjadi, Sia yang biasanya sangat sehat tiba-tiba jatuh sakit dan terbaring lemah di tempat tidur.


“Aku tidak apa-apa Oliver. Kau hari ini punya pekerjaan penting kan? Aku bisa jaga diri baik-baik kok,” ujar Sia.


“Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian, bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu?” Oliver memegang hangat tangan kekasihnya.


“Kau terlalu berlebihan, aku sudah bilang tidak apa-apa. Sana kamu pergi kerja,”


Dengan langkah kaki yang berat, Oliver akhirnya pergi bekerja dan meninggalkan Sia yang terbaring sakit di atas ranjang. Muka Sia pucat pasi, tubuhnya juga menggigil karena kedinginan hebat.

__ADS_1


“Aku harap aku masih bisa bertahan sampai Oliver kembali,”


__ADS_2