Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Hal Mencurigakan Di Istana


__ADS_3

“Yang Mulia, jika suami saya berkata demikian maka anda memang harus menjadi putri mahkota. Terima kasih karena sudah menyelamatkan hidup saya, mungkin rasa terima kasih saya tidak cukup untuk membalas segala kebaikan anda tapi jika anda memerlukan bantuan saya katakan saja Yang Mulia. Kami keluarga Marchioness Zivana akan membantu anda semaksimalnya,” tutur Agnes.


“Marchioness Zivana? Bukankah itu nama keluarga bangsawan yang terkenal dengan ksatria berpedangnya sejak zaman dahulu? Bahkan sangat dihormati oleh kekaisara,”


“Benar, itu kami Yang Mulia,”


Scarlesia tidak percaya akan bertemu dengan orang kuat selain Duchess Freya dan Marchioness Liana. Di Evariste ini banyak bangsawan yang mendukungnya untuk menjadi Kaisar Evariste selanjutnya, dia semakin merasa bahwa ia harus menjadi putri mahkota apa pun yang terjadi nantinya.


“Baiklah, saya serahkan semuanya kepada anda berdua,”


Setelah itu Scarlesia keluar dari istana Victor dan Agnes karena dia tidak mau mengganggu reuni keluarga bahagia mereka.


“Nah haruskah sekarang aku temui kaisar lagi? Aku harus menjelaskan situasinya terlebih dahulu pada beliau,”


Scarlesia yang awalnya ingin langsung pergi ke kamar, memutar langkahnya menuju ruangan kaisar.


“Apa ada hal lain lagi yang kau temui?” tanya Edward.


“Iya ada, istri Pangeran Victor ternyata juga ada yang mencelakainya. Yang Mulia, tolong katakan pada saya semuanya mengenai keanehan yang terjadi di istana,” tegas Scarlesia.


“Jadi Agnes juga kena? Baiklah, aku akan mengatakan semua keanehan yang terjadi di istana padamu. Pertama masalah Ibuku dan masalah Agnes sudah kau ketahui, lalu sekarang masalah permaisuri. Bisakah kau ikut aku untuk menemui permaisuri secara langsung?”


“Permaisuri? Aku memang tidak pernah melihat permaisuri sejak aku masuk ke istana,” batin Scarlesia.


“Baiklah Yang Mulia,”


Scarlesia dibawa oleh Edward ke dalam kamarnya, di sana dia melihat permaisuri tengah duduk santai membaca buku sembari menghadap balkon. Surai hitamnya yang bergelombang diterbangkan oleh angin, aura keindahan serta kelembutan pada diri permaisuri bisa dilihat secara nyata oleh Scarlesia.


Namun, di sinilah keanehannya terlihat. Meskipun terdengar suara daun pintu yang terbuka, permaisuri merasa tidak terganggu sama sekali dan masih tetap fokus pada buku yang dibacanya. Lalu Edward mendekatinya, ia berbicara pada permaisuri menggunakan bahasa isyarat dan baru setelah itu permaisuri menyadari kedatangan Scarlesia. Dia tersenyum pada Scarlesia, kemudian memeluk dirinya sangat erat tanpa mengatakan apa-apa.


“Sia, permaisuri senang melihatmu karena beliau dulu adalah teman dekat Ibumu. Permaisuri sangat terpukul ketika tahu Bela menghilang, tapi sekarang dia mengetahui bahwa Bela sudah tidak ada dan dia juga senang saat tahu bahwa Bela sudah memiliki anak,” terang Edward.

__ADS_1


“Tapi, apa yang terjadi dengan permaisuri? Apakah beliau tidak bisa mendengar dan berbicara?”


Edward menghembuskan napas kasar, sekilas ia tampak sangat sedih tapi terpaksa dia harus menceritakan segalanya kepada Scarlesia tanpa menutupi apa-apa.


“Benar, kejadian ini 4 tahun lalu saat permaisuri keguguran. Permaisuri pada saat itu dikabarkan mengandung anak perempuan, ini membuat gempar satu kekaisaran. Rakyat menganggap bahwa kepemimpinan perempuan akan kembali lagi jika anak ini lahir tapi ketika kandungannya genap berusia 5 bulan tiba-tiba saja permaisuri mengalami keguguran. Karena insiden tersebut permaisuri tidak bisa lagi berbicara dan pendengarannya juga tidak berfungsi,” jelas Edward.


“Benar dugaanku. Ada yang aneh di sini,” pikir Scarlesia.


Scarlesia melepaskan permaisuri dari pelukannya, lalu ia menatap permaisuri sambil menggenggam kedua bahunya.


“Permaisuri, tenang saja! Saya akan segera menyembuhkan anda,”


Permaisuri bingung, dia tidak tahu apa yang sedang diucapkan oleh Scarlesia padanya. Tapi, Scarlesia tidak peduli dengan raut bingungnya dan langsung menariknya untuk duduk di atas kursi. Kemudian Scarlesia menutup kedua telinga permaisuri dengan tangannya, cahaya kekuatannya menembus masuk ke dalam telinga serta seluruh tubuh permaisuri.


“Yang Mulia, apakah sekarang anda bisa mendengarkan suara saya?”


Suara lembut Scarlesia mencapai pendengaran permaisuri, dia terkejut karena sekarang dia bisa mendengarnya. Kedua mata permaisuri berkaca-kaca sambil menganggukkan kepalanya.


Permaisuri melakukan sesuai yang diperintahkan Scarlesia, ia membuka mulutnya dan perlahan menggerakkan lidahnya untuk berbicara.


“A-a-aku… AKU BISA BERBICARA! SUNGGUH!”


Permaisuri secara spontan melompat kegirangan seraya memeluk Edward erat, Edward juga tidak percaya atas keajaiban yang berpihak pada permaisuri setelah 4 tahun dia menunggu istrinya untuk berbicara padanya.


“Jessie! Akhirnya aku bisa mendengarmu berbicara lagi. Terima kasih ya dewa, terima kasih,”


Jessie adalah nama permaisuri, ia sangat bahagia bisa berbicara dan mendengar seperti dulunya lagi. Jessie melihat Scarlesia dengan mata penuh rasa syukur, ia pun menggenggam kedua tangan Scarlesia dan mengeluas pipinya


“Terima kasih, sungguh terima kasih. Aku tidak tahu harus berterima kasih bagaimana lagi, aku tidak percaya aku bisa mendengar dan berbicara seperti ini lagi,”


“Sama-sama Yang Mulia, saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan,”

__ADS_1


“Nama?”


“Ya?”


“Siapa namamu?”


“Scarlesia Yang Mulia,”


“Scarlesia ya? Nama yang sangat cantik. Sepertinya Bela begitu menyayangimu,” ucap permaisuri.


“Ya Yang Mulia, saya rasa juga begitu,”


“Sekarang bisakah kita berbicara serius Sia? Nampaknya masalah ini bukanlah masalah sederhana,” potong Edward.


“Baik, mari kita berbicara mengenai apa yang saya ketahui,”


Lalu Edward menyuruh Jessie untuk beristirahat sedangkan Scarlesia disuruh untuk ikut ke dalam ruangannya. Kini ruangan Edward dijaga ketat oleh ksatria penjaga, mereka diperintahkan untuk tidak membiarkan seorang pun masuk ke dalam ruangan tersebut sebelum ia selesai berbincang dengan Scarlesia.


“Yang Mulia, ada seseorang yang berusaha menjatuhkan kekaisaran ini. Bukan menjatuhkan, lebih tepatnya dia ingin menguasai Evariste. Mulai dari masalah nenek hingga permaisuri, itu semua terjadi secara disengaja. Yang Mulia Agnes umurnya masih muda dan memungkinkannya untuk memiliki anak lagi, permaisuri keguguran ketika mengandung anak perempuan, jika dihubungkan maka dalangnya ini tidak menginginkan lahirnya anak perempuan dan mencegah sekuat tenaga agar tidak ada anak perempuan yang lahir untuk mengambil alih tahta,” tutur Scarlesia menghubungkan semua masalah ini menjadi satu.


“Pangeran Rashid hanya dia yang memiliki anak perempuan yaitu Abigail yang menjadi sainganmu nanti. Aku berfirasat bahwa dia lah dalang dari semua ini tapi aku tidak punya bukti lainnya untuk menjebloskannya ke penjara,” ujar Edward.


“Dengan begitu, sudah jelas siapa yang patut dicurigai. Serahkan masalah ini kepada saya Yang Mulia, saya pastikan saya akan mendapatkan seluruh buktinya sebelum saya naik tahta sebagai kaisar,”


Sementara itu kini di kamar Abigail, dia tengah mengamuk karena mendengar Scarlesia yang datang dari Evariste dan mendapat dukungan langsung dari para rakyat, kaisar, hingga neneknya untuk naik ke tahta kaisar selanjutnya. Gadis berambut biru gelap dengan pupil mata hijau tua itu melempar semua barang-barangnya.


“SIALAN! BAGAIMANA BISA WANITA ITU MENGGAGALKAN SEMUA IMPIANKU UNTUK MENJADI KAISAR?!” teriaknya marah.


“Sudahlah, tenang saja karena bagaimana pun aku akan membantumu untuk naik ke tahta kaisar. Kita akan melenyapkan gadis itu pada saat ujian berlangsung,” kata Rashid, ayah dari Abigail.


“Bisakah Ayah melakukannya? Kalau begitu lenyapkan gadis itu tanpa sisa, jadi aku bisa menjadi kaisar dan membuat Evariste berada di dalam genggamanku sepenuhnya,”

__ADS_1


__ADS_2