Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Tiba Di Kekaisaran Evariste


__ADS_3

Akhirnya tiba lah hari dimana Scarlesia akan berangkat ke Kekaisaran Evariste, Eldrick serta Carlen dan Aldert juga ikut karena kaisar terdahulu alias Ibunya Anabela ingin bertemu dengan mereka. Mereka berangkat menggunakan portal sihir yang menuju perbatasan daerah Evariste, dari perbatasan ini lah mereka dijemput oleh kereta kuda dari istana kekaisaran.


Seluruh rakyat Kekaisaran Evariste sangat antusias menunggu datangnya hari ini, mereka penasaran dengan sosok Scarlesia yang merupakan pemimpin mereka selanjutnya.


“Aku penasaran dengan putri mahkota,”


“Katanya beliau sangat cantik seperti seorang dewi,”


“Aku dengar beliau juga sangat kuat, ketika perang melawan monster pun beliau adalah orang yang paling berperan besar membawa kemenangan untuk seluruh kekaisaran,”


“Tidak hanya itu, beliau membawa beberapa orang pria tampan dan kuat bersamanya. Bukannya hidup beliau terlalu sempurna? Aahh aku jadi semakin ingin bertemu dengan beliau,”


“Aku juga, selain itu beliau juga sangat ramah terhadap rakyat biasa dan memandang rata seluruh bangsawan serta rakyat biasa,”


Pandangan-pandangan positif mengenai Scarlesia tersebar luas di kalangan seluruh rakyat kekaisaran. Tidak ada diantara mereka yang berbicara buruk mengenai calon pemimpin mereka di masa mendatang. Mereka menyambut ramah dan menanti-nanti kedatangan Scarlesia sejak awal diumumkan mengenai putri mahkota yang merupakan anak kaisar ke 57 Evariste.


Kini di sepanjang jalan menuju istana, seluruh rakyat berbaris di pinggir jalan menyambut Scarlesia.


“Wah mereka sangat antusias,” ucap Scarlesia.


“Iya, mereka sangat menantikanmu. Sekarang bukalah jendela lalu melambai lah pada mereka,” ujar Edward.


Scarlesia menurutinya, dia membuka jendela kereta lalu melambai-lambaikan tangannya kepada rakyat kekaisaran sambil tersenyum ramah.


“I-itu beliau!”


“KYAAAA YANG MULIA! ANDA SANGAT CANTIK,”


“YANG MULIA TOLONG LAMBAIKAN TANGAN ANDA PADA KAMI,”


“YANG MULIA, MOHON KUNJUNGI KAMI SETELAH INI,”


Scarlesia merasa aneh karena menurutnya sikap rakyat Kekaisaran Evariste berbanding terbalik dengan Kekaisaran Roosevelt sehingga ia tidak terbiasa menikmati pemandangan ini. Mereka menyambut Scarlesia dengan tulus tanpa ada yang berpura-pura bahkan anak kecil pun juga antusias menunggu Scarlesia datang.


“Mereka kenapa terlihat senang sekali?”


“Tentu saja, ini pertama kalinya sejak lebih dari 20 tahun lalu mereka melihat kaisar wanita akan memerintah kembali,” jawab Edward.


“Hmm ternyata begitu ya tapi aku tidak terbiasa dengan suasana seperti ini,”


“Tidak apa-apa, nanti akan terbiasa sendiri,”


Setibanya di depan istana kekaisaran, para penghuni istana seluruhnya keluar menyambut kedatangan Scarlesia. Tidak ada satu pun yang terlewatkan, bahkan di sana juga ada Jimmy bersama Ayahnya, Victor Evariste.


“KAKAK!” Jimmy refleks menghambur ke pelukan Scarlesia, di sebelahnya ada Archie yang cemburu melihat anak laki-laki selain dirinya memanggil Scarlesia ‘kakak’.

__ADS_1


“Hei kau siapa? Lepaskan! Ini kakakku bukan kakakmu,” sinis Archie.


“Tidak! Sia adalah kakakku,” kukuh Jimmy.


“Huh? Dasar kau anak kecil. Jangan pernah mencoba merebut kakak dariku,” tekan Archie.


“Aku tidak peduli. Wleee,” ledek Jimmy.


“Hentikan kalian berdua! Jangan bertengkar lagi,” tegur Scarlesia membuat mereka terdiam sesaat.


Kemudian Victor menarik Jimmy yang sedang berada di pelukannya.


“Jangan bersikap seperti itu kepada Yang Mulia, beliau adalah putri mahkota. Jaga sikapmu,” ujar Victor memarahi Jimmy.


“Tidak apa-apa, tidak perlu memarahinya. Jimmy boleh memanggil ‘kakak’ seperti biasa,” ucap Scarlesia.


Jimmy yang awalnya cemberut karena dimarahi, kini ia kembali sumringah sedangkan Archie masih merasa cemburu.


“Cih dasar bocah,” decak Archie kesal.


Lalu Edward mengajak Scarlesia untuk masuk ke istana, pertama Edward mengajak Scarlesia, Eldrick, dan Aldert untuk menemui kaisar terdahulu yang terbaring sakit. Saat Scarlesia menginjakkan kakinya di dalam sebuah kamar, ia terkejut ternyata yang dimaksudkan kaisar terdahulu adalah wanita tua yang beberapa waktu lalu ia temui di istana dan memanggilnya dengan sebutan ‘Anabela’.


“Beliau adalah Qirani Evariste. Kaisar ke 56 yang menjabat sebelum Anabela, beliau adalah nenek kalian,” kata Edward memperkenalkan wanita yang bernama Qirani tersebut.


Setelah itu Edward mencoba membangunkan Qirani agar membuka matanya untuk melihat Scarlesia.


Qirani membuka matanya secara perlahan, ia menemukan Eldrick Carlen, Aldert, serta Scarlesia di depan matanya.


“B-bela….” lirihnya.


“Ibu, dia bukan Bela tapi anaknya Bela. Lihatlah Ibu mereka bertiga adalah cucu Ibu,”


Qirani tidak bisa membuka matanya sepenuhnya, tubuhnya gemetar, serta penglihatannya juga kabur. Scarlesia bisa merasakan bahwa Qirani sungguh berada di ambang kondisi tubuh yang tidak baik.


“Yang Mulia, bisakah saya memeriksa tubuh beliau terlebih dahulu? Anda pasti tahu saya memiliki kekuatan penyembuhan. Tolong izinkan saya memeriksanya,” Scarlesia buka suara menawarkan dirinya untuk memeriksa tubuh Qirani.


“Baiklah, kalau begitu mohon bantuannya,”


Scarlesia duduk di sisi kiri ranjang, dia menyentuh tangan Qirani. Raut wajah Scarlesia terlihat tidak bagus sama sekali, aliran darah serta detak jantung Qirani terdengar tidak normal.


“Yang Mulia, apakah nenek memiliki penyakit serius?” tanya Scarlesia.


“Ibu sering mengeluh sakit kepala dulunya, lalu aku memanggil dokter terbaik di Kekaisaran Evariste dan dia mengatakan bahwa Ibu memiliki penyakit yang susah disembuhkan. Jadi, semenjak saat itu Ibu semakin memburuk keadaannya,” jelas Edward.


“Bisakah anda perlihatkan kepada saya obat yang biasanya dikonsumsi oleh nenek?”

__ADS_1


Tanpa berlama-lama, Edward menyuruh seorang pelayan untuk memberikan obatnya kepada Scarlesia.


“Tidak salah lagi, ini adalah racun dan bukan pil biasa,” pikir Scarlesia.


“Sia, apakah ada yang salah?” tanya Carlen.


“Iya, ada yang salah di sini. Tolong panggilkan dokter yang biasa mengobati nenek,” pinta Scarlesia.


“Baiklah, tolong kau panggilkan Dokter Efrem kemari,” perintah Edward kepada pelayannya.


“Baik Yang Mulia,”


Selang beberapa menit kemudian, seorang pria paruh baya datang menghadap Edward dengan wajah tidak bersalah.


“Salam kepada Yang Mulia Kaisar,” ucapnya memberi salam.


“Ehemm,” dehem Scarlesia. “Apakah kau yang memberikan obat ini kepada Yang Mulia?” selidik Scarlesia.


“Benar, itu saya yang memberikannya. Apakah ada yang salah?” jawabnya angkuh.


“KURANG AJAR! KAU BERNIAT MEMBUNUH YANG MULIA? APANYA DOKTER TERBAIK? SAMPAH!” bentak Scarlesia melemparkan obat tersebut ke muka Efrem.


“Apa ada yang salah? Saya hanya mengobati penyakit yang diderita oleh Yang Mulia,” dalihnya.


“Kau pikir aku bodoh? Obat ini sudah kau campur dengan racun yang bisa memperparah penyakit Yang Mulia. Sebenarnya Yang Mulia tidak mengidap penyakit apa-apa tapi karena beliau mengonsumsi racun ini dalam jangan waktu yang lama sehingga membuat tubuhnya melemah, ingatannya dan penglihatannya juga berkurang, detak jantungnya tidak normal, jika lebih lama lagi Yang Mulia mengonsumsi racunnya maka dia akan kehilangan ingatannya serta mempercepat waktu kematiannya,”


Pernyataan Scarlesia membuatnya tersentak kaget, tidak hanya Efrem sang dokter tapi Edward, Eldrick, Carlen, Aldert, serta beberapa orang pelayan.


“R-racun? S-saya tidak mungkin melakukan itu,” sekali lagi dia mengelak dan mencari pembelaan.


“Sia, apakah itu benar?” tanya Edward memastikan.


“Benar Yang Mulia, saya tidak akan pernah berbohong mengenai masalah kesehatan orang lain,”


Edward naik darah, dia sangat marah setelah mengetahui kebenarannya dari Scarlesia bahwasanya sang Ibu diracuni oleh dokter yang dipercayainya.


“Saya mohon ampun Yang Mulia! Saya mengaku salah, tolong ampuni saya. S-saya….”


“KSATRIA PENJAGA! BAWA DOKTER EFREM KE SEL TAHANAN SEKARANG JUGA!” perintah Edward.


“T-tidak Yang Mulia! Yang Mulia tolong maafkan saya,”


Efrem diseret keluar oleh para ksatria penjaga, Edward tampak pusing karena masalah yang selama ini tidak pernah dia ketahui.


“Tenang saja Yang Mulia, saya akan segera menyembuhkan nenek,”

__ADS_1


Scarlesia segera duduk kembali di sisi ranjang Qirani, ia mengeluarkan kekuatan penyembuhannya untuk mengangkat semua racun yang menggerogoti tubuhnya, tidak butuh waktu lama akhirnya Qirani mulai menunjukkan tanda-tanda akan sadarkan diri. Racun di tubuhnya secara perlahan menghilang dan tubuhnya yang pucat mulai memerah.


“Uuhh… Edward….”


__ADS_2