Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Serangan Pembalasan


__ADS_3

Scarlesia menyelesaikan segalanya lebih cepat, dia sukses mengembalikan nyawa orang yang telah melayang pergi. Detak jantung mereka terdengar lagi, deruan napas mereka juga mulai normal, begitu mereka hidup lagi lalu sadarkan diri maka gelembung dari kekuatan Scarlesia tadi akan terpecah. Scarlesia berbalik untuk mengelarkan urusannya bersama Leroux, dia tidak mempunyai waktu lebih banyak lagi.


Beberapa gelembung terdengar pecah, Scarlesia refleks memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang telah sadar. Rupanya Xeon sudah terjaga, begitu pula dengan Andreas, Zenon, Oliver, Louis, serta Elios. Mereka terkesima sejenak menyaksikan penampilan Scarlesia yang sangat berbeda dari biasanya. Mereka memperhatikan Scarlesia dari ujung rambut hingga ujung kaki, siapa sangka dia akan terlihat dua kali lebih cantik dari biasanya.


“Sia, itukah kau?” tanya Elios tertegun.


Scarlesia membalasnya dengan senyuman manis miliknya, tiada hal lebih cantik dari Scarlesia kala itu. Xeon langsung menghambur ke pelukan Scarlesia, seluruh kerinduan Xeon mengalir bebas keluar dari pelukannya. Scarlesia mengusap-usap punggung Xeon, dia sudah mengingat semuanya tentang Xeon. Bagaimana ia mengenalnya sampai ia mencintai pria ini, pria pertama yang dia cintai di dalam hidupnya adalah Xeon sendiri.


“Akhirnya kau kembali,” ucap Xeon.


“Ya, aku kembali. Aku datang tepat waktu sehingga aku bisa menghidupkan semua orang, tidak sama seperti sebelumnya, kini aku memiliki kekuatan maha dahsyat di diriku,” jawab Scarlesia.


Lalu Xeon melepas pelukannya, dia menatap lekat-lekat wajah Scarlesia.


“Apa kau sudah mengingat semua masa lalu kita?” tanya Xeon.


“Aku mengingatnya, aku akan memberitahumu lebih lanjutnya nanti. Sekarang ada hal yang lebih penting untuk aku selesaikan lebih dulu,” kata Scarlesia.


Scarlesia memutar lagi badannya, dia akan menyelesaikan segala sesuatu yang telah terjadi disebabkan oleh Leroux sebelumnya di masa lalu hingga masa sekarang. Namun, ketika ia hendak pergi, mendadak saja Oliver mendekapnya dari belakang.


“Jangan lupakan, kau harus hidup sampai akhir peperangan ini,” ujar Oliver.


“Baiklah, aku janji aku akan mengalahkan dewa kegelapan dan kita akan pulang ke istana bersama-sama,” balas Scarlesia.


Kemudian Scarlesia melangkah ke tengah medan perang, di sana sudah ada Leroux yang menunggunya sedari tadi. Scarlesia menghentak tongkatnya ke samping, seketika pada saat bersamaan sayap emasnya muncul dari belakang punggungnya. Gaun pendeknya juga turut berubah, gaun bagian belakangnya menjadi panjang hingga menyapu jalanan. Rambutnya tetap terurai sempurna diserta mahkota di puncak kepalanya.


Semerbak aroma tubuh Scarlesia yang begitu harum menyeruak ke setiap sudut arena perang, ekspresi marah yang diperlihatkannya terlihat sangat menakutkan.


“Diam kalian baik-baik di sana, jangan sampai kalian ikut terseret di dalam pertarunganku melawan pria sialan ini,” perintah Scarlesia.


Raut muka Scarlesia terlampau serius, mereka hanya bisa menelan saliva memperhatikan Scarlesia semakin menjauh dari jangkauan mereka langsung. Sebelum Scarlesia bergerak lebih jauh, terlebih dahulu ia memasang perlindungan kuat untuk orang-orang yang masih belum sadarkan diri agar tidak terkena efek dari serangannya nanti.

__ADS_1


Leroux tampak telah menanti Scarlesia, dia menyeringai ke arah Scarlesia datang. Dia menikmati ekspresi marah Scarlesia, sungguh dia ingin membunuh Scarlesia saat ini juga.


“Apa urusanmu sudah selesai? Aku bisa menunggumu lebih lama lagi. Jadi, lebih baik kau puaskan berbincang dengan para kekasihmu itu karena kau tidak akan aku biarkan hidup lebih lama lagi,” ujar Leroux angkuh.


“Hah? Apa aku tidak salah dengar? Yang seharusnya mati di pertarungan ini adalah kau dan bukannya aku. Tampaknya kau terlalu banyak bermimpi sampai-sampai kau sangat percaya diri bahwa kau yang akan memenangkan pertempuran ini,” ucap Scarlesia dengan nada bicara tak kalah sombong.


“Gadis kecil sepertimu akan menang melawanku? Hahaha tidak peduli seberapa besarnya usaha Eberly membuatmu lebih kuat, tapi itu tidak akan berguna karena aku yang akan menghabisimu dengan tanganku lebih dulu,” balas Leroux mulai jengkel, ia membentuk sebuah pedang dari aura kegelapan miliknya.


“Baiklah, akan aku tunjukkan padamu bagaimana rasanya kalah lagi olehku. Aku harap kau tidak akan malu setelah ini.”


Leroux dan Sia terbang ke angkasa, mereka berdua memutuskan untuk bertempur di atas awang-awang untuk meminimalisir kerusakan lebih lanjut di area perang. Scarlesia juga mengubah tongkat emasnya menjadi pedang. Scarlesia langsung menyerang Leroux dengan gerakan sangat cepat, nyaris saja Leroux terkecoh oleh pergerakan Scarlesia.


Klang!


Pedang mereka beradu di udara lepas, serangan bertubi-tubi Scarlesia dari segala arah membuat Leroux hampir kewalahan mengikuti gerak tangan super cepatnya. Scarlesia tidak memberikan celah bagi Leroux untuk bergerak lebih bebas serta untuk membalas serangan dari Scarlesia.


“Sialan! Gadis ini tiba-tiba lebih kuat daripada dulunya,” batin Leroux menggerutu kesal.


“Bagaimana? Kenapa kau malah mundur? Apa kau takut dengan kekuatanku?”


Scarlesia menyunggingkan senyumannya, alasan dia muncur bukan itu sebenarnya. Scarlesia menyiapkan ancang-ancang baru untuk serangan berikut yang akan ia luncurkan.


“Kalau begitu sekarang aku akan menunjukkan padamu kehebatan ped….”


“Lihat ke mana kau?”


Saat Leroux mengedipkan matanya, Scarlesia sudah berada tepat di belakangnya, belum sempat dia berbalik untuk menoleh ke arah Scarlesia ternyata sebuah pedang telah menikam punggungnya.


Jlebb!


Scarlesia menekan pedangnya hingga membuat jantung Leroux terluka akibat serangan dari pedang itu.

__ADS_1


“Sialan kau!” umpat Leroux.


Scarlesia menyeringai, dia menendang Leroux ke atas permukaan atas. Leroux terhempas cukup kuat dan cukup jauh dari posisi Scarlesia melayang saat ini.


“Aku hanya membalas apa yang sudah kau lakukan kepada para kekasihku sebelumnya, menghunuskan pedang dari arah belakang adalah tindakan seorang pengecut! Dan aku hanya menirukan apa yang sebelumnya kau lakukan,” ujar Scarlesia berapi-api.


Sebenarnya tadi Scarlesia sendiri melihat masa depan bahwa jika dia tidak cepat menghindar dari serangan pedang api hitam milik Leroux, maka dia akan memperoleh luka cukup parah akibat serangan pedang itu. Untungnya, dia sudah melihat lebih dulu akan kenyataan yang terjadi beberapa detik setelah itu.


Mereka yang menyaksikan pertarungan Scarlesia terkagum-kagum bahagia, Scarlesia sangat berbeda dari biasanya.


“Apa Sia memang sekuat itu dulunya?” tanya Andreas kepada Xeon.


“Tidak, dia tidak sekuat ini. Tampaknya dewa pencipta memberikan kekuatan lebih besar untuknya,” jawab Xeon.


“Sia melakukan serangan yang sama seperti yang dilakukan Leroux terhadapku,” ucap Louis.


“Hei, apa kalian tidak mendengarnya? Tadi Sia bilang kita adalah kekasihnya,” celetuk Zenon.


“Ini bukan pertama kalinya Sia mengatakan kita adalah kekasihnya, tapi entah mengapa yang tadi terasa berbeda,” ujar Elios.


Mata mereka berbinar-binar memandang ke arah Scarlesia, tiada hal yang lebih menyenangkan dibanding mendengar Scarlesia menyebut mereka dengan sebutan kekasih.


“SIA, APA KAU BARU SAJA MENGATAKAN KAMI ADALAH KEKASIHMU?” teriak Zenon.


Scarlesia menengok ke sumber teriakan Zenon, muka Scarlesia merah padam sesaaat teringat apa yang sebelumnya dia katakan.


“DIAM SAJA KALIAN!” teriak Scarlesia berusaha menyembunyikan wajah merahnya.


“KAMI MENCINTAIMU SIA” Oliver juga ikut-ikutan berteriak seperti Zenon.


“AKU JUGA MENCINTAI KALIAN. SUDAH! DIAM KALIAN SEKARANG!”

__ADS_1


__ADS_2