Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Taruhan


__ADS_3

H-3 perburuan


Hari ini di arena latihan terdengar keributan besar di sana, Scarlesia yang masih dalam perjalanan bergegas menuju ke sana. Dia menemukan ksatria berpedang dan Zaneta ada di sana, mereka tampak merundung para ksatria pemanah.


“Apa yang terjadi di sini?” tanya Scarlesia baru tiba.


“Akhirnya kau datang juga wanita gila,” ujar Zaneta.


Scarlesia menyunggingkan senyumnya, dia tidak habis pikir wanita ini masih berani muncul di hadapannya.


“Halo wanita tua, apa yang kau lakukan di sini dengan para ksatria berpedangmu?”


Dipanggil dengan sebutan ‘wanita tua’ membuat Zaneta kesal, dia mengerutkan keningnya pada Scarlesia yang tersenyum menyebalkan padanya.


“Aku dengar kau mengikuti perburuan dan membawa mereka bersamamu,” ucap Zaneta.


“Lalu urusannya denganmu apa?” ketus Scarlesia.


“Aku datang memperingatkanmu kalau kau tidak akan pernah menang jika membawa mereka, mana mungkin ksatria pemanah yang tidak berguna seperti mereka ini akan membantumu menang,” ledek Zaneta.


Robert sangat geram melihat Zaneta yang menghina mereka, dia hendak maju untuk melawannya tapi ditahan oleh Scarlesia.


“Ternyata kau punya banyak waktu untuk mengkhawatirkan orang lain ya, bagaimana jika kau mengkhawatirkan dirimu sendiri?”


“Apa maksudmu?”


“Dion, berikan busurmu padaku,”


Scarlesia meminjam busur dan anak panah milik Dion, ia membidik Zaneta dengan anak panahnya.


“Nah sekarang bagaimana jadinya jika anak panah ini menembus kepalamu? Apakah kau akan mati atau hanya tidak sadarkan diri?”


“K-kau mau m-membunuhku? Jangan h-harap kau bisa lolos setelah ini,”


Scarlesia melepaskan anak panahnya, Zaneta yang ketakutan pun merunduk seraya melindungi kepalanya.


“AAAAAARRRRHHHHHH,” pekik Zaneta.


Namun ternyata anak panah tersebut mengenai ujung gaunnya, anak panah tersebut akhirnya tertancap di tanah, Zaneta gemetar tapi sekarang dia merasa lega karena Scarlesia tidak benar-benar membunuhnya.


“Begitu saja kau sudah takut, bagaimana jadinya jika anak panah ini membolongi kepalamu?”

__ADS_1


“Kurang ajar! Ternyata kau hanya menggertakku, kau ini tidak punya rasa takut sama sekali ya,”


“Haha untuk apa aku takut jika dewa saja berada di sisiku,”


“Sialan! Sini kau biar aku robek mulutmu itu agar tidak bisa bicara lagi,”


Zaneta menggerakkan tangannya dan ingin menangkap Scarlesia, tapi usahanya gagal. Scarlesia malah menahan tangannya lalu mendorongkan hingga tersungkur di atas tanah yang kotor kemudia dia menginjak kaki Zaneta.


“ARRRGGHH SAKIT!” erang Zaneta.


“Aku dengar ksatria berpedang kau juga mengikuti perburuan ini, bagaimana kalau kita bertaruh?” tantang Scarlesia.


“Bertaruh?”


“Ya, jika aku yang memenangkan perburuan kali ini maka kau harus bersujud di hadapanku dan menampar dirimu sebanyak 20 kali di hadapan banyak orang. Bagaimana?”


“Baiklah tapi kalau aku yang menang, kau harus lakukan hal yang sama,” ujar Zaneta menerima tantangannya.


“Oke, nah kalau begitu sekarang aku akan memberikan perawatan yang baik pada kakimu,”


Scarlesia menambah kekuatan injakannya dan semakin membuat Zaneta kesakitan. Para ksatria tidak bisa melerainya saat ini karena mereka sendiri tahu bagaimana jika Scarlesia sedang marah.


Kraakkk


“Astaga aku sengaja melakukannya, makanya aku kan sudah bilang kalau kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri,” cibir Scarlesia menertawakan Zaneta.


“Arrrghhh kakiku! Awas saja kau, aku akan ingat hari ini. Aku tidak akan memaafkanmu,”


“Aku tidak butuh maafmu tuh. Sekarang kalian bawa wanita tua ini pergi jauh-jauh dari sini, dia sangat berisik. Lain kali kepalanya yang akan aku patahkan,” suruh Scarlesia pada ksatria berpedangnya Zaneta.


Mereka langsung pergi membopong Zaneta yang hampir pingsan dibuat oleh Scarlesia.


“Nona, anda sangat berani sekali pada Yang Mulia Duchess,” kata Robert yang ternganga oleh sikap Scarlesia yang baru pertama kali dia lihat itu.


“Untuk apa aku takut pada wanita tua itu? Aku bisa membunuhnya kapanpun itu tapi sekarang aku masih mau bermain-main sedikit lebih lama dengannya,” balas Scarlesia menyeringai.


Usai mengusir Zaneta pergi, mereka kembali melakukan latihan. Pada saat latihan berlangsung, fokus Scarlesia teralihkan oleh sesuatu yang cukup menganggunya. Dari balik semak, dia merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikannya.


“Siapapun itu, keluarlah sebelum anak panah ini membunuhmu,” gertak Scarlesia.


Tak lama, seseorang keluar dari semak tersebut dan ternyata orang itu adalah Aldert.

__ADS_1


“Ahh tuan muda kedua, ada urusan apa anda kemari? Apa anda mau memarahi saya karena mematahkan kaki Ibu tiri kesayangan anda itu?” sinis Scarlesia.


“Tidak, aku kemari bukan karena itu. Aku juga tidak peduli mau kau membunuhnya atau tidak,” kata Aldert.


“Ada apa dengan pria ini? Kenapa dia tiba-tiba lembut padaku?” pikir Scarlesia mencurigai Aldert.


“Kalau bukan karena itu, lalu?”


“Itu… Sia, bisakah aku berbicara denganmu sebentar?”


“Bicara di sini saja. Cepat katakan karena saya sangat sibuk,” ketus Scarlesia tampak tidak nyaman dengan kehadiran Aldert.


“Eumm Sia, aku mau minta maaf padamu,” lirih Aldert dengan volume suara kecil.


“Apa? Saya tidak bisa mendengarnya,”


“AKU MINTA MAAF PADAMU!” teriak Aldert langsung menutup mulutnya.


Scarlesia menyerngitkan keningnya, dia berpikir bahwa Aldert sekarang sedang tidak waras.


“Tuan muda, anda sedang demam?” tanya Scarlesia meletakkan telapak tangannya di kening Aldert.


“Tidak, aku serius. Aku benar-benar minta maaf,” ucapnya serius.


Scarlesia memundurkan langkahnya, sekarang dia merasa bahwa Aldert tengah mempermainkan perasaannya. Bagaimana bisa dia baru meminta maaf setelah semua yang dia lakukan selama ini?


“Tuan muda, saya tidak bisa menerima permintaan maaf anda. Apa yang anda lakukan selama ini pada saya itu tidak sebanding dengan kata maaf anda. Jika anda menginginkan saya menerima permintaan maaf itu setidaknya anda harus melakukan hal yang setimpal untuk saya. Rasa sakit yang saya rasakan itu sangat besar, tidak mudah bagi saya melupakan semuanya,” jelas Scarlesia memasang wajah datar.


“Haha benar juga, permintaan maafku memang tidak sebanding dengan rasa sakitmu. Bagaimana bisa aku meminta maaf setelah melakukan semua ini?”


Kedua mata Aldert berkaca-kaca, dia memang terlihat sangat menyesal atas semua perlakuannya pada Scarlesia dulunya tapi tetap saja rasa menyesalnya sudah terlambat karena Scarlesia yang asli sudah tiada dan yang ada di hadapannya sekarang adalah orang lain.


“Kalau anda sudah mengerti silahkan anda pergi dari sini,” usir Scarlesia secara halus.


“Baiklah, maaf sudah mengganggumu,”


Aldert pergi dengan perasaan sedih, ya walau bagaimanapun dia tetap kakaknya Scarlesia tapi perlakuannya sudah sangat keterlaluan. Tidak bisa ditebus hanya dengan kata maaf saja, harus ada hal setimpal di sini. Setelah Aldert pergi, Hana datang menyampaikan bahwa Eldrick memanggil dirinya karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Scarlesia. Dia lalu meninggalkan arena latihan dan pergi untuk menemui Eldrick.


Di ruang kerja Eldrick


“Sia, aku ingin memberikan ini padamu,”

__ADS_1


Eldrick mengeluarkan sebuah kotak yang cukup besar kemudian memberikannya pada Scarlesia.


“Apa ini Ayah?”


__ADS_2