Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Pembuatan Racun


__ADS_3

“Tuan, ternyata anda ada di sini,”


Seorang pria tampan berwajah datar dan berekspresi dingin masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung menyapa Carlen.


“Oh Max, kau sudah datang rupanya,”


“Jadi dia yang memimpin pasukan bayangan ini? Hmm oke tampaknya dia bisa diandalkan,” batin Scarlesia mengamati Max dari atas sampai bawah.


“Tapi tuan, kenapa anda datang kemari tanpa mengabari saya terlebih dahulu?” tanya Max.


“Adikku ingin bertemu dengan kalian. Katanya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan,”


Seluruh mata tertuju pada Scarlesia yang sedang asik menyeruput teh yang disuguhkan padanya. Scarlesia yang sadar akan tatapan mereka menghentikan sejenak aktivitasnya dan fokus dulu kepada tujuannya yang sebenarnya.


“Siapa yang membuat teh ini?” tanya Scarlesia.


“I-itu saya Nona,” jawab salah seorang gadis berambut merah pendek.


“Siapa namamu?”


“Nama saya Grace, apa ada yang salah dari tehnya Nona? Apa saya perlu membuatkan yang baru?”


Grace terlihat panik karena Scarlesia menanyainya perihal tehnya, dia merasa takut kalau teh yang dia buat tidak sesuai dengan selera Scarlesia.


“Bukan begitu, maksudku teh ini sangat enak. Bisakah kau mengajariku cara membuatnya?”


Scarlesia memuji teh buatan Grace yang menurutnya sangat enak, mendengar pujian dari Scarlesia wajah Grace merona sesaat.


“S-s-saya akan mengajarkan a-anda nanti,” gugup Grace.


Scarlesia tertawa kecil melihat Grace yang malu karena dipuji olehnya, tiba-tiba Carlen menyenggol lengan Scarlesia.


“Psstt cepat mulai, katakan apa yang ingin kau katakan. Nanti saja bicara soal tehnya,” bisik Carlen.

__ADS_1


“Oh iya benar. Nyaris lupa dengan tujuanku sebenarnya,”


Scarlesia segera memperbaiki ekspresi wajahnya, kini dia tampak lebih serius dari sebelumnya. Semua orang yang ada di sana semakin tegang, mereka tidak mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Scarlesia pada mereka.


“Aku kemari ingin meminta tolong kepada kalian,” ucap Scarlesia.


“Apa yang bisa kami bantu Nona?” tanya Max.


“Kalian semua berasal dari klan beracun, itu artinya kalian ahli dalam membuat dan menggunakan racun bukan?”


Mereka tersentak saat mereka tahu bahwa Scarlesia mengetahui daerah mereka berasal karena klan beracun sudah lama hancur dan dianggap klan tersebut sudah menghilang bahkan tidak ada satu pun orang yang mengetahui keberadaan mereka kecuali Carlen, Aldert, serta Eldrick.


“Bagaimana anda mengetahuinya Nona?”


“Aku punya banyak mata dan telinga. Aku tahu masing-masing senjata kalian menggunakan racun yang terbuat dari bisa ular sanca merah yang kalian campurkan dengan getah pohon genaru. Lalu di dalam kantong yang kalian bawa itu adalah racun ilusi yang cukup kuat untuk mengelabui musuh kalian,” terka Scarlesia.


Semua terkaan Scarlesia benar, mereka semakin terkejut karena Scarlesia mengetahuinya secara detail.


“Sebenarnya anda ingin kami melakukan apa?” tanya Max memastikan.


Mereka masih bingung, Scarlesia tidak menjelaskan secara detail sebenarnya untuk apa ia membuat racun dalam jumlah banyak.


“Maaf Nona, sebenarnya apa yang akan anda lakukan dengan racun-racun itu?” tanya Felix menyela.


“Dalam kurun waktu 1,5 bulan akan terjadi gelombang monster. Kekaisaran Roosevelt bersama kekaisaran yang lain akan bersiap untuk menghadapi perang tersebut. Aku butuh racun untuk dibaluri ke senjata semua orang yang ikut berperang agar mempermudah mereka membunuh monster-monster tersebut,” jelas Scarlesia.


“Tapi dari mana anda tahu akan ada perang antara monster dan manusia? Jangan katakan kalau anda bisa melihat masa depan?”


Scarlesia merespon pertanyaannya hanya dengan senyuman yang lebar.


“Eehh? EHHHHH??!!”


Mereka terkejut bahkan Max yang berwajah datar pun bisa membuat ekspresi terkejut di wajahnya.

__ADS_1


“Itu lah kenapa aku meminta tolong pada kalian. Aku tidak bisa membuat racun itu sendirian saja karena jumlah yang aku butuhkan itu lumayan banyak. Aku ingin membuat racun yang bisa menghancurkan tubuh keras monster itu dan membuatnya mati dalam satu tebasan pedang atau satu tarikan anak panah,” ujar Scarlesia.


“Tapi kan tubuh monster itu tidak keras Nona,” sanggah Felix.


“Yang sebelumnya aku lihat memang tidak keras tapi di masa depan aku melihat tubuh merasa sangat keras dan tidak mempan terhadap benda tajam. Itu lah kenapa aku melihat medan perang berubah menjadi lautan berdarah, untuk itu aku ingin mengatasinya agar tidak terjadi. Aku ingin mengubah masa depan itu, jadi tolong bantu aku,”


Scarlesia memohon dengan teramat sangat, masa depannya terlalu menakutkan baginya. Melihat darah yang berceceran di seluruh tempat kekaisaran ini, mayat-mayat yang tidak terhitung jumlahnya, serta teriakan-teriakan dari orang yang meminta tolong. Perasaannya tercabik ketika melihat masa depan yang begitu suram tersebut, karena itulah dia tidak ingin semua itu terjadi sesuai bayangan masa depannya dan ia ingin mengubahnya segera.


“Baiklah. Nona katakan saja kepada kami apa saja bahan-bahan untuk membuat racun yang anda perlukan,” jawab Max setuju untuk membantu Scarlesia.


Raut muka Scarlesia berubah menjadi riang.


“Aku akan menuliskan bahan-bahannya. Tolong berikan aku pulpen dan kertas,”


Scarlesia menuliskan beberapa bahan di kertas tersebut, mulai dari akar pohon 1000 tahun, batang serta bunga violet, dan darah dari griffin.


“Apakah anda yakin bisa membuat racun dari semua bahan ini Nona?”


“Tentu saja. Aku kan sudah mengatakan kalau aku akan membuat racun penghancur dan itulah bahan yang diperlukan. Kalian cari saja dulu bahan-bahannya dan nanti akan aku beritahu bagaimana cara membuatnya,”


Mereka langsung bergerak untuk mencari semua bahan yang diperintahkan oleh Scarlesia. Tidak ada diantara mereka yang berdiam diri saja, gerakan mereka sangat cepat seperti sebuah bayangan. Memang cocok untuk mereka yang dinamakan sebagai pasukan bayangan.


“Mereka bawahan yang baik, untung saja mereka bertemu dengan kakak. Aku jadi lega setelah tahu orang seperti apa mereka,” ucap Scarlesia.


“Klan mereka dihancurkan oleh iblis hitam. Aku tidak sengaja bertemu mereka waktu itu jadi aku membawa mereka kemari lalu mempekerjakannya sebagai pasukan bayangan,” ujar Carlen.


“Tapi aku rasa yang paling berperan atas kemajuan mereka adalah kakak karena kakak adalah pemimpin yang baik untuk mereka,” sanjung Scarlesia seraya tersenyum menghadap Carlen.


Carlen merasa malu karena dipuji oleh adiknya sendiri, ia berdehem sambil memalingkan wajah malunya dari Scarlesia.


“Ternyata kakakku juga bisa membuat ekspresi malu seperti itu,” pikir Scarlesia tertawa kecil.


Pada keesokan harinya, semua bahan sudah terkumpul dan Scarlesia langsung memulai membuat racun dari bahan-bahan tersebut. Mereka membuat racunnya di markas pasukan bayangan, mereka terlalu bersemangat membuat racun tersebut termasuk Scarlesia sendiri. Butuh waktu sekiranya hampir 1 jam untuk menyelesaikan racun percobaan mereka.

__ADS_1


“Akhirnya selesai!”


__ADS_2