
“Akan aku bunuh kau!”
Kedua mata Xeon menatap kosong disertai aura membunuh yang kuat di dalam dirinya. Benang-benang merah kembali keluar dari tubuhnya, dia merebut tubuh Aaron dari wanita ular itu menggunakan benangnya. Alhasil dia berhasil membuat wanita itu tidak jadi memakan adiknya, Xeon menaruh tubuh Aaron agak jauh dari mereka.
Wanita ular itu tidak bisa berkata-kata, dia kehilangan suaranya seusai melihat kekuatan benang merah milik Xeon. Dia beringsut mundur ke belakang karena ia tidak mau berurusan dengan Xeon lebih lanjut.
“A-apakah k-kau seorang d-dewa?” gugup wanita ular itu.
“Dewa? Apa-apaan itu? Aku adalah manusia!” sanggah Xeon.
“Bohong! Kekuatan benang merah itu adalah kekuatan dewa takdir. Kalau kau bukan dewa, bagaimana caranya kau memiliki kekuatan itu di dirimu?” balasnya.
“Aku tidak tahu, aku tidak tahu apa-apa soal kekuatan ini. Yang aku tahu sekarang adalah aku harus membunuhmu karena kau telah membunuh adikku satu-satunya!”
Wanita setengah ular itu berniat kabur dari Xeon, namun sebelum sempat kabur Xeon sudah menangkapnya terlebih dahulu. Dia ingin melawan Xeon, dia tidak bisa melakukannya karena benang merah Xeon membatasi ruang geraknya. Benang merah Xeon membuatnya tidak bisa berkutik lebih jauh lagi. Sama seperti yang dilakukannya pada Aaron, Xeon membalasnya juga dengan melilit tubuh wanita ular itu.
Lama kelamaan lilitannya semakin erat dan kuat, untuk sentuhan akhirnya Xeon menusuk jantung wanita itu menggunakan ujung benangnya yang tajam. Wanita ular itu kini telah mati di tangan Xeon, hutan yang awalnya berbahaya sekarang sudah bisa dimasuki oleh orang lain.
Dengan langkah terhuyung-huyung, Xeon mendekat ke arah jasad sang adik yang berada tidak jauh dari posisinya. Tubuh Xeon melemah sebab bisa wanita ular itu tanpa sengaja keluar mengenai tangannya dan perlahan bisanya menjalar masuk ke dalam tubuhnya. Sebelum sampai di dekat tubuh Aaron, Xeon sudah lebih dulu tersungkur ke tanah. Dia berusaha menggapai tubuh Aaron tapi tidak bisa dia lakukan karena kesadarannya nyaris menghilang semuanya.
“Aaron….”
Itu adalah terakhir kalinya dia menyebut nama Aaron sampai akhirnya nyawanya ikut pergi bersama Aaron.
“Kak… kakak….”
Sayup-sayup Xeon mendengar suara Aaron yang memanggil dirinya, di saat dia membuka matanya ternyata Aaron telah berada di depannya. Xeon kaget karena seingatnya Aaron sudah mati beberapa saat yang lalu. Xeon segera duduk dan mendekap Aaron sembari berharap kalau ini bukanlah mimpinya.
“Aaron, kau masih hidup? Sungguh kau masih hidup?”
Xeon meremas pipi Aaron kemudian mengguncang-guncang badannya untuk memastikan apakah adiknya sungguh masih hidup atau tidak. Aaron merasa pusing dan meminta Xeon untuk berhenti mengguncang badannya.
__ADS_1
“Sudah kak, hentikan. Kepalaku jadi pusing.”
“Maaf maaf.”
Xeon baru sadar bahwa di sekitarnya tampak sangat berbeda, di sekelilingnya terdapat pemandangan indah serta menyegarkan matanya. Dia juga melihat ada banyak orang mengenakan pakaian putih di sekitar tempatnya berdiri.
“Ada di mana kita? Bukankah terakhir kali tadi kita ada di hutan?” tanya Xeon membeku takjub.
“Apa kakak tidak sadar? Kita sudah meninggal kak,” ungkap Aaron.
Deg!
Respon Aaron membuatnya terlonjak kaget, dia ternganga sebab dia tidak merasakan sedikit pun proses menuju alam akhirat. Namun, karena Aaron yang mengatakannya kemungkinan hal itu memang benar adanya. Meskipun dia merasa aneh karena ia telah meninggal bersama adiknya selesai melawan wanita ular tadi.
“Jadi ini adalah alam akhirat?” tanya Xeon memastikan.
“Benar, ini adalah alam akhirat.”
“Ehh jangan takut, aku tidak akan menyakiti kalian. Aku di sini ingin membawa kalian bertemu dewa dan dewi,” tutur Cyrill sambil tersenyum manis untuk membuat mereka supaya tidak ketakutan dan menangis.
“Dewa dan dewi?”
“Ya, jadi ikutlah denganku sekarang.”
Xeon dan Aaron mengekor dari belakang, sepanjang jalan Cyrill banyak menceritakan perihal alam akhirat yang sedang mereka injak saat ini. Cyrill membawa mereka ke istana langit untuk segera menghadap para dewa dan dewi yang sudah menanti kedatangan mereka. Aaron masih merasa takut, ia bersembunyi di balik punggung Xeon.
Kemudian Cyrill memperkenalkan nama-nama para dewa dan dewi kepada mereka berdua, lalu Cyrill juga membujuk Aaron supaya tidak takut karena mereka tidak akan menyakiti dirinya. Aaron memberanikan dirinya untuk menatap mereka satu persatu.
“Aduh kalian berdua imut sekali,” puji Tavisha, dewi venus.
“Iya, kalian sangat imut,” kata Agatha, dewi penyembuhan yang juga ikut menyanjung mereka.
__ADS_1
Mereka terlihat gemas melihat mereka berdua, Xeon tidak suka disentuh-sentuh dan selalu menampik tangan yang mencoba mencubit pipinya.
“Jadi, siapa diantara mereka yang akan menjadi dewa takdir?” tanya Carolus, dewa perang.
Mereka masing-masing memandangi Carolus, masalah pemilihan dewa takdir ini tidak seharusnya dibocorkan di hadapan Xeon dan Aaron. Mereka dibawa kemari untuk diberitahukan nanti dan bukannya sekarang.
“Ahh maaf, apakah aku salah bicara?” ucap Carolus segera membungkam mulutnya.
“Ya sudah Cyrill bawa mereka untuk beristirahat lebih dulu, jangan lupa beri mereka baju ganti dan makanan enak,” titah Tavisha.
Cyrill mematuhinya, ia mengantar Xeon dan Aaron ke sebuah kamar yang sangat mewah. Xeon dan Aaron tidak henti-hentinya memandangi kemewahan di istana langit itu, mata mereka berbinar. Wajar saja, dulu mereka hidup di dalam sebuah rumah kumuh dan jauh berada dari kata mewah.
“Kak, apa kita akan tinggal di sini?” bisik Aaron bertanya.
“Aku tidak tahu,” jawab Xeon.
“Mulai sekarang kalian berdua akan tinggal di sini, jadi pakai saja sepuasnya barang-barang yang tersedia. Jangan sungkan ya,” ujar Cyrill.
“Tapi kenapa kami dibawa kemari?” tanya Xeon ingin tahu.
“Besok kalian akan segera mengetahuinya, sekarang kalian tidur dulu agar besok bisa bangun lebih pagi,” jawab Cyrill diangguki oleh mereka.
Xeon dan Aaron segera mengganti pakaian mereka lalu memakan makanan yang sudah disediakan di kamar tersebut. Mereka berdua terlihat sangat senang diberi kamar bagus, pakaian bagus, dan makanan mewah.
“Apakah kita di surga sekarang?” tanya Aaron.
“Entah, aku juga tidak tahu. Besok mari kita tanya, sekarang kita tidur dulu,” tutur Xeon.
“Oke kak.”
Hingga tibalah di esok harinya, mereka berdua dipanggil untuk menghadap kepada para dewa dan dewi. Dengan perasaan penuh kebingungan, mereka hanya diam menunggu dewa dan dewi berbicara. Xeon merasa gugup sesaat, begitu pula Aaron yang juga merasakan kegugupan kakaknya.
__ADS_1
“Langsung ke intinya saja. Xeon, mungkin kau merasakan ada yang aneh pada kekuatanmu kan? Kau mengeluarkan semacam benang merah dari tubuhmu, apa kau tahu kenapa kau bisa mengeluarkan benang merah itu?”