
“Nona, saya dengar 3 hari lagi istana mengadakan pesta untuk perang yang dimenangkan oleh kekaisaran kita,” ujar Hana.
“Benarkah itu?” tanya Scarlesia memastikan.
“Iya Nona, apakah anda akan datang?”
“Tentu saja, aku harus menyapa tunanganku yang paling berharga,” seringainya seraya menatap pantulan dirinya di cermin rias.
“Cih kenapa manusia suka sekali berpesta?” celetuk Zenon yang berdiri di belakang Scarlesia.
“Jadi, apakah kau tidak akan ikut? Kalau begitu aku akan bawa Andreas saja. Andreas, kau mau ikut kan denganku?” tanya Scarlesia.
“Tentu saja aku akan ikut Sia kemanapun itu,” balas Andreas tersenyum.
“Hei siapa bilang aku tidak mau ikut? Kau harus membawaku! Aku tidak mau tahu,” paksa Zenon dengan emosi.
“Baiklah baiklah, kalau begitu kita hari ini akan ke kota untuk membeli pakaian untuk kalian berdua,”
Scarlesia baru saja teringat dengan pistol yang sebelumnya diberikan oleh Xeon padanya.
“Oh iya apakah kalian tahu dimana menari sihir?” tanya Scarlesia.
“Tahu, apakah Nona ingin ke menara sihir?” tanya Erin balik.
“Ya, nanti sekalian ke sana saja,”
Setelah berpakaian rapi, mereka bersiap untuk berangkat. Hari ini Scarlesia mengenakan dress pendek merah muda di bawah lutut serta rambutnya dikuncir satu dengan poninya yang diturunkan. Terlihat simpel memang tapi apapun yang dikenakannya tidak menutupi kecantikannya yang sempurna. Khusus sekarang Scarlesia hanya pergi bersama Zenon dan Andreas lalu Kitty yang juga memaksa ingin ikut dengannya.
Saat berada di perjalanan, Scarlesia bisa melihat menara sihir dari kejauhan. Namun sama seperti sebelumnya, dia merasakan kembali kekuatan yang menariknya. Erin dan Hana sudah memberitahunya mengenai menara sihir tersebut, mereka mengatakan bahwa di sana ada seorang penyihir agung yang tidak pernah keluar dari ruang kerjanya bahkan para penyihir lain pun tidak tahu rupa penyihir agung tersebut seperti apa. Penyihir agung dikatakan sudah berumur lebih dari 100 tahun serta memiliki kemampuan sihir yang luar biasa.
Namun, sebelum menuju menara sihir ia terlebih dahulu menuju pusat kota untuk membeli pakaian Zenon dan Andreas. Usai itu baru dia pergi ke menara sihir, dari depan menara sihir tersebut terlihat seperti bangunan tua biasa tapi setelah masuk ke dalam ternyata lebih luas dari yang dibayangkan.
“Sebenarnya kenapa kau pergi ke tempat seperti ini?” tanya Zenon.
“Karena ada sesuatu yang ingin aku minta buatkan pada mereka,” jawab Scarlesia.
Semua mata penyihir tidak bisa lepas dari kecantikan Scarlesia, mereka terus memandang bahkan tidak berkedip sedikit pun menikmati kecantikannya. Hal ini justru membuat Zenon dan Andreas semakin jengkel, bagaimana tidak diantara mereka bahkan ada yang berpikiran kotor pada Scarlesia.
“Sia, haruskah aku congkel mata mereka?” gertak Andreas kesal.
“Roaarrrr!!” Kitty pun ikut merasa kesal.
“Tidak boleh, kalian jangan membuat masalah di sini,” larang Scarlesia.
__ADS_1
“Cih padahal aku ingin menghancurkan mereka semua,” decak Zenon.
Lalu salah satu penyihir menghampiri Scarlesia bermaksud untuk menanyakan apa tujuan Scarlesia kemari.
“Nona, perkenalkan saya Daniel salah satu pengurus menara sihir ini. Jika saya boleh tahu ada urusan apa anda datang kemari?” tanya Daniel, penyihir muda berwajah cukup tampan.
“Saya Scarlesia Eginhardt, saya ingin meminta dibuatkan sesuatu oleh penyihir,” balas Scarlesia.
“Nona adalah anak Duke Eginhardt? Maaf atas ketidaksopanan saya karena saya sungguh tidak tahu kalau ternyata anda adalah anaknya Yang Mulia Duke,” ucap Daniel membungkuk meminta maaf.
“Tidak masalah, aku berpikir kalau itu tidak terlalu penting,”
Deg!
Jantungnya mendadak berdegup kencang, hatinya kembali ditarik oleh kekuatan asing yang berada dibalik sebuah ruangan di lantai atas.
“Daniel, ruang apa itu?” tanya Scarlesia menunjuk sebuah ruang.
“Ruang itu adalah ruang kerja milik penyihir agung,”
Segera Scarlesia berlari menapaki anak tangga, Zenon, Andreas, dan Kitty mengikutinya dari belakang.
“NONA! ANDA TIDAK BOLEH KE SANA!” larang Daniel berteriak yang kemudian juga ikut berlari mengekori Scarlesia.
“Siapa yang berada di balik ruang ini? Aku harus memastikannya sendiri,”
“Tuan penyihir agung! Izinkan saya untuk masuk dan berbicara dengan anda! Tolong buka pintunya!” seru Scarlesia.
“Siapa itu penyihir agung?” bisik Zenon. Andreas yang tidak tahu hanya mengangkat kedua bahunya.
Lalu tiba-tiba saja pintunya terbuka sendiri, seorang pria berperawakan tinggi dengan surainya yang panjang berwarna biru muda disertai kedua mata biru gelap. Dia seperti sebuah laut yang tenang tapi juga terlihat agak berbahaya.
“Halo Sia,” sapanya sembari tersenyum ramah.
“H-halo, anda siapa ya?”
“Itu tidak penting,”
Pria itu tiba-tiba menarik tubuh Scarlesia masuk ke dalam ruang kerjanya, ia hanya membawa Scarlesia dan meninggalkan Zenon, Andreas, dan Kitty di luar. Daniel yang baru tiba sangat terkejut dengan pemandangan yang baru saja dia saksikan.
“Setelah sekian lama bekerja di menara sihir baru kali ini aku melihat penyihir agung secara langsung. Lalu apa-apaan itu? Apakah Nona Eginhardt mengenal penyihir agung?” pikirnya tertegun.
“HEI SIALAN! KENAPA KAU HANYA MEMBAWA SIA KE DALAM? CEPAT BUKA PINTUNYA!!!” amuk Zenon menggedor-gedor pintunya.
__ADS_1
“Sepertinya pintunya dibatasi oleh sihir yang cukup kuat,” ujar Andreas.
“Sial! Siapa pria kurang ajar itu?” gerutu Zenon.
Sementara itu, Scarlesia kini tengah dipeluk oleh pria tersebut. Jantungnya masih berdegup tak menentu, dia tidak mengenal siapa pria ini dan dia malah memeluknya tanpa berkata apapaun.
“Anda siapa? Bisakah anda melepaskan pelukannya lebih dulu?”
Pria itu kemudian melepas pelukannya, dia kembali menarik tangan Scarlesia kemudian menyuruhnya duduk di atas sofa. Scarlesia mengedarkan pandangannya, ternyata ruangan yang dia duga kecil sangat besar terlihat di dalam. Banyak buku-buku sihir yang berjejer serta tumpukan dokumen di atas meja.
“Kau pasti bingung, kalau begitu aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkenalkan aku Oliver seorang penyihir agung. Senang bertemu denganmu Nona Scarlesia Eginhardt,”
Scarlesia tercengang, dia membayangkan bahwa penyihir agung itu seorang pria tua tapi ini di luar ekspektasinya. Oliver adalah pria yang sangat tampan setara dengan Zenon dan Andreas, serta dia juga tampak muda jauh dari usia tuanya.
“Darimana anda tahu nama saya?”
“Aku adalah penyihir agung, jadi aku bisa mengetahui semuanya dalam sekejap. Lalu bisakah kamu berbicara santai saja denganku?”
“Baiklah Oliver,”
Oliver menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, dia girang mendengar Scarlesia memanggil namanya.
“Jadi, ada urusan apa kamu kemari?”
Scarlesia lalu mengeluarkan pistolnya dan meletakkannya di atas meja.
“Benda ini disebut dengan pistol, kau pasti belum pernah melihatnya kan? Pistol ini adalah senjata yang digunakan dalam jarak jauh, untuk bisa digunakan harus diisi dengan peluru. Seperti ini bentuknya,” Scarlesia mengeluarkan secarik kertas yang ada gambar peluru di dalamnya. “Jadi bisakah kamu membuatkan peluru sihir untukku?”
Oliver mencoba mengamati pistol dan gambar pelurunya beberapa saat, dia pun menganggukkan kepalanya.
“Pistol ya? Ini baru pertama kali aku melihat senjata seperti ini. Baiklah ini sangat mudah, aku akan membuatkannya untukmu,” jawab Oliver setuju.
“Benarkah? Kira-kira berapa biaya pembuatannya,”
“Kau tidak perlu membayarnya pakai uang cukup pakai ini saja,”
Cup!
Braaakk!!
Oliver memberi kecupan di pipi kanan Scarlesia, ini cukup mengejutkannya. Saat Oliver mengecupnya Zenon menghancurkan pintu ruang kerja Oliver dengan kekuatannya. Zenon dan Andreas melihat dengan jelas bagaimana Oliver menempelkan bibirnya di pipi mulus Scarlesia.
“APA YANG KAU LAKUKAN SIAL!!!”
__ADS_1
Zenon mengamuk, Andreas menarik pedangnya, mereka berdua murka dengan Oliver. Respon Oliver hanya tertawa kecil melihat mereka yang marah karena ulahnya.
“Aku hanya meminta bayaranku,”