
Usai menerima surat dari Giana, tanpa menunggu lama Scarlesia langsung menuju ke istana. Ia pergi bersama Kitty sedangkan Andreas, Zenon, Oliver, dan Elios belum kembali dari luar untuk mencari Louis. Dia pergi ke istana Giana dengan perasaan yang dipenuhi oleh amarah, saat ini dia sangat jengkel dengan Giana.
“HEI TUAN PUTRI KELUAR ANDA!” teriaknya dari luar istana Giana.
“Nona, anda tidak boleh menerobos masuk ke dalam istana Yang Mulia Tuan Putri begitu saja,” cegah salah seorang ksatria penjaga.
“Jangan halangi aku atau kalian mau kepala kalian melayang di sini?” gertak Scarlesia menodongkan pedangnya.
Para ksatria penjaga merasa takut dengan gertakan Scarlesia, mereka pun memilih untuk mundur karena mereka semua tahu betapa mengerikannya kekuatan Scarlesia. Mereka membukakan pintu masuk menuju istananya Giana, sebuah istana yang lumayan besar serta banyak barang-barang berharga yang ada di dalamnya. Semua pajangan di sana bernilai sangat tinggi, begitu pula dengan guci-guci yang terpajang di setiap lorong istana.
“Nona Eginhardt sepertinya kau cukup lancang karena seenaknya masuk ke dalam istana tuan putri,” ucap Giana yang turun dari lantai atas bersama pelayan pribadinya.
“Oh ternyata anda di sana Yang Mulia. Saya tidak akan berbicara panjang lebar, sekarang tolong kembalikan Louis pada saya,” pinta Scarlesia disertai ekspresinya yang dingin dan tajam.
“Ternyata kau kemari untuk mengambil Louis. Aku tidak mau mengembalikannya karena aku sudah menempatkannya di kamar khusus sekarang,” tolak Giana.
“Tuan putri, apa anda sebegitu tidak lakunya? Sampai-sampai merebut pria milik orang lain,” sarkas Scarlesia.
“Apa? Aku tidak laku? Aku hanya menyukai Louis lalu apakah salah jika aku merebutnya darimu? Bukannya kau masih punya empat pria lainnya?”
“Semuanya adalah milik saya. Tidak ada satupun yang boleh merebutnya dari saya termasuk anda Yang Mulia. Bahkan jika harus membunuh anda pun akan saya lakukan asal Louis kembali bersama saya,”
“Memangnya kau berani melakukannya? Aku yakin kau tidak akan….”
Gerakan Scarlesiap sangat cepat, dalam sekejap dia sudah berada tepat di depan mata Giana sambil menghunuskan pedangnya ke leher Giana.
“Kata siapa saya tidak berani? Kalau saya mau saya bisa membuat kepala anda hilang saat ini juga,” ujar Scarlesia mengancam Giana.
“Kau akan dihukum mati jika membunuhku,” ucap Giana yang berusaha tetap tenang walau sekujur badannya sudah gemetar.
“Saya tidak peduli. CEPAT KEMBALIKAN LOUIS PADA SAYA!” katanya dengan lantang.
“A-aku t-tidak akan mengembalikannya,” kukuh Giana.
Scarlesia menarik kembali pedangnya dari leher Giana, tatapannya tidak lagi bersahabat dan bisa diajak berbicara.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu karena anda bersikeras tidak mau mengembalikannya maka saya akan melakukan sesuatu untuk menyadarkan anda,”
Scarlesia menjambak rambut Giana lalu menariknya ke arah balkon, para ksatria penjaga dan pelayan pribadi milik Giana dihadang oleh Kitty agar tidak mencampuri aksi Scarlesia sekarang.
“ARRGHHH LEPASKAN RAMBUTKU!” ringis Giana kesakitan.
Setibanya di balkon, Scarlesia mendorong Giana ke tepian balkon.
“Saya bisa mendorong anda ke bawah sekarang ini juga dan membuat anda hidup di dalam kecacatan. Saya akan membuat semua orang mengira bahwa anda ingin bunuh diri dan menghapus semua saksi mata. Kalau begitu tidak masalah bukan saya membunuh anda?”
“AAHH TIDAK TIDAK! AKU TIDAK MAU MATI!” ronta Giana.
“KALAU BEGITU MENURUTLAH! KATAKAN DI MANA LOUIS SAAT INI?”
“Aku akan mengatakannya tapi tolong lepaskan aku dulu,”
“Tidak, katakan dulu dimana anda menyembunyikan Louis saat ini?”
“A-ada d-di kamar p-paling sudut l-lantai atas,” ungkap Giana gelagapan karena takut.
Kemudian Scarlesia melepaskan cengkramannya di rambut Giana, ia mendorong Giana sampai terjatuh ke lantai. Dia segera beranjak pergi ke lantai atas dan menuju kamar paling sudut yang dimaksudkan oleh Giana.
Brakkk
Scarlesia datang dengan mendobrak pintu kamar tempat Louis dikurung, sontak Louis kaget dengan kedatang Scarlesia.
“Sia, kenapa kamu bisa di sini?”
Scarlesia tidak mengatakan apa-apa padanya, ia hanya melangkah maju semakin mendekati dirinya.
Plakkk
Tanpa aba-aba dan alasan yang jelas, Scarlesia menampar pipi Louis. Saat ini Louis hanya menerima tanpa membalas atau mengatakan apapun pada Scarlesia. Kedua mata gadis yang berada di hadapannya kini tengah berkaca-kaca menatapnya.
“Kenapa kau menghilang dan kabur begitu saja? Apa alasanmu berbuat seperti ini? Apa kau tidak tahu betapa khawatirnya aku selama dua hari ini?” tatar Scarlesia.
__ADS_1
“Maaf Sia. Aku tidak mau menyakitimu lagi jadi aku…”
“Bodoh! Dasar Louis bodoh! Aku tidak pernah merasa disakiti olehmu sekalipun. Aku hanya memintamu untuk tinggal bersamaku, apa itu terlalu sulit bagimu?” tutur Scarlesia memukul-mukul dada Louis.
“Tidak,” Louis mencekal tangan Scarlesia agar tidak memukulinya lagi. “Memang aku yang bodoh. Maaf Sia, aku sangat egois karena pergi meninggalkanmu begitu saja. Mulai sekarang aku akan terus bersamamu. Maaf ya,” lanjutnya menarik Scarlesia ke dalam dekapannya.
“Ya, aku memang mencintainya. Takdirku dengannya terhubung melalui benang merah maka dari itu aku harus terus bersama dengannya, kekasihku yang selama ini aku tunggu kedatangannya,” batin Louis.
Sedangkan saat ini di Paviliun Kirin, Andreas bersama Oliver, Zenon, dan Elios tengah berkumpul namun mereka tidak melihat Scarlesia dimana pun. Setelah mereka tanya, ternyata Scarlesia pergi ke istana untuk menjemput Louis yang dikurung oleh Giana. Mereka hendak menyusulnya, tapi Hana dan Erin melarangnya karena Scarlesia tidak membolehkan mereka menyusulinya.
“Kenapa dengan raut wajah kalian?”
Xeon tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan memecah keheningan yang tercipta di antara mereka. Kedatangan Xeon tentunya membuat gaduh suasana, bagaimana tidak? Seorang dewa bisa seenaknya datang ke dunia manusia.
“Apa Sia tidak ada di paviliun saat ini?” tanya Xeon melirik samping kiri dan kanan untuk melihat dimana gerangan Scarlesia saat ini.
“Tidak, dia pergi menjemput Louis ke istana,” sahut Elios.
“Ahh pantas saja kalian murung,” ucap Xeon yang ikut duduk.
“Kenapa seorang dewa bisa ada di sini sekarang?” tanya Zenon heran.
“Aku akan di sini sementara waktu karena situasi dunia hampir menuju kehancuran,” balas Xeon.
“Kehancuran? Apa maksudnya?” bingung Oliver.
Pertanyaan Oliver mewakili rasa bingung mereka semua sekarang, Xeon menghela napasnya dan menekuk ekspresi wajahnya.
“Segel neraka utama melemah dan akhirnya sekarang dewa kegelapan yang menjadi musuh manusia serta musuh para dewa dan dewi melarikan diri dari neraka. Dia sekarang sedang bersembunyi di tempat yang sulit kami deteksi keberadaannya, untuk itulah aku ada di sini untuk melindungi Sia,” jelas Xeon.
“Melindungi Sia? Seharusnya kami saja cukup kan? Kenapa dewa dan dewi sampai turun tangan untuk melindunginya?” tanya Elios.
“Tidak! Kalian tidak akan bisa melawannya karena kekuatannya berada jauh di atas kalian semua bahkan kami para dewa serta dewi pun tidak bisa menandingi kekuatannya,” bantah Xeon.
“Tapi kenapa dengan Sia? Apa yang membuatnya dilindungi begitu ketat oleh para dewa dan dewi?” tanya Andreas.
__ADS_1
“Karena Sia adalah….”
“XEON!”