
“Jangan lupa gunakan harta yang aku berikan padamu waktu itu sebagai biaya pembangunan Evariste,” pesan Qirani, neneknya Scarlesia.
Scarlesia mengangguk riang, harta yang ditinggalkan oleh Qirani bersama kaisar-kaisar sebelumnya berjumlah tidak sedikit. Bahkan jika diuangkan maka akan cukup untuk membiaya makan satu kekaisaran selama beberapa tahun. Scarlesia memang sudah memiliki rencana jangka panjang untuk mempergunakan harta-harta tersebut.
Qirani begitu gembira dapat bertemu cucu-cucunya lagi, Lucas dan Victor sedari tadi tidak terlepas dari Edward serta Jessie yang merupakan orang tua mereka sendiri. Sangat banyak jiwa-jiwa yang keluar dari pintu akhirat, mereka mencari-cari keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan, mengucapkan salam rindu, menyampaikan segala hal yang belum tersampaikan di kala mereka masih hidup. Tidak lama kemudian, Scarlesia tanpa sengaja menangkap beberapa orang wanita bersurai silver seperti rambutnya dulu.
“Nenek, kakek, apa mereka adalah Kaisar Evariste terdahulu?” tanya Scarlesia memastikan.
“Ya, benar. Mereka merupakan mantan kaisar terdahulu, sepertinya mereka ingin memberi salam padamu karena kau adalah orang yang ditunggu-tunggu oleh mereka,” jawab Feodor.
Scarlesia mendekat pada mereka, ia membungkukkan badannya memberi salam hormat.
“Salam hormat. Saya Scarlesia Evariste, kaisar ke 59 Kekaisaran Evariste,” ucap Scarlesia.
Namun, rupanya mereka melarang Scarlesia untuk membungkuk memberi salam penghormatan. Mereka merasa bahwa seharusnya mereka lah yang memberi salam seperti itu kepada dirinya, tapi Scarlesia mengatakan kalau hal ini dia lakukan sebagai Kaisar Evariste dan bukan sebagai ratu alam semesta. Mereka bahagia saat bertemu langsung dengan Scarlesia, sebab banyak di antara mereka yang hanya tahu tentang ceritanya dan tidak pernah melihat dia secara nyata.
Selang beberapa menit menikmati temu rindu, tiba-tiba saja lonceng pintu akhir berbunyi pertanda kalau mereka harus segera kembali.
Cup! Cup! Cup!
Larissa mengecup kening beserta pipi kanan dan kiri Scarlesia, sejujurnya dia sangat sedih harus meninggalkan anak-anaknya lagi. Namun, dia tidak bisa juga melawan kenyataan yang ada bahwa dirinya hanyalah seorang manusia yang telah mati.
“Hei kalian berenam!” panggil Larissa memberi sorot mata sinis pada keenam kekasih putrinya.
Mereka berenam serentak mengarah pada Larissa, rasa tegang dirasakan oleh mereka layaknya seorang calon menantu bertemu calon mertuanya.
“Kalian jaga baik-baik Sia, awas saja kalau kalian menyakiti putriku. Aku akan turun dan menebas kepala kalian jika membuatnya menangis,” gertak Larissa.
“Ahh Sia sangat mirip dengan Ibunya,” batin mereka bersamaan.
Mereka mengiyakan dan berjanji kepada Larissa, mereka tidak akan menyakiti Scarlesia dan akan membuat hidupnya bahagia. Satu persatu jiwa terbang masuk ke pintu akhirat, mereka melambai-lambaikan tangan kepada orang yang ditinggalkan.
“Ayah, Ibu, semuanya! Jaga diri kalian baik-baik! Tolong awasi dan perhatikan aku dari jauh. Aku menyayangi kalian,” tutur Scarlesia.
“Sampai jumpa kembali kak,” sahut Archie.
“Sampai jumpa kembali Sia, kita akan segera bertemu lagi,” kata Kitty.
“Benar Yang Mulia. Kita akan segera bertemu kembali,” timpal Erin.
“Selamat tinggal anak-anakku, padahal aku mau di sini lebih lama lagi. Jaga diri kalian baik-baik dan jangan lupa berikan aku cucu yang menggemaskan,” seru Larissa, ia terlihat tidak rela untuk pergi. Eldrick terpaksa menarik untuk memaksanya pergi.
“Sudah sayang, ayo cepat! Kita harus pergi sebelum pintu akhirat tertutup, kita masih bisa melihat mereka nanti,” paksa Eldrick.
“Sialan! Kenapa aku cepat sekali mati? Dan juga kenapa malah kau yang menyaksikan mereka tumbuh dewasa?” omel Larissa sembari memukul-mukul lengan Eldrick.
“Mengapa malah aku yang kau pukul? Maksudmu lebih baik aku yang mati duluan begitu? Kau menyakiti hatiku istriku.” Eldrick tampak lebih santai dan manja ketika bersama Larissa ketimbang bersama anak-anaknya.
Scarlesia tertawa kecil melihat kelakuan kedua orang tuanya, mereka memang saling mencintai satu sama lain. Waktu nan singkat namun berharga, inilah yang dirasakan Scarlesia kini, hatinya tidak berbohong tentang seberapa besar kebahagiaan yang dia gapai sekarang.
“Ketika aku mati, aku berharap bisa bertemu mereka kembali di surga nanti,” gumam Scarlesia.
“Kau tidak akan pernah merasakan mati,” celetuk Xeon mengejutkannya.
“Jadi, maksudmu aku tidak akan pernah mati?” tanya Scarlesia memastikan.
“Iya, kau abadi. Sama seperti kami, jadi kau akan hidup bersama kami selamanya,” sela Oliver.
__ADS_1
Scarlesia merungut kesal, dia menoleh ke arah Eberly yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari tempat mereka berpijak.
“Yang Mulia, apakah benar saya abadi? Kalau begitu say….”
Kalimat aduan Scarlesia terputus, mendadak Scarlesia merasakan sakit tepat di jantungnya. Dia terjatuh duduk memegangi dada, sungguh rasa sakit tersebut perlahan merenggut kesadarannya.
“Ada apa? Apa yang terjadi Sia?” panik Louis.
Mereka panik seluruhnya, Scarlesia menampakkan reaksi tidak biasa. Tubuh Scarlesia pun akhirnya rebah dan langsung disambut oleh Louis.
“Jantungku… sakit….”
Scarlesia tidak sadarkan diri di dekapan Louis, denyut nadinya memelan dan nyaris tidak terasa lagi.
“Yang Mulia! Ada apa dengan Sia? Mengapa tiba-tiba seperti ini? Bukankah kita sudah memenangkan perang akhir? Lalu mengapa sekarang malah begini?” Xeon mengajukan pertanyaan beruntun kepada Eberly, mereka memanggil-manggil nama Scarlesia berulang kali tapi Scarlesia berada jauh dari alam sadarnya.
Eberly mengecek tubuh Scarlesia menggunakan kekuatannya, dia mengetahui memang ada beberapa masalah pada jiwa Scarlesia.
“Sudah aku duga, kutukannya belum menghilang sepenuhnya,” ujar Eberly.
“Huh? Kutukan? Jadi itu belum hilang? Sekarang harus bagaimana, Yang Mulia?” tanya Agatha ikut cemas.
“Kalian tenang saja, masih ada cara untuk menghapus kutukan ini sepenuhnya. Itulah alasan keberadaan kalian sebagai pengantinnya Sia,” kata Eberly memberi harapan.
“Apa yang harus kami lakukan Yang Mulia? Sia berada di dalam kondisi kritis,” tanya Elios.
“Kita akan membawa Sia ke pusat semesta. Kalian semua juga akan ikut bersamaku ke pusat semesta.”
Selepas itu, mereka mengikuti Eberly pergi ke pusat semesta, sedangkan masalah yang tersisa di medan perang diserahkan kepada Carlen, Aldert, Lucas, dan juga Victor. Mereka akan membantu untuk menyelesaikan medan pertempuran yang hancur lebur. Setibanya di pusat semesta, mereka melewati lorong-lorong besar menuju ke suatu ruang.
“Istananya sangat megah dan besar, bahkan istana Evariste tidak ada apa-apanya dibanding istana ini. Apa Sia tinggal di sini dulunya?” tanya Zenon, matanya mengitari tempat itu.
Sesampainya mereka di ruang yang dimaksud, Eberly membaringkan Scarlesia di antara enam tujuh tempat tidur. Scarlesia dibaringkan di tengah-tengah, sedangkan tempat tidur yang lain masih kosong.
“Nah enam pengantin, berbaringlah di kasur yang masih kosong,” titah Eberly.
“Enam pengantin? Sepertinya ada kesalahan. Bukannya anda mengatakan hanya ada lima pengantin?” Xeon kebingungan sesaat Eberly menuturkan enam pengantin.
“Apa yang kau katakan? Pengantin keenam adalah kau sendiri. Apa kau tidak menyadari benang takdirmu dengan Sia?” balas Eberly seraya menjentikkan jemarinya.
Dari jantung Xeon serta kelima pria lainnya keluar benang merah yang terhubung ke jantungnya Scarlesia. Xeon terkejut bukan main, pasalnya Eberly memberitahu dia bahwa hanya ada lima pengantin. Jujur dari hati terdalam, Xeon tidak menyangka kalau dia dijadikan sebagai pengantin keenamnya Scarlesia tanpa ia ketahui.
“Kau paham kan? Enam pria yang mencintai Sia dengan tulus, termasuk kau salah satunya. Itulah mengapa aku menjadikanmu sebagai pengantin keenam,” tutur Eberly.
“Ya, saya paham, Yang Mulia.”
“Kalian berbaringlah di ranjang yang kosong di sisi Sia, karena jiwa Sia sedang terjebak di dalam kutukannya. Tugas kalian adalah menjemput jiwa Sia, sadarkan dia, lalu bawa dia pulang, hanya cinta yang tulus yang bisa menghancurkan kurungan kutukan itu,” papar Eberly.
Mereka mengangguk mengerti, langsung saja mereka berbaring di ranjang kosong di sisi Scarlesia. Begitu mereka sudah berbaring, Eberly bersegera menyuruh mereka untuk merilekskan pikiran serta memusatkan fokus mereka pada satu tujuan yaitu membawa Scarlesia pulang. Perlahan mereka mulai memasuki alam tidur, Eberly pun mengantar jiwa mereka ke dalam kesadaran Scarlesia.
“Di mana kita? Apa ini berada di bawah jiwanya Sia?”
Mereka berenam tiba di suatu tempat yang gelap, tidak apa-apa di sana selain kegelapan mengelilingi tempat tersebut. Hawa dingin juga terasa mencekam dan menusuk permukaan kulit mereka, Louis menyipitkan matanya tapi dia sadar tidak ada ujung dari tempat itu.
“Ke mana kita akan mencari Sia?” tanya Oliver.
“Hei, benang merahnya menyala. Sepertinya benang ini akan menuntun kita ke tempat Sia berada,” ujar Andreas.
__ADS_1
Mereka baru sadar benang merah yang menyatu di jantung mereka menyala dan menerangi jalan mereka. Benang mereka tersebut terbentang menuju ke arah berlawanan, mereka mengikuti ke mana benang merah itu akan menuntun mereka.
“Itu Sia!” seru Louis.
Mereka berhasil menemukan Scarlesia di dalam sebuah tabung kaca yang besar, di sana Scarlesia tenggelam di dalam air disertai tanaman rambat berduri membelit tubuhnya. Scarlesia tidak sadarkan diri, matanya terpejam rapat, seolah tidak ada kehidupan di dalam jiwanya. Mereka memukul-mukul tabung kaca tersebut agar pecah, namun usaha mereka sia-sia. Rupanya tabung kaca itu tidak dapat dipecahkan menggunakan kekuatan mereka.
“Sia, bangun! Buka matamu Sia.”
Mereka mencoba memanggil-manggil Scarlesia berulang kali, tapi tidak ada respon darinya. Tanaman rambat berduri itu memperkuat belitannya hingga membuat badan Scarlesia berdarah, dari dasar tabung itu keluar cairan berwarna hitam pekat. Lambat laun cairan itu mulai menyebar di dalam air.
“Celaka! Jika kita tidak segera mengeluarkan Sia dari dalam tabung ini, bisa-bisa jiwa Sia hancur dan tidak akan pernah bisa kembali lagi,” panik Xeon.
“Hah? Apa?”
“Cepat bangun Sia! Kami tidak ingin kau mati. Buka matamu!”
Usaha terus mereka lakukan, meneriaki Scarlesia supaya bangun secara berulang kali. Akan tetapi, tidak ada yang berhasil bahkan cairan hitam itu sudah berada setengah badannya Scarlesia. Pikiran buruk mulai menguasai pikiran, rasa putus asa nyaris membenamkan hati mereka.
“Bukankah kau bilang kita akan menikah dan memiliki anak yang menggemaskan? Aku mohon, buka matamu,” lirih Andreas dengan mata berkaca-kaca.
“Kau tahu bukan seberapa besar kami mencintaimu? Menunggumu beratus-ratus tahun lamanya itu bukan hal yang mudah, aku ingin kita memiliki akhir kisah yang bahagia,” sambung Louis, ekspresi wajahnya tertekuk.
“Terlalu menyakitkan bagiku apabila harus kehilanganmu lagi, aku teramat mencintaimu hingga rasanya diriku akan mati apabila kau menghilang meski sebentar dari hidupku,” tutur Oliver berwajah muram.
“Dengarkan aku! Kau menyelamatkanku dari hal yang bernama kesepian, mengajariku arti cinta sesungguhnya. Tolong Sia, jangan pernah tinggalkan aku lagi, jangan biarkan aku kesepian lagi tanpa dirimu,” ucap Zenon, ia masih memukul-mukul permukaan tabung tersebut.
“Kami mohon padamu Sia! Kau juga menyadari seberapa besar cinta yang kami curahkan padamu? Apa kau mau menyerah ketika kau sudah menyelesaikan semuanya? Jangan menyiksaku lagi untuk menunggumu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu,” ungkap Elios dengan suara yang bergetar.
“Apa kau ingat? Kau bilang kau akan menikah denganku. Aku menunggu hingga lebih 2000 tahun, memperjuangkanmu dalam keadaan hidup dan mati, aku tidak sanggup lagi bila harus memendam rasa cinta ini padamu. Aku mencintaimu Sia, sangat sangat mencintaimu. Tolong jangan terlalu jahat lagi, jangan tinggalkan aku lagi, aku tidak mau jika hidup tanpamu. Aku mohon, Sia.” Xeon angkat bicara, dia menumpahkan segala perasaan cintanya untuk Scarlesia.
“KAMI MOHON, SIA. BUKA MATAMU DAN PULANGLAH BERSAMA KAMI,” ujar mereka serentak.
Di saat cairan hitam itu sudah sampai di penggalan leher Scarlesia, kelopak mata Scarlesia bergerak pelan. Sepasang manik emas itu terbuka lebar dan mengerjap perlahan menatap enam pria yang berada di hadapannya.
PRAANGGG
Ternyata kesadaran Scarlesia berdampak pada tabung itu sehingga mampu memecahkan kaca padat dan kuat tersebut, dia berguling keluar dari dalamnya air yang menenggelamkannya.
“Uhukk uhukk.” Scarlesia terbatuk, dia mengeluarkan air yang tanpa sengaja tertelan olehnya.
Lekas saja mereka membantu Scarlesia dengan mengusap-usap punggungnya, sekujur badan Scarlesia basah kuyup dan gemetar karena dingin.
“Ada apa dengan wajah suram kalian?” tanya Scarlesia menyadari kesuraman di balik mimik mereka.
“Kau masih tanya kenapa? Kami mengkhawatirkanmu yang nyaris mati di dalam tabung itu. Apa kau sungguh tega meninggalkan kami lagi?” oceh Xeon.
“Haha maaf maaf, aku tidak bermaksud seperti itu.”
Kemudian tanpa berlama-lama, Xeon menggendong Scarlesia untuk membawanya keluar dari tempat gelap itu.
“Ehh k-kenap….”
“Sudah! Kau diam saja. Kita pulang sekarang, kami akan memberimu hukuman setelah sampai di Evariste nanti,” celetuk Zenon.
“Hukuman? Aku tidak berbuat salah apa-apa pada kalian, cepat turunkan aku! Biarkan aku berjalan sendiri untuk keluar!” ronta Scarlesia, ia tidak ingin digendong oleh Xeon.
“Ssstt jangan meronta lagi, lihat baik-baik hukuman seperti apa yang akan kau terima dari kami,” tekan Xeon.
__ADS_1
“Kenapa perasaanku tiba-tiba jadi tidak enak? Apa yang akan mereka lakukan padaku?”