
“Sia, ada yang mau aku bicarakan,” sela Xeon di saat Scarlesia tengah menenangkan Elios.
“Kenapa? Apa kau mau menceritakan perihal Aaron?”
Xeon menganggukkan kepalanya. Mereka pun memutuskan untuk berbicara di dalam dunia cermin, karena mereka tidak ingin ada orang lain yang mendengar perihal masalah ini.
“Aku ingin mengatakan pada kalian bahwa aku dulunya juga seorang manusia,” ungkap Xeon.
Pernyataan Xeon membuat mereka terlonjak kaget, tidak ada yang percaya dengan pernyataan Xeon kali ini jika dibicarakan pada orang lain. Scarlesia tidak mengerjapkan matanya, ia menelan salivanya pelan, ternyata masih banyak yang belum ia ketahui dari Xeon.
“Lalu bagaimana ceritanya kau bisa menjadi dewa?” tanya Louis penasaran.
“Oke, aku akan menceritakan pada kalian apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada gunanya juga aku menutupi masalah ini.”
Kisah masa lalu Xeon bermula sekitar 3000 tahun yang lalu jauh sebelum Scarlesia diciptakan. Di sebuah kota kecil nan makmur, Xeon bersama Aaron hidup di dalam keluarga yang terbilang kacau. Ekonomi mereka sulit, orangtua mereka sibuk dengan urusan masing-masing sehingga tidak ada yang bisa mengurus mereka di rumah.
Xeon kala itu berusia 14 tahun sedangkan Aaron 12 tahun, meskipun masih kecil mereka dituntut untuk dewasa. Sehari-harinya Xeon bekerja sebagai pelayan di salah satu restoran, ia bekerja untuk makannya setiap hari sebab orangtuanya tidak pernah menafkahinya. Sang Ayah hobi berjudi dan Ibunya hobi bermain dengan laki-laki.
Setiap kali orangtuanya pulang ke rumah, mereka selalu ribut dan bertengkar, bahkan Ayahnya saja selalu merampas uang hasil kerja Xeon. Walaupun dia merengek minta uangnya dikembalikan, sang Ayah tidak pernah mau mengembalikannya. Xeon tidak punya kekuatan untuk melawan, yang dia punya hanyalah Aaron, dan dia senantiasa melindungi Aaron dalam keadaan apapun itu.
“Kak, aku lapar.”
Aaron kerap menangis ketika rasa lapar mendera dirinya, Xeon berusaha untuk memberikan adiknya makan entah dengan cara apapun itu. Terkadang Xeon rela mengais tempat sampah untuk mendapatkan makanan sisa yang dibuang oleh orang-orang. Terkadang pula dia tidak makan seharian demi adiknya makan.
Pada suatu hari, Ayah dan Ibunya terlibat cekcok dengan seorang rentenir karena mereka diminta untuk membayar utang yang sudah jatuh tempo. Xeon tidak tahu menahu masalah utang mereka, kapan mereka berutang dan untuk apa mereka berutang, dia tidak mengetahuinya.
__ADS_1
“Tolong jangan buat aku marah, cepat bayar utang kalian!” paksa si rentenir itu.
“Maaf, tolong beri kami waktu lagi untuk melunasinya,”
“Betul, kami benar-benar tidak memiliki uang untuk saat ini,”
“Halah! Bulan kemarin kalian juga bilang seperti ini kan. Cepat bayar sekarang!”
Rentenir itu semakin mendesak mereka berdua untuk segera melunasi utang, tapi jawabannya tetap saja sama. Mereka menolak untuk melunasi utang dengan alasan tidak ada uang untuk membayarnya.
“Jadi kalian menolak untuk membayar utang? Sebaiknya kalian tidak aku biarkan hidup lebih lama. Bunuh mereka!” perintah rentenir itu pada bawahannya.
Tanpa berlama-lama, mereka segera melaksanakan perintah dari bosnya. Mereka memukuli sang Ayah dan Ibu bergantian, tiba di puncaknya karena tidak kuat lagi menerima pukulan-pukulan itu Ayahnya pun akhirnya mengamuk. Dia menggila tiba-tiba begitu saja, ia menghajar mereka satu persatu tanpa ampun. Darah memercik dimana-mana, tidak ada yang bisa menghentikan kegilaannya. Xeon berdiri dengan badan gemetar sembari memeluk Aaron yang ketakutan di sudut ruangan.
“Kau gila! Aku akan melaporkan perbuatanmu ini pada petugas pengadilan biar kau bisa tersiksa di penjara!”
“Rasakan! Rasakan itu! Hahaha.”
Suara tawa dari Ayahnya sangat mengerikan, dia tidak merasa bersalah telah membunuh orang lain dengan tangannya sendiri. Tiba-tiba saja di sela rasa tawa dan leganya, suara derap kaki dari petugas penjaga keamanan terdengar mendekati rumah mereka. Ayah Xeon panik bukan kepalang, ia mondar mandir mencari cara agar dia tidak tertangkap.
Lalu ia melirik ke arah Xeon dengan tatapan penuh akal licik, Xeon segera ditarik oleh sang Ayah ke tengah-tengah mayat yang bergelimpangan di sekitar mereka berdua. Ayahnya memberikannya pisau penuh darah, dia juga melumurkan darah-darah itu pada tangan Xeon. Kini terlihat Xeon adalah dalang dari pembunuhan ini, setelah itu Ayahnya kabur begitu saja meninggalkan Xeon diterpa kebingungan.
“Kau harus menggantikanku ke penjara.”
Itulah kata-kata yang didengarkan oleh Xeon, dia ingin menolak tapi dia tidak diberi kesempatan berbicara. Di saat para petugas masuk ke rumah mereka, betapa terkejutnya mereka ketika baru menginjakkan kaki di ambang pintu rumahnya.
__ADS_1
“Apakah kau yang melakukan ini semua?” selidik seorang penjaga.
“Tidak! Bukan aku yang melakukannya sungguh,” jawab Xeon mencoba meyakinkan mereka, tapi tidak ada yang mempercayai kata-katanya.
“Jangan bercanda! Di tanganmu ada sebuah pisau yang berlumuran darah, ini pasti adalah ulahmu. Sekarang bawa anak ini ke penjara!”
Mereka menyeret pergi Xeon untuk segera mereka bawa ke sel tahanan, Xeon menolak dan mencoba untuk memberontak minta dilepaskan. Adiknya, Aaron tertinggal sendiri di rumahnya seraya menangis menatap Xeon yang dibawa oleh para penjaga tersebut.
“KAKAK! JANGAN TINGGALKAN AKU!” teriak Aaron menangis sesenggukan.
Hati kakak mana yang tidak sakit melihat adiknya seorang diri tinggal di rumahnya? Adiknya tidak bisa apa-apa tanpa dirinya. Selama ini yang mengurusnya adalah Xeon, mulai dari makan hingga tugas beres-beres rumah dan mencuci pakaian dikerjakan oleh Xeon.
“Maaf Aaron….” lirih Xeon tidak mampu menahan rasa sedihnya.
Xeon langsung dijatuhi hukuman tahanan selama 5 tahun, meskipun dia adalah anak di bawah umur namun dunia ini dulunya tidak pandang hukum. Bila ada seseorang yang berbuat kesalahan fatal, akan dijebloskan ke penjara dan tidak peduli dia anak kecil atau pun orang tua.
“Aaron… apa yang akan terjadi pada Aaron? Kalau aku dipenjara siapa yang akan mengurusnya nanti? Aku tidak mau dipenjara, ini bukan salahku!” gumam Xeon seraya menggelengkan kepalanya.
Xeon segera memanggil petugas yang berjaga kala itu, dia berteriak-teriak di balik jeruji besi.
“PETUGAS! PETUGAS! TOLONG BANTU SAYA!”
Dua orang petugas berlari menghampiri Xeon untuk menanyakan apa yang dibutuhkan oleh Xeon.
“Tolong… tolong lihatkan adik saya di rumah. Dia sendirian saja di rumah tanpa ada satu orang pun yang menemaninya. Saya mohon tolong lihatkan adik saya,” mohon Xeon teramat tulus.
__ADS_1
Namun, tidak ada yang mempedulikannya bahkan para petugas itu tidak mau tahu dengan masalah Xeon. Hatinya gelisah selama berada di penjara, dia resah dan tidak bisa memejamkan matanya untuk tidur,
“Apa yang sedang dilakukan Aaron sekarang?”