Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Bahana Kehancuran


__ADS_3

“S-siapa ratu alam semesta? Bayangan apa ini? Kehancuran dunia semakin dekat. Tapi siapa ratu alam semesta? Siapa pun tolong beritahu aku!”


Scarlesia bersujud di atas lantai menutupi kedua telinganya, kepalanya ia rasakan teramat sakit. Suara-suara bising terdengar di telinganya, entah suara dari mana itu ia juga tidak mengetahuinya.


“Suara kehancuran! Suara kehancuran alam semesta! Arrghhh ini sakit sekali,”


Scarlesia terus meringis kesakitan, pada malam itu tidak ada siapa pun di dalam perpustakaan sehingga dia harus menahan rasa sakit dari kepalanya sendirian. Semakin lama rasa sakit itu semakin menusuk masuk lalu menyebar ke jantungnya, telinganya serasa terbakar karena gaungan suara satu per satu mengacaukan pendengarannya.


Kedua matanya kabur, samar-samar di sekitarnya berubah menjadi cahaya putih. Dia kehilangan akalnya, kehilangan kendalinya, hanya kematian yang terasa nyata baginya. Bayangan kematian orang-orang masuk ke kepalanya, mayat yang bergelimpangan, gunung-gunung yang hancur mengeluarkan lahar panas, air laut terus menghantam daratan dan hampir menyapu sebagian permukaan.


“Aku tidak kuat lagi, ini sakit sekali,”


“SIAAAA!!!”


Xeon merasa ada yang tidak beres dengan aura jiwa Scarlesia, ia masuk ke dalam perpustakaan dan menemukan Scarlesia tengah kesakitan. Xeon segera menghampiri Scarlesia dan berusaha untuk menenangkannya.


“Sia, ada apa? Apa yang terjadi? Tenanglah, sekarang aku sudah di sini. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi,” ucap Xeon.


Scarlesia meremas kedua lengan Xeon, air matanya bergulir di kedua pipinya. Xeon tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Scarlesia, tapi ia sendiri bisa merasakan gejolak jiwanya yang tidak bisa terhentikan.


“Xeon… siapa sebenarnya ratu alam semesta? Siapa dia? Beritahu aku tolong… suara kehancuran dunia terus berdengung di telingaku. Bayangan alam yang luluh lantak, mayat manusia yang bergelimpangan, seorang wanita yang dengan gagahnya berdiri di atas langit tak berpijak, di bawah awan gelap serta kilatan petir yang terus menyambar. Sebenarnya apa yang sedang aku lihat sekarang? Aku mohon katakan padaku….” mohon Scarlesia.


Tak ada jawaban dari Xeon, hanya keheningan yang ada diantara mereka. Xeon ingin membuka suaranya, tapi suaranya tertahan di dadanya. Kini terasa menyesakkan karena wanita yang ada di dekapannya tidak bisa berhenti gemetar dan terus menanyakan perihal penglihatan yang sedang ia saksikan sekarang.


“Sia, aku minta maaf. Aku sungguh tidak bisa memberitahumu karena aku terikat sumpah dengan dewa pencipta, segala hal yang ingin kau ketahui tentang dunia yang sedang kau lihat hanya dewa pencipta yang bisa memberikan jawabannya. Aku tidak bisa melanggar sumpahnya, aku harus menjaga sumpah ini hingga saat dewa pencipta terbangun. Aku janji jika beliau sudah bangun, aku janji akan membawamu ke istana langit. Segala rasa penasaranmu akan terjawab, jadi aku mohon tunggulah sebentar,” ujar Xeon mendekap Scarlesia semakin erat.


“Aku akan menunggunya,”

__ADS_1


Tangan Scarlesia yang meremas lengan Xeon dengan pelan terhempas ke lantai, kedua matanya tertutup, kesadarannya sepertinya menghilang. Xeon langsung menggendong Scarlesia untuk diantarkan ke kamarnya, wajah Scarlesia yang pucat pasi secara perlahan mulai kembali segar seperti semula.


“YA AMPUN YANG MULIA! APA YANG TERJADI?” Erin histeris ketika melihat Xeon menggendong Scarlesia masuk ke dalam kamar.


“Cepat siapkan tempat tidur!” suruh Xeon.


Tanpa berlama-lama Erin segera menyiapkan tempat tidurnya, Xeon membaringkan Scarlesia di kasurnya.


“Tolong biarkan saja dia beristirahat. Jangan bangunkan dia terlalu pagi,” pinta Xeon.


“Baiklah, tapi apa yang terjadi dengan Yang Mulia?” tanya Erin ingin tahu.


“Tidak ada, sepertinya dia hanya kelelahan dan tidak sengaja pingsan di perpustakaan,” dalih Xeon berbohong.


Scarlesia tampak gelisah di dalam tidurnya, Xeon akhirnya memutuskan untuk menjaga Scarlesia sampai ia terbangun. Xeon terus berjaga di samping Scarlesia sembari menggenggam tangannya, dia berharap agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Scarlesia.


“Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi padamu,” harap Xeon.


“Kau ingin menjadi apa?”


“Saya ingin menjadi ratu, bisakah anda mengabulkannya?”


“Hahaha anak kecil sepertimu ingin menjadi ratu?”


“Kenapa anda suka sekali mengejek saya? Padahal saya hanya ingin menjadi ratu, tidak mau jadi yang lain,”


“Pffftt hahaha kenapa kau semakin lucu dari hari ke hari?”

__ADS_1


“Kalian berhentilah meledeknya. Aku akan mengabulkannya, kau akan segera menjadi ratu yang akan berdiri di atas alam semesta ini,”


Seorang pria yang tidak tampak wajahnya memangku seorang gadis kecil, mereka dikelilingi oleh beberapa orang. Scarlesia tidak bisa melihat dengan jelas siapa mereka sebenarnya, tapi yang jelas sinar kebahagiaan berkumpul di sekitar mereka.


“Kenapa rasanya aku tidak asing dengan penampakan ini? Hatiku seolah merindukan suara-suara itu. Siapa sebenarnya mereka? Adakah yang bisa menjelaskan padaku?”


Scarlesia terjebak selama beberapa waktu di dalam pemandangan yang sama, mau berapa kali pun dia mencoba memikirkannya tapi tidak ada satu pun jawaban yang tepat ia temukan.


“Bisakah aku terbangun sekarang? Perasaan rindu ini terus mengkoyak dan mencabik hatiku,”


Scarlesia memeluk lututnya seraya berharap dia akan terbangun setelah ini, selama beberapa saat dia terjebak dalam mimpinya akhirnya dia bisa kembali terjaga dari tidurnya. Sekelilingnya sudah balik seperti semula, ia sudah berada di kamarnya. Scarlesia melirik ke arah tangannya yang terasa berat, ternyata di sisinya sudah ada Xeon yang menunggunya sadar.


“Apakah dia terjaga sepanjang malam? Hahh buku itu membuatku seperti orang gila, buku apa itu sebenarnya? Dia mengetahui mengenai perang akhir dan seakan memberi peringatan bahwa perang akhir sudah dekat. Apa itu artinya aku harus lebih bersiap-siap? Intinya aku harus segera mendapatkan tahta putri mahkota dan mengatur segala persiapan secara matang,” pikir Scarlesia bertekad.


Seseorang membuka pintu kamar Scarlesia, itu adalah Erin dan Hana yang masuk ingin memeriksa keadaan Scarlesia.


“Loh Yang Mulia! Anda sudah bangun?” ucap Hana.


“Ya, baru saja. Ssttt jangan berisik, Xeon masih tidur,” kata Scarlesia.


“Baik Yang Mulia,”


Scarlesia menarik pelan tangannya yang dihimpit oleh Xeon, ia berhati-hati agar Xeon tidak terbangun gara-gara dirinya. Kemudian Scarlesia beranjak dari tempat tidurnya, mengambil sebuah selimut tipis untuk diselimutkan pada Xeon.


“Yang Mulia, anda sangat perhatian pada Tuan Xeon. Apa mungkin anda menyukainya? Anda ingin menjadikannya sebagai penghuni harem juga?” celetuk Erin.


“Menyukainya? Apa yang kau katakan? Tidak, aku hanya berteman dengannya,” elak Scarlesia.

__ADS_1


“Tapi ada loh pelayan yang mengatakan kalau dia melihat anda bersama Tuan Xeon sedang berciuman di lorong istana,” kata Erin mencoba menggoda Scarlesia.


“Hah? Apa yang kau katakan? Apa berita itu sudah menyebar?”


__ADS_2